Lampu Kehidupan

Hidup itu… ibarat asik bekerja mengetik laporan di komputer dan tiba-tiba mati lampu tanpa sempat menekan ctrl+S, menyimpan.

Mulai bekerja pukul delapan pagi di akhir pekan, dengan sebuah laptop, Saya larut dalam pekerjaan. Satu halaman, dua halaman, lima halaman, tiga puluh halaman, Saya semakin terhanyut. Sekian jam berlalu, saat sedang asik menulis entah halaman seratus berapa… tiba-tiba… tanpa sengaja, kaki Saya menyentuh kabel power laptop yang membuatnya tercabut, dan laptop tanpa baterai yang sepenuhnya mengandalkan pasokan tenaga dari listrik mati seketika.

Sontoloyo sumpah serapah mengingat kerjaan yang sudah begitu banyaknya terselesaikan, tetapi lupa disimpan. Gondok, empet banget!

Tapi apa mau dikata. Begitu kejadianna, dan begitu pulalah jalannya dengan kehidupan ini.

Beberapa hari yang lalu, tidak direncana, Saya bertemu dengan seorang teman lama di sebuah pusat perbelanjaan di dekat rumah. Jujur, sebenarnya Saya perlu memaksa memori di otak Saya sedikit bekerja keras untuk mengingat dia. Bukan karena Saya lupa akan wajahnya. Tetapi wajah yang Saya lihat saat itu, sungguh jauh berubah dengan apa yang Saya rekam selama ini. Tidak bermaksud menghina, tapi wajah, perawakan, dan segala macam gaya dia ketika kita bertemu kemaren itu sangat jauh dari apa yang Saya ingat tentang dia.

Jadi ya ternyata, singkat cerita, Bapaknya sakit, meninggal, disusul Ibunya, terus saudara-saudaranya bertengkar rebutan harta. Sekarang sang teman itu hidup dengan kondisi yang sungguh jauh berbeda dengan masa dulunya. Guratan wajah tampannya masih sedikit tersisa, tetapi kejayaan dia yang lainnya, seakan tiarap semua. Menurut dia, selama ini dia terlalu asik dengan kehidupannya, lupa nge-save, dan tiba-tiba aja… mati lampu kehidupannya.

Beberapa hari sebelum itu, Saya juga menjadi pendengar setia bagi seorang teman yang tiba-tiba diputuskan kekasihnya. Selama ini kisah cinta mereka ibarat film romantis everlasting love song saja. Tapi tak diduga, dia menangkap basah sang pacar ciuman sama teman dekat. Gondok, empet banget pastinya. Asik-asiknya merajut kasih, tiba-tiba aja… mati lampu asmaranya.

Tapi memang tidak bisa kita pungkiri begitulah yang acapkali terjadi dalam hidup ini. Seperti yang sering diucap orang bijak, begitulah kehidupan adanya. Dan pilihan bijak buat kita adalah tetap menjalaninya dengan senyum dan bergairah.

Siapa tahu, ada sutradara yang sedang mencari pemain bergaya tua dan menderita untuk pemeran pembantu di film box office terbarunya. Pussshhh… Jadi artis, kembali kaya lagi. Kaya dan terkenal malahan. Dan dengan sedikit usaha tambahan, bukan tidak mungkin untuk mendapatkan istri dari kalangan artis juga. Syukur Alhamdulillah, toh?

Siapa tahu, saat putus dengan pacar, eh kebetulan ketemu Nia Ramadhani yang lagi nyariin calon bini buat saudara suaminya. Kalau saat itu kitanya masih berstatus pacaran sama orang lain, ya ora iso toh?

Tapi ya kesimpulannya, no matter how are you this moment, satu sisi kita harus sadar bahwa we do make a mistake by not press CTRL+S in our life, but being sad is not an option.

Hidup itu indah, bersyukurlah karena Tuhan punya rencana dari setiap kejadiannya. Bergembiralah.

(mengalami kejadian yang berulang, membuat Saya mengulang kembali tulisan ini dengan beberapa perubahan)

One thought on “Lampu Kehidupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s