Monthly Archives: March 2010

Kisah Saya dan Cermin

Dua puluh empat jam Saya menjalani hidup, bisa dibilang hidup Saya tidak lepas dari sebuah benda yang bernama cermin. Hee, jangan berprasangka Saya banci ngaca dulu. Kalau sedikit iya lah, tapi bukan itu yang mau Saya bicarakan. Maksud Saya, sepanjang hari sepanjang malam hidup Saya, selalu saja Saya menemukan cermin. Bangun tidur, di kamar sebuah cermin setinggi satu meter selalu menyapa. Di kamar mandi, bertemu juga. Di ruang tengah, tempat dimana Saya biasa nonton TV atau memakai sepatu sebelum berangkat kerja, juga ada cermin. Di bis, kalau kebagian duduk di depan, ketemu juga sama cermin, walau si pak Sopir menyebutnya kaca, kaca spion, bukan cermin spion. Kalaupun tidak, kaca-kaca mobilnya kadang cukup reflektif dan bisa dipakai untuk bercermin. Sampai kantor, naik lift, kiri kanan lifnya cermin penuh menutup dindingnya. Sampai di kantorpun, kaca cubicle Saya, bisa jadi cermin. Depan, belakang, samping kanan, samping kiri, cermin semua. Sepanjang hari tak terhindari untuk melihat pantulan diri sendiri.

Enak kalau tampang Saya ganteng, muka bersih, rambut keren. Atau kalau perempuan punya wajah manis menyenangkan. Atau kalaupun tampang pas-pasan, masih enaklah yang punya baju bagus bermerek mahal, jam mewah, punya telepon genggam canggih seri terbaru. Walau tampang agak bikin gondok orang, tapi masih tetap pede bergaya depan cermin. Nah Saya, hanya gaji pas-pasan saja yang membuat Saya masih menahan diri untuk menganut prinsip buruk muka cermin dibelah. Kalau cermin itu Saya belah semua, bisa-bisa duit gaji Saya habis buat ganti, lah terus Saya makan bayarnya pakai apa. Nasib, nasib.
Continue reading

Saya Sariawan, Saya Mendengar

Bijak itu selalu datang belakangan. Itupun kalau hal baik datang menggantikan semua hal buruk sebelumnya. Hahaha, paling tidak itulah yang Saya rasakan dan bisa Saya bagi kepada semua.

Coba angkat salah satu tangan hingga tepat di depan wajah. Lalu katupkan semua jari, selain ibu jari. Perhatikan ibu jari itu baik-baik. Dan ya, sebesar itulah luka sariawan yang hinggap tepat di bawah lidah Saya sudah empat hari ini. Benar-benar sebesar ibu jari, paling tidak ibu jari Saya ya. Dan benar-benar tepat di bawah lidah Saya sebelah kiri. Langganannya sih di bibir, tapi seumur-umur baru ini kali pertama Saya sariawan di lidah. Dan rasanya sungguh ampun-ampunan. Segala macam obat sudah Saya coba, mulai dari tablet hisap vitamin C, sari penyegar adem-ademan, obat oles-olesan, sampai minuman si Miss Universe. Tapi hasilnya, tetap saja ampun-ampunan ya ampun.
Continue reading