Mengapa Kita(?)

Seringkali saya berpikiran sama dengan orang-orang bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang lemah dan rendah kualitas masyarakatnya. Lihat saja berbagai indeks tingkat dunia yang dikeluarkan. Di bidang pendidikan, prestasi negara ini sangat menyedihkan. Bangsa sebesar Indonesia ini yang sudah lebih dari 60 tahun merdeka jauh berada di bawah negara-negara berkembang yang dulunya kita anggap negara terbelakang. Di saat negara-negara lain berlomba menjadi yang terdepan, kita masih saja terkungkung keprihatinan. Jangankan berbicara kualitas, toh memikirkan ribuan sekolah yang rubuh pun kita masih bingung karenanya. Di banding prestasi, berita tentang siswa yang bunuh diri gara-gara tidak mampu membayar iuran lebih sering terdengar.

Bidang ekonomi? Yang ada hanya keprihatinan. Walau disetiap laporan ekonomi negara selalu saja disebutkan kemajuan ekonomi, penguatan nilai rupiah, peningkatan lapangan pekerjaan dll, namun entah berapa nyawa yang melayang sewaktu jutaan masyarakatnya berebutan uang BLT.
Bidang olahraga? Tak masuk tiga besar lagi di SeaGames, perkelahian antara bebotoh, penyogokan, mungkin ini adalah topik utamanya.
Bidang militer? politik? sosial? apapun itu semuanya sama terpuruknya.
Begitulah negara kita ini. 60 tahun merdeka ternyata negara ini masih begitu lemahnya.

Mengingat kondisi seperti ini sering kali saya berpikir bahwa Tuhan tidak akan pernah menimpakan musibah kepada bangsa ini. Karena menurut salah seorang guru agama yang saya kenal, Tuhan tidak akan menimpakan musibah di luar batas kemampuan umatnya. Melihat negara yang seperti ini, jangankan mengalami musibah, untuk menjalani kehidupan sehari-hari yang normal saja begitu berat. Jangankan untuk mengurusi para pengungsi, untuk menjaga agar tidak korupsi saja pejabat kita begitu susahnya menahan diri. Jangankan untuk bahu-membahu membangun bangsa, kerukunan saja begitu langkanya.

Mangkanya ketika pemerintah sibuk menyeru masyarakatnya untuk segera mengungsi dari gunung Merapi, saya sependapat dengan mbah Marijan. Gunung Merapi tidak akan meletus dan meluluhlantakkan kehidupan yang ada disekitarnya. Masyarakat disana sudah demikian miskinnya hidup. Aneh rasanya jika musibah ditimpakan kepada mereka. Kalaupun toh Merapi mengeluarkan asap panasnya, itu hanyalah sekedar gejala alam biasa. Dan itupun menurut mbah Marijan ditujukan sebagai peringatan kepada orang-orang yang selama ini melakukan kerusakan di gunung Merapi. Kalau “cuma” bencana alam sekelas banjir atau longsor, pun masih biasalah. Karena toh itu semua karena juga ulah manusia. Tapi untuk bencana alam sekelas letusan gunung Merapi, saya yakin bangsa ini tidak cukup berkualitas untuk mendapatkannya.

Namun ketika pagi menyapa, ribuan jiwa hilang seketika dan ratusan ribu rumah hancur rata. Tidak hanya saya, mbak marijan, atau anda, semuanya pasti begitu kaget ketika bencana ini menyapa. Gempa mengguncang, meluluhlantakkan negri tercinta. Pekik, jeritan dan rintihan air mata memilukan jiwa seakan bertanya mengapa kita? Mengapa bangsa yang begitu lemahnya ini tak henti didera derita?

Seakan sama saat saya bertanya mengapa anak-anak orang miskin lah yang ditimpa berbagai penyakit aneh, lahir tanpa anus atau tumor di kepala membengkak.

Tuhan pasti punya maksud ketika kita yang dipilihnya. Semoga saya, dan kita semua bisa mengambil pelajaran dari ini semua.

5 thoughts on “Mengapa Kita(?)

  1. KARENA KITA punya garis hidup masing-masing….
    karena setiap manusia tidak dilahirkan “cuma” untuk numpang lewat di dunia ini..

    karena kita………

  2. Terus terang saya lebih suka ngeliat keluarganya Bambang Tri kisruh, atau anak-cucunya Cendana berantem, atau anak-anak pejabat yang korup itu masuk penjara lantaran ketangkap basah ngobat…

    *hiks…kok saya jahat ya?*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s