Lukisan Wajah dan Senyuman

Sebuah kesempatan yang sangat jarang sekali untuk orang dengan tampang pas-pasan seperti saya. Beberapa hari yang lalu, kebetulan saya bertemu dengan seorang teman lama. Sebenarnya bukan teman, karena beliau adalah seorang dosen seni rupa yang merangkap sebagai seniman juga. Tapi beliau tidak mau dipanggil dengan panggilan Pak atau Mas, cukup dipanggil nama saja. Ya sudahlah, walau beda usia lebih 10 tahun, saya nurut saja. Akhir tahun ini beliau bermaksud untuk mengikuti sebuah pameran lukisan wajah di luar negri. Karena cukup disebut luar negri saja saya berpikir ini pastilah sebuah pameran kelas dunia. Namun bukan masalah pameran tersebut yang ingin saya ceritakan, tetapi sesuatu yang jauh lebih penting. Beliau menawarkan untuk melukis wajah saya untuk ditampilkan pada pameran nanti.

Hari gini ada yang tertarik sama wajah saya? Walau bukan Raam Punjabi yang tertarik dengan wajah saya, tetapi dilukis, masuk pameran di luar negri?, wow.. ini penghargaan yang sangat besar untuk saya. Dibandingkan dengan teman-teman kampus atau teman-teman di komunitas yang memang ditakdirkan Tuhan memiliki tampang ganteng, bahkan dengan Christian Sugiono sekalipun, bintang sinetron yang sangat diidolakan banyak teman-teman cewek karena bisa bikin mereka pada panas dingin, jelas sekarang kelas saya jauh di atas mereka.

Sebenarnya beliau ingin melukis wajah saya secara langsung, namun dikarenakan beliau besok harus balik lagi ke Bali, maka beliau meminjamkan saya sebuah kamera digital. Saya diminta utuk memotret diri sendiri. Photo dengan sebuah senyuman, itulah nantinya yang akan dilukis.

Dengan semangat membara, siang itu saya segera kembali ke kostan dengan satu tujuan, ya… berphoto ria. Photo-photo hanyalah a piece of cake buat saya. Dari kecil saya cukup menyenangi di photo. Tak jarang terdengar gerutuan orang-orang yang harus mengulangi lagi photonya gara-gara tanpa di undang, saya tiba-tiba nongol ikutan photo. Bahkan sekarangpun, walaupun kamera di handphone saya masih kelas bawah, namun tak menyurutkan niat diri ini untuk bernarsis ria self portrait sewaktu sendirian di kostan. Apalagi sekarang dengan kamera digital, perkara gampang. 

Atur posisi. Tiga… Dua… senyum….. Satu… Cheese…….Jepret, jepret, jepret. Tak terasa hampir setengah jam saya sibuk sendirian photo diri. Sial, dari tiga puluhan photo tak satupun didapatkan wajah dengan senyum yang bagus. Semuanya timpang. Kalau tidak melor ke kiri, bibir saya melor ke kanan. Bibir atas dan bibir bawah malah acapkali tidak bersepakat. Celaka, cuma buat photo wajah sambil senyum saja kok susah sekali.

Mungkin saya harus menggunakan sebuah cermin yang besar, jadi sewaktu photo saya bisa memperhatikan wajah saya sendiri apakah sudah cukup bagus senyumnya atau belum. Dengan cermin besar pinjaman dari teman sebelah kamar, berlanjutlah proses photo-photo diri. Jepret jepret jepret… sepenuh jiwa raga saya bergaya, sambil sesekali melihat cermin, memastikan diri ini sudah tersenyum dengan baik. Setelah dirasa cukup, saya menyudahi. Lalu kembali saya melihat hasil-hasil photo, mencoba mencari photo dengan senyum terbaik  yang bisa diserahkan kepada sang pelukis. 

Sial… lagi-lagi sial, begitu umpatan berkali-kali terucap dari bibir ini ketika tak jua menemukan sebuah photo dengan senyum yang bagus. Celaka apa diri ini, wajah dengan senyum saja kok susah sekali mendapatkannya. Padahal kalau dipikir-pikir setiap hari saya selalu saja tersenyum. Begitu mudahnya senyum menghias di bibir ini. Jangankan senyum, tertawa pun sebenarnya adalah bagian dari keseharian saya. Tak jarang malah sampai terbahak-bahak. Tapi kenapa tak jua satu photo dengan senyum yang bagus saya dapatkan. 

Frustasi yang memuncak, akhirnya saya mendatangi rumah seorang teman. Kebetulan dia adalah salah seorang photografer amatiran dan mempunyai sebuah studio kecil di rumahnya. Kepada dia saya meminta tolong, diphoto dengan sebuah pose wajah yang sedang tersenyum. Walau tak sesempurna yang saya harapkan, akhirnya beberapa buah photo pun terpilih. 

Tak terlalu berharap saya bahwa nantinya photo wajah saya tersebut benar-benar bakal dilukis dan ikut nampang di pameran di luar negri tersebut. Tapi paling tidak, setelah hampir muak melihat photo-photo diri sendiri itu, saya disadarkan akan satu hal. Ternyata saya salah menilai diri ini. Mengira diri ini yang begitu dermawannya menebar senyum. Ternyata jika saya memandang wajah saya sendiri yang sedang tersenyum, tidak sedikitpun saya bisa melihat aura kebaikan dan ketulusan dalam senyum itu. Hanya guratan untuk diri sendiri. Dan wajah memang tidak bisa berdusta sama sekali. 

Sungguh, rendah sekali diri ini. Mengira telah banyak berbuat kebaikan untuk orang lain, namun ternyata bukanlah sesuatu yang benar-benar diharapkan orang lain dari saya. Diri ini yang berbuat kebaikan bukan karena benar-benar dari hati yang tulus tapi sekedar pemenuhan kepuasan jiwa. Terima kasih buat sang pelukis, yang secara tidak langsung telah mengajarkan saya tuk bisa melihat diri ini dari kacamata luar. Terima kasih juga telah menyadarkan bahwa tampang saya benar pas-pasan ternyata.

Semoga dari hari ini saya bisa tersenyum tuk semua.

10 thoughts on “Lukisan Wajah dan Senyuman

  1. Setelah baca ini, saya baru sadar kalau saya jarang sekali tersenyum kecuali untuk formalitas, dan juga jarang sekali ngaca!

    Terimakasih atas posting yang mencerahkan🙂

  2. senyum paling indah itu diberikan oleh orang yang tersenyum tidak hanya dengan bibir, tidak hanya dengan menunjukkan gigi… tetapi juga dengan matanya🙂 …

  3. mas Dewo…wah kalo itu mah bawaan orok =p
    mas wadehel, jarang senyum tapi kok goisp gosipnya banyak fans nie..wah wah =)
    bos Goio..photo avatar mu telah mewakilkan jawabanmu =)
    passya, iya..ga ngeluarin duit, hehhe
    mona, mangkanya saya lagi belajar nie…ntar kalo ketemu ajarin yak =)
    awan, kaga tau juga…ntar akhir tahun dikabarin…nyaingin monalisa?wah kaga lah, wajah standar si kipli gini mah dah da yang mo ngelukis aja dah sukur =)
    mas nananging jagad, belum…yang bikin gus mus?ato lukisan kaligrafi bergambar wajah gus mus? lihat dimana Mas?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s