Selamat Datang Pak Pejabat

Makin hari makin banyak yang tidak saya mengerti tentang negeri ini. Saking banyaknya, tertawa mungkin adalah satu-satunya cara yang bisa saya lakukan untuk menanggapi ketidak mengertian saya tersebut.

Saya mempunyai seorang teman, yang bisa saya katakan bahwa teman saya tersebut harga dirinya sangat tinggi sekali. Walalu kadang saya berpikir teman saya tersebut suka kelewatan, namun tak jarang pula sikapnya itu membuat saya berpikir. Tiap kali teman saya tersebut menghadiri seminar ataupun konser musik yang yang tidak gratisan alias ada uang pendaftaran atau tiketnya, bisa dipastikan akan terjadi kerusuhan kecil antara teman saya tersebut dengan panitianya.

Begitupun dengan sebuah pertunjukan untuk amal yang dihadiri oleh teman saya tersebut. Kebetulan waktu itu saya juga ikutan menonton, dan tentunya bisa dipastikan karena teman saya tersebut memberikan saya satu tiket gratis. Karena walaupun acara tersebut adalah konser amal untuk korban bencana namun harga tiketnya adalah setara dengan uang makan saya dua minggu.

Layaknya sebuah acara resmi, acara tesebut dibuka dengan sapaan dari seorang pembawa acara. Kebetulan acara tersebut cukup berkelas, dalam artian tamu-tamu yang datang adalah para banyak dari para pejabat negeri ini. Tak terkecuali dari para pimpinan daerah, pimpinan instansi, anggota parlemen, orang-orang birokrat, pemuka masyarakat dan para pengusaha di negri ini. Semuanya hadir sebagai tamu undangan dalam acara tersebut.

Nah, saat saat sapaan pembuka inilah yang acapkali memancing emosi teman saya tersebut. Entah karena aturan protokolernya yang mengharuskan atau sekedar untuk bersopan santun, selalu saja yang disapa pertama kali oleh pembawa acara tersebut adalah para tamu-tamu tersebut. Terima kasih kami ucapkan atas kesediaan bapak pimpinan anu untuk dapat hadir pada acara malan ini, terimakasih kami ucapkan kepada bapak-bapak dari jajaran anu, dst. Bahkan pada malam tersebut, sang pembawa acara memulai ucapan terima kasih dan selamat datangnya ditujukan kepada bapak pejabat anu dan pimpinan anu yang tidak dapat hadir malam ini.

Dan selalu yang paling terakhir disapa adalah para penonton acara tersebut. Hal inilah yang terang-terangan membuat emosi teman saya jadinaik. Bagaimana tidak, untuk bisa menonton acara ini dia harus mengeluarkan duit ratusan ribu. Itupun dapatnya cuma di kelas 1, kalau mu duduk di kelas VIP dia harus merogoh kocek lebih dalam lagi. Sedangkan para tamu undangan tersebut, datang cuma senyum-senyum doank, gratisan dan dapat duduknya di VIP.

Padahal secara hitung-hitungan, suksesnya acara tersebut adalah dilihat dari jumlah tiket yang terjual dan itu berarti juga adalah jumlah penonton yang datang menyaksikan acara tersebut. Bukan dari jumlah para pejabat yang datang. Jadi orang yang harusnya lebih dimuliakan dalam acara tersebut adalah para penonton yang telah membeli tiket tersebut. Mungkin minus saya, karena saya masuknya gratisan.

Awalnya saya mencoba bermaksud untuk menengahi kemarahan teman tersebut, tapi ujung-ujungnya malah saya yang akhirnya diceramahi. Menurut dia hal ini memang sepele, tapi bangsa kita tidak akan bisa maju jika kita tidak belajar untuk menghargai dan menghormati orang lain sesuai sumbangsihnya pada negri ini. Selama ini kita hanya menjual diri dengan bermuka dua, membual sapa dan terimakasih kepada para pejabat agar dipuji dan urusan diperlancar. Secara saya ada di sana karena tiket gratis dari dia, ya saya nurut saja diceramahi.

Kemarahan teman saya semakin memuncak, ketika di akhir acara, sang pembawa acara berulang kali mengucapkan banyak terima kasih kepada para tamu undangan tersebut sehingga acara malam tersebut dapat berlangsung dengan baik dan berhasil mengumpulkan dana puluhan juta. Padahal jelas-jelas uang tersebut adalah sebagian besar dari kantong para penontong yang berpindah ke kotak amal yang dijalankan panitia sepanjang acara.

Dapat ditebak, selesai acara berlangsung, teman saya langsung menghampiri sang pembawa acara tersebut menyampaikan protes kerasnya. Untunglah sebelum hal ini menjadi permasalahan besar, saya berhasil mengajak pulang teman saya tersebut.

Lagi-lagi awalnya saya berpikiran bahwa teman saya tersebut adalah kelewatan. Bahkan bisa-bisa akan memalukan jika saja protes kerasnya itu berbuntut panjang perselisihan paham dengan para panitia berbagai acara yang dia datangi. Tapi tiba-tiba saya bersepakat dengan teman saya tersebut.

Mungkin jika semua orang memahami apa yang teman saya itu maksud, kejadian para sopir bus PPD yang gajinya tidak dibayarkan selama 8 bulan ini tidak pelu terjadi. Walau jelas-jelas para sopir itulah yang berpeluh keringat setiap harinya melayani masyarakat dengan bus tuanya, namun segala pujian, ucapan terima kasih dan tentunya gaji dan tunjangan yang besar hanya mengalir kepada para pejabat negri ini.

Tadinya saya bermaksud untuk menasehati teman saya tersebut untuk tidak perlu lagi menghadiri acara apapun jika nantinya ia tetap akan merasa tidak dihargai. Namun begitu saya memahami ini semua, tampak saya begitu mengkagumi sikapnya. Karena di luar sana masih banyak panitia-panitia acara yang perlu diceramahinya. Tentu saya akan sangat mendukung sekali apalagi jika setiap acara tersebut dia selalu menyiapkan satu tiket gratisan buat saya. =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s