Kita ternyata Rasialis

Akhir minggu kemarin saya memanfaatkan waktu liburan dengan menonton VCD di kostan. Ada tiga film yang cukup menarik buat saya, Monster’s Ball, Crash dan Human Staind. Ketiga film tersebut berkisah tentang permasalahan ras di Amerika. Monster’s Ball bercerita tentang seorang perempuan kulit hitam yang suaminya dihukum mati di penjara federal. Karena seorang kulit hitam, suaminya tidak mendapatkan keadilan hukum yang baik. Crash berkisah tentang kehidupan berbagai kelompok masyarakat yang dipenuhi kecurigaan. Orang Persia dicurigai sebagai orang Arab penyebar terorisme. Orang Negro dicurigai sebagai pelaku kejahatan. Setiap tindakan orang kulit putih selalu dianggap berniat melecehkan Negro. Sedangkan di Human Staind, digambarkan bagaimana kehidupan seorang Negro yang tidak pernah mengakui bahwa ia adalah seorang Negro juga, Menutupi status ras nya hanya karena ia tidak mau dilecehkan gara-gara ia adalah seorang Negro.

Persoalan ras seperti film tersebut mungkin tidak akan terjadi di Indonesia. Seperti yang kita pelajari dari kecil bahwa negara kita menganut semboyan Bhineka Tunggal Ika, walau berbeda-beda namun tetap satu. Dan beruntunglah saya terlahir sebagai warga negara Indonesia. Karena walaupun kulit saya coklat gelap, tapi sampai sekarang tidak pernah sekalipun saya didiskriminasi hanya gara-gara warna kulit saya. Tidak tahu kalau nanti saya juga harus tinggal di Amerika. Karena tidak seperti bangsa Amerika, bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah dan saling menghargai perbedaan sesama.

(Mmm..kira-kira dongeng itu sekarang masih ada ga yak? =p)

Di kampus saya baru-baru ini, hal ini juga terjadi pada pemilihan Presiden Mahasiswa. Bukan permasalahan ras secara nyata, karena ini bukan masalah ada calon negro yang mencalonkan diri sebagai Presiden. Secara fisik semua calon bisa dikatakan berkulit sawo matang (walau ada yang matangnya dikit, ada yang banyakan). Jadi teorinya semua orang punya peluang yang sama sebagai pemenang pemilu.

Ada calon yang berjenis kelamin perempuan pun saya rasa juga tidak akan jadi masalah, bahkan dia punya kans yang cukup besar juga sebagai pemenang karena jumlah pemilih perempuan di kampus juga cukup banyak. Jadi saya sangat berharap sekali akan terjadi persaingan yang seru pada pemilu kali ini.

Tapi apa yang terjadi, satu pihak muncul sebagai pemenang dengan membabat habis lawan-lawannya.Karena heran akhirnya saya mencoba untuk bertanya kepada beberapa orang teman saya. Siapa yang mereka pilih dan kenapa mereka memilih calon tersebut. Ternyata mereka semua memilih seorang calon hanya karena calon tersebut berasal dari ras (baca:kelompok) A yang terkenal sebagai ras orang baik-baik.

Untuk melengkapi data, iseng-iseng waktu diangkot saya bertanya kepada salah seorang penumpang yang dari kostum yang dipakai mencerminkan bahwa ia adalah mahasiswa TPB. Jawaban yang sama pun saya peroleh. Walau tidak mengenal siapa yang dia pilih, apa visi misi, apa kecakapan dari si calon, dia memutuskan untuk memilih calon dari ras A.

Bagaimana stereotipe yang muncul bahwa ras (baca:kelompok) A adalah orang-orang baik, sedangkan ras B adalah orang-orang jahat. Sehingga siapapun itu yang muncul sebagai orang ras A maka ia akan dianggap orang baik selalu, dan bagi orang ras B, terima nasib saja.

Ternyata kampus (yang mengaku) besar ini pun tak lepas dari permasalahan ras.

Tapi kalau dipikir-pikir, ternyata keluarga sayapun masih rasialis. Sejak pertama kali berangkat ke Bandung, sampai saat ini saya selalu dipesankan untuk tidak mencari jodoh selain orang Minang. Jadi melalui tulisan ini saya sampaikan permintaan maaf buat semua yang bukan orang Minang yang pernah, sedang dan mungkin yang berencana untuk menjadikan saya adalah jodoh hidup, harap maklum. =p

4 thoughts on “Kita ternyata Rasialis

  1. hmm.. blog ini lebih ‘berat’ yah.. sepakat sama pertanyaan trian: lo ngomongin ras atau golongan? kalo ras lebih bersifat genetis dan dibawa oleh faktor keturunan atau budaya (duh, sok tau gue), kayaknya kita pernah membahas ini panjang lebar deh..

  2. ah kok blognya serius kalipunnnn

    weekend kemaren gue juga nonton crash….. keren banget ya….

    kalo masalah kampus itu mah buka rasis ben.. tapi itu wajah masyarakat Indonesia yang masih simbolik…ketika pilihan politik tidak dilandaskan pada sebuah content, akan tetapi lebih kepada kemasan.. emang lo kata SBY bisa menang gimana cara…????

    masyarakat Indonesia yang simbolik lah yang menyebabkan satu kelompok bisa berkuasa.. pada akhirnya tidak ada niatan untuk mencerdaskan masyarakat secara politik.l karena itupun jadi entry point untuk meraih kemenangan2 berikutnya…

    Contoh nyata : PDI-P kalah karena anggota DPRD nya banyak yang korup.. PKS suaranya banyak karena banyak anggota DPRDNya menolak suap. Golkar menang karena identik dengan kesejahteraan orde baru.Demokrat dapet suara besar karena SBY. tidaka ada tuh visi misi…..

    Jadi di dunia politik yang penting adalah terlhiat baik, tidak cukup dengan hanya berbuat baikkkkk ….. (sinis banget gue ya)

  3. ga berat dan juga ga serius kok,

    lah wong otak saya cuma alakadarnya, jadi belum punya kaabilitas buat membicarakan yang berat-berat dengan serius…

    sekedar berbicara saja =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s