Tanggal Tua

Dari dulu saya tidak pernah bisa mengerti kenapa orang-orang menetapkan satu bulan itu tiga puluh hari lamanya. Padahal nyata-nyata uang saku saya hanya cukup untuk kebutuhan hidup dua puluh harian. Di atas tanggal 20 setiap bulannya saya sering kali merasa sebagai orang termiskin di dunia.

Sebenarnya tidak hanya kali ini saya merasa sangat miskin sekali di akhir bulan. Namun kondisi keuangan bulan ini benar-benar memprihatinkan. Sebuah pameran buku yang tidak sengaja saya kunjungi beberapa waktu lalu, benar-benar membuat saya lapar mata. Tiga lembar uang seratus ribu, yang sejatinya adalah anggaran untuk konsumsi dan kebutuhan  harian sampai akhir bulan habis semua terpakai.

Alhasil, tanggal-tanggal tua di akhir bulan ini terpaksa saya jalani dengan berbagai keluhan setiap harinya. Setiap pagi saya terpaksa harus membongkar bongkar kasur, mengulik-ngulik setiap sudut kamar, membongkar setiap kotak alat tulis untuk mencari-cari siapa tahu ada uang yang terselip, atau kalau tidak juga menemukan terpaksa saya harus membongkar-bongkar celengan tua saya yang sudah bulukan.

Itupun uang yang ada hanya kumpulan receh belaka. Cuma cukup untuk beli makan dengan lauk telor. Padahal di waktu-waktu sekarang, dengan tingginya tingkat aktifitas saya di pabrik, saya benar-benar membutuhkan asupan gizi yang cukup. Mungkin hidup tidak akan sebegini susahnya jika saja orang tua saya adalah pengusaha sukses yang bisa dimintai uang jajan kapanpun sesuka hati.

Namun kejadian sore kemaren membuat saya belajar banyak hal tentang syukur nikmat. Secara kebetulan, sore itu pulang dari pabrik saya satu angkot dengan seorang Bapak-bapak berusia sekitar 50an. Dari penampilannya yang sederhana dan beberapa ikat bunga yang diberi plastik di genggaman, saya bisa menerka bahwa beliau adalah seorang penjaja bunga jalanan.

Mungkin karena lagi sepi, sampai berapa jauh hanya saya dan si Bapak yang ada di angkot tersebut. Sekedar berbasa-basi mengusir sepi, saya memberanikan diri menyapa si Bapak dan berkenalan. Tampak beliau begitu kagumnya ketika saya mengatakan bahwa saya adalah salah seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi. 

Melihat masih begitu banyak bunga yang ada dalam genggamannya, padahal hari sudah keburu sore, mendorong saya menanyakan tentang hasil jualan bunga tersebut. Alhamdulillah, hari ini laku enam tangkai, jawab si Bapak.

Satunya tiga ribu lima ratus, yang terjual enam tangkai, itu artinya hari ini si Bapak hanya mendapatkan uang dua puluh satu ribu rupiah. Sebuah penghasilan yang saya rasa mustahil dapat menghidupi si Bapak, seorang istri dan empat orang anak-anaknya yang masih kecil di rumah. Namun tak sedikitpun saya mendengar nada keluhan dari setiap ucapannya. Walau hidup begitu pelitnya bagi si Bapak penjual bunga, namun tak sekalipun saya melihat senyum terlepas dari wajah tuanya. 

Sampai pada sebuah perempatan beliau permisi untuk turun duluan. Namun sebelum turun, beliau masih sempatnya mengucapkan sebuah doa untuk saya, agar saya diberikan kemudahan dalam menyelesaikan studi sehingga bisa segera mengabdi untuk Ibu Pertiwi.

Tiba-tiba saja hati ini serasa terhentak seperti menumbuk sesuatu. Pagi, siang, malam, yang terlontar dari mulut ini hanyalah keluhan. Padahal walau untuk sementara saya tidak bisa makan nasi padang dengan lauk ayam, setiap harinya lewat tanggal 20an saya masih bisa makan dengan nasi telur.

Jangankan mendoakan orang lain, keluhan saja tak pernah putus dari ucap. Sungguh memalukan.

6 thoughts on “Tanggal Tua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s