Monthly Archives: October 2006

Tidak ada SMS Lebaran kali ini.

Lebaran kali ini lagi-lagi saya tidak pulang kampung. Ini entah untuk keberapa kalinya sejak lima tahun silam, pertama kali menginjakkan kaki di kota Bandung, saya tidak merayakan lebaran bersama keluarga. Lebaran jauh dari keluarga, di kostan sendirian, yang notabenya dihuni oleh mayoritas saudara-saudara non muslim, tentulah tak banyak yang bisa saya ceritakan. Tidak ada suara komando sang Ayah di pagi hari guna mengingatkan anggota keluarga di rumah untuk bersegera ke masjid (atau lapangan), tidak ada salam dan silaturahmi dengan sanak keluarga setelah sholat, tidak ada ketupat ataupun opor ayam, dan tentu saja juga tidak ada pembagian uang. Lebaran kali ini? Sama saja, bahkan sekilas suasananya tidak beda sama sekali dengan ritual sholat Jum’at. Datang ke masjid (atau mungkin lapangan), sholat dan dengar khutbah, bersalam-salaman, lalu pulang.

Selesai? Continue reading

Ustdaz ku Dian Sastro

Beginilah susahnya kalau jadi orang dengan kadar iman yang masih pas-pasan, untuk tergugah akan agama saat mendengarkan ceramah para ustadz saja bukan perkara mudah untuk saya capai. Apalagi selama ini dalam seminggu, rata-rata hanya satu kali seminggu saja saya mendengarkan siraman rohani, yaitu pas jumatan. Itupun dengan catatan jika saya tidak ketiduran pada saat khutbah. Kalau angin semilir begitu sejuk menyapa, pengkhutbahnya kaku, dan isi khutbahnya tidak ada yang lucu, yah, bisa dipastikan hanya dalam hitungan menit saya sudah tertidur. Sungguh celaka memang. 

Tapi saya juta tidak mau disalahkan sepenuhnya. Toh anginnya begitu sejuk dan kebetulan saat itu fisik saya cukup lemah setelah beraktifitas. Toh ustadznya banyak yang kaku sekali dalam berkhutbah, jarang sekali menyapa, dan bukannya tengok sana tengok sini sambil sesekali menggerakkan tangan seperti yang disampaikan dalam buku-buku tips sebagai pembicara yang baik, kebanyakan dari mereka hanyalah seperti anak SD yang disuruh membaca paragraf dari sebuah buku oleh sang guru. Dan toh juga, isinya tidak ada lucu-lucunya, bahkan sering kali terkesan getir dan hanya menonjolkan tentang betapa seramnya neraka. Lagi-lagi sesuai tips pidato yang baik, harusnya isinya bisa memancing kegairahan yang mendengar. Betul? Continue reading

Anak-Anak di Malam Taraweh

Lazimnya orang yang lagi menjalin kasih, saya dan pacar saya juga sering berbincang tentang masa depan. Dimulai dari rencana menikah kapan dan dimana, pestanya seperti apa, yang diundang siapa saja. Bangun rumah di mana, arsitekturnya seperti apa, taman bunganya di halaman depan atau belakang. Kolam renangnya di dalam rumah atau di luar. Banyak sekali yang kita angankan. Kita tidak sedang bermaksud mendahului takdir Yang Maha Kuasa, tapi sekedar mendiskusikan kondisi hidup yang kita inginkan nantinya. Dan di antara itu semua, rencana tentang anaklah yang menjadi topik favorit kita. Continue reading