Monthly Archives: August 2010

Serangan Sahur dari Malaysia

Sehebat-hebatnya pak RT Saya, tetap saja beliau adalah seorang manusia biasa yang butuh teman curhat. Dan entah kenapa, kali ini, giliran Saya yang harus duduk manis mendengarkan curhat pak RT. Perasaan sungkan karena tidak pernah ikutan ronda dan cuma datang kalau ada acara makan-makan gratis, membuat Saya memaksakan diri untuk tabah mendengarkan curhat beliau. Ya, hitung-hitung amalan di bulan puasa.

Tidak seperti biasanya, pembicaraan permasalahan lokal RT, kali ini beliau curhat tentang kegundahan akan Malaysia. Wah, berat ini, pikir Saya. Jangan-jangan pak RT mau daftar jadi relawan Ganyang Malaysia. Bukannya Saya lebih mengutamakan kepentingan RT di atas kepentingan nasional, cuma kalau pak RT berangkat, siapa lagi yang mau ngurusin RT ceria ini. La wong, sudah tiga kali pemilihan cuma beliau calonnya dan bersedia.

Ramadhan yang sebentar lagi akan berakhir membuat pak RT semakin gundah karena setiap kali sahur bersama keluarga, pak RT dan keluarga selalu saja diserang oleh Malaysia. Wah, Saya jadi terpancing emosi mendengarnya. Bagaimana bisa pak RT Saya diserang Malaysia. Permasalahannya pasti berat ini.

Continue reading

Aa Gym dan Ramadhan yang Terlupa

Entah mengapa, dari dulu Saya tidak pernah bersepakat dengan Aa Gym, seorang ustadz (yang dulunya) kondang dari Bandung, Jawa Barat. Pertama kali ikut pengajian di pesantrennya, Saya bengong kala dia menyuruh semua jemaah menangis. Di pengajian kedua yang Saya ikuti beberapa waktu kemudian, Saya tidur dengan nyenyaknya. Terus pas beliau nikah lagi, walaupun tidak ikutan demo kayak Ibu-Ibu dari majelis ta’lim, terus terang Saya tidak sepakat juga dengan ide beliau.

Lama menghilang tak pernah mendengar lagi berita tentang beliau, tiba-tiba seharian ini beliau muncul lagi. Bukan wajahnya di televisi, tetapi dari tulisan status beberapa orang teman Saya di jaring sosial yang bernama Facebook. Saya tak sempat memperhatikan satu-satu, tetapi ada tulisan dari seorang teman yang menarik minat Saya. Oh tidak, mengapa sekali-sekali muncul, beliau langsung beda pendapat lagi sama Saya. Tidak bisakah kita akur barang sejenak?

Mengapa kita sabar menahan haus, lapar, dan lemas saat puasa? Karena kita yakin Maghrib akan datang. Begitu juga bila dilanda masalah, kita harus tetap bersabar dan yakin kepada-Nya, karena di setiap kesulitan pasti akan ada kemudahan. Badai pasti berlalu. Begitulah bacaan tulisan seorang teman mengutip nasehat dari Da’i kondang tersebut.

Continue reading