Orang Pintar di Kuburan

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan untuk menghabiskan malam di sebuah kuburan. Bukan dalam rangka dimakamkan di sana, saya belum siap untuk hal yang satu ini. Tapi kebetulan malam itu seorang teman meminta saya untuk menemaninya. Menemani dia untuk menemui “orang pintar”. Hari gini nyari orang pintar di kuburan?. Lah wong di kampus-kampus saja yang katanya sebagai pusat pendidikan, semakin susah untuk mencari orang pintar. Tapi toh akhirnya saya ikut juga. Embel-embel minta tolong sebagai seorang teman terbaiknya tak bisa saya tolak. Ya sudahlah, akhirnya saya temani juga. Walau sebenarnya diri ini rada takut, tapi toh saya sedang butuh hiburan juga.

Hiburan? Ya. Buat saya hal-hal klenik, dunia perdukunan, dan segala tetek bengeknya tak lebih sebagai sebuah bahan untuk tertawa. Bagaimana tidak lucu ketika melihat orang-orang yang dengan telatennya membuat masakan yang sangat lezat, ayam panggang, sayur, nasi kuning dan sebagainya hanya untuk diberikan sebagai sesajen di kuburan. Memangnya orang mati masih bisa makan?. Paling-paling nanti makanan itu dimakan oleh gelandangan yang kebetulan nginap di kuburan tersebut.

Bagaimana tidak lucu melihat orang memohon jodohnya di kuburan?. Orang-orang yang meminta nomor togel pada sebuah pohon beringin. Orang-orang yang berebutan setumpuk buah dan makanan yang diarak keliling alun-alun semata-mata agar hidup sejahtera.

Dan melihat begitu banyaknya sinetron klenik yang tayang setiap hari di televisi, tentu juga bagaikan sebuah lelucon bagi saya. Lelucon yang menakutkan.

Bukannya saya anti dengan dunia seperti itu. Namun buat saya, walau kapasitas iman saya masih sedengkul, tetapi meminta selain kepada Tuhan tentu saja adalah hal yang lucu. Dan perilaku mereka semua ini kalau dipikir-pikir, memancing rasa iba saya kepada mereka. Rasa iba mengetahui bahwa mereka pasti akan di azab Tuhan di nerakaNya.

Dan kebetulan malam itu, teman saya bermaksud untuk menemui orang pintar yang tiap malam biasanya buka praktek di sebuah kuburan. Misi ini adalah perintah dari Ayahnya adalah untuk memohon perlindungan agar bisnis yang dijalankan ayahnya kembali lancar. Mandeknya bisnis sang Ayah diyakini adalah akibat jampi-jampian dari lawan bisnis Ayahnya. Dan jampi-jampi tentu saja harus dilawan dengan jampi-jampi pula.

Sampai ke kuburuannya tak memakan waktu lama. Namun tampaknya jam prakteknya belum buka. Disapa beberapa kali pun, si orang pintar bergeming. Tampak dia sedang khusu’ bersemedi. Jadinya terpaksalah kita duduk sabar menunggu.

Hampir sekitar tiga jam kami menunggu, baru si orang pintar tersebut menyapa. Setelah mengutarakan maksud kedatangan, teman saya menyerahkan sebuah bungkusan kepada si orang pintar. Beberapa saat dia terdiam, lalu menyuruh kami mundur hingga sepuluh langkah. Kemudian ia kembali duduk di atas kuburan. Kembali bersemedi, berdoa atau entah ritual apalah itu.

Baru kami mendapatkan tempat yang nyaman untuk duduk kembali, tiba-tiba si orang pintar berteriak keras. Seperti orang kesurupan, si orang pintar berguling-guling di atas kuburan. Kondisi ini jelas-jelas membuat kami berdua tegang. Cukup lama sampai akhirnya si orang pinter terdiam. Terdiam sekian lama, dan kemudian dia tampak sedang sujud-sujud seperti orang yang sedang meminta ampun.

Cukup lama juga dia melakukannya, setelah akhirnya dia berdiri dan lalu menghampiri kami dan berkata, ia mohon maaf tidak dapat membantu, karena saat ini dia tidak dalam keadaan bersih, dia telah melalaikan satu kewajibannya dan dia merasa sangat hina sekali jika saat ini dia tetap memaksaan untuk meminta kepada yang disembahnya.

Sampai beberapa hari kemudianpun saya masih tidak habis pikir terhadap apa yang pengalaman yang baru saya alami. Melihat orang yang bukannya menyembah Tuhan yang menciptakannya. Dan yang menjadi bagian lucu namun juga miris adalah melihat bagaimana begitu bodohnya si orang pintar tersebut.

Sungguh kasihan sekali mereka-mereka yang menyembah selain Tuhan. Sungguh kasihan sekali mereka-mereka yang menjatuhkan dirinya dalam ketakutan terhadap setan-sentah atoupun benda-benda yang mereka sembah.

Dan sungguh kasihan sekali, saya.
Ya, sungguh kasihan sekali saya. Sungguh kasihan sekali diri ini rasanya.

Tiba-tiba saya tersentak. Betapa ternyata dibandingkan dengan si orang pintar tersebut, saya jauh lebih munafik daripada dia. Walaupun jalan dia salah dengan menyembah kuburan, namun tidak sekalipun dia berani untuk melawan yang disembahnya. Hanya gara-gara ada satu kewajiban yang lalai ia kerjakan, ia merasa begitu hinanya diri hingga tak berani untuk meminta kepada yang disembahnya. Begitu kuatnya iman dia kepada apa yang disembahnya, tak sedikitpun ia berbuat yang melanggar aturan dari apa yang disembahnya.

Sedangkan saya, setiap hari pamer diri sebagai orang yang taat beragama, setiap hari sholat menjalankan perintahNya. Namun mungkin setiap hari pula saya telah munafik kepadaNya. Berbuat curang padahal nyata-nyata saya tahu Tuhan melihat saya. Nonton bokep sendirian di kamar kostan padahal saya tahu Tuhan pasti melihat saya. Melambat-lambatkan untuk sholat berdalih sibuk. Menggunjingkan orang lain padahal saya tahu Tuhan pasti mendengar saya. Semua dosa itu saya lakukan padahal saya tahu jelas-jelas bahwa Tuhan Maha Melihat dan Mendengar segala yang saya lakukan. Dan dikotornya diri ini saya tetap saja tidak tahu malunya meminta-minta setiap saat kepadaNya.

Sungguh, ternyata saya lebih rendah dari mereka. Namun Tuhan ternyata juga masih sangat menyayangi saya dengan mengingatkan saya melalui mereka.
Dan semoga ini juga mengingatkan kita semua.

3 thoughts on “Orang Pintar di Kuburan

  1. Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Tidak ada tuhan selain Engkau. Engkau telah mencitakan aku. dan aku adalah hambamu yang senantiasa di atas janji Mu sepanjang kemamuanku. aku berlindung kepadaMu dari keburukan yang aku lakukan. aku aku akan kembali kepadaMu dengan segala nimat yang telah Engkau berikan kepadaku. dan aku akan kembali kepadaMu dengan segala dosaku. Maka amunilah aku. Sesungguhnya tdak ada yang dapat mengampuni selain ENGKAU……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s