Melihat, Menyampaikan yang Baik

Ini ceritanya pelajaran dari kursus nuklir yang sedang saya ikuti tentang Public Acceptance. Tapi, dalam konteks umum, ini juga menjadi referensi logika yang sangat berguna bagi saya.

Paradigma lama, adalah jargon “if you see what I see, you will believe what I believe“. 

Dua tahun yang lalu, saya mengalami sebuah pengalaman yang cukup menarik. 

Sewaktu itu, pesawat yang saya tumpangi – bersama istri dan kedua orang tua saya, baru saja mendarat di bandara Minangkabau, Padang. Kebetulan kita duduk di kelas bisnis, jadi dipersilahkan untuk turun terlebih dahulu. Di saat saya dan istri sedang sibuk mengambil tas dari bagasi atas, saya melihat seseorang – penumpang kelas bisnis selain kami, dengan sigap menuntun orang tua saya yang memang sudah berumur untuk turun tangga pesawat. Saat itu memang hanya lima orang penumpang kelas bisnisnya, kami dan bapak (yang saya perkiraan) berusia 50an tersebut. 

Ketika saya mendekat, si bapak langsung berucap, “tidak apa-apa, biar saya yang bantu beliau. Kan orang tua juga bagi saya.” Sambil melongo, saya dan istri melihat bagaimana kedua orang tua saya diurus oleh beliau; dituntun turun tangga, dan saat turun, saat seorang berjas turun dari sebuah mobil yang memang sudah siap menunggu (di bandara Padang tidak ada garbarata) menghampiri si bapak, si bapak dengan tegas meminta pria berjas tersebut untuk membantu orang tua saya, dibawa dengan mobil hingga ke gedung bandara.

Saat saya dan istri sampai di bandara, saya melihat si bapak masih menunggui kedua orang tua saya. Setelah saya sampai dan mendekat, baru beliau berkata, “sudah ya, saya pamit dulu.

Saya masih melongo, terpana siapa bapak yang begitu baik tersebut. Hingga baru setelah sekian lama, saya sadar beliau adalah seorang kepala daerah, dan pria berjas tadi adalah sang ajudannya. Sungguh, saya dan istri sangat tersentuh bagaimana beliau – sang kepala daerah – begitu baik terhadap kami, yang tidak beliau kenal, dan juga bukanlah warga dari daerah beliau, dan beliau juga tidak sedang berkampanye karena toh selain kami (dan juga sang ajudan), tidak ada yang tahu tentang hal ini.

Sejak itu, saya selalu dengan antusias bercerita tentang beliau kepada orang-orang. Hingga satu hari saya bertemu dengan seorang teman yang berkata, “wah, kamu ga tahu apa yang beliau lakukan selama menjabat. Banyak sekali kebijakannya yang salah.” Dan hampir satu jam setelah itu saya mendengar cerita si teman tentang keburukan sang kepala daerah.

Saya tak percaya, saya bilang kamu tidak mengalami langsung. Coba kalau kamu mengalami apa yang saya alami. Tetapi sang teman juga berkata yang sama, “if you see what I see, you will believe what I believe“.

Saya tertegun.

Tetapi berbicara dan menyampaikan tentang kebaikan tentang seorang adalah hal yang baik. Ini yang diajarkan oleh Papa dari waktu saya kecil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s