Saya Bersukur Sajalah

Melihat kesalahan, keburukan, kebodohan orang lain mungkin adalah salah satu pekerjaan yang paling menyenangkan untuk kita lakukan. Dan dikala kebodohan orang itu tampak, kita seakan punya lahan. Lahan untuk berceramah, untuk mencaci atau sekedar mengomentari. 

Baru-baru ini obrolan kita dihangatkan oleh rekaman video wawancara seorang putri Indonesia yang mewakili negara tercinta ini di ajang pemilihan ratu sejagat. Dalam wawancara yang dilakukan dalam bahasa Inggris tersebut, terdengar sang putri Indonesia beberapa kali melakukan kesalahan bahasa. Kontan saja kesalahan ini menjadi lahan bagi banyak orang di negara ini. Komentar miring mengalir, tidak sedikit yang mencaci, dan tidak sedikit pula yang menjadikannya sebagai topik ceramah di pengajian.

Dari berbagai komentar yang saya dengar dan baca, saya mencoba untuk memahami mengapa kesalahan tersebut begitu hangatnya menjadi topik pembicaraan. Kontes tersebut merupakan ajang dunia, dan si putri tersebut, walau tidak dipilih melalui pemilihan langsung oleh rakyat seperti pemilu presiden, tetapi dia datang mewakili nama Indonesia di kancah dunia. Kontes itu disiarkan ke seluruh penjuru dan disaksikan oleh jutaan orang diberbagai belahan dunia. Apapun yang dilakukan oleh setiap wakil negara, akan dianggap mempresentasikan seperti apa negara tersebut. (atau mungkin seperti apa perempuan di negara tersebut)

Jadi wajar saja rasanya begitu banyak orang yang merespon negatif peristiwa tersebut. Tapi yang tidak wajar (menurut saya) adalah ketika kita dengan mudahnya mencap si putri Indonesia tersebut sebagai seorang perempuan yang bodoh. Dalam satu hari kemaren saya sempat berbicara dengan beberapa orang teman tentang kejadian ini. Ketika saya memulai pembicaraan dengan menyebutkan nama si putri Indonesia tersebut, tak satupun dari mereka yang mengenalnya. Tapi ketika saya menyebutkan putri Indonesia yang ikut pemilihan ratu sejagat, seragam, semuanya berucap tentang seorang perempuan yang telah memalukan bangsa karena bahasa Inggrisnya kacau sekali ketika diwawancara. Seragam pula mereka memberikan komentar bahwa si putri Indonesia tersebut adalah seorang perempuan yang bodoh.               

Bahkan ada seorang teman saya yang berkomentar pedas. Dari dulu dia sudah tidak setuju kalau putri Indonesia yang sekarang tersebut terpilih sebagai putri Indonesia. Bodoh, tidak punya visi dan hanya mengandalkan kecantikan fisik semata. Bahkan menurut teman saya tersebut kemenangan putri Indonesia yang sekarang ini hanyalah pesanan dari para sponsor. 

Sebagai seorang awam yang belum pernah ikut kontes seperti ini  saya tidak tahu apa-apa tentang bagaimana putri Indonesia tersebut terpilih dan bisa mewakili Indonesia di ajang dunia. Tapi yang jelas, ketika orang berbicara tentang putri Indonesia, kata cantiklah yang pertama kali muncul di otak saya. Dan terlepas dari kontroversi pemilihan yang terjadi ataupun relatifitas penilaiaan masing-masing, saya cukup bersepakat untuk mengatakan putri Indonesia yang sekarang adalah cantik. Jadi saya tidak ada masalah dengan hasil pemilihan tersebut. 

Permasalahan dia bisa bahasa Inggris atau tidak, buat saya itu juga tidak masalah. Toh itu bukan bahasa kita dan ini juga bukan kontes adu jago bahasa Inggris. Apa kita mesti malu tidak bisa berbicara dengan bahasa orang lain? 

Atau kalau orang-orang berkomentar bahwa si putri Indonesia tersebut telah memalukan bangsa ini di mata dunia, mungkin seharusnya masing-masing diri berkaca diri. Bukankah setiap hari kita juga tak luput dari hal itu. Menyeberang jalan sembarangan, membuang sampah sembarangan, datang tidak tepat waktu, korupsi, bukankah itu juga perbuatan memalukan negara yang terkenal berbudaya dan beradab ini? atau semata-mata karena kesalahan itu disaksikan oleh seluruh dunia? sedangkan kita hanya melakukan kesalahan-kesalahan di negara sendiri di mana perilaku orangnya sama semua? 

Dan bodoh? Entah apa defenisi bodoh yang orang-orang maksud. Apa karena si putri bukanlah lulusan dari sebuah perguruan tinggi ternama di negri ini? Atau karena si putri tidak suka baca buku yang tebal-tebal? Sayapun ternyata cukup bodoh untuk bisa mengerti ini. 

Toh orang sepintar bapak Habibie saja pernah lupa bacaan Al Fatihah ketika jadi imam sholat, dan Siti Nurhaliza pun bahasa Inggrisnya juga tidak lebih baik daripada David Beckham. Kenapa tidak ada orang yang mengatakan mereka bodoh? 

Tapi ya sudahlah, walaupun dianggap cuma bermodal kecantikan fisik saja, tak sedikit sumbangsihnya buat negri. Lihat saja, hanya dengan modal kecantikan, begitu banyaknya dana sosial yang bisa mereka kumpulkan setiap kalinya. Lihat pula begitu sejuknya hati orang-orang di daerah bencana kala didatangi sang putri yang begitu cantik menebarkan senyumnya yang tulus. Tidak seperti orang-orang pintar negri ini begitu sibuknya untuk mengomentari, mencaci dan memberikan ceramah tentang kebodohan orang lain. Bahkan saking sibuknya mereka tidak sempat mengingat nama orang-orang yang mereka anggap bodoh itu.

Tiba-tiba saja saya begitu bersyukur dengan kondisi saya. Tidak pintar, karena sudah lebih dari lima tahun kuliah masih saja belum lulus. Tidak tampan, karena sampai sekarang saya hanya punya satu pacar. Kondisi ini membuat saya sadar diri untuk tidak mengomentari, memaki atau menjadikan kekurangan atau kebodohan orang lain sebagai bahan ceramah.

Tapi kalau ada yang tanya kenapa kok saya tetap mengomentari semua hal itu di blog ini? Yahh, namanya juga orang Indonesia, walau tampang pas-pasan dan otak empot-empotan, tapi soal komentar mengomentari tidak mau kalah. =)

5 thoughts on “Saya Bersukur Sajalah

  1. Wow, Dude, whatever You say, I think U are right. Respect!
    I thing that’s very strange to look on somebody words and understand nothing…
    Respect again.

  2. yup memang, talk is cheap n easy, but how to make it pointfull is the reason why… gw bukan mo koment tentang si nadine, emang disatu sisi kesalahan fatal tapi teteup kudu dimaapin, bukan dikasih excuse dan kemudian malah makin parah, tapi diberi sentilan sedikit biar bisa maju… hope so.

    mengenai tulisan lo “sebagai orang awam yang belum pernah ikut kontes…” kayaknya itu bukan alesan dehh. lo, gw, siapapun orang awam itu bisa tau ko apa syarat sehingga bisa jadi putri Indonesia. gw bisa online dan surfing mencari info yang berkaitan tentang event tersebut. ada media tv dan koran atau majalah. so, menurut gw ga ada yang kita sebenernya gatau kalo kita mau nyari… sekedar sentilan, ehehehe…

    saya bersyukur sajalah. yup benar. bersyukur masih diberi kemampuan untuk berusaha pastinya.

    “freedom of speech”

  3. emang sih bisa dicari infonya dgn surfing, tapi yang saya maksud adalah bagaimana kejadian sebenarnya tentang pemilihan itu sendiri,
    kan ga mungkin setiap detil kejadian dalam proses tersebut di ekspose dan bisa dikonsumsi umum, nah biasanya yang tidak bisa dikonsumsi umum itulah yang sering kali menjadi momen utama bagaimana pemenangnya dipilih
    ngarti kan, mas tajirrr? =)
    mm, mungkin mas tajirr bisa mempergunakan ketajirannya buat beli hak pelaksanaan miss universe gantiin donal trumpth, jadi bisa dibenerin kontesnya.

  4. saya baru saja search kata “bersukur” di google, di barisan termasuk paling atas dapatlah link ke posting ini.

    tulisan ini telah menggugah saya juga, karena pas banget kata-kata ” …nama si putri Indonesia tersebut, tak satupun dari mereka yang mengenalnya” termasuk saya loh, baru ingat namanya si Putri tsb setelah disebutkan dalam komentar dari bung Tajir, asli saya termasuk tipikal orang indonesia yang hanya ingat nama steorotip seseorang saja. komentar saya: akhirnya bersukur dech saya bisa sempat baca tulisan yang bagus kayak gini.. salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s