Tidak ada SMS Lebaran kali ini.

Lebaran kali ini lagi-lagi saya tidak pulang kampung. Ini entah untuk keberapa kalinya sejak lima tahun silam, pertama kali menginjakkan kaki di kota Bandung, saya tidak merayakan lebaran bersama keluarga. Lebaran jauh dari keluarga, di kostan sendirian, yang notabenya dihuni oleh mayoritas saudara-saudara non muslim, tentulah tak banyak yang bisa saya ceritakan. Tidak ada suara komando sang Ayah di pagi hari guna mengingatkan anggota keluarga di rumah untuk bersegera ke masjid (atau lapangan), tidak ada salam dan silaturahmi dengan sanak keluarga setelah sholat, tidak ada ketupat ataupun opor ayam, dan tentu saja juga tidak ada pembagian uang. Lebaran kali ini? Sama saja, bahkan sekilas suasananya tidak beda sama sekali dengan ritual sholat Jum’at. Datang ke masjid (atau mungkin lapangan), sholat dan dengar khutbah, bersalam-salaman, lalu pulang.

Selesai?

Ya, selesai.

Mungkin saja pemahaman atau apresiasi saya terhadap hari lebaran itu tidaklah sedalam orang-orang kebanyakan. Saya tidak begitu mengerti darimana datangnya gelora semangat orang-orang yang mengorbankan banyak hal agar bisa mudik. Saya juga tidak begitu mengerti mengapa dengan mudahnya berlembar-lembar uang ratusan ribu berpindah hak milik untuk beberapa stel baju baru. Dan saya juga tidak begitu mengerti mengapa hanya di hari lebaran lah orang-orang menyajikan kue nastar. Terus apa bedanya ketupat lebaran dengan ketupat yang sehari-hari kita makan di pasar simpang sebelum berangkat kuliah atau kerja? Dan saya juga tidak begitu mengerti mengapa kita harus berebutan meminta maaf di hari tersebut.

Lebaran sendirian jauh dari keluarga tentu bukanlah sebuah hal yang diinginkan banyak orang. Beberapa teman menunjukkan sikap simpatiknya kepada saya. Puluhan pesan pendek simpatik saya terima, beberapa di antaranya yang mengirimkan makanan ke kostan. Bahkan ada yang setiap harinya menelpon dan menanyakan kabar saya selama berlebaran sendirian di Bandung.

Dengan nada bercanda saya menjawab bahwa setiap orang punya cara sendiri-sendiri untuk memaknai hari tersebut, tidak harus mudik dan makan opor ayam bukan? (Paling tidak ini pendapat yang saya dengar dari selebritis-selebritis di beberapa tayangan infotainment di TV. Bukan sebuah cara yang baik untuk menjalani hari-hari kemenangan, tapi toh menonton tivi adalah satu-satunya hiburan saat lebaran yang bisa saya dapatkan tanpa mengeluarkan uang. Ya sudah, dinikmati saja)

Entalah seharusnya saya bersikap seperti apa, namun tanpa mengurangi nilai semua perhatian orang-orang dekat saya (lagian bagaimana bisa saya menilainya, toh itu kan Kuasanya Tuhan saya), saya sampaikan bahwa tidak begitu beda antara berlebaran di Bandung sendirian dengan berlebaran di kampung bersama keluarga. Mungkin yang paling kentara adalah jika saya mudik (dan selamat di perjalanan sampai kampung) maka saya bisa meminta maaf dari orang tua sambil mencium kedua tapak kaki mereka. Masalah baju baru atau opor? Jangankan ketupat, lauk teri pas lebaran saja tidak lebih istimewa di banding hari-hari biasa. Papa juga tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk mudik dikala lebaran. Pesan beliau, jika kamu merasa berhak menjadi pemenang setelah berpuasa, maka rayakanlah dalam do’amu dimanapun kamu berada. Papa juga tidak pernah menyuruh anak-anaknya meminta maaf, karena sedari kecil yang beliau ajarkan adalah tentang kewajiban untuk memaafkan, diminta ataupun tidak.

Jadi buat saya, lebaran bukanlah persoalan mudik atau tidak, baju baru atau tidak, makan ketupat atau tidak.

Sejenak saya teringat dengan saudara-saudara di Bali, yang menyepi dalam kekhusyukan merayakan hari raya mereka, memohon segala ampunan dan keberkahan kepada Tuhan mereka. Sejenak saya teringat dengan salah seorang teman saya di Yogya, yang setiap kali malam Natal menjelang, dia beserta seluruh keluarga, berkumpul bersama di ruang keluarga, juga memohon segala ampunan dan keberkahan kepada Tuhan mereka, dalam kesederhanaan.

Andai saja orang-orang yang Tuhannya sama dengan saya juga berlaku sama, mungkin kita tak perlu mendengar berita tentang puluhan orang kecelakaan di saat mudik, kita tak perlu mendengar tentang seorang Bapak yang gantung diri gara-gara tak mampu membelikan anak-anaknya baju Lebaran, para perempuan kecil juga tak perlu malu terhadap teman-temannya hanya karena mukena yang dipakainya hanyalah mukena usang.

Tapi kalau semuanya hanya berdiam diri di masjid (atau rumah) memohon segala ampunan dan keberkahan kepada Tuhan mereka, berarti kapan lagi mall-mall dan factory outlet bisa meraup untung besar, kapan lagi para calo tiket bisa surplus, kapan lagi kita-kita bisa pamer pada orang sekampung, dan yang paling pentingnya kapan lagi orang-orang kaya bisa jual muka di berbagai media sebagai pihak dermawan di hari lebaran?.

Lagipula ini kan kesempatan sekali-kalinya dalam setahun para kaum duafa atau anak yatim bisa merasakan kebahagian berbaju baru dan memakan ketupat dan opor ayam?

Iya juga ya.

Tapi bukankah harga hanya beberapa lembar baju baru itu bisa membuat si anak yatim merasakan kebahagiaan sepanjang tahun?

Hmm, jadi ribet. Kalau begitu, mari kita lanjutkan saja perayaan kemenangan ini. Mungkin ini memang takdirnya kalau rapor ibadah kita baru bisa diperlihatkan pada saat di akhirat kelak. Tidak jelas mana yang merah mana yang hitam. Tidak jelas siapa yang cumlaude atau siapa yang tinggal kelas dan harus mengulang. Tidak ada catatan tertulisnya siapa yang memang berhak merayakan kemenangan, siapa yang berhak mudik, dan siapa yang berhak makan ketupat dan opor ayam di hari lebaran. Jadinya ya, seperti saya ini, cuap-cuap tentang makna Idul Fitri padahal merah semua.

Maaf.

PS : Lebaran tahun kemaren saya membuat sebuah template sms minal aidin dan ‘send to many” kepada semua nomor yang ada di phonebook saya. Saya tidak ingat siapa saja, saya juga tidak mempedulikan apakah ia orang yang sering saya sakiti atau bukan. Praktis, cuma bikin satu, lalu “send to many”. Tapi tentu saja saya tidak bisa menyelipkan sapaan secara pribadi dan menyebut nama orang yang saya krimkan sms. Terlalu banyak dan ribet.

Mungkin itu kenapa, lebih dari 200an sms yang saya terima di hari lebaran, hampir semuanya adalah sms template. Apa ini benar-benar sms minta maaf atau kebetulan nomor saya ada di phonebooknya mereka?.

Lebaran kali ini tidak satupun sms yang saya kirimkan. Mungkin jika orang-orang mengingat apa pesan Papa saya, ini tidak menjadi masalah, karena toh kita sudah saling memaafkan tanpa masing-masing perlu meminta maaf.

10 thoughts on “Tidak ada SMS Lebaran kali ini.

  1. 🙂, bagi saya kumpul dengan keluarga adalah hal yg tidak tergantikan, entah apapun momentnya; lebaran ataupun bukan lebaran.
    bersilaturahmi dan maaf2an pas lebaran nampaknya memang ‘cuma’ sebuah budaya dan hanya ada di indonesia, tidak ada salahnya menurut saya. yang menjadikannya ajaib adalah karena ritual ini seolah menjadi hal yg wajib dan terlampau didramatisir; sampai mengusahakan ‘apapun’ untuk bisa mudik.
    hal yang lebih ajaib (dan teramat disesalkan) ketika nampaknya silaturahim dan maaf2an ini tidak menusuk di hati, terasa palsu karena toh masih banyak orang yg terlihat ndak sabaran dan berkelahi di jalanan. mudah2an penglihatan saya salah dan saya memang tdk berhak menilai, itu wewenang Tuhan kita (kalau memang Tuhan kita sama).
    oya, sama; tahun ini saya juga tidak send to many; ‘sekedar’ membalas baik dengan lebih personal tiap sms (templat) yang masuk ke inbox.

  2. Benx… kayaknya kok kita banyak kemiripan ya? terutama mengenai cara memandang sesuatu hihihihi… sama yang ini sih (WP), kalo sama yang blogspot mah … entah … hahahaha

  3. Benii…minal aidin ya..maaf kalo ada salah..baik tertulis maupun tidak..hehehe..

    Oia, tadi nonton Departed di Blitzmegaplex (bioskop baru itu tuh..).
    Filmnya keren, blitzmegaplex-nya juga..hehehe..
    Tegang juga ya,,,gak ketebak banget endingnya…ok bangeeett!!!
    Hehehe…

    Di rumah masih banyak kue lebaran ben…hehehe…

  4. Masing-masing anak bangsa mempunyai latar belakang tradisi yang beraneka ragaam. Tergantung dari seberapa dalam masing-masing individu dalam memaknai dan menghayati suatu tradisi spiritualitas akan sangat berpengaruh terhadap pandangan mengenai suatu permasalahan, diantaranya mudik. Mudik merupakan suatu refleksi terhadap makna kembali ke asal(kembali ke sangkan) bagi kita yang di rantau untuk mereguk kembali semangat spiritualitas yang terbarukan untuk memperkokoh pondasi hidup kita sebagai modal melanjutkan perjuangan hidup.

    Minal aidin wal faidzin……

  5. Ben, minal aidin wal faidzin. Maaf telat. maaf juga nggak bisa menuhin requestnya waktu itu. Dikejar kerjaan bo’ hehehehehe…Malam takbiran aja masih di kantor. Ntar deh, sebagai gantinya ku tulisin resep lainnya. Ok? Ok dong…hehehehe

  6. Huaaaa..
    Kayak na kita snasib mas,,
    da 3 taun ini sha gag lebaran bareng ortu,,
    taun pertama brg kluarga ayah di surabaya,,gag bole mudik!! –”
    taun kedua di tangerang,,
    dan skrg yg ketiga,,
    malah terdampar di medan,,
    huff..
    tp gag jg dink,,
    lebaran ini sha jg ‘mudik’ kok,,
    ke jakarta!! -.- bis lebaran balik lg ke medan,,
    kerjaan da menanti..
    aahk..
    tetep ajaa..
    brasa ada yg kurangg..
    huhuhuw…
    *menyedihkan*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s