Balada Orang Baik

Beberapa waktu belakangan, mulai muncul rasa parno dalam diri saya sebagai orang baik. Oke, memang bukan orang yang baik sebenar-benarnya baik. Tapi paling tidak di beberapa lingkungan sosial, seperti di kampus atau dengan tetangga saya dikenal sebagai orang baik. Ini penilaian mereka, bukan data manipulasi atau hasil politik dagang sapi. Yah, jika ada yang bilang saya bukan orang baik, itu toh cuma beberapa. Paling lima, sepuluh, seratus atau seribu. Tidak sampai satu juta.

Dan punya status sebagai orang baik ini cukup menyenangkan. Namun seperti yang di awal tadi saya sampaikan. Beberapa waktu belakangan saya mulai parno untuk dikenal orang sebagai orang baik. Bukan saya bermaksud untuk menentang ajaran agama saya untuk menjadi orang baik. Tapi coba lihat apa yang terjadi belakangan ini.

Beberapa orang ditangkap oleh kepolisian gara-gara terlibat sebagai anggota teroris. Berita ini disangkal keluarga dari para tetangganya. Karena selama ini orang-orang tersebut terkenal sebagai orang baik di lingkungannya. Dan orang baik tentu saja sangat anti teroris.

Di acara berita kriminal di sebuah tv diberitakan seorang guru mengaji yang ditangkap kepolisian gara-gara disinyalir telah mencabuli anak didiknya. Lagi-lagi berita ini disangkal keluarga dan tetangga yang kadung percaya kalau selama ini sang guru mengaji adalah orang baik. Dan orang baik, jangankan mencabuli anak didik, mendekati zinapun tentu tidak.

Keluarga yang lain juga mati-matian menyangkal bahwa anak mereka bukanlah praja yang terlibat dalam pemukulan yang berujung pada tewasnya. Tidak mungkin pemukulan itu dilakukan oleh seseorang yang selama ini dikenal sebagai orang baik di keluarga dan lingkungan sosialnya. Dan orang baik, jangankan memukul juniornya sampai tewas, membunuh semutpun ia tak kan tega.

Lebih lanjut tentang orang baik.
Di negara yang tercinta ini, setiap tahunnya ratusan ribu orang berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Sederhananya, menurut saya, orang yang naik haji tentu saja adalah orang baik. Bagaimana mungkin ada orang yang tidak baik yang berani datang ke tanah Tuhan, lalu pulang dengan membawa oleh-oleh satu dirigen air zam-zam. Kalau bicara statistik, itu artinya sejak negara ini merdeka sudah jutaan orang baik yang ada di negri ini.

Di negara kita yang tercinta ini, juga ada jutaan orang yang mengabdikan dirinya sebagai guru. Guru, sambil merem pun kita bisa tebak pastilah orang baik. Karena bagaimana mungkin orang yang tidak baik berani-beraninya mengajar para muridnya untuk berbuat kebaikan. Jika bicara statistik, itu artinya ada tambahan jutaan lagi orang baik yang ada di negri ini.

Di pemerintahan negara yang tercinta ini, tentu saja dijabat oleh orang-orang baik semua. Presiden kita juga pastilah orang baik. Kalau tidak bagaimana mungkin dulu begitu banyak rakyat yang mau memilihnya. Tak mungkin rakyat mau memilih presiden yang akan menzalimi rakyatnya sendiri. Dan sebagai orang baik tentu saja Presiden tidak akan tega juga mengkhianati petani di negaranya dengan mengeluarkan undang-undang yang menghancurkan petani. Atau untuk urusan memilih mentrinya, tentu saja sebagai orang baik presiden juga akan memilih orang baik. Jika di tambah dengan para pembantunya di kabinet dan jajaran pemerintahan lainnya, statistik orang baik kita semakin menggunung.

Di negara kita yang tercinta ini, mungkin belum jutaan, namun ada begitu banyak para blogger yang menulis tentang kebaikan setiap waktunya. Lihat saja contohnya. Betapa banyaknya para blogger yang mengomentari kecurangan yang terjadi di negara kita ini. Kasus lumpur Lapindo, ada ratusan lebih blogger yang mengutuk tentang lambannya pemerintah, ada ratusan lebih pula blogger yang menyatakan simpati mereka buat para korban. Kasus tewasnya praja di IPDN, ada ratusan lebih blogger yang mengutuk, ratusan lebih juga yang menyatakan belasungkawanya untuk korban. Baca blog mereka sambil kentut pun kita pasti tahu kalo yang menulisnya pastilah orang baik. Jika bicara statistik, itu artinya ada tambahan sekian banyak lagi orang baik yang ada di negri ini.

Dan di negara kita yang tercinta ini, ah tidak.. tidak usah jauh-jauh, dalam kehidupan kita sehari-hari saja coba kita lihat. Jika ada yang bertanya tentang si Andi, tentang si Butet atau tentang si Cepot, Dono, Eko dan lain-lainnya kepada saya pastilah jawaban yang muncul pertama dari mulut saya adalah bahwa si Andi, atau si Butet, atau si Cepot, Dono, Eko dll itu adalah orang baik. Ya, orang baik. Karena toh selama ini saya memang mengenalnya begitu. Orang baik. Jika bicara statistik, itu artinya ada tambahan sekian banyak lagi orang baik yang ada di negri ini.

Dengan berdasarkan pada data statistik tersebut, tentang begitu banyaknya orang baik di negeri ini, harusnya tidaklah naif jika kita berharap negara ini sudah begitu majunya. Namun kalau berkaca pada kondisi sekarang, jangan-jangan semua orang baik itu masih sama-sama saja kelakuannya dengan saya. Dikenal sebagai orang baik, namun ternyata hanyalah seorang munafik, yang semuanya hanya untuk kepentingan pribadi.

Dikenal sebagai orang munafik memang bukanlah sebuah prestasi yang bisa dibanggakan, namun dikenal sebagai orang baik yang acap kali cuap cuap ngaku sebagai orang baik, namun ternyata dibalik itu adalah seorang munafik, saya sadar ini adalah jauh lebih hina.

Ya sudahlah, daripada mengurus orang lain atau saling klain diri sebagai orang baik, saya mau permisi sejenak untuk benar-benar bertanya pada diri ini apa benar saya orang baik?, sudah seberapa baikkah saya?, dan bagaimana saya seharusnya sebagai orang baik kita berbuat suatu kebajikan bagi negara ini.

Dan anda, saya yakin anda adalah orang baik. =)

6 thoughts on “Balada Orang Baik

  1. gw ga mo komen soal postingan lo ah benx.. keur lieur yeuh! gw mo ngomen soal skin lu ajah! anjis! sama persis ama blog puisi guwah!! haqhaqhaqhaq….😀

  2. Sebenare ada tiga unsur penilaian:
    1. Logika kesejatian menyangkut benar dan salah;
    2. Etika menyangkut baik dan buruk;
    3. Estetika menyangkut indah dan jelek.

    Dados, meski baik belum tentu benar….dan itulah mayoritas yang terjadi di negeri tercinta ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s