Malaikat Sibuk

Tadinya, berulang kali terucap rasa iba pada diri sendiri mengingat status Saya yang masih juga sebagai karyawan. Judul di kontrak kerja sih, jam kerja Saya adalah dari hari Senin sampai hari Jumat setiap minggunya, dari pukul delapan pagi hingga lima sore. Tapi ya itu cuma judulnya saja, tapi prakteknya, jadwal OB kantor saja kalah sama Saya. OB belum datang, Saya dah di kantor, OB dah misuh-misuh mau pulang, Saya masih asik dengan mata tertuju laptop. Sabtu Minggu? Jangan tanya. Kalau order dari Bos sudah turun, no way thank you lah untuk urusan yang lain.

Tapi belakangan Saya mikir juga, sesedih-sedihnya nasib ini, ternyata ada yang lebih kasihan lagi dari Saya yaitu Malaikat Raqib dan Atid. Hahahaha, kalau Saya malasnya lagi kambuh, bisa saja matikan handphone atau ngilang dari radar orang kantor. Kalau Malaikat Raqib dan Atid, TWENTY FOUR HOURS A DAY, SEVEN DAYS A WEEK kudu stand by, gimana ga kasihan.

Sebenarnya tidak semua malaikat Raqib dan Atid. Dari sekian banyak jumlahnya, ya sekitar 220an juta diantaranya ketiban sial harus bertugas di Indonesia. Lah kok bisa?

Raqib dan Atid adalah dua malaikat yang selalu berada disisi kiri dan kanan kita. Mencatat segala amal kebaikan dan perbuatan salah kita. Raqib, ngedampingi selalu dari sebelah kanan kita, segala urusan yang baik-baik, mulai dari ngisi celengan pas jumatan, sampai bantu nenek-nenek yang punya cucu cantik nyeberang jalanpun, semuanya tidak ada yang luput dari catatannya. Sedangkan Atid, berada di sisi sebelah kiri, bertugas mencatat segala hal perbuatan buruk kita, mulai dari nyolong tempe, ngintip tetangga, sampai nitip absen pas bolos kuliah, ga ada satupun yang kelewat sama Atid.

Pekerjaan yang sederhana bukan? Karena toh, dua malaikat ini punya kekuatan yang sangat hebat, bahkan urusan baru sebatas niat saja sudah bisa ada dalam catatan mereka.

Nah, yang jadi masalahnya, ga jauh beda sama Saya, urusan waktu kerja. Bukan sekedar 24 hours a day, 7 days a week aja, tetapi juga SIXTY SECONDS A MINUTE, SIXTY MINUTES A HOUR.

Harusnya sih, dua malaikat ini bisa ngatur waktu kerja mereka. Satu siaga kerja, satu lagi istirahat. Gantian. Karena biasanya ya, orang jahat itu, dalam sehari bisa 23 jam dia jahatnya, 1 jam baiknya. Atau tiga hari jahatnya, 1 hari baiknya. Kayak di film-film Hollywood. Orang baikpun biasanya gitu, pak Ustad misalnya. Dalam semingguan ngasih ceramah, ya ada lah barang satu dua hari ataupun satu dua jam yang pak Ustad nya error. Namanya juga manusia, kan?

Tapi sialnya buat mereka yang bertugas di Indonesia, dapat status KUDU ALERT FOREVER.

Bapak salah seorang teman Saya contoh kasusnya. Pejabat lumayan teras. Pakai kopiah putih. Baik sekali orangnya. Tiap kali Saya main ke rumahnya, Saya selalu disuguhi ceramah agama. Hoo, Saya pikir, ini orang cuma bawa satu malaikat kemana-mana, malaikat Raqib saja. Suatu pagi di hari Minggu pun begitu, saya menghadiri acara halal bihalal di sebuah gedung, dan Bapak teman Saya itulah sang penceramahnya. Dengar cerita, hari itu saja beliau ada tiga jadwal ceramah di tiga tempat. Yakin sekali Saya, kalau Saya adalah malaikat Atid, saya akan memilih untuk cuti hari itu, dan membiarkan Raqib saja yang berangkat. Tapi sorenya, tidak sengaja Saya berpapasan dengan beliau keluar dari sebuah panti pijat di jalan arah ke rumah Saya. Walah, semoga saja Atid tidak berpikiran sama dengan Saya.

Lain waktu, Saya dan teman, gara-gara mobil mogok, terpaksa nongkrong menghabiskan malam sambil berbagi cerita di gerai fastfood sebuah Plaza di bilangan Hayam Wuruk Jakarta. Sepanjang waktu tersebut, tak henti kita melihat banyak perempuan berbaju super minim. Atib lembur ni, pikir Saya. Dengan gaya super manja, para perempuan itu bergelayutan mesum dengan para lelaki yang menghampiri mereka. Bakal bengong ga ada kerjaan ni kalau Raqib ikutan.

Eh, tiba-tiba perempuan itu berhenti, melepaskan tangan sang lelaki dari dalam bajunya, berjalan beberapa langkah mundur, membuka dompetnya, dan mengeluarkan satu lembar duit limapuluh ribuan lalu memberikannya kepada seorang pengemis tua. Semua terjadi dengan sangat cepat, karena seketika si perempuan sudah sibuk cekikikan dalam gendongan sang lelaki, masuk mobil dan berlalu entah kemana.

Sungguh, kalau sampai Raqib mendengarkan nasehat Saya, bisa disetrap Tuhan dia.

Untungnya malaikat ga pernah (atau ga bisa ngeluh). Kalau boleh, Saya jamin semua malaikat Raqib dan Atib yang bertugas di Indonesia pada minta pensiun dini semua. Stress sendiri ngedampingi orang-orang Indonesia yang susah ditebak dengan akal atau hati nurani, beneran orang baik atau beneran orang jahat. Ga peduli itu tukang bis kota sampai pejabat negara.

Semoga saja, Saya salah tulis, semua orang Indonesia yang belakangan ini gencar teriak perjuangan, adalah beneran cuma perlu Raqib bertugas disampingnya.

4 thoughts on “Malaikat Sibuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s