Monthly Archives: May 2011

Nasionalisme di Bandara

Sungguh, seakan rasa nasionalisme dan kebanggaan saya terhadap negara kesatuan republik Indonesia yang tercinta ini seakan goyah sewaktu tanpa sengaja menguping pembicaraan sekelompok Ibu-Ibu dari belakang kursi Saya duduk di pesawat. “Aih, jaman sekarang, walaupun anak perempuan saya ga cantik atau ga pintar ga masalah, yang penting dia jago bahasa Inggris, biar nanti dapat suami bule, hidup makmur”.

Ayih, ayih…… terus terang saya tidak menemukan kata yang sesuai untuk mengekspresikan perasaan saya saat mendengar percakapan tersebut.

Lah, terus apa hubungannya dengan nasionalisme yang goyah?

Continue reading

Advertisements

Jika Anda puas beritahu teman

Hampir saja Saya sujud syukur kala menemukan sebuah rumah makan Padang di Bangkok. Tidak asli rumah makan  seperti  rumah makan Sederhana atau Pagi Sore yang terkenal di berbagai kota di Indonesia. Bahkan masih jauh rasanya jika dibandingkan dengan lapau nasi (warung nasi) Padang Doa Mande yang cuma punya kursi buat empat orang. Tetapi ini sudah membuat Saya senang sekali. Tidak perlu lagi ke McD ataupun KFC.

Memang, urusan perut ini adalah urusan yang cukup krusial buat Saya. Hampir sepuluh tahun Saya merantau jauh dari kampung halaman Saya di Solok, sebuah kota kecil nan asri di Sumatera Barat. Enam tahun tinggal di Bandung, dan sudah lebih dari tiga tahun ini Saya menetap di Jakarta. Sepanjang waktu itu, sudah berulang kali pula Saya terbang ke negara tetangga ataupun ke Eropa sana. Tapi tetap saja, perut Saya cap rumah makan padang. Tapi kalau anda bilang ini cuma urusan perut semata, anda salah besar. Ini adalah tentang filsafat kehidupan. Yang menentukan baik buruknya seseorang dalam kehidupan.

Continue reading