Munggahan Cium Pipi

Belum masuk bulan puasa, ternyata sudah sederet juga dosa yang saya perbuat. Walah, walah…kapan baiknya diri ini.

Lazimnya ragam tradisi yang berlangsung di lingkungan masyarakat negri ini, menyongsong bulan Ramadhan, cukup banyak acara munggahan yang diselenggarakan. Munggahan adalah sebutan dalam bahasa Sunda buar acara makan bersama yang diselenggarakan setiap kali menjelang bulan puasa oleh suatu keluarga dengan mengundang tetangga di sekitar. Kebiasaan ini juga dilakukan oleh berbagai lembaga pemerintahan, kantor swasta maupun organisasi masyarakat.

Biasanya seorang ustad didatangkan untuk memimpin doa, yang didahului oleh sedikit ceramah tentang Ramadhan. Sedikit? Ya, karena dari rata-rata dua jam acara diagendakan, paling banter paket ceramah dan d0’anya cuma 15 menit di awal. Setelah itu, makan dan ngobrol-ngobrol. Entah harusnya acara munggahan itu seperti apa, tapi paling tidak itulah yang saya temui.

Kebetulan dalam seminggu menjelang Ramadhan ini saya menghadiri tiga acara munggahan. Dua acara bertempat di hotel sedangkan yang satunya lagi adalah di rumah pak RT. Undangan munggahan itu artinya makan gratis. Mau yang di hotel ataupun di rumah pak RT, pasti panitia penyelenggaranya akan menyediakan banyak sekali makanan yang enak-enak. Jelas ini tidak boleh dilewatkan sama sekali, apalagi seperti yang saya sampaikan tadi semua gratisan. 

Munggahan pertama, di lobby sebuah hotel. Sebenarnya ini adalah acaranya kantor tante, saudara jauh Ibu saya. Kebetulan waktu itu tante kurang enak badan, jadi saya diminta menemani sekaligus jadi sopirnya. Kita sampai beberapa saat sebelum acara di mulai. Begitu sampai tante langsung disambut oleh orang-orang yang saya perkirakan adalah teman kantor atau rekan kerja tante. Tante langsung memperkenalkan saya kepada teman-temannya. 

Terus terang saya memang agak kikuk jika berkenalan dengan orang baru, apalagi terang-terang orang yang datang tidak ada satupun saya kenal. Dan lebih parahnya lagi semua orang yang ada di sana adalah orang-orang dari kalangan menengah atas. Memang banyak juga yang tampak masih muda seusia saya, tapi dari penampilan mereka jelas-jelas kebanting jauh. Awalnya saya mau bersikap acuh saja, toh saya kesini dengan niat untuk mendapatkan makanan enak dan mahal secara gratisan. 

Tapi celakanya tante malah mengajak saya berkenalan dengan teman-temannya. Saya tidak hanya kalah kelas dari cara berpakaian, tetapi saya juga kalah kelas dari cara berkenalan. Ternyata berkenalan tidak cukup hanya dengan mengangguk menyebutkan nama sambil tersenyum ataupun dengan bersalaman. Tetapi harus saling cium pipi kiri cium pipi kanan. 

Dan di sinilah masalah mulai terjadi. Saya mengelak ketika ada seorang perempuan yang dikenalkan tante bermaksud untuk cium pipi kanan cium pipi kiri. Dan saya ditertawakan. 

Terdengar kampunngan memang, tapi selama ini saya cium pipi kanan cium pipi kiri hanya dengan kedua orang tua dan keluarga saya. Dengan pacar saja sungguh sangat jarang sekali. Tapi apa dikata. Malam itu, dengan tampang kikuk saya terpaksa cium pipi kanan cium pipi kiri dengan puluhan orang. Entah ini anugrah atau celaka buat saya.

Keesokan harinya, munggahan kedua yang saya hadiri, juga dilaksanakan di sebuah lobby hotel. Kali ini kita datang terlambat, jadi tidak sempat mengdengarkan cramah dan do’a dari ustadnya. Tapi jujur dikata toh itu bukanlah tujuan acara sebenarnya menurut saya. Dan lagi-lagi hal yang sama terjadi. Walaupun sudah latihan di acara kemaren tetap saja kikuk ketika harus cium pipi kanan cium pipi kiri dengan orang-orang. Apalagi dengan sesama laki-laki.

Ketika saya mempertanyakannya, tante malah menjelaskan bahwa itu suatu sikap perkenalan yang sudah biasa, tanda bahwa kita terbuka dan bersahabat dengan orang. Kalau orang tersebut hanya bersamalan saja itu akan tampak sekedar basa-basi saja dan dianggap tertutup dan tidak bersahabat. Walah-walah, celaka ini yang bikin peraturan. 

Sampai sekarang saya masih tidak tahu asal muasal kebiasaan yang seperti ini. Awalnya saya hanya menyaksikan kebiasaan ini pada film-film dari Holywood. Ingat waktu kecil di mana pertama kali saya melihat kebiasaan ini pada sebuah film berjudul Ghost yang dibintangi oleh Demi Moore. Sebuah tontonan yang waktu itu hanya bisa saya saksikan sambil mencuri-curi karena dianggap tidak baik buat anak seusia saya. Tapi seiring berjalan waktu, banyak tontonan yang lebih dari sekedar cium pipi kanan cium pipi kiri yang saya tonton dengan seenaknya. 

Tapi kan bukan ciuman nafsu dan juga bukan dari mulut ke mulut? Iya, memang cuma cium pipi kanan cium pipi kiri. Tapi terus terang saya jengah. Walaupun acap kali juga saya berkhayal melakukan ciuman yang lebih dari cium pipi kanan cium pipi kiri dengan perempuan cantik, tapi tetap saja saya gemetaran. Takut-takut kalau cuma karena cium pipi kanan cium pipi kiri libido saya jadi naik. Kan malu juga. 

Kalau menurut seorang teman, ini hanya sekedar masalah gaya hidup. Jadi dia menyarankan agar saya sering-sering bergaul karena nantinya akan terbiasa, dan karena sudah biasa jadinya dianggap biasa saja. Mirip kalau sudah sering bergaul dengan cewe yang cuma ber-tank top dan ber-rok mini, maka nantinya saya akan terbiasa dan tidak akan horny sembarang. 

Dipikir-pikir teman saya benar juga, karena toh sekarang saya sudah terbiasa melihat pameran pantat dan udel di jalanan tanpa harus nafsuan sembarangan. Jadinya saya anggap biasa. 

Tapi kalau saya pikir-pikir lagi, benar atau tidak teman dan tante saya, saya memilih untuk menjadi orang yang kampungan saja. Tidak apa-apa tidak bisa cium pipi kanan cium pipi kiri dengan banyak orang. Yang penting pipi istri saya nantinya juga saya saja yang bisa menciumnya. 

Untunglah Ibu-Ibu tetangga yang juga menghadiri acara munggahan di rumah Pak RT belum mengenal gaya berkenalan kelas atas tersebut. Parah juga kalau harus cium pipi kanan cium pipi kiri Ibu-Ibu tetangga. Bisa-bisa saya dihajar Bapak-Bapak satu kampung. 

Eh kalau dipikir-pikir, kenapa juga pak SBY kalau ketemu orang suka cium pipi kanan cium pipi kiri juga ya? Biar gaul kali ya. =)

14 thoughts on “Munggahan Cium Pipi

  1. Cipika-cipiki ke sesama cewek sih biasa, tapi ke cowok, oh no!!! Nggak deh, biarpun itu dah jadi tradisi buat sebagian orang, tetep aja nggak enak.

    Ben, resepnya dah ku tulis tuh. Ayo dipraktekin ya…

  2. Pingback: Budaya Jabat Tangan « All That I Can’t Leave Behind

  3. cipika cipiki itu hal yang bodoh, karena budaya barat yang melanggar batas aman. klo lawan jenis tentunya.
    barat memang perusak budaya. banyak cara untuk merusak budaya indonesia. artis adalah salah satu alat barat untuk merusak budaya kita orang indo. contohnya barongsai bisa bertahan tapi budaya indo malah hilang

  4. Pingback: JABAT TANGAN | jonisetiyawan

  5. Haha. Rasulullah SAW apabila bertemu sahabat meliau melakukan salam pipi kiri dan kanan namun hanya sesama laki-laki karena haram hukumnya melakukan dengan wanita yang bukan muhrim.

    Zaman sekarang yang haram dibungkus dengan kecantikan sehingga nampak sebagai kebiasaan baik sedangkan yang halal di-mindset-kan sesuatu yang kidu, udik DLL.

    Hai, Saya laki-laki umur 16 th apabila ingin berkenalan follow twitter @ziyad507 dan mention bahwa kenal di-web ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s