Susahnya Meninggalkan Sholat

Kepikiran juga akhirnya oleh Saya. Tak terhindarkan, pertanyaan ini terus terngiang di telinga. Kenapa begitu susahnya untuk sholat tidak tepat pada waktunya. Atau kenapa begitu sulitnya untuk meninggalkan sholat?

Memang kalau dari hitung-hitungan waktu, sekali sholat tidak memakan waktu yang lama. Sekitar lima belasan menit mungkin, jika melakukannya dengan tenang dan bacaan ayat pendeknya panjang, ditambah zikir dan doa. Ada versi kilatnya malahan. Lima menit jadi, udah pakai khusu’. Tapi entah mengapa, tetap saja mengganggu rasanya. Yang membuat Saya kadang mengabaikan Adzan yang terdengar, menundanya hingga kesibukan Saya berlalu. Toh, dengan telat sholat saja kehidupan Saya masih baik. Rezeki masih lancar. Bahkan sesekali meninggalkan sholat, tidak ada kejadian buruk yang menimpa sesudahnya.

Tapi ternyata, tidak semudah itu mengabaikannya.

Pagi-pagi buta. Gara-gara jarak kantor dan rumah yang lumayan jauh. Saya terpaksa harus berangkat kerja pagi-pagi sekali. Kelewat sedikit saja, bisa-bisa Saya harus berkemah di tengah kemacetan Jakarta. Dan untuk berangkat pagi, tentu saja Saya harus bangun pagi-pagi sekali. Hitungan waktu bangunnya, agar Saya bisa beres-beres persiapan paginya tidak terburu-buru, Saya harus bangun pukul lima pagi. Dan ini berbarengan dengan Adzan yang berkumandang dari Masjid dekat rumah. Hoala, dah kedengaran suara Adzan gitu, tidak enak juga rasanya kalau tidak sholat Subuh segera. Bingung bagaimana cara berkelit dari malaikatnya kalau ditanya kenapa tidak sholat. Lain cerita kalau Saya tidak terbangun sampai pukul 11 siang. Enak ngelesnya.

Siang hari, setelah makan siang, ini adalah salah satu masa dimana Saya bisa mencicipi sedikit kemewahan dunia. Tidur sebentar dengan perut kenyang. Amboi nian, bukan? Tapi ya namanya juga jam istirahat kantor. Pukul satu tepat harus sudah mulai kembali bekerja. Dan sebelum memulai kerja, terjaga dari tidur sesaat, mau tidak mau Saya harus ke toilet untuk mencuci muka. Kalau tidak, bisa-bisa didamprat Bos kalau dia lihat muka lecek Saya bangun tidur. Tapi mau cuci muka saja, tanggung rasanya. Akhirnya sekalian cuci tangan, cuci telinga, rambut, dan kaki, berwudhu. Lalu sholat Dzuhur.

Sore hari. Ini nasibnya kalau jadi Saya, punya otak pas-pasan. Walau dah makan nasi banyak sebelumnya, tetapi otak Saya tetap saja tidak bisa dikebut lebih dari dua jam. Sekitaran pukul setengah empat itu rasanya otak ini sudah berasap. Terpaksa harus ke toilet lagi buat cuci muka. Dan lagi-lagi, kalau sudah begini ya terpaksa harus lanjut cuci-cuci lainnya, wudhu dan sholat Ashar.

Magrib. Nah ini, celakanya lalu lintas Jakarta yang super macet. Kalau dah lewat pukul lima Saya pulangnya, ngantri Busway TransJakarta-nya edan-edanan. Saya tidak terlalu bermasalah dengan macet dan lamanya di jalan kalau ngantrinya bareng perempuan-perempuan muda cantik yang bisa diajak kenalan. Tapi ini yang ada malah sekumpulan orang-orang yang sudah muka lecek dan bau keringat semua. Pak Ogah aja ogah disuruh ngantri begini. Jadilah, setiap sore Saya buru-buru pulangnya. Dan alhasil, satu jam perjalanan pulang, tepat saat adzan Magrib berkumandang, Saya sudah di rumah. Mandi dan, yah lagi-lagi harus lanjut berwudhu. Kepalang tanggung, bukan? Coba kalau misalnya Saya terjebak macet lama di jalanan, dan baru sampai rumah jam delapan malam, kan enak ngasih alasannya sama malaikat.

Malam. Nah ini sebenarnya favorit Saya untuk melalaikan sholat. Karena biasanya, saat adzan Isya terdengar, Saya masih asik-asiknya mengelus-elus perut kekenyangan. Entar saja ah, ucap Saya pada diri. Dan biasanya kalau sudah entar-entaran gini, dah enak saja kelewatnya sampai ketiduran. Teorinya begitu, kan kalau orang ketiduran, terlepas dari kewajiban sholat. Cuma sayangnya ada sesuatu yang salah dengan gigi Saya. Kalau malam Saya sampai ketiduran dengan tidak gosok gigi sebelumnya, perihnya sungguh minta ampun. Mending kalau sakit sesaat saja. Kalau sampai gigi Saya rusak, kan Saya juga yang susah nantinya. Buat senyum susah, dipakai buat ciuman sama istri nantinya juga susah. Jadilah, sengantuk-ngantuk apapun, Saya paksakan juga untuk ke kamar mandi untuk gosok gigi. Yah, tapi yang namanya gosok gigi, harus menyentuh air, yang membuat kantuk Saya hilang seketika. Kalau sudah begini, tidak ada alasan lagi buat meninggalkan sholat.

Dan begitu juga keesokan harinya. Seterusnya. Ada saja halangan yang menghalangi Saya untuk tidak sholat.

Yang mau tidak mau membuat Saya berpikir. Dari seorang guru mengaji, Saya pernah mengingat beliau berkata, bahwa andai tidak seorangpun manusia di bumi ini yang menyembahNya, tidak akan berkurang sedikitpun kemulianNya. Tidak persis seperti itu mungkin, tapi begitulah kira-kira. Jika tidak seorangpun yang tidak menyembah, tidak berkurang sedikitpun keperkasaanNya. Apalagi Saya seorang yang tidak menyembahnya, tidak ada pengaruh sama sekali.

Tetapi, dengan segala RahmatNya, Saya malah dibimbing untuk tidak lalai dalam melaksanakan kewajiban Saya sebagai hamba setiap waktunya. Di pagi hari agar Saya segar dan tenang menjalani kehidupan mencari nafkah, di siang hari agar Saya bisa jeda sejenak dari kelelahan bekerja, di sore hari agar Saya bisa berpikir tenang sebelum menyelesaikan pekerjaan, di kala Magrib, agar pikiran Saya kembali cerah dan segar di rumah, dan di malam hari agar Saya tenang beristirahat. Dan di akhir itu semua, ada surga yang dijanjikanNya.

Sungguh, kalau sudah begini sulit sekali menemukan alasan untuk melalaikan panggilanNya, bukan?

2 thoughts on “Susahnya Meninggalkan Sholat

  1. awalnya saya bingung dengan judul dan paragraf pembuka, ternyata…

    ya ahamdulillah kalau begitu, semoga seterusnya tidak diberi alasan untuk melalaikan-Nya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s