Anak-Anak di Malam Taraweh

Lazimnya orang yang lagi menjalin kasih, saya dan pacar saya juga sering berbincang tentang masa depan. Dimulai dari rencana menikah kapan dan dimana, pestanya seperti apa, yang diundang siapa saja. Bangun rumah di mana, arsitekturnya seperti apa, taman bunganya di halaman depan atau belakang. Kolam renangnya di dalam rumah atau di luar. Banyak sekali yang kita angankan. Kita tidak sedang bermaksud mendahului takdir Yang Maha Kuasa, tapi sekedar mendiskusikan kondisi hidup yang kita inginkan nantinya. Dan di antara itu semua, rencana tentang anaklah yang menjadi topik favorit kita.

Kita satu pemikiran bahwa memiliki anak buah cinta berdua adalah salah satu anugrah terindah di dunia ini. Puncak kesempurnaan menjalani kehidupan. Akibatnya berbagai bahasan yang berhubungan dengan dunia anak-anak kita ikuti dengan begitu antusias. Menonton acara anak-anak di tivi, berkunjung ke play group, membaca buku-buku psikologi anak, juga menghadiri berbagai seminar parenting. Sedangkan pacar saya, yang juga begitu terobsesinya, bela-belain meminta izin orang tuanya agar diperbolehkan mengajak tinggal salah seorang keponakannya yang belum genap berusia dua tahun.

Semuanya terasa begitu menyenangkan. Saya begitu menikmati setiap acara parenting yang saya ikuti. Saya begitu bergairah setiap kali membaca buku psikologi anak. Bahkan saat ini saya punya beberapa buku tentang perawatan bayi, seri ayahbunda, tips menjadi ayah yang baik, tips mendidik anak laki-laki, dan lain-lain. Dan begitu juga pacar saya, setiap hari dia selalu mengirimkan sms untuk mengatakan bahwa betapa bahagianya melihat berbagai kelucuan sang ponakan.

Obsesi dan kebahagian menjadi orang tua begitu menggairah di dalam jiwa. Usia muda tidaklah menjadi halangan. Semangat jiwa ini acap kali membuat kita berpikir untuk melangkah lebih jauh. Menikah muda, punya anak dan hidup bahagia bersama selamanya.

Tapi ternyata hal itu tak semudah angan. Beberapa malam ini, setiap kali melaksanakan sholat taraweh di masjid dekat kostan, setiap kali pula saya tersentak akan sesuatu. Tentang bahwa mempunyai anak bukanlah sebuah perkara yang mudah.

Tadi malam mungkin menjadi puncaknya, ketika salah seorang pengurus masjid, dengan suara keras mengusir seorang anak kecil yang dianggap biang keributan di dalam masjid. Tapi ternyata sang Ibu tidak bisa menerima perlakuan tersebut. Ia tidak terima anaknya diusir. Ia tidak terima anaknya dianggap pembuat keributan, karena selama ini anaknya adalah anak yang baik dan juga berprestasi di sekolah. Sang Bapak, yang juga berada di sana tidak bisa berbuat apa-apa. Anaknya jelas-jelas telah bertingkah dan ribut disaat orang-orang sedang sholat.

Mungkin perasaan inilah yang dahulu dirasakan oleh Paman saya. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, terjadi kegaduhan akibat ledakan sebuah petasan dari halaman masjid disaat orang-orang sedang khusu’ melaksanakan sholat taraweh berjamaah di dalam. Paman saya begitu malu, ketika mengetahui bahwa pelakunya adalah anaknya sendiri. Padahal beliau adalah perngurus masjid yang cukup terpandang di masyarakat. Walau beliau tidak pernah mengatakannya, namun sampai sekarang, saya masih mengingat waktu itu wajah Paman memancarkan rasa sesal diri yang begitu dalam.

Perbuatan sang anak memang tidak bisa ditolerir. Sekedar membuat suara ricuh di saat orang sedang sholat juga adalah perbuatan yang jelas-jelas dilarang. Jangankan itu, setiap kali ada anak-anak yang mencoba untuk berbisik-bisik mengobrol disaat sedang mendengarkan ceramah, pastilah akan langsung ditegur.

Tapi menyalahkan si anak sepenuhnya tentu juga bukanlah suatu tindakan yang bijak. Walaupun dengan alasan bahwa selama ini sang anak selalu bersikap baik di rumah, tak jarang di antara orang tua yang lebih memikirkan baju muslim dengan corak masa kini buat anaknya berangkat ke masjid. Atau lebih jelas lagi ketika di hari Lebaran, sering saya lihat antara si Bapak, Ibu dan anak berlomba-lomba untuk memakai pakaian yang seragam.

Tapi diajarkankah si anak tentang artinya Ibadah itu sendiri, tentang untuk tidak membuat keributan di masjid?. Kalau di masjid saja si anak begitu mudahnya membuat kegaduhan, mengganggu orang lain, apa kita tidak begitu takut bahwa ia juga akan dengan santainya berbuat hal yang sama di lingkungan kehidupannya.

Dan yang paling saya takutkan dari ini semua adalah kecintaan yang begitu besar terhadap sang anak membuat saya menutup mata terhadap berbagai kesalahannya. Apalagi ini bukan sekedar kesalahan terhadap sesama manusia, tetapi dengan Sang Maha Pencipta.

Ya, mungkin saya sudah punya cukup pengetahuan tentang merawat anak, tentang obat-obatan jika dia panas di tengah malam. Saya dan pasangan juga mungkin nantinya punya uang yang lebih dari cukup untuk membawa dia berobat ke rumah sakit yang mahal atau mengirim si anak sekolah di luar negri. Tapi saya masih belum punya bekal apa-apa untuk mengajarkan agama saya kepada si anak. Bahkan jika dibanding dengan sang paman, atau si bapak di masjid, saya pun masih terlalu hijau untuk menjadi seorang ayah.

Ternyata saya belum siap untuk menjalani itu semua. Ternyata saya perlu menulis ulang tentang rencana hidup saya.

Ketika pagi tadi saya kebingunan untuk mengirim email dan bercerita kepada pacar saya, tiba-tiba ada sms masuk dari pacar saya.

“Thatan dah semingguan ini rewel terus, tiap malam nangis minta dibikinin susu, tiap malam terpaksa begadang, tidur cuma bentar, trus kalo pagi ga mau dimandiin sama Bibi, dia juga ga mau ditinggal, padahal minggu ini tu lagi banyak tugas sama ujian. Punya anak tu susah banget ya?”

Hmm, untunglah. =)

7 thoughts on “Anak-Anak di Malam Taraweh

  1. Hihihihihi, bagus juga idenya… semacam OJT untuk parenting hehehe… humm, punya anak memang tidak mudah sepertinya… tapi, anak itu refleksi dari orang tua bukan? kalau anaknya nakal… kemungkinan besar si bapak juga nakal tuh ben.. lo-nya gak tau aja kali🙂 … hush, kok nuduh … tapi, ya gitu deh maksudnya… rawatlah anak dengan tulus… dengan hati… bukan sekedar dengan buku psikologi … niscaya lancar lah urusannya🙂 …

  2. Bahasa yang halus, bagus. Secara content, punya anak itu tidak ada duanya pak, gak usah direncanakan tapi dijalankan. Cepatlah menikah hehe…

  3. Kalo dipikir2 memang iya ya mas.
    Coba, ancaman narkoba bukan sesuatu yang patut diremehkan buat anak kita kelak.
    Belum pedofilia, seperti yang saya lihat di SCTV kemarin.

    Tapi, saya yakin jika kita ikhlas dan merawat sebaik2nya dan tentu minta sama Gusti Allah untuk selalu memberika perlindungan, pasti bisa deh ! percayalah !!

    So…jadi kapan nikah mas…met kenal dulu deh..;-)

  4. bageeesss,
    kebanyakan orang orang hanya sibuk mengatur rencana pernikahan dan resepsi-nya bahkan berbulan-bulan sebelumnya, padahal hanya untuk acara 1 hari (mungkin hanya 2 jam untuk yg di gedung) padahal after that adalah perjalanan yg sebenarnya (gayanya sok udah pengalaman nih :))
    apa langsung punya anak apa gak, nanti anak berapa, jaraknya seperti apa, sekolahnya dimana, umum apa pesantren apa di luar negeri (swasta :)), berapa jatah buat orang tua masing2, berapa harus saving tiap bulan,
    Beni makin bingung untuk melangkah lebih lanjut😀 bukan nakut2in boss, tapi realitanya emang begitu kalo gw tangkep dari interview dgn teman2 yg dah married.

  5. ben, dulu ada temenku, seumurmu lah, tapi angkt2000 deng, ganteng, tinggal nyelesaiin KOAS dokternya, pinter, tau banyak soal keluarga kaya beni, punya cw, cantik, keibuan, dan orang ekonomi, ya intinya..tinggal nikah deh..trus waktu ditanya knapa dia ga nikah2..dia cuma jawab “gw blm siap dititipin seorang khalifah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s