Kisah Saya dan Cermin

Dua puluh empat jam Saya menjalani hidup, bisa dibilang hidup Saya tidak lepas dari sebuah benda yang bernama cermin. Hee, jangan berprasangka Saya banci ngaca dulu. Kalau sedikit iya lah, tapi bukan itu yang mau Saya bicarakan. Maksud Saya, sepanjang hari sepanjang malam hidup Saya, selalu saja Saya menemukan cermin. Bangun tidur, di kamar sebuah cermin setinggi satu meter selalu menyapa. Di kamar mandi, bertemu juga. Di ruang tengah, tempat dimana Saya biasa nonton TV atau memakai sepatu sebelum berangkat kerja, juga ada cermin. Di bis, kalau kebagian duduk di depan, ketemu juga sama cermin, walau si pak Sopir menyebutnya kaca, kaca spion, bukan cermin spion. Kalaupun tidak, kaca-kaca mobilnya kadang cukup reflektif dan bisa dipakai untuk bercermin. Sampai kantor, naik lift, kiri kanan lifnya cermin penuh menutup dindingnya. Sampai di kantorpun, kaca cubicle Saya, bisa jadi cermin. Depan, belakang, samping kanan, samping kiri, cermin semua. Sepanjang hari tak terhindari untuk melihat pantulan diri sendiri.

Enak kalau tampang Saya ganteng, muka bersih, rambut keren. Atau kalau perempuan punya wajah manis menyenangkan. Atau kalaupun tampang pas-pasan, masih enaklah yang punya baju bagus bermerek mahal, jam mewah, punya telepon genggam canggih seri terbaru. Walau tampang agak bikin gondok orang, tapi masih tetap pede bergaya depan cermin. Nah Saya, hanya gaji pas-pasan saja yang membuat Saya masih menahan diri untuk menganut prinsip buruk muka cermin dibelah. Kalau cermin itu Saya belah semua, bisa-bisa duit gaji Saya habis buat ganti, lah terus Saya makan bayarnya pakai apa. Nasib, nasib.

Bangun tidur, tanpa menyapa, si cermin langsung saja menyuguhkan Saya wajah yang buteknya nauzubillah. Muka belipat-lipat seperti selimut kusut. Terpaksa dengan kepala ditutup bantal Saya acuhkan sapaan si cermin.

Di kamar mandi, sudah gosok-gosok cuci-cuci dengan sabun wajah khusus pria yang sangat mahal buat kantongpun, tetap aja tidak manjur.

Habis mandi, balik ke kamar bercermin, puff… Sudah pakai minyak rambut yang iklannya paling anyar di televisipun, tetap Saja tidak bisa menghindarkan kepala Saya dari yang namanya degradasi rambut. Buat muka, pakai bedak, jadi kayak monyet bedakan, ga pakai bedak, muka kusam.

Berangkat, kebetulan duduk depan, ga berani liat kaca spion. Bentuk kacanya yang cembung, ikut-ikutan bikin cembung wajah Saya. Sudah jelek dibikin cembung, ya makin jeleklah wajah ini. Atau kalau giliran berdiri rame-rame di bis, malasnya setengah ampun memandang ke kaca. Orang kiri-kanan pada kelihatan bergaya. Entah itu emang cakep beneran, atau gaya beneran sambil sibuk dengan BlackBerry atau pamer tas Bucherry nya.

Di lift kantor, ini ni yang paling Sial. Di cermin dinding lift sisi kiri Saya terlihat miring-miring-penyet. Di cermin lift sisi kanan, entah mengapa, Saya terlihat sangat hitam sekali. Puff.

Bisa mengerti mengapa Saya begitu anti sekali dengan cermin, bukan?

Sampai beberapa waktu yang lalu, ketika sedang ngobrol sambil berkeluh kesah tentang cermin ke Kakak Saya, tiba-tiba Papa Saya berkata “Teman itu adalah cermin siapa kita.”

Kalimat yang pendek dan sederhana, namun begitu mengena buat Saya. Teman memang memantulkan siapa kita, seperti cermin. Siapa teman kita, orang akan bisa menilai tentang kita. Dan sama seperti cermin, teman bisa kita temukan dimana-mana. Namun apa teman tersebut akan memantulkan hal baik tentang kita kepada kita, ini perkara lain. Perkara pilihan kita untuk bercermin dengan teman yang mana. Dan ibarat semua cermin itu, tidak semua apa yang teman sampaikan tentang diri, harus kita dengar.

Mangkanya sekitar Satu minggu yang lalu, akhirnya Saya memutuskan untuk membeli sebuah cermin baru buat di kamar Saya. Sebenarnya hal ini tidak dalam rencana. Tetapi sudah beberapa kali Saya lewat depan toko cermin tersebut, Saya selalu merasa terlihat lebih ganteng. Bukan terlihat lebih ganteng, mungkin yang lebih tepat adalah memang cermin ini lah yang tahu betapa gantengnya Saya sebenarnya. Terkesan membual? Tidak, Saya jujur kok, paling tidak itulah jawaban dari Ibu Saya tentang anaknya yang satu ini, hehehe. Tiga kali Saya melintas, tiga kali cermin berkata jujur, Saya ganteng. Dan hulaaa, jadilah sekarang cermin tersebut terpasang dengan kokohnya di dinding kamar Saya. Dan tahukan kalau rasa ganteng saat bercermin memberikan rasa percaya diri yang kuat, sehingga kita lebih bersemangat melakukan sesuatu? Yakinlah, karena Saya sudah mengalaminya.

Cermin sebelumnya dibuang? Tidak, cermin lama masih setia menemani di kamar Saya, bersanding dengan cermin yang baru. Saya butuh kedua cermin tersebut, yang cermin lama untuk mengingatkan Saya akan betapa masih banyak kekurangannya Saya sehingga Saya selalu berusaha untuk memperbaiki diri. Sedangkan cermin baru saya butuhkan untuk meningkatkan percaya diri Saya, bahwa Saya cukup bisa untuk melakukan sesuatu. Dan begitu juga dengan semua cermin lainnya yang Saya temui sepanjang hidup Saya.

Saya akan terus memperbanyak cermin dalam hidup Saya, seperti Saya memperbanyak terus teman Saya.
Saya percaya, semakin banyak cermin semakin bisa kita menilai diri kita, tentang siapa diri kita, baik atau buruk, sebenarnya.

3 thoughts on “Kisah Saya dan Cermin

  1. Nice post🙂
    Hehe, di tempat tinggal saya, ada seorang kawan saya yang suka sekali dengan cermin di kamar saya. Katanya kalo bercermin di situ dia (merasa) jadi lebih ‘beautiful’.
    Sebenarnya, secara fisika dapat dijelaskan. Setiap cermin punya karakteristik yang berbeda-beda; misalnya dari segi indeks bias atau kemampuannya merefleksikan cahaya, dll. Tapi yang saya tidak mengerti, mengapa cermin yang sama tidak memberikan efek yang sama pada orang yang berbeda? Hmm,…

  2. wah kalau pak armein sih keren, dulu saja, waktu saya bujang, cewe2 pada mengidolakan beliau, sudah ganteng, pinter lagi. perfecto lah🙂. untung waktu itu pak armein sudah berkeluarga, jadi kaga perlu bersaing dengan beliau🙂

  3. good.. post.. semoga cermin yang ada tidak sekedar memantulkan bayang-bayang kita secara jasmani namun secara rokhani juga.. sehingga kita bisa lebih mawas diri.. sukses dan salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s