Aa Gym dan Ramadhan yang Terlupa

Entah mengapa, dari dulu Saya tidak pernah bersepakat dengan Aa Gym, seorang ustadz (yang dulunya) kondang dari Bandung, Jawa Barat. Pertama kali ikut pengajian di pesantrennya, Saya bengong kala dia menyuruh semua jemaah menangis. Di pengajian kedua yang Saya ikuti beberapa waktu kemudian, Saya tidur dengan nyenyaknya. Terus pas beliau nikah lagi, walaupun tidak ikutan demo kayak Ibu-Ibu dari majelis ta’lim, terus terang Saya tidak sepakat juga dengan ide beliau.

Lama menghilang tak pernah mendengar lagi berita tentang beliau, tiba-tiba seharian ini beliau muncul lagi. Bukan wajahnya di televisi, tetapi dari tulisan status beberapa orang teman Saya di jaring sosial yang bernama Facebook. Saya tak sempat memperhatikan satu-satu, tetapi ada tulisan dari seorang teman yang menarik minat Saya. Oh tidak, mengapa sekali-sekali muncul, beliau langsung beda pendapat lagi sama Saya. Tidak bisakah kita akur barang sejenak?

Mengapa kita sabar menahan haus, lapar, dan lemas saat puasa? Karena kita yakin Maghrib akan datang. Begitu juga bila dilanda masalah, kita harus tetap bersabar dan yakin kepada-Nya, karena di setiap kesulitan pasti akan ada kemudahan. Badai pasti berlalu. Begitulah bacaan tulisan seorang teman mengutip nasehat dari Da’i kondang tersebut.

Bukan, sama sekali bukan. Saya sama sekali bukan sedang membandingkan derajat keimanan Saya dengan beliau. Jauh pisan kalau kata orang Sunda. Hafalan ayat beliau sungguh luar biasa, sedangkan Saya, memimpin jamah sholat Taraweh yang delapan raka’at saja, setengahnya pasti baca surat Al-Ikhlas. Pemahaman dan pengamalan agama beliau sungguh luar biasa, sedangkan Saya, lagi asik nonton TV tiba-tiba dipotong oleh adzan Magrib saja masih tidak ikhlas.

Yang saya maksud adalah urusan puasa semata seperti kutipan kalimat beliau di atas.

Jujur saja, Saya tidak ingat persisnya hari ini puasa hari keberapa. Sekitaran hari ke10, 11, 12, 13 atau 14, 15 duga Saya. Perlu berpikir dan berhitung beberapa saat sebelum Saya bisa memastikan.  Terus terang, setengah bulan berpuasa, Saya tidak merasakan beratnya menahan haus, lapar dan lemas seperti yang beliau maksudkan.

Setiap hari, boleh dikata, Saya hanya sahur dengan segelas air putih. Bukan perkara tidak punya uang untuk membeli makan karena toh sekedar nasi warteg tujuh ribuan bukan masalah buat Saya. Tetapi tertidur lelap, lalu tiba-tiba terbangun dan makan sahur, malah menjadi siksaan tersendiri buat Saya. Mengisi perut dengan makanan saat usus-usus Saya belum sepenuhnya terjaga. Alhasil, seharian Saya bisa meringis menahan perih. Jadi, sudah beberapa tahun terakhir ini Saya putuskan tidak sahur.

Haus, lapar dan lemas seharian?

Tidak terpikir sama sekali. Baiklah, naif juga kalau Saya bilang tidak terpikir sama sekali. Tetapi boleh dikata tidak berat sama sekali buat Saya. Datang ke kantor, bekerja, sibuk bekerja, asik bekerja, sholat Dzuhur, kembali bekerja, sholat Ashar, kembali bekerja dan tak terasa sudah waktunya pulang.

Dan soal berbuka, kecuali di dua undangan acara berbuka bersama, setiap harinya Saya hanya berbuka dengan air putih. Seteguk dua teguk tiga teguk saja, sudah selesai rasanya. Lalu makan malam seperti biasa. Bagaimana dengan kolak, tajilan, dan segala jenis makanan lainnya? Lagi-lagi bukan urusan tidak mampu karena toh kalau sekedar kolak lima rantang setiap malam tidak terlalu susah buat Saya. Tetapi pada kenyataannya, Saya tak merasakan beratnya berpuasa lalu apa yang mesti Saya rayakan.

Kalau sudah begini, apa Saya masih harus mendengarkan nasehat dari Aa Gym lagi?

Belum sempat berniat tepuk dada, tiba-tiba keponakan Saya yang baru kelas satu SD menelphon. Dengan bersemangatnya dia bercerita bahwa dia baru saja menyelesaikan membaca 30 ayat pendek di saat bulan Ramadhan baru berjalan separuhnya. Jauh lebih cepat dari apa yang ditargetkan orang tuanya.

Tersentak di hati. Saya memang tidak begitu merasakan beratnya menahan lapar dan haus di bulan Ramadhan. Tetapi pada kenyataannya, Saya juga tidak merasakan indahnya beribadah di bulan yang agung ini. Saya terlalu larut menjalani hari seperti biasa.

Sungguh celaka diri ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s