Mamamia Ibuku

Karena sering melihat promo acaranya di tv, sebuah acara ajang bakat olah vokal cukup menarik minat saya. Walau ini merupakan saduran dari ajang serupa di luar negri, tapi tetap saja acara Mamamia yang di tayangkan di sebuah stasiun televisi swasta ini, mengundang keingintahuan saya. Iya, sekedar keingintahuan, atau mungkin ketertarikan untuk menonton dan menikmati tayangannya di televisi. Berminat ikutan?

Walah, bukan… bukan…
Pertama, tentu saja karena saya tidak mungkin bisa memenuhi persyaratan utamanya. Saya laki-laki, dan usia sudah dua puluh sekian.

Kedua, saya tidak bisa menyanyi. Oke, mungkin bukan tidak bisa. Karena toh sekarang menjadi seorang penyanyi itu bukan urusan bisa atau tidak bisa. Lihat saja para artis sinetron yang ramai-ramai mengeluarkan album lagu sendiri. Peduli suara bagus atau tidak, tinggal bilang saja kalau dari kecil itu sebenarnya udah bakat nyanyi. Tapi tetap saja berkarir di bidang tarik suara adalah hal yang muskil orang terima tentang saya.

Dan yang ketiga, saya tidak punya mama. Yang saya punya adalah seorang Ibu.
Lah, apa bedanya Mama dan Ibu, Mother, Mom, Emak, atau apalah sebutannya itu untuk seorang perempuan yang melahirkan kita? Bagi banyak orang ini mungkin sekedar perbedaan istilah biasa. Emak, panggilan yang lazim di pakai di kampung. Mama, panggilan yang lazim dipakai jika di perkotaan. Mother atau Mom buat kalangan kaya atau orang yang ngaku-ngaku kaya dan ngaku-ngaku lama tinggal di luar negri. Mami? Seingat saya hanya satu orang teman saya waktu kecil yang punya Mami, dan saat itu dialah satu-satunya orang yang punya televisi berwarna saat itu.

Tapi di keluarga saya, ini semua adalah tentang kemandirian seorang anak. Entah muncul ide dari mana jika seperti inilah yang berlaku dalam keluarga saya. Mama, itu adalah analogi panggilan untuk anak yang manja, sedangkan Ibu adalah analogi panggilan untuk seorang anak yang mandiri. Jangan tanya kenapa bisa begitu, namun nyatanya inilah yang terjadi dalam keluarga saya.

Seingat saya, cukup lama juga ketika saya selalu memanggil beliau dengan kata Mama.
Seingat saya, waktu itu kakak saya memanggil beliau dengan sebutan Ibu, namun entah mengapa saya memanggil beliau dengan panggilan Mama.
Seingat saya, pertama kali saya berseragam putih merah ke sekolah, adalah hari pertama dimana beliau meminta saya memanggilnya Ibu, sama seperti kakak-kakak saya yang lain.
Seingat saya, mmm…. tak banyak lagi yang bisa saya ingat tentang itu kecuali semua ini adalah tentang uang jajan.

Ya, uang jajan.
Jika setiap harinya seorang anak SD yang memiliki Mama dapat uang jajan seratus perak, maka seorang anak yang memiliki Ibu cukup dengan dua puluh lima rupiah.
Jika seorang anak yang memiliki Mama boleh langsung pergi main sehabis makan siang, maka seorang anak yang memiliki Ibu haruslah mencuci piringnya terlebih dahulu.
Jika setiap saat seorang anak yang memiliki Mama bisa meminta beragam jenis mainan, mobil-mobilan ataupun sebuah sepeda, maka seorang anak yang memiliki Ibu hanya bisa melakukannya jika hari ulang tahun tiba, itupun dengan syarat anak tersebut adalah juara kelas pada saat terima rapor beberapa saat sebelumnya.
Jika setiap sore anak Mama bisa sepuas hati menonton Dragon Ball, Ksatria Baja Hitam, Power Rangers dan semua film lainnya di tv, maka anak Ibu hanya bisa menonton Ksatria Baja Hitam, satu-satunya film yang masih tersisa ketika si anak Ibu pulang mengaji di surau.

Wah, ternyata cukup banyak yang saya ingat.
Dan saya juga ternyata masih bisa mengingat bahwa tak ada protes yang bisa saya lakukan saat itu. Tidak ada, tidak bisa. Karena toh Ibu hanya bisa memberi saya uang jajan saya dua puluh lima rupiah setiap harinya, dan harus menabung sekian lama dulu agar bisa membelikan saya sepeda.
Ngotot manggil Mama? Atau Mami? Percuma kalau toh tetap saja saya cuma bisa nonton Ksatria Baja Hitam.

Dan hari ini, sudah hampir dua puluh tahun saya memiliki seorang Ibu, setelah sempat berapa saat memiliki seorang Mama.

Mandiri? Hahaha, malu juga saya mengatakannya, tapi sudah dua puluh sekian umur diri ini tak jua saya bisa lepas dari beliau. Tidak seperti kakak-kakak saya yang bisa mandiri sebagai anak Ibu, saya malah menjalani hari dengan kemanjaan yang mungkin melebihi dari apa yang diperoleh oleh seorang anak Mama, atau anak mami sekalipun.

Saya memang hanya bisa jajan sebuah karupuak leak dan satu es plastik di sekolah setiap harinya, tapi setiap pulang sekolah saya selalu menemukan sejumlah masakan Ibu yang begitu lezatnya di meja makan.
Saya memang harus mencuci piring sendiri sehabis makan, bahkan tak jarang setelah makan malam saya harus membantu beliau membersihkan meja makan dan dapur, tapi sekian lama saya tinggal di rumah, sekian lama pula saya menikmati waktu makan malam bersama keluarga. Papa, Ibu, semua kakak dan saya, semuanya kumpul di meja makan. Semuanya saling cerita tentang hari-harinya. Hari ini sudah ngapain aja, apa kabar tadi di sekolah, hari ini berantem atau tidak di sekolah. Semua celoteh saya tentang hari itu didengarkan dengan penuh kasih sayang.
Walau selalu juara satu sejak kelas satu, baru di ulang tahun pada saat kelas lima lah uang tabungan Ibu cukup untuk menghadiahkan saya sebuah sepeda. Tapi tak perlu menunggu hari ulang tahun itu untuk berbahagia, karena setiap hari ribuan kalinya ia mengucapkan betapa ia sangat menyayangi saya.
Saya memang hanya bisa menonton Ksatria Baja Hitam, itupun numpang di tv tetangga, karena kalau menonton di rumah sendiri, ksatrianya benar-benar hitam, hitam dan putih, hanya warna itu saja. Namun setiap malam, jutaan cerita tentang ksatria mengalun dari mulut Ibu sebagai pengantar tidur saya.

Hari-hari ketika panas badan saya tinggi, kadang adalah saat yang begitu saya nanti, karena itu artinya saya punya alasan yang cukup kuat untuk semalaman numpang tidur di kamar Ibu.

Jauh dari mandiri memang, bahkan mungkin banyak orang mengecap saya sebagai anak manja. Tapi tak bisa saya tutupi bahwa karena Ibu lah saya bisa seperti saat ini.
Malam-malam ketika saya harus begadang menghadapi setiap ujian di saat sekolah dulu, walau hanya sambil tertidur, Ibu menemani saya belajar.
Hari-hari saya menghadapi begitu banyak masalah di kampus, jauh dari keluarga, Ibu selalu setia mendengarkan saya berkeluh-kesah setiap kalinya ditelpon.
Dan minggu kemaren, setelah sekian lama tidak pulang, saya kembali ke rumah, sekedar untuk numpang tidur di ranjang Ibu. Ada kedamaian, ada ketenangan, ada jutaan kasih sayang Ibu yang saya rasakan.

Memang, acapkali kita lupa akan itu semua. Begitu mudahnya kita mengeluh ketika sudah seusia ini beliau masih ngotot ingin jalan ke pasar bersama kita. Begitu mudahnya kita membantah larangan Ibu agar tak bergaul dengan bebasnya. Begitu mudahnya kita berkata ah, ketika Ibu mengingatkan kita tuk tidak pulang terlalu malam.

Padahal sedikitpun belum terbalas kasih sayangnya, sekalipun belum pernah kita membuat Ibu bisa tersenyum bahagia.

Dari itu semua, pantaskan jika saya protes jika ternyata yang saya punya bukanlah seorang mama, tapi seorang Ibu?
Dari itu semua, pantaskah saya mengeluh, pantaskah saya membantah, pantaskah saya berkata ah, atas semua kasih sayang Ibu kepada saya.

Yang jelas, saya tak membutuhkan acara Mamamia untuk menunjukkan betapa sebenarnya begitu besar rasa cinta saya kepada Ibu. Dan semoga begitu juga dengan kita semua.

14 thoughts on “Mamamia Ibuku

  1. Aku juga manggil Ibu sama Ibuku, Ben…
    dan aku juga berpendapat, Ibu itu beda ama Mama..
    Ibu itu sosok yang sangat tegas dan selalu berdoa (doa ibuku cuma satu), yaitu semoga anak-anaknya jadi anak yang shaleh…
    Ibu itu sosok yang mengajarkan anak-anaknya agak kelak jadi Ibu yang kuat yang bisa ngedidik anak-anaknya dengan benar…
    Ibu itu sosok yang ngajarin anak-anaknya untuk gak manja..

    Kalo mama, adalah sosok yang selalu membawakan bekal temen-temenku setiap hari, nganterin ke sekolah, nungguin sepanjang sekolah, trus jemput pulang..
    Mama itu sosok yang bisa dicurhatin kapan aja tentang apa aja…

    Dan yang kupunya sama kayak beni… aku tidak punya mama, tapi aku punya Ibu…

    Hehehe,,,
    Ikutan melankolis…

  2. di keluarga saya itu Ibu itu panggilan untuk org2 yg kita segani..
    segan dengan org yg melahirkan, membesarkan, dan bertahun2 tinggal dengan kita?
    enggak sebegitunya jg buat saya..
    secara saya dan Mama udah spt temen,
    dengan batasan yg jelas tentunya..
    karena itulah saya panggil beliau dgn sebutan Mama, dan mungkin itu juga yg ada dibenak beliau saat melatih saya memanggil beliau dgn sebutan apa..
    manja atau tidak itu tergantung gimana kita dilatih dan bisa membawa diri aja..

    ummbbb.. bener2 dua persepsi yg berbeda ya Ben..
    yah, seperti yg biasa terjadi kalo kita sedang mengungkapkan pendapat🙂

    tapi, saya punya keinginan kalo punya anak kelak, InsyaAllah..
    saya ingin dipanggil dengan sebutan Bunda..

    entah kenapa…….

  3. gw dari kecil manggil nyokap selalu dengan kata “IBU” dulu pernah nanya kenapa, dan dijawab, karena kita ini bukan orang kaya harta. lagian, kita ini orang Indonesia, bahasa Imdonesia untuk seorang induk adalah Ibu.

    dan sejak itu gw berhenti bertanya kenapa harus Ibu?

  4. Bagiku… hanya ada satu mama… dan banyak sekali ibu… ada ibu guru, ibu kantin dan ibu-ibu lainnya. Penggunaan kata mama dan ibu bagiku hanyalah sebagai pembeda antara ibu kandung dan ibu-ibu lainnya. perlakuan? akh, mama saya adalah ibu yang baik… beliau (tidak lupa papa, kakak-kakak, dan juga teman-teman) lah yang membentuk aku seperti yang sekarang ini…

  5. Aku punya mami, tapi aku gak pernah dimanja. Lah, gimana mo dimanja, wong anaknya aja 8 eh. Jadi bermanja-manjaan itu barang mewah buat anak ke 6 bagiku!

    Lam kenal juga en makasih dah mampir ke blogku!

    Update-in dunk!!!

  6. hai ben. lu bisa nulis serius juga rupanya? omaigod, hehehe…

    I call my mother with ‘Mama’. Kelak kalo aku punya anak, aku pengen dipanggil ‘Mama’.

    Kebiasaan sih.

  7. Salam kenal.

    Gw manggil nyokap gw ‘mama’. Gak tau kenapa, panggilan ‘mama’ membuat gw takut – takut gak bisa sehebat mama gw.

    Akhirnya dapet panggilan yang cocok juga, pokoknya selain panggilan ‘mama’, & sekarang gw kesampaian dipanggil ‘ibu’ sama anak2 gw.

  8. huhu baru baca lagi sekarang….mewek aja gitu bacanya…hueee benx bisa juga ya posting kek ginih.. aku juga panggil ibu dengan sebutan IBU, karna kata ibu di indonesia itu panggilan seorang ibu ya IBU, dan tidak ada yg namanya mama guru…:)

  9. SATUJU !!!
    “Ibu” BEDA dengan “Mama”
    entah di mana inti bedanya selain dari abjad2 yg menyusun kata2 tersebut … hi..hi..hi…
    pun hf manggil nyokap dengan sebutan “Mama”, tapi mamakuw tetep menyebut dirinya dengan “Ibu”🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s