Monthly Archives: September 2006

Munggahan Cium Pipi

Belum masuk bulan puasa, ternyata sudah sederet juga dosa yang saya perbuat. Walah, walah…kapan baiknya diri ini.

Lazimnya ragam tradisi yang berlangsung di lingkungan masyarakat negri ini, menyongsong bulan Ramadhan, cukup banyak acara munggahan yang diselenggarakan. Munggahan adalah sebutan dalam bahasa Sunda buar acara makan bersama yang diselenggarakan setiap kali menjelang bulan puasa oleh suatu keluarga dengan mengundang tetangga di sekitar. Kebiasaan ini juga dilakukan oleh berbagai lembaga pemerintahan, kantor swasta maupun organisasi masyarakat.

Biasanya seorang ustad didatangkan untuk memimpin doa, yang didahului oleh sedikit ceramah tentang Ramadhan. Sedikit? Ya, karena dari rata-rata dua jam acara diagendakan, paling banter paket ceramah dan d0’anya cuma 15 menit di awal. Setelah itu, makan dan ngobrol-ngobrol. Entah harusnya acara munggahan itu seperti apa, tapi paling tidak itulah yang saya temui. Continue reading

Advertisements

Kuis Blink-Blink dari Negara Blink-Blink

Baru saja saya menyelesaikan membaca sebuah buku terbaru berjudul Think yang ditulis oleh Michael R. LeGault. Geram karena degradasi intelektual dan budaya Amerika, LeGault menawarkan pelintiran buku fenomenal karya Malcom Gladwell, Blink, yang berteori bahwa berbagai keputusan terbaik dilakukan berdasarkan dorongan sesaat, sekejap mata, tanpa adanya pengetahuan faktual dan analisis kritis. Jika buku tersebut menyarankan kita untuk tidak berpikir, LeGault berpendapat tidak mengherankan kalau bernalar kritis dan mengambil keputusan menjadi sebuah seni yang hilang di dalam kehidupan masyarakat Β Amerika sehari-hari. Kemudian, the Age of Reason berubah menjadi the Age of Emotion; erosi sistematis ini mempertaruhkan banyak waktu, uang, pekerjaan, dan kehidupan di abad ke-21, menyebabkan pemenuhan yang semakin berkurang dan disfungsi yang semakin besar.*

Membaca bukunya secara utuh sebenarnya tidak begitu menambah pemahaman saya tentang apa yang dimaksud oleh LeGault lebih dari yang disampaikan di resensi tersebut. Tapi apa peduli saya sebenarnya. Lagipula jika orang Amerika mengalami degradasi intelektual dan budaya, itu berarti bisa gantian kita yang menguasai Amerika. Tapi ternyata sebuah acara kuis di tivi memperlihatkan sesuatu yang membuat saya kaget. Tidak mau kalah dengan bangsa Amerika, ternyata kita sendiri juga berlomba-lomba untuk mendegradasikan intelektual sendiri. Continue reading

Tujuh Hari Menuju Taubat

Secara kebetulan saya dan seorang teman menonton sebuah acara reality show berjudul Tujuh Hari Menuju Taubat hari Sabtu kemaren di LaTivi. Waktu itu, kisah taubat seorang waria-lah yang diangkat. Berkat bujukan si David Chalik, presenter acara, dan arahan serta bimbingan dari seorang ulama, selama tujuh hari si waria menjadi santri di sebuah pondok pesantren. Atas hidayah dari Tuhan, si waria yang awalnya menyebut dirinya dengan panggilan Mpok Mumun, diluruskan jalannya, dan kembali pada fitranya sebagai seorang laki-laki yang taat menjalankan perintah agama, sekarang hanya boleh memanggilnya dengan sebutan Bang Ari. (nama aslinya Mundari) Semuanya diizinkan Tuhan terjadi dalam tujuh hari.

Bertanya pada diri sendiri, kalau saya butuh berapa hari untuk bertaubat? Continue reading

Ksatria Baja Hitam

Jaman sekarang, tidak dalam rangka melamar pekerjaan saja seseorang harus menjalani wawancara. Untuk masuk sebuah TPA/TPSA saja, di sebuah Masjid dekat kostan saya, setiap calon murid juga harus menjalani wawancara. Entah ini sekedar formalitas belaka, atau memang ditujukan untuk mengenal lebih jauh karakter calon muridnya. Memang di pengumuman disampaikan bahwa semua ini bukan dimaksudkan untuk menyeleksi para calon murid. Namun tetap saja sesi ini mendapatkan perhatian cukup besar dari para Ibu-ibu yang mendampingi putra-putri mereka.

Bulan lalu, entah karena alasan apa, salah seorang pemuda Masjid, mengajak saya terlibat di kegiatan tersebut. Maka sore itu, dengan memakai baju Koko satu-satunya, saya ikutan sibuk dalam kegiatan tersebut. Secara umum, wawancara yang berlansung selama 5 menit untuk masing-masing calon murid, berjalan dengan lancar. Beberapa saat sebelum magrib, wawancara tersebut berakhir. Anak-anak tampak begitu senang, begitu juga dengan para Ibu yang berkumpul di luar menunggui putra-putri mereka. Saya tentu juga ikutan senang, karena selain mendapatkan konsumsi gratisan, sejak saat itu saya digolongkan sebagai pemuda baik-baik yang rajin membantu di Masjid oleh Ibu-Ibu sekitar. Kalau masalah pahala, kita skip saja, karena itu urusan pribadi dengan Tuhan.

Jadi semuanya senang? Tenyata tidak. Dan ternyata yang tidak senang dengan hasil wawancara tersebut adalah para ustad dan pemuda Masjid. Alhasil, selesai sholat Isya berjamaah, rapat dadakan digelar. Saya yang sudah bermaksud langsung ngacir, terpaksa juga harus ikut dalam rapat dadakan tersebut. Continue reading