Laki-laki dan Sebuah Pilihan

Hidup adalah tentang sebuah pilihan. Tak ada pilihan yang mutlak benar ataupun mutlak salah. Setiap pilihan pasti ada sisi positif dan sisi negatifnya. Cuma kadarnya saja yang berbeda-beda dalam setiap pilihan. Dan seorang laki-laki sejati adalah seseorang yang secara tegas berani mengambil suatu pilihan, menjalaninya dengan kesungguhan hati, dan dengan kelapangan jiwa menerima segala tanggung jawab atas pilihan tersebut.

Maaf, ini bukan bermaksud gender, sama sekali tidak. Ketegasan memutuskan suatu pilihan, keteguhan menjalani, dan menerima segala konsekuensi bukanlah suatu topik yang mengkotak-kotakkan antara seorang laki-laki dan perempuan sejati. Cuma saja kalimat di atas meluncurnya dari seorang laki-laki kepada seorang laki-laki lain yang sedang kebingungan.

Pembicaraan ini terjadi sekitar akhir Desember tahun yang lalu. Laki-laki yang sedang kebingungan itu adalah saya, si mahasiswa, sedangkan laki-laki yang memberikan nasehat adalah sang pembimbing tugas akhir. Dengan dosen pembimbing, saya memang memiliki banyak status hubungan. Dosen dengan Mahasiswa, ketika sedang di kelas atau ketika sedang bimbingan tugas akhir. Dosen dengan Asisten, ketika sedang mengurus pelaksanaan praktikum di Laboratorium. Partner atau Musuh, ketika kita sedang bermain tenis bersama. Teman bercanda, ketika kala sore hari sebelum pulang kita duduk bersama di ruang TV di Lab, di temani kopi dan gorengan. Sopir dengan Tukang Dorong dikala mobil beliau mogok di jalan. Psikolog dan Pasien kala saya butuh masukan tentang berbagai masalah yang saya alami dalam hidup.

Namun, pembicaraan di suatu Sore akhir Desember yang lalu, adalah pembicaraan antara seorang Ayah dan Anak. Berawal dari pertanyaan beliau, tentang apa pilihan hidup saya setelah selesai kuliah. Bekerja atau melanjutkan sekolah lagi. Memilih bekerja sebagai seorang enjinir di perusahaan asing, perusahaan lokal nasional, atau di perusahaan kecil yang baru berkembang?. Memilih kembali melanjutkan pendidikan ke Strata 2, Srata 3 sampai puncak pencapaian akademik?. Memilih sebagai seorang enjinir yang sekali-sekali waktu kembali ke kampus untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman?. Memilih sebagai sebagai seorang akademisi dan mengabdikan diri sebagai dosen mengajar dan mendidik para mahasiswa?.

Laiknya memilih teman tidur seranjang, diri ini harus merasa yakin sekali bahwa ini adalah pilihan satu-satunya sampai akhir ajal. Dan pilihan ini tentu saja harus kita terima sebagai satu paket. Tak mungkin kita pilah tuk ambil baiknya saja. Namun siapapun yang kita pilih, kita akan bisa mendapatkan kebahagiaan sejati bersamanya jika pilihan itu dijalani dengan kesungguhan hati dan dengan kelapangan jiwa menerima segala tanggung jawab atas pilihan tersebut.

Dan bagi beliau, memilih pekerjaan itu di satu sisi sama saja dengan memilih pasangan hidup. Jangan asal diterima saja. Jangan asal mendapat duit saja. Jangan asal gaya saja. Pilihlah pekerjaan yang benar-benar akan menjadi jalan hidupmu. Seperti yang beliau lakukan. Memilih sebagai seorang dosen, walau jalan berliku dan terjal, namun dengan kesungguhan hati dan kelapangan jiwa, beliau bahagia menjalaninya.

Dan saat itu saya memilih untuk mendengarkan beliau.

Setelah memikirkan apa yang saya inginkan sebenarnya, bulan Februari lalu saya memilih untuk melamar pekerjaan di sebuah perusahaan manufaktur lokal yang masih baru. Dengan kesungguhan hati saya menjalani semua test nya. Inilah pilihan saya, inilah pekerjaan yang saya inginkan, pikir saya.

Mungkin saja saya memang menelan mentah-mentah apa yang beliau katakan, saya hanya melamar pekerjaan di satu perusahaan itu saja. Buat apa saya melamar di perusahaan lain jika saya tidak menginginkannya. Beberapa tahap test dari perusahaan tersebut sudah saya lalui, langkah saya makin dekat pikir saya.

Waktu berjalan, medio April, lebih dari satu bulan sejak saya diwisuda pada awal bulan Maret kemaren. Sudah satu bulan pula sejak saya wawancara terakhir dengan direktur utama perusahaan tersebut. Namun berita kelanjutannya tak jua kunjung tiba. Sedangkan teman-teman sudah pada bekerja. Saya mulai panik, saya mulai takut. Saya mulai menyesal, mengapa kemaren-kemaren itu saya tidak melamar-lamar saja ke berbagai perusahaan seperti yang teman-teman saya lakukan. Saya mulai menyesal, mengapa kemaren saya menolak tawaran untuk bekerja di sebuah perusahaan asing dari seorang kenalan.

Dengan pikiran gundah saya kembali menemui beliau, berkeluh kesah. Mengapa saya tidak kirimkan saja lamaran kesemua lowongan yang ada. Mengapa saya menolak semua tawaran yang ada. Begitu bodohnya saya, padahal saat ini mencari kerja begitu susahnya.
Saya menyesal. Menyesal saya.

Namun beliau tersenyum, lalu berkata “Ini lah pelajaran sebenarnya yang ingin saya ajarkan kepada kamu. Bukan tentang pelajaran metrologi, bukan tentang bagaimana mengoperasikan sebuah mesin. Namun tentang apakah kamu tahu apa yang kamu inginkan tentang hidupmu, tentang apakah kamu mampu mengambil sebuah keputusan dalam kehidupan, tentang apakah kamu mampu menjalaninya dengan kesungguhan hati, dan tentang apakah kamu mampu menerima segala tanggung jawab yang termaktub di dalamnya. Tentang menjadi seorang lelaki sejati.”

Yah, tentang menjadi seorang lelaki sejati. Tidak, saya tidak menyesal, saya tidak akan menyesalinya lagi. Saya akan menjalaninya dengan kesungguhan hati.

Namun beberapa hari kemudian saya kembali menemui beliau. Lagi-lagi dengan perasaan gundah, datang tuk berkeluh kesah. Tentang sebuah pilihan lain yang juga baru saya tetapkan. Sebuah keputusan untuk mencukupkan hubungan sampai hari ini saja dengan pacar saya. Menyesal mengapa saya dulu tidak berpacaran saja dengan banyak orang, jika satu putus saya masih punya pilihan yang lain.

Beliau tersenyum, lalu “pletakkk”, sebuah jitakan melayang ke kepala saya.
Dan saya?, saya hanya nyengir sambil usap-usap kepala.
Dan kemudian, kita tertawa bersama.
Kalo kali ini percakapannya hanyalah antara seorang laki-laki dengan laki-laki.

19 thoughts on “Laki-laki dan Sebuah Pilihan

  1. Loh… kok jadi putus? hummm…

    btw, mengenai pembicaraan ‘laki-laki’ itu .. kok kayak pembicaraan kita sabtu kemaren ya, ben? hihihihi… anyway, aku lebih suka mengatakan itu adalah pembicaraan dewasa… masalah kedewasaan.. bukan hanya masalah menjadi laki-laki sejati, tetapi menjadi seorang manusia dewasa .. seutuhnya. =) .. wanita pun, aku yakin, harus membuat keputusan… memilih.. dan tentunya tidak menyesalinya di kemudian hari… apa bedanya dengan laki-laki dalam kisah ini? =)

    ben, aku suka dengan idealisme-mu… sama seperti dirimu, aku dulu (sekarang juga masih sih) idealis *yah, beda2 dikit lah idealisme kita hehehe … dan akibatnya? menganggur hampir setahun baru akhirnya dapat kerja .. tapi aku bahagia, tidak ada yang harus disesali… jadi, kuharapkan dirimu pun berbahagia nanti…

    goodluck bro … let me know the update, okay?

  2. Hmmmm…
    Semoga beni bisa menjaga idealismenya ampe tua nanti (amin), sukses (sukses), punya pacar baru (amin), punya istri (amin), punya anak (amin), punya karya2 baru (amin), dan ampe bisa memajukan bangsa Indonesia biar semua orang dunia tau ada negara yang namanya Indonesia yang terkenal gak cuma karena sarang koruptor atau teroris aja (amin)… hehehe..

  3. lo putus aja di sebarin via blog…..

    gak papa lagi ben..pilihan itu proses menjadi manusia.. sama sekarang?? apakah gue mau menjadi birokrat (seperti yang elo dan banyak orang sarankan) atau menjadi konsultan lepas dengan salary yang lebih besar tentunya dibanding birokrat…

    ini sekedar pilihan,.,, ga lebih dari sekedar pilihan…

    kalo gagal… ya buat pilihan baru… karena ketiak satu pintu rejeki di tutup, maka akan dibukakan pintunya yang lain

  4. semoga diberi kecerahan hati dan pikiran dalam memilih dan menjalankan pilihan. tenang aja ben, apapun yang lo pilih, lo tetep temen tergeblek dan terkacrut yang pernah gue punya!๐Ÿ˜€

  5. Hidup memang sebuah pilihan, sahabat beni. Termasuk pilihan menjadi laki-laki sejati. Sebuah pilihan yang memang harus disyukuri. Karena dari sini, kita akan sadar bahwa untuk menjadi laki-laki butuh persiapan, bekal dan ‘tholabul ilmi’.
    jadi gak ujug-ujug jadi anak laki-laki baik, suami baik dan ayah baik. selamat. wassalam.

  6. Sesuatu yang kita inginkan tak pernah akan tercapai bila kita tak memiliki sebuah perencanaan matang.Belajarlah dari banyak pengalaman orang banyak.Karena kita tak pernah tahu hidup semakin sulit tuk dimaknai.

    ^ _^

  7. ‘…life is about making a choice, and live with that choice, wherever it will takes…’

    Gue juga pernah ngalamin situasi yg sama dulu saat mutusin untuk ganti pekerjaan.., banyak juga ketidaksetujuan dr orang sekitar yg bikin bimbang & gundah, but hey.., this is my life! I’ll takes all the risk of my choice.., so i quit my old job and take the new one.
    Pilihan bisa aja salah.., tp menerima dan belajar untuk menjalaninya ‘itulah hidup’.
    ^_^

  8. Ini posting beni yang paling kuereeeen…hehe…wah kalo definisi lelaki sejati itu, berarti mulai sekarang harusnyaitu juga jadi definisi buat wanita sejati…cewe juga harusnya tau mau kemana,ngapain, dan jadi apa…
    Oiya, beni udah baca blogku ya…terimakasih pak guru :)…

  9. woi…
    aq lagi patah hati nih…

    masa sih setaun aq jadian m dia ,dia blang g berrati
    dah gitu kta dia,dy cma syng m aq awlnya doank
    tanpa sebab aq diputusin
    aq g pernah punya salah..
    yang ada dia yg always nyakitin aq
    aq cma bsa mavin dia
    tapi stlh aq denger itu
    aq benci sama dia

    aq sesekolah..
    dy g prnh keliatan sedih
    sdngkan aq??
    tiap hari aq nangis

    aq sayng dia apa adx dgn sgla kekurangn dia

    knp dia g prnh ngeri ketulusan aq

    selang sebulan aq dah sembuh dari luka dia

    depan mta aq dia meluk ce laen..jujur aq jels…

    aq mu nanya kalo putus cinta co suka skt hti ga sih??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s