Tuhan Maha Pemurah

Tuhan itu Maha Pemurah. Sesedikit apapun kita bersedekah, maka akan diberi ganti berlipat-lipat. Sebenarnya sudah dari kecil orang tua saya mengajarkan tentang hal ini. Guru agama saya di sekolah juga tak jarang mengingatkan bahwa betapa Maha Pemurahnya Sang Maha Pencipta. Bahkan guru mengaji saya pernah menugaskan semua murid ajarnya untuk membuat tulisan tentang ini selama liburan. Namun entah mengapa baru beberapa waktu belakangan ini saya benar-benar memahami tentang hal tersebut. 

Pagi itu tidak sengaja saya mendengarkan sebuah acara ceramah agama dari Ustad Yusuf Mansyur di TransTV. Entah mengapa topik yang dia bawakan sangat menarik buat saya. Beliau bercerita tentang seorang pemuda yang kebetulan adalah seorang kapten tim sepakbola dengan ihklas menghadiahkan sepatu sepakbola kesayangnya kepada seorang teman.  

Suatu hari si kapten berangkat untuk wawancara sebuah panggilan kerja. Namun malang diperjalanan, si kapten tertidur, dan dia baru sadar ketika bus sudah jauh dari tujuan semula. Mana waktu itu sudah lewat satu jam dari jadwal dia wawancara. Dengan pikiran panik dan cemas, si kapten segera berpindah ke bus yang berlawanan arah menuju kantor yang dimaksud. Di otak pemuda tersebut yang ada hanya kekalutan.  

Di tengah perjalanan naik seorang bapak-bapak yang lalu duduk di sebelah pemuda tersebut. Si bapak bercerita bahwa mobilnya mogok di perjalanan. Padahala satu jam lewat harusnya dia sudah ada di kantor untuk mewawancara para pelamar kerja. Perasaan senasib membuat mereka menjadi akrab. 

Tak lama kemudian si pemuda turun di depan sebuah kantor yang besar. Si bapak juga turun. Ternyata kantor yang mereka tuju adalah sama. Karena penasaran akhirnya si Bapak tersebut bertanya kepada si pemuda. Ternyata si pemuda itu adalah calon pelamar kerja yang akan diwawancara oleh si bapak tersebut. Mengetahui kondisi ini si Bapak tertawa. Ternyata yang akan diwawancara juga telat. Namun karena mereka telah akrab akhirnya si Bapak langsung mengajak si pemuda ke kantor tersebut. Dan alhasil si pemuda diterima kerja di kantor tersebut. 

Tampak seperti sebuah kebetulan, namun ini semua telah diatur oleh Sang Pencipta. Si pemuda benar-benar tidak menyangka bahwa keihklasan untuk mensedekahkan sepatu kesayangnnyalah yang telah mengantarkan dia mendapatkan semua karunia tersebut. Betapa sungguh Maha Pemurahnya Sang Pencipta. 

Mendengarkan cerita tersebut membuat saya berpikir terhadap beberapa kejadian yang saya alami baru-baru ini. 

Banyaknya tugas yang harus saya selesaikan, membuat malam itu saya baru bisa pulang dari Lab pukul sembilan lewat. Setelah buru-buru mengunci Lab, saya segera berlari ke luar mencari angkot. Tergesa-gesa memang, karena pukul setengah sepuluh adalah jadwal tayang sebuah the series di TV yang saya gemari. Malam sebelumnya saya tidak sempat menonton, dan saya tidak mau melewatkannya lagi malam ini. Namun apa mau dikata, hampir setengah jam saya menunggu, namun tak ada satupun angkot yang lewat. Lagi-lagi saya akan melewatkan tayangan tersebut malam ini. Untunglah tak lama kemudian ada angkot. Tapi dasar nasib sial, hampir seperampat jam pula angkot tersebut ngetem. Alhasil hampir pukul sepuluh baru saya sampai di kostan. Namun sungguh beruntungnya saya, ternyata acara tersebut baru akan dimulai ketika saya akan menyalakan tv. Bahagianya. 

Cerita lain adalah ketika saya berangkat ke pabrik. Seperti biasa, dari kampus saya naik angkot. Celaka tiga belas, ketika turun dan bermaksud membayar ongkos. Saya baru sadar bahwa dompet saya ketinggalan. Satu-satunya uang seribuan yang ada di kantong tadi sudah saya sedekahkan ke seorang pengamen. Panik dan takut. Namun sungguh mukjizat yang terjadi, ternyata si sopir ternyata adalah tetangga dekat rumah. Beliau memaafkan kealphaan saya, bahkan beliau juga memberikan uang untuk ongkos pulang. 

Dan yang baru-baru ini saya alami, ketika sedang jalan-jalan di CiWalk sabtu kemaren. Tidak disangka saya bertemu dengan seorang teman lama. Saya di ajak mengobrol sambil di traktir makan. Sebuah anugrah yang luar biasa. Awal bulan, ATM masih kosong, namun saya tetap bisa makan enak di restoran mahal. 

Awalnya saya berpikir ini hanyalah sebuah kebetulan semata. Namun setelah mendengar ceramah ustad tersebut saya mencoba untuk mengingat. Ternyata pada hari yang sama dengan setiap kejadian yang saya alami tersebut, saya telah bersedekah.  

Saya memang belumlah seperti si kapten, yang bersedekah dengan niat ihklas semata-mata demi mengharap Ridha Sang Pencipta. Uang receh yang saya sedekahkan ke pengamen di jalan lebih karena saya menyenangi lagu yang mereka nyanyikan, atau sekedar iba melihat anak-anak kecil berpakaian kumuh itu menyanyi, namun tak jarang pula karena tampang mereka yang sangar dan sedikit memaksa. 

Cukup memalukan sebenarnya untuk saya menceritakan kisah saya ini, namun jika untuk kondisi saya saja Tuhan begitu Maha Murahnya mengganti itu semua dengan sejuta RahmatNya, bayangkan apa yang akan kita dapat dalam hidup ini jika setiap hari kita bersedekah dengan ikhlas karenaNya.Sungguh, Tuhan Maha Pemurah.

7 thoughts on “Tuhan Maha Pemurah

  1. ini cerita yang kemaren lo ceritain ke gue kan ya? yang pake embel-embel “bukan mau riya ya..” hehe.. hehee.. gue ko cekikikan sendiri inget tampang lo waktu cerita ini. sepakat lah.. infak dan zakat dalam bentuk apapun gak mungkin tersia-sia; bahkan janji ALLAH selalu melipatgandakan balasannya🙂

  2. paragraf terakhir ..ttg sedekah dan ridha Sang Pencipta … hmm aku juga pernah posting ketika sedang bingung-bingungnya memaknai itu .. atau postingannya Enda juga sedang hangat tuh ….

  3. iya memang kok
    Tuhan Maha pemurah. Bukan cuma mengembalikan apa yang telah kita berikan dan menjadikannya berlipat ganda.
    Bahkan jika kita benar2 menyadarinya, Tuhan memberi petunjuk dalam Al Quran untuk menjalani keseharian kita.
    Petunjuk juga ada di dalam kejadian yang kita alami. Hanya kadang kita terlalu datar dalam melihatnya. Kurang cerdas begitulah.
    Lha kok saya jadi ceramah to.. Maaf deh.
    Whatever, nice posting!

  4. @nova : iye, habisnya kepikiran mulu ma gw =)
    @johan :iya mas, seperti kata Bapak sebelah rumah saya di kampung, Tuhan itu misteri.
    @dianika : terima kasih atas pencerahannya…salam kenal =)

  5. humm, bagus tulisannya ben.. jadi malu kalo blogging dengan tidak bermutu hehehe. sebenernya agak lost tadi waktu antara kapten ngasih sepatu dengan dia lalu satu bus dengan yang bakalan mewawancara.

    Btw, pernah dengar teori acak (Chaos)?… sepertinya menarik…

  6. bagus ben ceritanya, romantis sekali…. beni produktif sekali yah posting, dibanding diriku, he he he…

    hayo yang rajin juga TAnya, ngga bole mandeg🙂

    salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s