Stagnan yang Melaju Kencang

Saya sempat menjadi penggemar kursi di dekat jendela, setiap kali ada kesempatan naik pesawat terbang. Rasanya luar biasa sekali bisa melihat bagaimana bandara dan rumah-rumah semakin lama semakin terlihat kecil, bahkan satu kota atau satu pulau (yang kecil tentunya) bisa terlihat secara keseluruhan dari atas, hingga terus berlalu hilang terhalang awan. Melihat awan dan langit juga rasanya menyenangkan sekali. Walau cuma seperti tumpukan kapas putih ataupun layar biru tak berujung, tapi tak jemu rasanya memandang sepanjang penerbangan.

Hingga masa dimana, terkait pekerjaan, penerbangan menjadi hal yang rutin, dan pilihan pun beralih ke kursi di pinggir koridor. Tidak harus membangunkan orang di sebelah jika saya harus ke kamar kecil, gampang menyampa pramugari untuk meminta segelas air ataupun meminjam balpoin, namun yang utama adalah karena saya ingin jadi yang terakhir naik pesawat, namun bisa awal turunnya sehingga bisa bergegas langsung ke hotel tempat kegiatan pekerjaan, atau saat pulang agar bisa segera berlalu ke rumah.

Satu bulan terakhir, pekerjaan membawa saya bepergian cukup sering. Sempat dalam satu minggu, mengunjungi lima negara. Setiap kali check-in, pilihannya adalah kursi di koridor bagian depan, agar bisa cepat turun. Selalu.

Hingga pada penerbangan dua hari yang lalu dari Singapura ke Bangkok, saya mengiyakan saja ketika sang petugas check-in menawarkan kursi di dekat jendela. Dua puluh menit dari lepas landas, pesawat sudah berada pada ketinggian yang cukup, sehingga yang terlihat hanya dataran awan. Sejatinya, saya ingin memejamkan mata sejenak, mencuri-curi waktu untuk bisa beristirahat. Namun, suara renyah si anak kecil di sebelah mengurungkan niat saya. Si anak yang duduk di kursi tengah, di samping Ibunya, berusaha melongok mencoba melihat ke luar jendela.

“Kok kayak ga gerak pesawatnya, Ma? Padahal sebenarnya kita lagi melaju kencang ya kan” tanya sang anak penasaran.

Seperti tak bergerak, padahal melaju kencang?

Entah bagaimana, frasa ini seperti melayang di otak. Sambil memandang ke luar jendela, rasanya memang pesawat ini tak bergerak sama sekali. Stagnan, seperti hidup. Ya, seperti hidup ini saya rasa. Tapi ini mungkin karena saya memandangnya dari kursi saya duduk saat ini. Coba jika dari bawah, pesawat saya berlalu dengan sangat kencang. Ya, seperti hidup ini saya rasa. Ketika kita merasa hidup stagnan, bias jadi dari sudut orang lain di sana, kita melaju kencang.

Tak ada yang perlu dilakukan selain bersyukur.

One thought on “Stagnan yang Melaju Kencang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s