More than A Game

<!–[if !supportEmptyParas]–>Dari pada menghabiskan malam minggu sendirian di kost, akhirnya saya menerima ajakan seorang teman untuk nonton bareng Piala Dunia di sebuah kafe di bilangan pusat kota. Sebenarnya ajakan ini sama sekali tidak menarik buat saya. Tetapi ketika dijanjikan semua biaya ditanggung oleh teman saya tersebut, apalagi saya boleh membawa laptopnya, hati ini luluh juga. Membayangkan berinternet ria sambil makan dan minum sepuasnya dengan gratis, jelas bukan pemikiran yang bijak untuk menolaknya. Toh, sebenarnya teman saya itu juga hanya butuh teman berangkat dan pulang, karena di sana pasti dia akan berkumpul dengan sesama pencandu tontonan piala dunia lainnya.Tak lama berselang kita berdua telah sampai di kafe tersebut. Di sana ternyata sudah cukup banyak para penggila bola yang datang. Ada yang berkostum biasa saja seperti saya dan teman saya. Ada juga yang memakai kostum bola lengkap dengan coretan bendera tim favorit di wajah. Tapi tak disangka di sana saya juga menemukan sekelompok orang yang malah berkostum biru putih biru dengan topi bertanduk. Pasukan Viking benar-benar mempunyai Persibisme<!–[if !supportEmptyParas]–> yang tinggi.

Berhubung pertandingan akan segera di mulai, maka teman saya bergegas mendekat ke sebuah layar lebar bergabung dengan sesama penggila bola lainnya. Sedangkan saya, setelah memesan minuman, memilih duduk di sebuah kursi kosong di pojok ruangan. Nyalain laptop, dan berinternet ria. Namun celaka dua belas, belum sampai lima menit saya di depan laptop, tiba-tiba listrik di kafe tersebut mati.

Kontan seketika, seperti sebuah paduan suara yang besar, seluruh penonton bola yang ada di kafe tersebut berteriak kesal. Bagaimana tidak kesal, malam-malam begini, mereka sudah jauh-jauh datang dari rumah ke sini, belai-belain beli kostum bola, corat-coret muka dan lain sebagainya. Untunglah, tak lama listrik kembali menyala. Namun dasar nasib sial, baru juga kick-off<!–[if !supportEmptyParas]–>, listrik kembali mati. Tak lama kemudian listrik memang kembali menyala. Tapi ternyata kali ini listrik yang hidup mati itu membawa celaka. Bohlam projector putus. Parahnya lagi, pihak manajemen kafe ternyata tidak punya bohlam cadangan. Akhirnya terpaksa para pengunjung hanya bisa menikmati dari beberapa TV yang tersedia di kafe tersebut. <!–[endif]–>

Suasana yang tadinya penuh gelora dan teriakan para penggila bola tiba-tiba menjadi lesu. <!–[if !supportEmptyParas]–>Beberapa pengunjung dengan tampang kecewa tampak meninggalkan kafe tersebut. Mungkin ada yang bermaksud mencari tempat nonton bareng di tempat lain, atau mungkin ada yang patah semangat dan memilih untuk pulang.<!–[endif]–>

Melihat teman saya mendekat, segera saya matikan laptop. Bersiap-siap kalo dia pun bermaksud mengajak cabut. Tapi ternyata dia malah menarik tangan saya untuk bergabung bersama sekelompok orang di sebuah meja. Saya perhatikan, di meja tersebut ada tujuh orang.  <!–[if !supportEmptyParas]–>Empat orang diantaranya memakai kostum Jerman. Dan yang menarik, satu diantaranya adalah seorang wanita yang cukup cantik.<!–[endif]–>

Awalnya saya berpikiran mereka semua adalah temannya teman saya tersebut. Namun ternyata teman saya juga baru saja berkenalan dengan mereka. Dan bahkan lebih anehnya lagi, di antara tujuh orang tersebut, hanya dua orang yang bener-bener sudah saling kenal sebelumnya. Dengan yang lain, ternyata mereka pun baru saling sapa.  <!–[if !supportEmptyParas]–>Kebetulan satu meja ketika bermaksud menonton tayangan sepak bola yang terpaksa dibatalkan karena ada kesalahan teknis, mungkin jadi alasan utama mengapa kelompok ini tercipta. Dan seperti yang tadi saya sampaikan satu-satunya kesamaan diantara mereka adalah sama-sama pengggemar bola.

<!–[if !supportEmptyParas]–>Tapi ternyata mereka memang cuma butuh satu kesamaan ini untuk saling dekat. Hanya butuh waktu sebentar buat mereka saling kenal. Karena tak lama berselang, semua orang di kelompok tersebut sudah terlibat dalam pembicaraan yang begitu hangat. Suasana ini mau tidak mau membawa saya juga larut dalam kebersamaan mereka.<!–[endif]–>

Selama hampir dari enam jam percakapan kami, hanya di awal pertandingan menjadi bahan pembicaraan. Selama hampir empat kali pertandingan bola itu sendiri, kami malah lebih banyak bercerita dan bertukar kisah tentang diri masing-masing. Ada seorang pria berusia 40an yang menceritakan kenangan indah menonton bareng bersama sang istri setiap kali penyelenggaraan piala dunia, namun sekarang istrinya telah tiada. Ada yang terpaksa nonton di luar karena tidak satupun anggota keluarganya di rumah yang menyukai bola. Semuanya mendapat giliran bercerita, dan setiap kali ada yang bercerita yang lain akan mendengarkan dengan penuh perhatian.

<!–[if !supportEmptyParas]–>Ketika giliran sang wanita mendapat giliran bercerita, suasana menjadi haru. Sang wanita menceritakan tentang permintaanya untuk menunda pernikahannya setelah piala dunia karena dia adalah seorang yang sangat menggemari bola. Namun ternyata permintaan tersebut ditanggapi sebagai sikap tidak menghargai oleh keluarga calon suaminya. Akibatnya pernikahan mereka terancam gagal. Belum selesai bercerita, pipi sang wanita tersebut sudah berurai air mata. Kontan saja kami semua jadi kelabakan. Untunglah salah seorang di antara kami ada yang cepat tanggap. Dengan sigap ia menyodorkan sapu tangan buat wanita tersebut. Sedangkan saya diminta mengambilkan air minum. Dan yang lain, walaupun bingung harus bersikap, tampak jelas rasa haru dan empati yang begitu dalam di wajah mereka. Seakan bisa merasakan kesedihan sesama. <!–[endif]–>

Walaupun baru saling kenal, karena kebetulan nonton bola bareng, ternyata rasa kebersamaan telah tertanam dalam diri masing-masing.

Sejenak saya teringat dengan ucapan Tom Hundley tentang sepakbola, more than a game….
Andai semua manusia seperti ini, mungkin dunia ini akan jauh terasa indah.

4 thoughts on “More than A Game

  1. hubungan pertemanan memang banyak yang bermula dari kesamaan minat … kayak kita ini .. sesama blogger :p

    eh .. cewek itu suruh merit sama gw aja .. nggak masalah kok abis piala dunia juga …🙂

  2. Iyaiya…coba ya semua manusia bisa kayak gitu..
    Tapi emang temenan sama orang yg punya banyak persamaan akan lebih seru daripada yg misalnya kesamaannya cuma dikit. Mungkin kalo banyak persamaannya lebih banyak juga yg diobrolinnya kali ya.. (ini sih bukan mungkin, tapi emang kali..hehehe)

  3. iya nih benk! tapi masih “ijo” masalah kayak ginian, pusing juga yah tu template-template an, …#$@#^^*((&(*^
    %&(*&_(*_)*$#$#^%%*….bla bla bla..
    hehehe

    eh iya, ikutan koment ni! emang semua yang gratis tuh terasa sangat memuaskan1 sekalipun berdosa (klik klik….) hehehehe

  4. @johan : wah ga sempat minta o hp nya euy, mas..lupa..hehehe
    @mona : nge gosip maksudnya?heheheh =p
    @octea : tapi kalo masalah nyari yang gratisan ga “ijo” lagi kan.. =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s