Sopir Angkot yang Mengesalkan

“Jangan pernah menjadi sopir angkot, karena seumur-umur kamu hanya akan menyusahkan orang-orang,” kira-kira seperti itulah nasehat yang terucap oleh seorang dosen kepada saya. Sangat subjektif sekali memang, namun ternyata tak jarang pula saya bersepakat dengan pernyataan ini.

Sopir angkot memang mengesalkan. Bayangkan saja, ketika sedang diburu waktu untuk segera sampai di kampus, pak sopir dengan santainya ngetem nungguin penumpang. Atau ia akan menjalankan angkot dengan pelan menyisir jalanan, menyapa setiap orang seolah-olah meminta mereka untuk menjadi penumpang, atau bahkan menilik setiap gang di pinggiran jalan seakan-akan dari sana akan muncul calon penumpang.

Atau ketika sedang mengisi penumpang. Walau cuma kurang satu penumpang lagi, ia tetap saja tidak akan menjalankan angkotnya. Tidak peduli penumpang yang sudah gerah kepanasan di dalam angkot tersebut. Percuma saja bilang..”ehemm..ehemm,” atau berpura-pura batuk, karena teguran kita sekalipun tak kan digubrisnya. Kalimat pamungkasnya adalah “Anda butuh waktu, kamu butuh uang”.

Tujuh-Lima seakan adalah angka kramat bagi mereka. Tujuh orang untuk bangku panjang dan lima orang untuk bangku pendek. Tak peduli penumpangnya gendut-gendut, selama kuota belum terpenuhi, si penumpang tetap dipaksa untuk geser-geser. Kalau penumpang protes, dengan santai si Sopir akan menyahut “Kalau mau lapang, naik mobil pribadi aja.”

Bener-bener bikin kesal, tapi untuk berdebatpun tak ada gunanya, itu mengapa saya lebih memilih jalan beberapa belas meter dari stopan nungguin angkot tiap kali mau ke kampus. Ato kalau habis main ke BIP, dari pada naik angkot yang ngetem di depan PlaGo, saya memaksakaan diri untuk berjalan sampai depan Tamani.

Para sopir angkot juga punya kebiasaan suka belok dan berhenti sembarangan sesuka hatinya. Walau sedang melaju cukup kencang, jika melihat calon penumpang dia bisa saja tiba-tiba meminggirkan angkotnya. Tinggal kita yang sedang berkendaraan di belakang angkot itu hanya bisa misuh-misuh. Mau teriak marah pun percuma karena takkan dihiraukannya.

Tak hanya itu, pernah juga saya punya pengalaman yang menjengkelkan. Waktu itu saya mau pulang ke rumah yang di metro, naik angkot Dago-Riung Bandung. Karena perjalanannya cukup jauh saya biasanya tiduran di angkot. Entah berapa lama tertidur, tiba-tiba saya dibangunkan oleh si sopir angkotnya. Meminta saya untuk turun di sini saja karena dia mau balik ke arah, harus segera menjemput anaknya pulang sekolah. Karena alasannya cukup baik buat saya, akhirnya saya turun dan membayar ongkos penuh.

Tapi apa yang terjadi ternyata tidak jauh dari tempat saya diturunkan tersebut saya melihat pemandangan yang sangat membuat saya marah. Si sopir angkot berbalik hanya gara-gara dia melihat ada segerombolan calon penumpang ke arah Dago. Saat itu sumpah serapah saya keluarkan. Si sopir angkot dan seluruh keluarganya saya kutuk tujuh turunan, dasar orang-orang tak berpendidikan.

Sejak saat itu tidak sedikitpun saya berempati kepada sopir angkot. Untuk ongkos Rp. 1000 ke kampus dari kost atau pulang ke kost pun saya tak pernah ikhlas. Masa untuk jarak yang sebegitu dekatnya dia memasang tarif Rp. 1000. Sehingga selalu saja saya melilih untuk berjalan sedikit jauh dulu agar saya bener-bener puas merasakan uang Rp. 1000 yang telah saya keluarkan.

Tapi kejadian beberapa hari yang lewat membuat saya berpikir lain. Waktu itu hari Sabtu siang, waktu macet-macetnya semua jalanan di Bandung. dan saat itu saya sedang menmpang sebuah angkot yang sedang terjebak kemacetan tersebut. Panas dan lapar sangat mengganggu sekali.

Entah mengalami perasaan yang sama dengan saya, tiba-tiba saja sopir angkot tersebut memutar stir mobilnya. Dengan sigap ia membawa angkotnya menyusur pinggir jalan, bahkan tak jarang badan mobilnya naik ke trotoar. Setiap ada peluang sedikit saja langsung diterobosnya, tak peduli pengendara mobil lain yang dibikin terkaget-kaget oleh ulahnya. Tanpa ada yang mengomandani, sumpah serapah ke si sopir angkotpun mengalir dengan derasnya.

Sedangkan saya, saya merasa baik baik saja. Bahkan saya menjadi senang karena saya akan sampai dengan cepat ke tujuan.

Yah, ternyata baru sampai di sini lah kepribadian saya. Seorang mahasiswa yang mengaku tinggi ilmunya ternyata masih begitu rendahnya. Mencaci dan mengutuki orang-orang yang berbuat salah dan merugikan saya, tetapi ketika perbuatan salah mereka itu menguntungkan saya, saya hanya bisa senang menikmatinya.

Mungkin penyakit ini juga yang diderita oleh para pejabat negri kita. Korupsi dianggap masalah ketika hak kita lah yang diambil, ketika kitalah yang dirugikan, atau ketika kita tak mendapatkan bagian. Tapi ketika kita adalah pihak yang disenangkan, silahkan aja anjing menggonggong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s