Sudah Disunat

Mengunjungi rumah pak RT mungkin adalah satu dari sekian hal yang sangat saya hindari. Pertama adalah karena sekalinya ngobrol dengan beliau, pasti akan sangat sulit sekali untuk menghentikannya. Dan kedua, yang paling saya takuti adalah anaknya. Ya anak pak RT yang baru berusia lima tahunan. Nakalnya minta ampun. Disaat saya sedang menderita mendengar ceramah kebangsaan dari pak RT, sang anak dengan gaharnya bergelayutan di punggung saya. Tampan-tampan begini, saya sebenarnya sangat menyenangi bermain dengan anak kecil, tapi untuk kasus yang satu ini, ampun deh.

Tapi kemaren sore mau tidak mau saya harus berkunjung ke rumah pak RT. KIPEM yang sudah dari dua bulan lalu saya urus masih belum selesai juga, padahal saya sangat membutuhkannya saat ini. Akhirnya dengan perasaan gundah gulana binti cemas saya paksakan juga diri ini.

Awalnya mau langsung pamit ketika pak RT bilang bahwa baru minggu depan KIPEM saya selesai, tapi diri yang lemah ini lagi-lagi tak mampu menolak ajakan si bapak untuk mengobrol. Baru 15menit mendengarkan pidato kenegaraan, tiba-tiba saya mendengar suara tawa keras. Belum sempat saya menengok ke arah suara tersebut, tiba-tiba saja di punggung ini sudah bergelayutan seekor monyet, maaf, maksud saya seorang anak. =)
Innalillahi, dosa apa hamba ini. Sumpah serapah tak tertahan lagi, tapi hanya dalam hati, takut sama pak RTnya.

Disaat yang bersamaan, sang Ibu RT datang membawakan minuman. Melihat perilaku anaknya tersebut, sang Ibu dengan lemah lembut mengingatkan, “Dek, kamu kan sudah sunat, jaga sikap donk, katanya sekarang pengen jadi orang dewasa.”

Diingatkan seperti itu seakan mengubah saklar yang tertancap di dahi sang anak. Aneh bin ajaib, sang anak yang tadinya gahar seperti Hulk tiba-tiba saja jadi anak sopan. Turun dari punggung saya, minta maaf dan langsung membantu ibunya menyajikan minuman. Dan dengan sopannya sang anak berpamitan, izin masuk ke dalam. Saya seakan terpukau melihat peristiwa ini. Bagaimana bisa seorang anak yang demikian nakalnya (menurut saya) seketika menjadi anak baik hanya gara-gara diingatkan kalau dia sudah disunat.

Ternyata menurut sang Bapak, sejak disunat sang anak merasa sudah cukup dewasa. Karena jika sudah disunat itu artinya sekarang dia bukan lagi anak kecil, tetapi adalah seorang laki-laki dewasa. Dan sebagai orang dewasa dia harus menunjukkan sikap yang baik dan bertanggung-jawab. Sebuah konsep pengajaran yang aneh, tapi cukup ampuh.

Jadi ingat masa kecil dulu. Sewaktu duduk di kelas satu SD, saya beberapa kali meminta untuk segera disunat karena rata-rata teman saya waktu itu sudah disunat semua. Tapi entah mengapa, Bapak saya tidak pernah mengizinkan. Baru ketika naik ke kelas tiga saya di bawa ke mantri dekat rumah untuk di sunat.

Baru sekarang saya memahami, bahwa ternyata ada sebuah perjanjian besar tak tertulis yang harus kita patuhi ketika kita memutuskan untuk disunat. Karena setelah disunat, itu artinya kita akan dipandang sebagai seorang laki-laki dewasa. Dewasa untuk bersikap, dan dewasa juga mengelola dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap benda yang satu itu. Sebuah tanggung jawab yang tidak sulit namun juga tidak gampang. Lihat saja disekeliling kita. Entah berapa banyak orang yang harus mendekam di penjara hanya gara-gara tidak bisa mengendalikan tititnya. Bahkan orang sekelas Michael Jackson saja pernah kesandung karenanya. Padahal mereka semua kan sudah disunat. (kalau si jacko ga tau deh =p)

Terus terang saja mengelola titit juga bukan perkara mudah buat saya. Walaupun sudah lebih dari 15 tahun saya disunat, tapi sampai sekarang tetap saja saya sering kalang kabut mengurus yang satu itu. Tinggal di kota besar, dengan pameran perempuan berbaju minim dimana-mana, bergaul dengan orang-orang yang punya kehidupan bebas, akses situs porno yang begitu mudahnya, acapkali memancing pikiran.

Syukurlah, sampai sekarang saya masih cukup kuat memegang janji ketika disunat, ya walaupun sekali-kali kepleset dikit. Tapi dibanding Taufik Hidayat, untuk urusan mengelola yang satu ini saya masih lebih jagoan.
Sudah disunat kok masih suka pipis sembarangan.

6 thoughts on “Sudah Disunat

  1. mengendalikan?????
    hmmmm pasti berat kalo tinggal di bandung….

    tapi kata orang bijakn “tidak ada perkerjaan yang berat, yang ada adalah niat”

    ck…ck…ck… gue sok filosofis gini

  2. Kalo ada kampanye penggunaan kondom, yang mesti dikampanyekan duluan itu adalah Taufik Hidayat dan Ariel Peterpan!

    Kita-kita ini sih belakangan aja. Haha.

  3. memang agak aneh juga ya benx, kalo sunat yang dijadikan patokan..
    padahal “baligh” itu kan indikatornya mimpi basah
    terus gimana kalo seorang anak (yang sekarang juga banyak terjadi) itu disunat begitu lahir atau berumur kurang dari satu tahun….
    kasihan bgt ya dia langsung dianggap dewasa n gak bisa menikmati masa kanak-kanak.. –> nasib;))

    btw kalo orang yang ud sunat n ud mimpi basah tapi masih kekanak-kanakan gimana ya?;))
    memang seperti kata iklan//:
    menjadi tua itu pasti, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan…

    postinganmu keren2 benx…
    salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s