Uenak Tenan jadi (kenalan) Pejabat

Uenak tenan, uenak tenan……. benar-benar uenak tenan. Oh ya, sebelumnya saya mau minta maaf dulu kepada sidang pembaca, cukup lama tenggangnya dari tulisan terakhir saya. Ini bukan karena saya pikiran saya sedang buntu atau writers block. Bukan, bukan karena hal tersebut. Kondisi seperti ini bukanlah masalah buat orang seperti saya yang walaupun sering tidak bisa melihat kekurangan diri sendiri, tetapi untuk melihat kesalahan dan kekurangan orang, wah saya dukunnya. Jadi sebenarnya saya cukup punya bahan untuk dikomentari.

Namun bebeberapa waktu ini saya malas melakukan hal tersebut. Saya ingin bersantai sejenak sambil menikmati sebuah peran baru dalam hidup saya. Saya baru menyadari bahwa saya ini ternyata punya banyak sekali kenalan dan relasi dekat dengan para pejabat teras yang terkenal di negeri ini. Mulai dari pejabat RT, pejabat kelurahan, pejabat kecamatan sampai ke pejabat besar. Itu baru yang di pemerintahan. Saya juga kenal dengan banyak pejabat perusahaan-perusahaan besar. Dan yang lebih pentingnya lagi saya juga kenal dengan para pejabat dari kepolisian dan militer. Yah, walaupun hampir semuanya karena memang sayanya saja yang sok kenal sok dekat dengan para pejabat tersebut.

Tapi jangan salah, walaupun cuma berstatus sok kenal sok akrab dengan para pejabat hidup saya tiba-tiba menjadi begitu uenaknya.

Sekali waktu daerah tempat saya tinggal di datangi para petugas kependudukan. Mereka merazia orang-orang yang tidak memiliki kartu tanda penduduk. Saya sebenarnya punya kartu tanda penduduk, tapi itu adalah kartu tanda penduduk dari kota asal saya. Sedangkan kartu tanda penduduk Bandung, kota dimana saya menuntut ilmu, tidak punya. Beberapa kali saya pernah mengurus pembuatannya, tapi mungkin karena waktu itu saya hanya bersedia membayar dengan beberapa lembar uang ribuan saja, sesuai tarif resmi yang berlaku, hingga berbilang tahun tak jua kelar. Dan karena kartu mahasiswa dianggap tidak cukup sebagai bukti, maka bersama beberapa orang lainnya saya digiring ke kantor kelurahan.

Di sana ternyata tidak hanya kami saja, puluhan orang juga terjerat oleh kasus yang sama. Sedang antri menunggu giliran disidang. Untung buat saya, baru sampai di sana, seorang pejabat kelas atas datang menghampiri. Ternyata beliau adalah teman tante saya, kebetulan sekali waktu tante saya pernah mengobrol dengan beliau. Gara-gara punya kenalan pejabat, bukannya ikut antri di sidang, saya malah diajak ke ruang kantor, ngobrol lama, bahkan habis itu saya jalan dengan beliau nyari makan siang. Urusan KTP? Si petugas kependudukan tadi berjanji akan menguruskannya, dan kalau sudah selesai segera diantarkan ke kostan saya.
Uenak tenan.

Lain masa, saya sedang menumpang mobil seorang teman. Di perjalanan ternyata sedang ada razia, dan seorang polisi meminta teman saya memberhentikan mobilnya. Celakanya, ternyata teman saya tersebut tidak bawa STNK. Singkat kata kami digiring ke posko mereka. Di sana, kami diceramahi tentang tata tertib di jalan raya lengkap dengan berbagai hukuman dan dendanya. Walau tak lupa bapak-bapak tersebut menawarkan cara damainya saja. Namun ketika kami memutuskan untuk mempersilahkan si Polisi menahan mobil tersebut, Polisi tersebut keheranan. Lalu mereka bertanya apakah kami punya keluarga di kepolisian. Keluarga jelas tidak punya, tapi kebetulan orang paling penting di kepolisian kota adalah satu kampung dengan saya dan saya punya nomor telephon beliau, sahut saya. Dan ajaibnya kami dilepaskan.
Uenak tenan.
Dan yang terakhir ini, yang paling membuat saya menikmati sebagai (kenalannya) pejabat adalah kala seorang teman datang ke kampus saya. Saya mengenalnya sebagai anak seorang pejabat top negri ini. Saya cukup keheranan ketika melihat dia datang didampingi beberapa orang ajudan yang berseragam. Ketika ditanya dia menjawab ini dilakukan agar perjalanan dia tersebut bisa dicatatkan sebagai perjalan dinas bapaknya. Jadi semua biaya perjalanan, penginapan, pengeluaran makan dan belanja di tanggung negara.

Entah karena ingin pamer atau sedang berbuat baik, teman saya tersebut mempersilahkan saya untuk memerintahkan sesuatu kepada para ajudan tersebut. Karena penasaran, akhirnya saya meminta ajudan tersebut untuk membelikan saya gorengan di depan. Dan, kerennya, setelah memberikan hormat dengan sigap seorang asisten segera berangkat, dan tak lama datang dengan satu kresek berisi gorengan lengkap dengan air minumnya.

Wah, menyenangkan sekali. Karena masih diperbolehkan oleh teman saya tersebut, seakan melunjak saya malah meminta sang ajudan untuk melakukan banyak hal buat saya. Kesempatan sekali-sekalinya pikir saya, lagipula saya kan bayar pajak juga buat gaji para ajudan tersebut. Jadi boleh donk saya sekali-sekali menikmati fasilitas negara ini. Fotocopy tugas, bayarkan uang tagihan telephon, belikan koran, belikan gorengan bahkan dua kali.
Uenak tenan.

Benarkan apa yang saya bilang? Baru jadi kenalannya para pejabat saja hidup saya sudah demikian uenaknya. Apalagi kalau saya beneran jadi pejabat. Tidak usah yang sampai jadi presiden. Jaman sekarang jadi presiden itu susah kayaknya. Sering keluar negri saja banyak diprotes. Belum sempat jalan-jalan, photo-photo, eh sudah disuruh pulang lagi gara-gara di Jakarta ada demo.

Cukup jadi pejabat kecil-kecilan saja, mo pejabat RT, pejabat kelurahan. Semuanya sama enaknya, bisa diatur-atur saja pakai uang rakyatnya. ya tetapi juga disesuaikan dengan jabatan. Kalau mau yang paling uenak ya ikut saran teman saya, jadi anggota DPR kayak bapaknya. Kerja gampang, palingan sekali-sekali ikut demo atau vokal, nampang di media biar tetap terpilih periode depannya. Tunjangan hidup, wuih..sekeluarga ditanggung nikmat. Jalan-jalan keluar negri paling kurang tiga kali setahun ditanggung negara, dikasih uang saku lagi. Kena tilang di jalan, tinggal ancam saja polisinya. Atau seperti yang teman saya tulis, bisa dapat stiker bebas masuk kampus.
Uenak tenan.

Tapi pak Wawan malah tidak mau jadi pejabat. Kata beliau jadi pejabat itu juga banyak tidak enaknya. Kalau jadi pejabat tidak akan bisa poligami. Jangankan poligami, tidur sama artis aja bikin was-was, takut-takut video rekamannya beredar sembarangan. Belum lagi nanti di akhirat bakal bingung pas ditanya Tuhan.

Wah kalau sudah begini, saya jadi berpikir ulang, sekedar jadi kenalan para pejabat saja sebenarnya sudah cukup.

6 thoughts on “Uenak Tenan jadi (kenalan) Pejabat

  1. EH GUUUUOOOOBBBBLLLLOK BARU SEGITU AJA BANGGA LO..
    SAPA ELO….LO PIKIR PEJABAT SAMA AJUDAN PEJABAT CUMA ADA SATU..DI DUNIA INI? BANYAK KALEEEE….
    KALO LO BISA LAKUKAN HAL TSB KE SELURUH PEJABAT DAN AJUDAN PEJABAT DI INDONESIA INI, BARU GWE KASIH 2 JEMPOL…

    BERAPA PEJABAT YANG LO KENAL?? AJUDANYA BERAPA ORANG?? COBA DI JUMLAHKAN SELURUHNYA, BOLEH DI ADU SAMA GWE….

    ASAL LO TAU AJE,, PEJABAT YANG LO KENAL BUKAN KELAS KAKAP…TAPI MASIH KELAS TERI…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s