Nama Baik Sang Bapak

Namanya juga jaga nama baik orang tua, Ben” ujar seorang teman dengan nada tegas dari sebuah percakapan kami sekitar dua bulan yang lalu.  Saat itu urusan seputar korupsi di lingkungan tempat kerja sang teman tersebut lah yang menjadi topik pembicaraan kami. Bukan, bukan perkara koruspi duit milyaran atau jutaan. Cuma kelas teri yang ratusan ribu, uang makan, kertas kantor, atau telepon kantor yang acap kali dipakai untuk kepentingan pribadi lah yang jadi bahasan. Tak habis pikir juga mengapa ini yang kita bahas setelah lama tak bersua. Namun jawaban sang teman tersebut, terus terang cukup menghentak buat saya.

Nama baik orang tua mana yang dia maksud? Bapaknya yang supir angkutan kota itu? Supir angkutan kota mana yang punya nama baik? Ibunya yang buruh cuci? 

Bukan maksud saya merendahkan, tetapi kan sudah bukan rahasia lagi betapa setiap hari kita tak lepas dari gerutu terhadap perilaku sopir angkot di jalanan. Tak peduli di kota besar atau kota kecil, metropolitan atau kecamatan, hampir sama saja rasanya. Berhenti disembarang tempat. Kencang lambat sesuka hatinya. Lagi pula, saya ragu ada di antara rekan kerja di kantor sang teman yang mengenal orang tuanya.

Lain cerita kalau saya yang berbicara menjaga nama baik orang tua. Orang tua saya, dua-duanya adalah guru, sang pendidik. Sampai saat ini, tak putus orang-orang yang pernah dididik di sekolah oleh kedua orang tua saya, ataupun para guru yang dulu sempat mengenal kedua orang tua saya di lingkungan kerja mereka, memuji keteladanan kedua orang tua saya.

Papa saya memang hanya guru sekolah dasar dan Ibu adalah guru TK, yang mengakhiri karirnya sebagai pegawai di Departemen Pendidikan. Tetapi kisahnya sampa ke semua sekolah, termasuk SMP dan SMA di kota kelahiran. Itulah mengapa sepanjang kisah saya bersekolah di sana, saya harus selalu berkelakuan baik, menjaga nama baik orang tua. Waktu SMP saat menjabat sebagai ketua kelas, saya pernah membiarkan teman-teman sekelas untuk bermain dahulu, tak segera masuk kembali ke kelas setelah upacara bendera. Kesalahan kecil? Tidak menurut para guru, dan kepala sekolah yang adalah adik kelas Papa saya ketika mereka bersekolah dahulu. Dengan tegas sang kepala sekolah berkata, “Papa kamu itu adalah teladan saya, teladan semua orang pada masanya. Sebagai anak, kamu harus mampu menjaga nama baik Papa kamu.”

Sepanjang hari saya menangis di toilet sekolah menyesali diri.

Saking saya merasa terpenjaranya waktu itu – ya namanya juga pikiran anak remaja pada masanya – waktu SMA saya menyembunyikan identitas orang tua saya kepada para guru. Bisa dibilang tak ada guru yang tahu. Setiap pengambilan rapor akhir catur wulan, saya selalu punya seribu alasan agar rapor yang seharusnya diambil oleh orang tua, bisa saya terima juga tanpa kehadiran orang tua. Hingga penghujung kelas dua, Ibu saya bertemu dengan sekelompok guru saya di pasar. Singkat cerita, para guru terkejut ketika Ibu saya cerita bahwa anak bungsunya bersekolah di SMA mereka. Tapi sudah tidak jadi masalah, saya sudah puas menikmati SMA, naik kelas tiga waktunya konsentrasi untuk Ebtanas dan UMPTN.😉

Namun tak bisa lepas, kisah ini tentu saja berlanjut. Dimanapun saya berada, payung nama baik orang tua saya sebagai guru yang diteladani begitu banyak orang menjadi pagar dalam perjalanan hidup saya.

Minggu lalu, saat berlebaran di kampung halaman, saya bercerita kepada Papa tentang sang teman dan nama baik Bapaknya si supir angkutan kota.

Panjang sekali saya bercerita… namun komentar Papa ternyata singkat saja, dan malah bertanya “kamu dengarnya orang-orang menyebut nama baik Papa sebagai seorang guru atau pribadi?

Tersentak… pribadi, ya sebagai pribadi.

Bukan karena gurunya. Bukan karena jabatannya. Bukan karena status sosialnya. Bukan karena kepintarannya.

Guru, supir angkutan angkot, pilot, menteri, buruh, kuli angkut… itu hanya jabatan fana. Karena defenisi nama baik sebenarnya, ada pada diri kita masing-masing.

Dan ya, sang teman, orang-tuamu pasti bangga akan dirimu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s