Bukan Hak Kita, bukan?

Bulan puasa itu identik dengan? Ya, buka puasa gratisan.

Ini sebenarnya mirip kisah jaman kuliah dulu. Hampir tiap menjelang magrib, antri di depan masjid menunggu jatah kolak dan nasi bungkus untuk berbuka. Buat mahasiswa dengan kiriman uang pas-pasan seperti saya, dapat makanan gratis setiap hari selama bulan Ramadhan sungguh berkah tak terkira. Apalagi lauknya bukanlah sekedar telor dan ikan asin, tapi ayam potong dan rendang dari rumah makan Padang bisa dibilang adalah langganan menu berbuka puasa, diawali dengan kolak pisang tentunya. Malu-malu dikit sebenarnya mengantri setiap hari, tetapi kartu mahasiswa di dompet cukup untuk jadi pembenaran saya waktu itu.

Ramadhan kali ini? Bukan kali ini saja sebenarnya. Ini Ramadhan keempat yang saya jalani selama saya tinggal di komplek sini. Dan bisa dibilang, cukup sering juga saya ikutan mengantri makan gratisan setelah sholat magrib di masjid. Jangan mengejek saya mental mahasiswa kere dulu. Tetapi, ya selain bisa menghemat pengeluaran, sudah tradisi dari lama, pak RT yang rumahnya berhadap-hadapan dengan masjid selalu menyulap garasinya menjadi ruang jamuan makan malam buat semua orang setelah selesai sholat Magrib di masjid. Tua muda, kaya raya, semuanya larut dalam kenikmatan jamuan dari pak RT setiap hari. Bukan ala nasi bungkus, tetapi jamuan lengkap. Ada ayam, rendang, sayur, buah-buahan, sirup, kolak, semua lengkap. Semua larut dalam kenikmatan.

Perkiraan hitungan ekonomisnya, asumsi saja satu orang porsi makannya dua puluh ribu, ada tiga puluhan orang yang makan, maka tak kurang dari enam ratus ribu biaya yang harus dikeluarkan untuk jamuan itu semua. Saya tidak pernah tahu, tidak pernah bertanya bagaimana si pak RT menanggung ini semua. Dan saya yakin kebanyakan orang yang ikut makan, para karyawan yang ngekost di daerah ini, tak ada juga yang bertanya. Ada makan gratis, makan. Kita kenyang, pak RT pahala berlimpah. Saling menguntungkan. Sederhana sekali bukan? J

Tapi Ramadhan kali ini semangat makan gratisan saya terganggu. Ada seorang anak kostan di tempat saya yang menghentak rasa. Umurnya kira-kira sebaya dengan saya. Tak terlalu kenal, karena hanya sesekali kita bertegur sapa. Yang saya tahu, dia adalah bekerja di sebuah kantor teknis dekat komplek rumah. Beberapa malam yang lalu, untuk kesekian kalinya saat saya pulang dari makan kenyang di rumah pak RT, saya berpapasan dengan dia di ruang tamu. Terlihat dia baru saja hendak menuangkan nasi dan lauk ke piringnya. “Kenapa tidak ikutan makan di rumah pak RT?”, tanya saya. “Kan sekalian habis sholat magrib kita makan sambil bercengkrama bersama tetangga.”

“Bukan hak saya, Mas,” jawabnya ringkas.

Ringkas, namun menusuk. Bukan hak saya. Bukan hak kita. Saya tertegun.

Beli makan malam nasi lauk ayam goreng tiga rendang dua jus jambu sekalipun setiap hari bukanlah hal yang menjadi perkara buat saya. Namun setiap hari saya malah larut dalam kenikmatan makanan gratis yang disediakan pak RT.

Bukan hak saya, iya, bukan hak saya seharusnya, gumam saya dalam hati. Rasullullah bersabda, “Barangsiapa yang memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala yang semisal orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.” Dan jelas pak RT sedang menikmati itu semua, tetapi apakah saya layak untuk menerima makan itu? Bukankah begitu banyak kaum muslim lainnya yang hidup sehari-hari dalam kelaparan? Bukankah mereka itulah yang lebih layak untuk diberi makanan berbuka setelah berpuasa seharian?

Bukan hak saya. Bukan.

Terhenyak saya teringat akan perilaku selama ini. Sudah tak terhitung rasanya saya mengambil apa yang bukan hak saya.

Memakai telpon kantor untuk menelpon keluarga. Jelas itu bukan hak saya.

Mengendarai motor ke atas trotoar. Jelas itu bukan hak saya.

Mengisi mobil dengan bahan bakar bersubsidi. Jelas itu bukan hak saya.

Korupsi anggaran, korupsi waktu, mengeruk keuntungan dengan bermuslihat, memotong anggaran kesehatan masyarakat miskin di daerah. Jelas itu bukan hak kita, bukan?

Tetapi selama ini kita begitu buta, menghadirkan sejuta pembenaran padahal jelas-jelas itu bukan hak kita.

Betapa rendahnya diri. Sungguh, orang yang tak begitu saya kenal ini telah memberikan pelajaran yang begitu berharga buat saya. Dengan sederhana dia menjawab itu bukan haknya. Oh betapa tingginya imannya. Saya yakin sekali, dia adalah orang yang pahalanya sungguh besar.

Seketika saya berniat untuk menjamunya berbuka. Bagi saya nantinya sebesar pahala puasa dia.

Sepulang kantor hari ini, dengan hati bergembira, saya singgah ke rumah makan yang terkenal dengan kelezatan makannya. Teman saya itu sungguh sangat berhak untuk memperoleh ini semua. Saya ingin menjamunya berbuka karena telah mengingatkan kekhilafan saya selama ini.

Sampai rumah, pas adzan magrib, waktunya berbuka. Dengan segera saya memanggil teman baru saya tersebut sambil memperlihatkan kantong makanan yang saya bawa. “Mari kita makan nikmat teman, saya yang jamu kamu berbuka hari ini,” ucap saya semangat.

“Maaf bukan hak saya, Mas,” dengan ringkas kembali terdengar ucapan yang sama dari mulutnya. “Ayo lah, ini hak mu. Mari kita berbuka. Saya memang niatkan untuk kamu,” bujuk saya gigih.

“Maaf, Mas. Tapi kan saya ga puasa, saya batak,” jawab dia.

Ah sial…! Saya memang tak pernah tau dia dari mana.

Sariman, si asisten rumah tangga yang berdiri tak jauh dari sana nyeletuk,”buat saya aja pak. Saya berhak, pak.”

Sakarep-mu lah.

One thought on “Bukan Hak Kita, bukan?

  1. udah terharu biru baca dari atas ampe hampir bawah.. eh empat kalimat terakhir berhasil mengubah keharubiruan menjadi ngakak di malam hari.. huakhahaha..

    thank you, beno.. for a good laugh..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s