Monthly Archives: May 2010

Sayur Hambar, Bulutangkis dan Sepakbola Indonesia

Sariman, housekeeper di rumah kostan Saya beberapa waktu lalu mogok makan masakan istri. Gara-garanya masakan sang istri yang tak jua kunjung enak. Sudah berulang kali, tetap saja rasanya pas-pasan. Tadinya saya pikir ini alasan Sariman saja. Dulu jaman baru pacaran aja, tahi kambing serasa coklat. Sekarang giliran sudah dikawinin, dibilang masakannya tidak enak. Mau nambah istri saja pakai alasan masakan tidak enak segala.

Karena penasaran, Saya terpancing juga untuk mencicipi. Bagaimana tidak penasaran, karena selama ini sejarahnya, dari jaman presiden Indonesia masih SBY sampai sekarang masih SBY juga, masakan istrinya Sariman terkenal mak nyoss di kostan. Ikan mentah hasil pancingan anak-anak kostan, bisa disulap jadi pepes ikan super lezat oleh istrinya Sariman. Dan semua anak kostan memuji, bahkan sampai tetangga juga berucap yang sama. Kalau Saya sih ikut-ikutan bilang enak saja, karena Saya tidak suka makan ikan. Tapi gerutuan Sariman yang tak juga henti beberapa hari ini memancing Saya untuk curi-curi mencicipi istri Sariman, maksud Saya masakannya. Dan ya Tuhan, hambarnya tak terkira. Pantesan Sariman protes.
Continue reading

Susahnya Meninggalkan Sholat

Kepikiran juga akhirnya oleh Saya. Tak terhindarkan, pertanyaan ini terus terngiang di telinga. Kenapa begitu susahnya untuk sholat tidak tepat pada waktunya. Atau kenapa begitu sulitnya untuk meninggalkan sholat?

Memang kalau dari hitung-hitungan waktu, sekali sholat tidak memakan waktu yang lama. Sekitar lima belasan menit mungkin, jika melakukannya dengan tenang dan bacaan ayat pendeknya panjang, ditambah zikir dan doa. Ada versi kilatnya malahan. Lima menit jadi, udah pakai khusu’. Tapi entah mengapa, tetap saja mengganggu rasanya. Yang membuat Saya kadang mengabaikan Adzan yang terdengar, menundanya hingga kesibukan Saya berlalu. Toh, dengan telat sholat saja kehidupan Saya masih baik. Rezeki masih lancar. Bahkan sesekali meninggalkan sholat, tidak ada kejadian buruk yang menimpa sesudahnya.

Tapi ternyata, tidak semudah itu mengabaikannya.
Continue reading