Sayur Hambar, Bulutangkis dan Sepakbola Indonesia

Sariman, housekeeper di rumah kostan Saya beberapa waktu lalu mogok makan masakan istri. Gara-garanya masakan sang istri yang tak jua kunjung enak. Sudah berulang kali, tetap saja rasanya pas-pasan. Tadinya saya pikir ini alasan Sariman saja. Dulu jaman baru pacaran aja, tahi kambing serasa coklat. Sekarang giliran sudah dikawinin, dibilang masakannya tidak enak. Mau nambah istri saja pakai alasan masakan tidak enak segala.

Karena penasaran, Saya terpancing juga untuk mencicipi. Bagaimana tidak penasaran, karena selama ini sejarahnya, dari jaman presiden Indonesia masih SBY sampai sekarang masih SBY juga, masakan istrinya Sariman terkenal mak nyoss di kostan. Ikan mentah hasil pancingan anak-anak kostan, bisa disulap jadi pepes ikan super lezat oleh istrinya Sariman. Dan semua anak kostan memuji, bahkan sampai tetangga juga berucap yang sama. Kalau Saya sih ikut-ikutan bilang enak saja, karena Saya tidak suka makan ikan. Tapi gerutuan Sariman yang tak juga henti beberapa hari ini memancing Saya untuk curi-curi mencicipi istri Sariman, maksud Saya masakannya. Dan ya Tuhan, hambarnya tak terkira. Pantesan Sariman protes.

Apa yang salah ini, pikir Saya. Istrinya Sariman selama ini terkenal akan kehebatannya memasak. Seluruh penjuru kostan, sampai warga-warga RT 08 RW 008 Kelurahan Banjarsari Kecamatan Cilandak Barat Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta kodepos 11640, tahu benar akan kelezatannya. Kalau sekarang rasanya hambar, berarti ada kejadian di balik perkara.

Melanjutkan rasa penasaran, beberapa kali Saya mencoba untuk mencuri lihat istri Sariman yang sedang memasak. Tidak ada yang berbeda rasanya dengan hari-hari sebelumnya. Gaya acuhnya dalam memasak, sambil menyapu lantai, sambil menjemur pakaian, sambil menyuapkan anak semata wayangnya. Masih sama saja seperti itu. Jadi apanya yang salah.

Penasaran tingkat tinggi, akhirnya Saya memberanikan diri bertanya kepada istrinya Sariman tentang ini semua. Dengan sederhana istrinya Sariman menjelaskan, bahwa tadinya dia cuma menujukkan rasa protes terhadap suaminya yang selalu inginnya makan enak tapi ngasih uang dapurnya pas-pasan. Tapi lama-kelamaan, dia malah lupa bagaimana memasak yang enak. Walau sudah berusaha keras sekalipun.

Wah, memprihatinkan juga ucap Saya. Mirip dengan kondisi tim bulutangkis kebanggaan kita yang dulu pernah berjaya sedunia. Tapi gara-gara uang jajan tidak nambah, perhatian pengurusnya semakin rendah padahal tuntutan kompetisi semakin meningkat, para pemain menunjukkan protesnya. Dan efeknya, mereka tidak bisa berbuat banyak ketika memang seharusnya tampil luar biasa seperti jaman dahulu kalai.

Sama cerita juga dengan tim nasional sepakbola kita.

Kalau sekarang Sariman sadar bahwa dia juga punya andil besar dalam pahitnya masakan istrinya beberapa waktu belakangan ini, harusnya para pengurus PBSI dan PSSI juga cukup punya kapabilitas untuk mengerti apa kondisi yang terjadi saat ini.

Saya, terus terang tidak tahu resep apa yang dipakai Sariman sehingga istrinya bisa kembali menuai deretan pujian dari tetangga, tapi kalau ada pengurus PBSI dan PSSI yang mau tau, sila hubungi alamat yang tadi Saya tulis lengkap di atas.

3 thoughts on “Sayur Hambar, Bulutangkis dan Sepakbola Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s