Warung Nasi Padang Doa Mande

Walau sudah hampir enam tahun lamanya saya merantau meninggalkan Nagari Minang Kabau, kampung halaman saya, menuntut ilmu mencari kehidupan di tanah Sunda, tapi untuk urusan perut tetap saja masih cap Minang. Belum terasa nikmatnya dunia ini jika dalam sehari itu belum makan nasi Padang. Ondeh mande, kalau makan nasi Padang tambuah ciek. Tapi sayang persoalannya tidak sesederhana datang-makan-kenyang. Prinsip paid more get more kurang berlaku di rumah makan Padang. Kalau di warteg dengan duit lima ribu kita sudah bisa makan ayam dan teman-temannya satu komplotan, kalau di rumah makan padang ya baru cikal bakalnya, alias cuma makan dengan telur ayam. Dan yang paling dibuat menderita karena hal yang satu ini, ya orang-orang seperti saya. Orang-orang yang perutnya cap Minang Asli, tapi kantong pas-pasan. Untuk kalangan seperti ini rumah makan padang bukanlah sahabat yang baik.

Tapi tidak dengan sebuah warung nasi Padang di dekat kampus saya. Hanya sekelas warung nasi memang, tempatnya kecil cuma berukuran 3×4, dan tentu saja tidak ada itu yang namanya pelayan berseragam. Tapi kalau soal rasa dan harga, wuihhh…. mantap bana.

Warung nasi padang yang digawangi sepasang suami istri muda ini bernama Doa Mande. Di Doa Mande, samba randang, gulai ayam, goreng ikannyo, so delicious. Kuah randang, lado ijau, bumbu ayamnyo, so tasty. Nasi, lauk, sayur, semuanya ambil sendiri, terserah takaran masing-masing. Kalau kurang, nasi, kuah randang, lado, sayua, asal bukan lauknya aja, boleh nambah gratis. Itu semua bisa didapat dengan harga cuma antara tiga sampai lima ribu saja.

Tertarik bukan? Om Bondan-MakNyos memang belum pernah mempromokan warung Padang ini di Wisata Kulinernya, tapi bisa saya bilang, bukan saya saja yang menjadikan tempat ini sebagai pilihan utama tempat makan siang saya. Puluhan, atau mungkin lebih dari seratus orang yang rata-rata adalah orang kampus saya, tiap harinya bersantap di Doa Mande.

Namun untuk makan siang di tempat ini, urusannya juga tidak sesederhana datang-makan batambuah-bayar murah. Walaupun namanya makan siang, tapi kalau datangnya di atas setengah satu,bersiaplah dengan menu seadanya, itupun kalau masih ada. Come earlier get more, mungkin itu prinsip yang berlaku. Kalau perlu, ya mencuri-curi waktu istirahat siang. Pukul setengah dua belas sudah ikut antrian.

Karena sering kehabisan, sekali waktu saya pernah protes kepada si Uni yang punya warung. Kenapa dia tidak menyediakan makanan yang dijual dalam jumlah yang lebih banyak. Sehingga datang jam berapapun, orang tetap bisa merasakan nikmatnya nasi Padang si Uni. Melihat begitu banyaknya orang-orang seperti saya, kalau biasanya dia cuma masak lima puluh potong ayam, saya yakin sekali kalau sekarang dibikin jadi seratus, semuanya pasti tetap akan ludes terjual. Orang-orang kenyang, penghasilan si Uni bertambah.

Tapi dengarlah apa jawaba si Uni, “indak usah lah, cukuik sagitu se lah rasaki dek kami, jo iko san kan lai masih bisa kami makan, bayia uang sakola, sakali-sakali balanjo baju baru. Kok ditambahan masak, kok rasaki urang nan taambiak dek awak beko, barek ituang-ituangnya di akhirat. Lagipulo kok masak banyak banyak tu bakaja kaja mangarajoannyo, jadi bia lah saketek tapi yo jo ati masaknyo, kan jadi lamak samba nyo dek uda kan?”
(tidak usah, cukuplah segini rezeki buat kami, dengan segini saja kami masih bisa makan, bayar uang sekolah, dan sekali-sekali belanja baju baru. Kalau masaknya ditambahin, bisa-bisa rezeki orang yang nantinya terambil oleh kita, berat hitung-hitungannya di akhirat nanti. Lagipula kalau masak banyak tidak cukup waktu mengerjakaanya, buru-buru. Jadi biarlah sedikit tapi saya bisa memasaknya dengan hati, jadi kan lauknya terasa enak bukan?)

Wow, di saat orang-orang berlomba meraup harta sebanyak-banyaknya, di saat para pengusaha berpacu membuka cabang dimana-mana, si uni dengan warung nasi Padangnya malah sudah menetapkan cukup sekian porsi rezeki yang akan ia raih. Cukup sekian porsi yang dia buat agar bisa memberikan cita rasa yang terbaik buat para pelanggannya. Entahlah buat orang lain, tapi jawaban ini begitu menghentak buat saya. Sungguh memalukan bahwanya untuk urusan filosofi hidup, saya kepental jauh sama seorang penjual warung nasi Padang kecil. Sudah tak terhitung kalinya saya begitu maruk sambar sana sambar sini dalam urusan rejeki, tak peduli orang tergenjet atau hasil akhirnya berkualitas atau tidak, yang penting kita makmur.
Akhirnya saya membatalkan protes saya kepada si Uni. Sembari menata diri, saya jalani saja hari-hari ini. Kala jam istirahat datang, segera menghampiri warung si Uni. Kalau masih ada, itu artinya memang rejeki saya untuk makan kenyang nikmat murah hari ini, kalau tidak ya berarti tinggal cari warteg. =)

21 thoughts on “Warung Nasi Padang Doa Mande

  1. Wahhh…keren ituh uninya🙂

    Yah..kalo disini, ada rumah makan yang baru buka, awal2 porsinya banyak plus rasanya enak dan pelayanannya oke alias ramah. Eeehh, lama2 jadi jutek, porsi menciut, dan rasanya jadi biasa😦

    Saya nyasar sampe sini nih:mrgreen:
    Salam kenal ja ya🙂

  2. Wah keren bener filosofi si uni…

    Tidak puas dan kemungkinan merebut rejeki orang, itu yang nggak pernah disadari sama kita. iya kan?

  3. Warung Nasi Padang dan warung tegal, seperti jamur, dimana ada lapar, disitu *biasanya* ada mereka

  4. waaah …
    walopun gw tidak suka padang … tapi masakan padang mang ennnaakkk ..
    apalagi kalo yg masak wanita2 padang asli … rasanya BEDA !!!!!!🙂

    btw, jadi inged kata siapaaaa gituuuhh …
    jika ingin maju, kita harus merasa kurang ..
    entah apa berlaku untuk hal ini …🙂

    salam kenal,
    -hafi-

  5. hm….nyam2… kalo ud denger nasi padang ingin rasanya aku makan he… biarpun aku orang bogor tpi aku suka banget ns padang, ngomong2 themenya sama kaya aku he… salam kenal ya mas…

  6. brasa kalo beni itu diberkahi dengan talenta untuk mengerti “ada apa dibalik kejadian”.. yaahh apapunlah itu namanya.. intinya suka aja tulisan2 beni.. hmm, jadi penulis aja ben..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s