Individu Baik

Sungguh saya menikmati sekali dengan adanya jasa layanan ojek yang bisa dipesan dari telepon genggam. Murah, ini tentu saja kriteria pertama dan utama buat saya. Jadilah hampir setiap hari saya memakai jasa ojek on-line ini setiap sore, dari halte TransJakarta ke rumah. Tarifnya hanya sembilan ribu rupiah, langsung sampai dan cepat.

Dengan angkot, saya masih harus lanjut berjalan sekitar satu kilo meter. Dan sialnya, karena tahu di angkot akan lama, biasanya ini jadi pembenaran buat saya beli gorengan terlebih dahulu – biar bisa ngemil mengurangi stress terjebak kemacetan di angkot. Setelah turun angkot pun, saya masih harus lanjut berjalan sekitar satu kilo meter menuju rumah. Dan lagi-lagi, tergoda untuk beli gorengan – yang kebetulan juga pas ada di dekat saya biasa turun angkot. Makan gorengan tentu saja bikin haus, dan ada Alfamart di sebelahnya. Alhasil, walaupun ongkos angkot cuma empat ribu, tetapi sekali perjalanan sore bisa menghabiskan hingga dua puluh ribu rupiah.

Sekarang, ojek on-line hamper setiap sore. Sembilan ribu – dan itupun juga sering ada diskon promonya, bahkan pernah tarifnya cuma dua ribu, 15 menit sampai, blassss.

Tetapi, tarif terjangkau ini bukan satu-satunya alasan buat saya. Sekali waktu saya pernah berucap kalau Grab, si perusahaan yang bermitra dengan para pengendara ini, adalah sekolah kepribadian terbaik di Jakarta.

Bayangkan, mulai dari pertama kali mereka menjemput, menawarkan helm dan masker, mempersilahkan naik, atau sepanjang perjalanan… para pengendara ini sangat sopan sekali. Tua, muda, tampang lama ataupun muka baru, perawakan Rinto ataupun Ahmad Albar, semuanya baik.

Saya kenal dekat beberapa pengendara ojek, bahkan ada sepupu juga berprofesi sama. Saya kenal mereka sebagai orang baik, tetapi tak bias dipungkiri pendapat umum tentang tukang ojek selama ini adalah kurang baik. Entah apa yang dilakukan si perusahaan, tetapi para pengendara ojek on-line ini mengubah pandangan saya.

Sampai pada satu waktu saya berpikir, bahwa sebenarnya secara individu kita adalah orang baik. Semua individu, semua kita. Ketika berkelompok lah kita berubah.

Lihat, betapa banyak sekarang kita yang terjebak sebagai kelompok A yang mencaci kelompok B, kelompok C yang selalu dengki dengan kelompok D. Padahal jika kita bertemu dan berinteraksi secara individu dengan salah seorang di antara mereka, mereka adalah orang baik.

Mungkin pada dasarnya ketika kita disebut makhluk sosial itu adalah ketika kita sebagai individu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s