Mari Menulis sebelum Basi

Saya tidak bersemangat untuk menulis tentang Kartini dan Kisah Perjuangan Feminismenya di blog ini. Pertama karena pengetahuan yang saya miliki tentang Kartini adalah sangat sedikit. Yang saya ketahui hanyalah beliau perempuan, lahir tanggal 21 April dari keluarga ningrat di Jepara. (mmm, inipun gara-gara ada paragraf tentang Kartini di buku pelajaran bahasa Indonesia waktu kelas 3 SD =p). Kedua, saya juga tidak tahu sebenarnya kondisi seperti apa yang Kartini cita-citakan melalui kumpulan tulisan “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Dan yang ketiga, tanggal 21 kemaren tidak ada satupun undangan untuk menghadiri peringatan hari Kartini yang saya terima. Keempat, lagu Ibu Kita Kartini-pun saya tidak ingat lagi.

Dan yang kelima, yang paling penting, sekarang sudah bulan Mei. Karena walaupun tidak tercantum di Pancasila, di Indonesia kamu hanya akan terlihat bagus ketika berbicara sesuatu (cukup) tepat pada waktunya (saja). Berpidato tentang kesejahteraan rakyat (cukup) ketika akan pilkada (saja), setelah terpilih maka kesejahteraan rakyat jadi tabu untuk di bahas pejabat. Berbicara pahala dan surga (cukup) di bulan puasa (saja), namun di hari biasa para ustadz jangan coba-coba untuk memberikan ceramah jika tidak ingin di bilang sok alim. Jadi kalau mau membahas tentang Kartini harusnya beramai-ramailah menyampaikannya pada tanggal 21 April kemaren. Dan saya, sama seperti para pejabat atau ustdaz maupun anda sekalian tentunya tidak mau membawa cerita yang basi, bisa-bisa dianggap sebagai pahlawan kesiangan.

Tapi yang mengiringi kisah perayaan hari Kartini kemaren cukup menarik perhatian saya. Lazimnya setiap tanggal 21 April di sekolah-sekolah, terutama sekolah dasar, selalu diselenggarakan upacara peringatan hari Kartini. Pada hari itu seluruh murid diwajibkan untuk memakai kebaya Jawa ala Kartini lengkap dengan sanggul, tusuk konde dan segala tetek bengeknya. Sebuah upaya untuk mengenalkan sosok Kartini sejak dini. Sungguh suatu tindakan yang sangat mulia sekali dari pada guru-guru di sekolah dasar tersebut.

Tapi ternyata baiknya perayaan ini hanya sebatas itu saja. Paling tidak itulah yang terjadi di sebuah sekolah dasar dekat saya tinggal. Di tengah kemeriahan perayaan, ternyata ada satu orang murid yang kebetulan adalah anak bibi sebelah kostan yang bersedih. Anak ini bukannya tidak menghargai jerih payah perjuangan Kartini agar kaum perempuan juga mendapatkan kesempatan yang sama untuk bersekolah. Tetapi dia sedang bersedih karena sang Ibu tidak mempunyai uang untuk menyewa kebaya Kartini buat dia. Jangankan untuk menyewa kebaya, sanggul dan segala tetek bengeknya, seragam sekolah yang ia pakai sehari-haripun masih belum lunas. Tidak ada baju kebaya itu artinya Ia tak bisa tampil di panggung membacakan puisi Kartini karangannya. Tidak ada sanggul Kartini itu artinya ia harus menerima ejekan teman-temannya.

Tiba-tiba saja ia begitu membenci Kartini, benci kenapa Kartini lahir dari keluarga ningrat. Keluarga berada yang bagi mereka semua mimpi adalah nyata. Mengapa Kartini bukanlah perempuan dari keluarga biasa, yang tidak berkebaya dan bersanggul ala putri raja. Mengapa Kartini bukan perempuan putri petani yang berpakaian apa adanya. Mengapa Kartini bukanlah berasal dari keluarga miskin seperti ia sekarang.

Sebuah kemarahan yang cukup lucu menurut saya. Disaat ibu-ibu sibak mendadani anak-anaknya agar kebaya, sanggul, tusuk konde dan segala tetek bengenknya semirip mungkin dengan Kartini, orang-orang pintar sibuk membahas feminisme, kesetaraan posisi perempuan dan laki-laki, dan bahkan tidak sedikit yang berlomba-lomba mengalahkan Kartini bahwa menurut mereka pemikiran Kartini sudah tidak relevan lagi, si anak ini malah menyalahkan mengapa Kartini lahir dari keluarga berada.

Ada-ada saja!!!
Mungkin si anak ini belum membaca bukunya Eko Prasetyo, “Orang Miskin Dilarang Sekolah”.

Oh iya, tanggal 2 Mei besok adalah hari Pendidikan Nasional, kalau begitu mari kita berlomba-lomba menyiapkan pidato tentang Pendidikan di Indonesia, jangan lupa untuk mengomentari tunjangan kesejahteraan guru-guru, peningkatan dana pendidikan APBN, gerakan wajib belajar 9 tahun. Trus, kasih pendapat juga tentang berbagai kebobrokan sistim pendidikan nasional, masalah kurikulum berbasisi kompetensi dan ujian nasional. Kalau bisa sekalian cantumkan pendapat saudara-saudara sekalian tentang apa yang seharusnya pemerintah lakukan. Dan beraktinglah agar orang-orang yang membaca atau mendengarkannya akan mengangguk-angguk dan bertepuk tangan memuji.
Sebagai saran, mungkin bisa membuat tulisan atau pidato dengan judul “Orang Miskin Dilarang Sekolah (di kampus cap gajah Duduk)”.
Tapi ingat, lakukan semuanya pada tanggal 2 Mei kalau tidak mau dibilang pakar kesiangan.

Kalau saya, palingan tetap seperti hari-hari biasa, tapi semoga saja besok saya tidak kesiangan.

10 thoughts on “Mari Menulis sebelum Basi

  1. Haluuu…apa kabar, nampak lama ya hiatus di benxjelek-nya..eh, taunya dah ada blog baru..

    halu lagi…

    -hehehe..iseng banget yak..

  2. mungkin juga, perlu melihat semangat kartini lebih dari sekedar “kebaya”, hingga kasus anak sedih tadi nggak kejadian …

    btw, saya sendiri kalo nulis blog nggak gitu ngikutin “perayaan”, alasannya :
    pertama, kadang kesannya jadi terlalu umum, karena kebanyak sudah dibahas sama blog lain.
    kedua, kadang saya nggak ngerti sama “perayaan-perayaan” itu
    ketiga, saya nulis sih kalau ada yang rasa-rasanya ganjel di hati, walau di masyarakat itu sudah basi …

    btw, salam kenal !

  3. gimana kalo hari kartini di liburin…

    janga lupa tanggal 20 mei hari kebangkita nasional terus tanggal 21nya hari jatuhnya soehartoo..kayanya bulan MEI ini berbau bulan pergerakan ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s