Band Penceramah

Jeda sejenak, sepulang kerja saya menyempatkan diri menonton sebuah life performance band di sebuah mall tempat saya berkantor saat ini. Beberapa waktu belakangan ini saya memang terlalu memforsir diri ini bekerja dan bekerja, jadi wajar jika saya butuh sedikit hiburan.

Band apakah itu? Saya tidak tahu namanya, begitu banyak band-band baru. Menghapal satu-satu sama saja susahnya dengan menghapal nama-nama mentri kabinet. Berganti ganti sesuka hati. Tapi wajah mereka beberapa kali saya lihat di televisi, dan lagu mereka, sering dinyanyikan para pengamen di bis kota jalur yang biasanya saya tumpangi setiap hari. Jadi selain butuh hiburan, ada rasa penasaran juga dalam diri. Siapa tahu ternyata personilnya ada teman saya, atau orang yang bisa saya akui teman, lumayan juga jaman sekarang punya teman artis. Ya kan?

Di depan panggungnya banyak kursi yang bisa ditempati, namun saya memilih untuk berdiri saja sedikit jauh dari panggung. Masih kedengaran dan tentunya masih bisa melihat wajah personil band nya. Tak berapa lama, si pembawa acara mempersilahkan band tersebut untuk tampil dan memperkenalkan mereka satu-persatu.

Tidak ada yang saya kenal ternyata, sial.

Ya sudahlah, dengarkan lagunya saja.

Biasalah, mereka memulai show dengan menyapa para penonton. Yang tua yang muda, ibu-ibu, anak-anak, berbaju kuning, bertopi merah, bersepatu tinggi, yang sedang menggendong anak, yang lagi berpelukan mesra dengan pasangan, yang duduk di kursi, ataupun yang menonton sambil berdiri semuanya disapa.

Semua, kecuali saya. Sial.

Ya sudahlah, dengarkan lagunya saja.

Puas menyapa, sang vokalis tampak akan mulai bernyanyi. Tapi kurang afdol mungkin dia pikir jika tak menceritakan sedikit tentang lagu yang akan ia nyanyikan. Lagu ini bercerita tentang seorang laki-laki yang bisa menerima pasangan dia apa adanya, bersama si perempuan pujaan hati, tak peduli sang perempuannya gendut, tinggi, hitam,bergigi tongos, botak atau apapun itu, dunia terasa begitu indah… dan seterusnya dan seterusnya.

Ya, dan memang dan seterusnya. Karena ternyata sedikit cerita tentang lagu itu tak berhenti sampai di sana saja. Bagai dongeng yang dimulai dengan prosa “pada suatu hari…” lama kelamaan kisah pengantar lagu tersebut menjadi sebuah ceramah tentang bagaimana seharusnya hubungan itu dibangun. Pegal juga kaki ini menunggu band ini selesai berceramah dan memulai lagunya.

Mungkin sebentar lagi dia akan bernyanyi, pikir saya. Okelah, saya tunggu saja sambil duduk, kebetulan masih ada satu kursi yang kosong.

Mulai bernyanyi? belum. Ceramah masih berlanjut, 20 menit berlalu.

Sialan benar tu band. Dimana-mana band itu ya bernyanyi, terserah itu lagu melow-melow yang bikin orang termehek-mehek, atau genjreng jenjreng bikin orang jedug jedug. Tapi ya tetap aja bernyanyi, bukan ceramah sampai setengah jam. Keterlaluan. Apa karena mereka pikir dengan lagu hits mereka yang diperdengarkan dimana-mana, mereka bisa dengan seenaknya berceramah menasehati orang-orang tentang bagaimana berhubungan. Apa hebatnya mereka soal hubungan. Memangnya sang vokalisnya pernah apa pacaran sama perempuan yang gendut, tinggi, hitam,bergigi tongos, dan botak, dan mengangap semuanya begitu indah? Kalau belum pernah, kalau ga bisa ya jangan sok ceramah. Nyanyi saja. Lah wong saya datang mau dengar band itu bernyanyi. Kalau nanti gara-gara dengar lagu itu orang-orang jadi tergugah itu lain perkara.

Sial. Gondok benar hati ini. Pulang

Tidak habis pikir saya, tidak bisakah orang-orang tersebut menahan diri untuk “cukup” berjaya saja di dunianya masing-masing. Mas Prie GS saja yang setiap tulisannya begitu menginspirasi buat saya, tak sekalipun terlewatkan (orang-orang bisa uji, saya hapal semua tulisan mas Prie GS), begitu saya menyalakan radio di mobil di tengah kemacetan Jakarta, dan mendengar mas Prie GS membawakan sebuah acara, tak butuh lama buat saya untuk memutuskan untuk mematikan kembali radio tersebut. Mentang-mentang tulisannya bisa menggugah banyak orang trus dia berpikir dia bisa berbicara sama hebatnya dengan dia menulis? Maaf mas Prie, radionya saya matikan.

Diandra Sastrowardoyo, semua temanpun tahu kalau saya adalah pemuja perempuan yang satu ini. Sangat cantik, dan lihatlah ketika dia berbicara. Sangat cerdas, setiap ucapan dia berbobot dan ini membuat kecantikannya makin sempurna di mata saya. Senyumnya yang menawan hati, begitu menggugah hati. Jika saya ia berseru kepada saya untuk membersihkan halaman rumah, bagai prajurit yang diperintahkan komandan besarnya, tanpa ragu satu Jakarta saya sapu. Tapi ketika Dian menulis di blog, oh tidak… Tidakkah Dian tahu bahwasanya cantiknya dia itu hanya berlaku untuk urusan verbal. Tulisannya tak lebih dari tulisan curhat remaja usia belasan yang baru menginjak puber. Maaf Dian, tidak sekalipun saya akan membaca blognya lagi.

Benar-benar kebangetan.

Belum puas rasanya hati ini ketika baru beberapa langkah saya berjalan, tiba-tiba telepon genggam saya berbunyi. Sahabat lama saya ternyata, lama sekali kita tidak pernah berbicara apalagi bersua. Apa kabar, Ben? Kerja dimana sekarang? Tak menunggu apa ini sekedar tanya sapa basa-basi, langsung saja saya bercerita tentang pekerjaan saya sekarang, menjadi konsultan sistem pendinginan udara untuk sebuah proyek properti prestisius di Jakarta. Dari kalimat barusan tidak perlu saya tegaskan betapa hebatnya saya dan seperti apa nada saya waktu itu berbicara, bukan?

Semua orang pasti terpukau, harusnya, namun lihatlah reaksi dia yang begitu kurang ajar. “Oh ya, kok bisa? Kamu kan baru beberapa bulan bekerja, lagian kan dulu background pendidikan kamu bukan itu. Emang bisa, gitu?

Sial, kurang ajar benar ini orang. Lama tidak berjumpa, tiba-tiba seenaknya menilai orang. Memangnya selama beberapa waktu saya bekerja itu saya tidak belajar sesuatu? Memangnya jika background saya tidak sesuai dengan pekerjaan sekarang, saya tidak bisa sukses dan menjadi raja di dunia saya sekarang.

Ini orang kok bisanya cuma sinis aja, sih. Kebangetan.

Benar-benar sakit hati rasanya.

Dan mungkin, inilah rasanya jika saja para personel Band itu, mas Prie GS, atau Dian Sastro tahu apa saja yang pernah saya kata tentang mereka.

Atau jangan-jangan mereka hanya menertawakan saya. Band itu jelas-jelas sudah terbukti hebat di dunianya, toh penjualan albumnya laku keras, mereka manggung dimana-mana. Mas Prie GS dan Dian Sastro, jangan ditanya.

Sedangkan saya, dulu memang sempat di cap jagoan bidang produksi sewaktu di kampus, tapi itu hanyalah pembuktian di atas kertas ujian. Keluar dari kampus, tak seorangpun mengenal saya. Dan sekarang… benar-benar masih anak bawang di dunia kerja say sekarang.

Kebangetan.

Benar, mulai sekarang saya tidak akan sinis lagi sama orang-orang. Artis jadi politikus, silahkan. Pemain sinetron mau bikin album nyanyi, silahkan. Semuanya silahkan, dan saya… saya juga akan buktikan saya bisa.

Ya sudah, mari dengarkan saja lagunya.

Selamat berkarya semua.

4 thoughts on “Band Penceramah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s