Kuis Blink-Blink dari Negara Blink-Blink

Baru saja saya menyelesaikan membaca sebuah buku terbaru berjudul Think yang ditulis oleh Michael R. LeGault. Geram karena degradasi intelektual dan budaya Amerika, LeGault menawarkan pelintiran buku fenomenal karya Malcom Gladwell, Blink, yang berteori bahwa berbagai keputusan terbaik dilakukan berdasarkan dorongan sesaat, sekejap mata, tanpa adanya pengetahuan faktual dan analisis kritis. Jika buku tersebut menyarankan kita untuk tidak berpikir, LeGault berpendapat tidak mengherankan kalau bernalar kritis dan mengambil keputusan menjadi sebuah seni yang hilang di dalam kehidupan masyarakat  Amerika sehari-hari. Kemudian, the Age of Reason berubah menjadi the Age of Emotion; erosi sistematis ini mempertaruhkan banyak waktu, uang, pekerjaan, dan kehidupan di abad ke-21, menyebabkan pemenuhan yang semakin berkurang dan disfungsi yang semakin besar.*

Membaca bukunya secara utuh sebenarnya tidak begitu menambah pemahaman saya tentang apa yang dimaksud oleh LeGault lebih dari yang disampaikan di resensi tersebut. Tapi apa peduli saya sebenarnya. Lagipula jika orang Amerika mengalami degradasi intelektual dan budaya, itu berarti bisa gantian kita yang menguasai Amerika. Tapi ternyata sebuah acara kuis di tivi memperlihatkan sesuatu yang membuat saya kaget. Tidak mau kalah dengan bangsa Amerika, ternyata kita sendiri juga berlomba-lomba untuk mendegradasikan intelektual sendiri.

Pernah menonton kuisnya kan? Kuis super berhadiah uang milyaran di sebuah stasiun tivi. Terus terang saya masih heran dengan kuis ini. Pertama adalah karena besar hadiahnya seperti yang dulu pernah saya tulis. Yang kedua, yang juga tidak kalah membuat saya heran adalah perilaku pesertanya dalam mengikuti kuis. 

Sampai sekarang saya masih bingung bentuk intelektual apa yang dibutuhkan untuk mengikuti kuis ini. Menebak bola emas di antara bola-bola perak. Menebak kotak-kotak berhadiah. Menebak jumlah orang yang setuju dari 100 responden yang ditanya. 

Satu bola emas di antara sepuluh bola perak?Tiga kotak berisikan potongan tulisan 2 Milyar di antara dua puluh lebih kotak?

Siapa juga yang bisa tahu. Siapa juga yang bisa menebak, karena toh mengambilnya sambil merem. Oke, anggaplah kita bisa pakai ilmu teori peluang. Kebetulan saya sempat diajarkan hal ini sewaktu sekolah menengah. Tapi kan itu hanya ilmu peluang, bukan ilmu nujum. Mungkin hanya si Jun dan Jin-nya. Atau bisa juga para God of Gambler dari Hongkong diminta bantuannya untuk mengubah bola perak jadi bola emas. 

Menebak jumlah orang yang setuju akan sebuah pernyataan dari 100 responden yang ditanya? Walah-walah ini juga lebih ngasal lagi. 

Seorang teman saya di kampus, jurusan matematika, tampak begitu mumet menguraikan rumus-rumus ajaib selama enam bulan lebih bergumul dengan tugas akhirnya untuk bisa mengetahui prosentase orang yang setuju pada sebuah pendapat. Buku-buku yang dipakainya, jika ditumpuk cukup untuk membuat saya bisa menyentuh ring basket tanpa meloncat. 

Bahkan lembaga negara sekelas BPS pun butuh waktu yang tidak sebentar juga untuk bisa mengetahui prosentase penduduk miskin di negara ini. Setelah diumumkan lewat pidato Bapak Presiden tercintapun, ternyata masih banyak orang yang mempertanyakan kebenarannya. Walah-walah, semoga saja kemaren itu BPS tidak nge-blink nebak angkanya.

Tapi, kerutan kening para peserta sewaktu menebak jawabannya juga tidak kalah dengan kerutan kening para peserta olimpiade, kerutan kening teman saya, pejabat BPS atau bahkan kerutan kening kepala negara mungkin. Hal inilah yang saya maksud telah membuat saya heran. Mereka sepertinya berpikir cukup lama untuk menyebutkan angkanya. Entah hitungan apa di kepala para peserta tersebut. Angka cantik? Angka keberuntungan? Tanggal lahir diri? Tanggal lahir pacar? Tanggal tunangan? Tanggal malam pertama?. Kalau saya yang jadi peserta, asal caplok saja bola-bola tersebut. Tidak mikir, asal sebut saja kotak nomor 1,2,3…… atau kotak 13, 20, 22. Kenapa? Meneketehe. 

Tidah hanya peserta kuis itu saja yang suka lupa kapan harus blink kapan harus think. Lihat saja jutaan para pemasang togel di negeri tercinta ini. Berlembar-lembar kertas habis dipakainya untuk melakukan hitungan angka yang akan keluar. Nomor polisi kendaraan yang kecelakaan di dekat rumah dikali jumlah orangnya dikali jumlah polisi yang datang dibagi jumlah kecamatan di sana dan seterusnya. (oke, tentu saja yang ini saya ngasal). 

Tapi apa lacur, karena toh ternyata blink jauh lebih dihargai di negeri ini. Hadiah cerdas cermat tingkat kota ataupun olimpiade fisika tingkat dunia pun, belum ada apa-apanya dibanding hadiah yang diperebutkan di kuis super tersebut. Satu, Dua dan sekarang bahkan ada yang 3 milyar setiap harinya. 

Oke, anggaplah dua kasus di atas itu cuma sekedar hiburan hidup. Tapi saudara sebangsa kita yang lain juga acapkali lupa kapan boleh blink kapan harus think. Begitu mudahnya kita terpancing emosi mendengar sebuah berita yang tidak mengenakkan, tanpa berpikir terlebih dahulu tentang kebenarannya. Mungkin inilah kenapa di negara tercinta ini begitu mudahnya terjadi perang antar saudara seperti di Timika, begitu mudahnya membunuh istri ketika dibakar cemburu setelah mendengar gosip istri selingkuh, atau merusak kantor KPU yang dicurigai tidak tegas mengawas pemilu. Atau mungkin seperti Bapak Wakil Presiden tercinta ketika pertama kali mengunjungi korban gempa di Yogyakarta. Blink!!!! Uang Rp. 10-30 juta dijanjikan untuk pembangunan rumah tiap-tiap kepala keluarga. 

Yah semoga saja kita semua, tahu kapan boleh blink, kapan harus think. Tidak usah pura-pura think kalau bisa di-blink. Tapi jangan seenaknya juga nge-blink kalau memang semuanya harus di-think terlebih dahulu, Pak. Bisa-bisa ntar seperti remaja sekarang yang sukanya blink-blink. =) 

*dikutip dari resensi pada cover belakang buku Think edisi bahasa Indonesia.

5 thoughts on “Kuis Blink-Blink dari Negara Blink-Blink

  1. like i said, gw kaga ngarti think…ngawang ngawang isinya..hehehhe
    bagus atau tidak gw ga tau yang mana

    tapi yang jelas blink lebih bisa gw mengerti =)
    dijabarin dengan contoh gitu..

    baca aja mona
    inget..jangan menjuri buku dari komen gw..hehehe

  2. Benx Benx, dua-duanya gua belon baca. Dalam waktu dekat rencananya mau baca “Blink” sih, karena banyak sekali dibahas di majalah, di acara TV, mulai dari Andersen Cooper 360 sampe acara ‘talk show’ di TV Jepang. “Think” kok bunyi2nya rada njelimet ya. Tapi gua akan coba baca juga deh, lumayan asah2 otak.
    Ntar kalau udah baca, gua kasih komen sekali lagi deh.

    Tapi usulan aja nih, situ kenapa kagak ikutan kuis berhadiah milyar2 itu, hehehe… Mayan kan, siapa tau menangnya gampang. Jaman gua waktu SD – SMA dulu sering banget disuruh ikutan mulai dari cerdas cermat, cepat tepat sampai cerdas tangkas dll, hadiahnya paling banter buku tulis. Bikin keki kan. hihi.

    OK, I’ll be back!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s