Individu Baik

Sungguh saya menikmati sekali dengan adanya jasa layanan ojek yang bisa dipesan dari telepon genggam. Murah, ini tentu saja kriteria pertama dan utama buat saya. Jadilah hampir setiap hari saya memakai jasa ojek on-line ini setiap sore, dari halte TransJakarta ke rumah. Tarifnya hanya sembilan ribu rupiah, langsung sampai dan cepat.

Dengan angkot, saya masih harus lanjut berjalan sekitar satu kilo meter. Dan sialnya, karena tahu di angkot akan lama, biasanya ini jadi pembenaran buat saya beli gorengan terlebih dahulu – biar bisa ngemil mengurangi stress terjebak kemacetan di angkot. Setelah turun angkot pun, saya masih harus lanjut berjalan sekitar satu kilo meter menuju rumah. Dan lagi-lagi, tergoda untuk beli gorengan – yang kebetulan juga pas ada di dekat saya biasa turun angkot. Makan gorengan tentu saja bikin haus, dan ada Alfamart di sebelahnya. Alhasil, walaupun ongkos angkot cuma empat ribu, tetapi sekali perjalanan sore bisa menghabiskan hingga dua puluh ribu rupiah. Continue reading

Stagnan yang Melaju Kencang

Saya sempat menjadi penggemar kursi di dekat jendela, setiap kali ada kesempatan naik pesawat terbang. Rasanya luar biasa sekali bisa melihat bagaimana bandara dan rumah-rumah semakin lama semakin terlihat kecil, bahkan satu kota atau satu pulau (yang kecil tentunya) bisa terlihat secara keseluruhan dari atas, hingga terus berlalu hilang terhalang awan. Melihat awan dan langit juga rasanya menyenangkan sekali. Walau cuma seperti tumpukan kapas putih ataupun layar biru tak berujung, tapi tak jemu rasanya memandang sepanjang penerbangan.

Hingga masa dimana, terkait pekerjaan, penerbangan menjadi hal yang rutin, dan pilihan pun beralih ke kursi di pinggir koridor. Tidak harus membangunkan orang di sebelah jika saya harus ke kamar kecil, gampang menyampa pramugari untuk meminta segelas air ataupun meminjam balpoin, namun yang utama adalah karena saya ingin jadi yang terakhir naik pesawat, namun bisa awal turunnya sehingga bisa bergegas langsung ke hotel tempat kegiatan pekerjaan, atau saat pulang agar bisa segera berlalu ke rumah.

Satu bulan terakhir, pekerjaan membawa saya bepergian cukup sering. Sempat dalam satu minggu, mengunjungi lima negara. Setiap kali check-in, pilihannya adalah kursi di koridor bagian depan, agar bisa cepat turun. Selalu.

Hingga pada penerbangan dua hari yang lalu dari Singapura ke Bangkok, saya mengiyakan saja ketika sang petugas check-in menawarkan kursi di dekat jendela. Dua puluh menit dari lepas landas, pesawat sudah berada pada ketinggian yang cukup, sehingga yang terlihat hanya dataran awan. Sejatinya, saya ingin memejamkan mata sejenak, mencuri-curi waktu untuk bisa beristirahat. Namun, suara renyah si anak kecil di sebelah mengurungkan niat saya. Si anak yang duduk di kursi tengah, di samping Ibunya, berusaha melongok mencoba melihat ke luar jendela.

“Kok kayak ga gerak pesawatnya, Ma? Padahal sebenarnya kita lagi melaju kencang ya kan” tanya sang anak penasaran.

Seperti tak bergerak, padahal melaju kencang?

Entah bagaimana, frasa ini seperti melayang di otak. Sambil memandang ke luar jendela, rasanya memang pesawat ini tak bergerak sama sekali. Stagnan, seperti hidup. Ya, seperti hidup ini saya rasa. Tapi ini mungkin karena saya memandangnya dari kursi saya duduk saat ini. Coba jika dari bawah, pesawat saya berlalu dengan sangat kencang. Ya, seperti hidup ini saya rasa. Ketika kita merasa hidup stagnan, bias jadi dari sudut orang lain di sana, kita melaju kencang.

Tak ada yang perlu dilakukan selain bersyukur.

Melihat, Menyampaikan yang Baik

Ini ceritanya pelajaran dari kursus nuklir yang sedang saya ikuti tentang Public Acceptance. Tapi, dalam konteks umum, ini juga menjadi referensi logika yang sangat berguna bagi saya.

Paradigma lama, adalah jargon “if you see what I see, you will believe what I believe“. 

Dua tahun yang lalu, saya mengalami sebuah pengalaman yang cukup menarik. 

Sewaktu itu, pesawat yang saya tumpangi – bersama istri dan kedua orang tua saya, baru saja mendarat di bandara Minangkabau, Padang. Kebetulan kita duduk di kelas bisnis, jadi dipersilahkan untuk turun terlebih dahulu. Di saat saya dan istri sedang sibuk mengambil tas dari bagasi atas, saya melihat seseorang – penumpang kelas bisnis selain kami, dengan sigap menuntun orang tua saya yang memang sudah berumur untuk turun tangga pesawat. Saat itu memang hanya lima orang penumpang kelas bisnisnya, kami dan bapak (yang saya perkiraan) berusia 50an tersebut. 

Ketika saya mendekat, si bapak langsung berucap, “tidak apa-apa, biar saya yang bantu beliau. Kan orang tua juga bagi saya.” Sambil melongo, saya dan istri melihat bagaimana kedua orang tua saya diurus oleh beliau; dituntun turun tangga, dan saat turun, saat seorang berjas turun dari sebuah mobil yang memang sudah siap menunggu (di bandara Padang tidak ada garbarata) menghampiri si bapak, si bapak dengan tegas meminta pria berjas tersebut untuk membantu orang tua saya, dibawa dengan mobil hingga ke gedung bandara.

Saat saya dan istri sampai di bandara, saya melihat si bapak masih menunggui kedua orang tua saya. Setelah saya sampai dan mendekat, baru beliau berkata, “sudah ya, saya pamit dulu.

Saya masih melongo, terpana siapa bapak yang begitu baik tersebut. Hingga baru setelah sekian lama, saya sadar beliau adalah seorang kepala daerah, dan pria berjas tadi adalah sang ajudannya. Sungguh, saya dan istri sangat tersentuh bagaimana beliau – sang kepala daerah – begitu baik terhadap kami, yang tidak beliau kenal, dan juga bukanlah warga dari daerah beliau, dan beliau juga tidak sedang berkampanye karena toh selain kami (dan juga sang ajudan), tidak ada yang tahu tentang hal ini.

Sejak itu, saya selalu dengan antusias bercerita tentang beliau kepada orang-orang. Hingga satu hari saya bertemu dengan seorang teman yang berkata, “wah, kamu ga tahu apa yang beliau lakukan selama menjabat. Banyak sekali kebijakannya yang salah.” Dan hampir satu jam setelah itu saya mendengar cerita si teman tentang keburukan sang kepala daerah.

Saya tak percaya, saya bilang kamu tidak mengalami langsung. Coba kalau kamu mengalami apa yang saya alami. Tetapi sang teman juga berkata yang sama, “if you see what I see, you will believe what I believe“.

Saya tertegun.

Tetapi berbicara dan menyampaikan tentang kebaikan tentang seorang adalah hal yang baik. Ini yang diajarkan oleh Papa dari waktu saya kecil.

Raket Nyamuk dan KPK

Sewaktu Papa dan Ibu mengunjungi apartemen kami beberapa bulan yang lalu, selain rentetan komentar Papa dan Ibu tentang betapa gamangnya tinggal di lantai 20, dengan singkat Papa berkata bahwa satu kelebihannya adalah tidak ada nyamuk di apartemen kami. Ahaha, iya, ketinggian lantai dua puluh sepertinya terlalu sulit untuk disambangi para nyamuk. Kecuali mereka tahu bahwa mereka bisa menumpang lift yang tersedia.

Tanpa nyamuk, tentu saja obat nyamuk, mau yang versi lebih mahal atau lebih baik, tidak pernah ada dalam daftar belanjaan kami setiap waktunya. Begitu juga dengan sebuah benda luar biasa yang bernama raket nyamuk. Benda berwujud raket, namun memiliki aliran listrik pada senarnya, begitu populer belakangan ini. Tidak di apartemen kami. Tetapi jadi andalan di rumah orang tua kami di kampung.

Saat berlibur lebaran ke kampung beberapa waktu lalu, raket nyamuk sepenuhnya jadi andalan saya. Kebetulan udara di kampung sedang panas. Sehingga menurut orang tua saya, nyamuk-nyamuk menjadi begitu banyaknya. Kalau menurut sebuah lagu rap tahun 90-an, nyamuk ini bawa kakek nekeknya, om-om dan juga tante-tantenya.

Pasang obat nyamuk? Mau yang versi lebih mahal atau lebih baik? Tak ada satupun yang berjaya. Pernah sekali waktu saya pasang tiga jenis dari tiga merek berbeda sekaligus. Bukannya nyamuk-nyamuk tersebut berkurang, yang ada malah saya yang sesak nafas di kamar.

Terpaksa, raket nyamuk beraksi!

Ces, ces, ces, setrum… cesss!!!

Satu terkapar, dua terbakar… satu lagi terbakar, dua lagi terbakar… Sikat!!!

Ya, dalam waktu yang tak lama begitu banyak nyamuk yang mati. Ada bau gosong tentu saja, tetapi ini jauh lebih baik dari pada bau semprotan obat nyamuk yang bikin dada sesak.

Dan jujur saya akui, membasmi nyamuk dengan raket nyamuk ini terasa menyenangkan. Tak jarang saya begitu bersemangatnya, bergerilya dari ruang tamu, semua kamar hingga dapur, berperang membasmi semua pasukan nyamuk. Coba saja, menyenangkan sekali. Apalagi jika membayangkan betapa gemetarnya para nyamuk yang lain melihat teman mereka kesetrum tak berdaya.

Mirip KPK,” ujar Papa saya tiba-tiba menimpali saya yang sedang asik men-smash nyamuk. Gerakan backhand saya batalkan, lalu menatap kebingungan ke arah Papa.

Mirip KPK?”, saya mengulang kalimat Papa dengan nada kebingungan.

“Ibarat obat nyamuk, dipasang berapa banyakpun, dari versi terbaru dan termujarabpun, nyamuk tetap saja banyak. Yang mati paling satu dua, yang lain, justru makin kebal.”

“Polisi, jaksa… sebut saja berapa banyak para penegak hukum dengan segala aturan yang mereka ciptakan untuk memberantas korupsi. Yang ketangkap, paling satu dua. Yang lain, makin lihai mengakali hukum.”

“Sama seperti betapa butuhnya kita dengan raket nyamuk saat ini, seperti itu pula kebutuhan negara ini akan Komisi Pemberantas Korupsi. Smash satu-satu koruptor itu.  Setrum hingga mati terbakar di raket nyamuk KPK, di depan nyamuk-nyamuk koruptor lainnya. Papa yakin, tak lama lagi negara ini akan bebas dari korupsi.”

Saya hanya terpukau mendengarkan penjelasan Papa. Menyadari betapa benar butuhnya negara ini akan raket nyamuk alias KPK. Aturan hukum yang berlaku, tak lagi membuat kita takut atau jera. Harus dikejar satu-satu, dihukum satu-satu, dimiskinkan satu-satu, di depan semua orang agar kita semua takut dan jera untuk korupsi.

Ces, ces, cess… Raket nyamuk yang saya pegang tiba-tiba berdesis, seekor nyamuk nyangkut di raket saya. Ada percikan, dan seketika terkapar tak berdaya.

Raket yang diam di tangan saya saja, ada nyamuk yang terperangkap. Bayangkan jika raket ini saya gerakkan sepenuh hati, dengan penuh kuasa ke setiap sudut! Bayangkan jika KPK kita dukung sepenuh hati, dan berkuasa ke setiap sudut peluang korupsi di negeri ini!

Kecuali, jika negara ini sudah tinggal di apartemen lantai 20 juga.😉

Nama Baik Sang Bapak

Namanya juga jaga nama baik orang tua, Ben” ujar seorang teman dengan nada tegas dari sebuah percakapan kami sekitar dua bulan yang lalu.  Saat itu urusan seputar korupsi di lingkungan tempat kerja sang teman tersebut lah yang menjadi topik pembicaraan kami. Bukan, bukan perkara koruspi duit milyaran atau jutaan. Cuma kelas teri yang ratusan ribu, uang makan, kertas kantor, atau telepon kantor yang acap kali dipakai untuk kepentingan pribadi lah yang jadi bahasan. Tak habis pikir juga mengapa ini yang kita bahas setelah lama tak bersua. Namun jawaban sang teman tersebut, terus terang cukup menghentak buat saya.

Nama baik orang tua mana yang dia maksud? Bapaknya yang supir angkutan kota itu? Supir angkutan kota mana yang punya nama baik? Ibunya yang buruh cuci?  Continue reading

Orang Tak Penting Sok Penting

Selalu saja kejadian. Setiap kali naik pesawat, tidak pernah tidak, selalu saja saya dihantui perasaan was-was. Bagaimana tidak, nyawa saya bergantung kepada beberapa orang yang merasa dirinya begitu penting sehingga harus menyalakan telepon genggamnya selama mungkin sebelum pesawat tinggal landas, dan langsung menyalakannya kembali sesaat pesawat menjejakkan kembali rodanya di landasan. Seakan mereka sedang menunggu sebuah panggilan telepon yang menentukan hidup mereka seribu tahun ke depan.

Soal betapa berbahayanya melakukan hal ini, saya yakin hampir semua dari kita mengetahuinya. Para awak pesawatpun tak pernah lupa mengingatkan hal ini. Namun berapa dari kita yang mematuhinya? Mungkin benar adanya ketika ada yang bilang bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar. Namun melihat orang lain melanggar peraturan yang akan membahayakan kehidupan saya? Ini yang sulit untuk bisa diterima. Continue reading