Laron-Laron di Lampu Kamar

Musim hujan ternyata cukup membuat pusing kehidupan saya beberapa hari ini. Capek-capek mencuci pakaian, dan menunggu seharian sampai semua jemuran kering, ditinggal sebentar tiba-tiba semuanya basah diguyur hujan. Becek dan banjir dimana-mana juga membuat saya kesusahan. Sepatu butut saya ternyata tak cukup kuat lagi untuk menahan air yang meresap masuk hingga menyentuh kaki. Kalau sudah begini, baunya sungguh ampun.

Tapi yang paling mengganggu sekali adalah laron-laron. Baru saja gelap menjelang laron-laron tersebut sudah bergerumul di lampu ruangan kamar saya. Yang lebih celakanya lagi, laron tersebut tidak datang sendirian. Anak, istri, kakek, nenek, saudara semuanya diajak serta. Kedatangan laron-laron ini jelas-jelas membuat saya murka.

Tanpa permisi, tanpa sopan santun mereka berterbangan kesana kesini. Bergerombolan dalam jumlah yang entah berapa mengerumuni lampu kamar saya. Banyak yang terjatuh, sayap putus lalu bergelimpangan di lantai kamar saya. Kalau sudah seperti ini, alamat murka diri ini menyaksikan kamar yang menjadi kotor seketika oleh sayap-sayap laron yang berserakan.

Tidak habis pikir saya, sebenarnya untuk apa Tuhan menciptakan laron-laron ini. Jadi makanan binatang cecak? Toh serangga yang lain masih banyak. Agar bisa membuka lahan pekerjaan seperti pabrik pengusir obat nyamuk? Belum pernah saya dengar orang menciptakan obat pembasmi laron. Kenapa pula mereka munculnya saat musim hujan seperti ini.

Laron-laron tersebut selalu mengerumuni sumber cahaya. Cari akal, akhirnya saya menyalakan lampu teras. Semoga saja mereka lebih tertarik dengan lampu teras tersebut. Namun yang ada para laron ini semakin memancing kemarahan saya. Pintu ditutup rapatpun, melalui lubang udara mereka tetap saja masuk dan mengerumuni lampu kamar saya. Celaka benar laron-laron ini. Umur hanya sebentar tapi muncul hanya untuk mengganggu. Mengapa pula hanya lampu kamar saya saja yang mereka sukai.

Kehabisan akal, akhirnya seluruh lampu kamar saya matikan. Gelap. Berbaring sejenak menenangkan hati ini. Tapi apa dikata, saya malah tertidur.

Mungkin karena tidur terlalu cepat, jam satuan saya terbangun. Terbangun jam segini rasanya tidak enak sekali jika tidak sholat tahajud. Sudah lama saya tidak sholat tahajud. Akan sangat memalukan sekali jika sudah terbangun tengah malam seperti ini, sekali-sekalinya tapi saya tidak sholat tahajud. Selesai sholat, mau tidak mau lanjut dengan berdoa. Sayang juga rasanya selesai sholat tidak berdoa. Apalagi berdoa di tengah malam seperti ini lebih besar peluang dikabulkannya. Selesai banyak meminta dalam doa, serasa kurang afdhal tanpa dilanjutkan mengaji. Mumpung iman sedang bagus, lagipula sejak Ramadhan berlalu Al Qur’an nya masih tersimpan rapi di lemari.

Karena lama jedanya, akhirnya hilang sudah rasa kantuk ini. Susah dibawa tidur kembali. Pagi masih beberapa jam lagi. Karena kantuk tak jua datang lagi, dari pada bengong tidak jelas, akhirnya saya mengambil sebuah buku. Asik membaca buku tersebut, tak terasa adzan subuh berkumandang. Terjaga, dengar adzan, tidak sedang hujan, tentu hina sekali diri ini jika tidak sholat subuh berjamaah di masjid, apalagi masjidnya cukup dekat. Pulang dari masjid, kembali melanjutkan membaca buku, masih tersisa beberapa halaman lagi.

Sekitar pukul sepuluhan, ketika saya sedang sibuk penelitian di pabrik, tiba-tiba terjadi masalah pada proses produksi. Semua operator mesin tampak kebingungan menghadapi. Setelah melihat beberapa saat, lalu saya mengajukan analisa masalah dan solusi, dan berhasil. Gara-gara ini saya lansung menjadi begitu terkenalnya.

Pintarkah saya? Tidak, semua ini hanya kebetulan saja. Kebetulan masalah yang terjadi adalah sama persis dengan apa yang tertulis di buku yang tidak sengaja saya baca semalam. Jadi waktu itu saya cuma tinggal menyebutkan saja.

Entahlah ini sebuah kebetulan atau tidak. Tapi gara-gara laron-laron yang semalam saya kutuk, banyak hal yang terjadi dalam diri saya. Sholat malam, berdoa, mengaji, baca buku, sholat subuh berjamaah di masjid. Semua hal yang tidak pernah lakukan dalam kehidupan biasa saya yang suka seenaknya.

Terpikir dihati, jangan-jangan selama ini kita begitu seringnya memandang rendah setiap hal, menganggapnya hanya sebagai pengganggu, bahkan celakanya kita maki sepenuh hati. Padahal ternyata karena hal inilah kita mendapatkan banyak kebaikan dalam hidup ini.

11 thoughts on “Laron-Laron di Lampu Kamar

  1. Waaahhh…seru..hehehe..
    Ini layout yg ke berapa ben?
    Tapi ya, dari semua layout yg buat Glastnost, yg ini sama yg ijo yg paling bagus..hehehe…
    Nice..

  2. Keren…..tapi jangan terlalu kaku bahasanya,koq pake “saya”seeh?kesannya kayak baca surat resmi,tapi salut bwt LARON-LARON di lampu kamar yang bikin bapak terkenal….O ya,jadi inget sekarang aku lagi nyari data tentang manfaat laron neeh,ada yang tahu g?

  3. syukurlah kita bisa menikamti hal-hal yang dianggap sepele tapi ternyata memiliki faedah yang sangat besar..
    teruslah belajar dari hal sekecil apa pun..

  4. laron????
    hewan kecil , unik, penuh misteri, membawa cahaya,
    kadang hewan yang seperti ini memiliki banyak misteri pada dirinya, walaupun mereka kadang mengganggu, tapi pasti ada yang dapat bermanfaat dan dapat diteliti dari mereka,,,
    awal yang baru untuk diteliti nie,,
    makasih dah buat rubrik kaya gene!!!
    salam kenal!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s