Do’a seorang Ibu di Angkot

Siang tadi, angkot yang saya tumpangi ketika mau pulang berjalan cukup pelan. Mungkin si sopir sedang menyisir jalan mencari penumpang yang kebetulan sangat sepi waktu itu. Di dalam angkot itu hanya ada saya dan seorang Ibu berusia sekitar 50an. (dan juga pak sopir tentunya). Saya bukan tipe laki-laki yang suka ngeceng sembarangan, mangkanya dari pada godain si Ibu, saya lebih memilih mensibukkan (menyibukkan?) diri dengan mengutak-atik telepon genggam saya.

Namun tiba-tiba saja si Ibu itu bertanya kepada saya. Bukan! Bukan menyanyakan nama atau nomor telephon genggam saya. Tetapi menanyakan sesuatu yang cukup jadi topik bahasan baru-baru ini. Si Ibu menanyakan apakah saya pro atau kontra terhadap terbitnya majalah Bermain-Anak-Laki-Laki versi Indonesia. Disentil pendapat saya sebagai seorang mahasiswa, yang notabenya adalah pemuda harapan bangsa, apalagi saya tercatatnya sebagai mahasiswa di perguruan tinggi yang diklaim sebagai tempatnya putra-putri terbaik bangsa, dengan berapi-api saya memberikan pandangan saya. 1000% saya menolak terbitnya majalah tersebut karena ini berkaitan dengan moral bangsa. Bangsa kita adalah bangsa yang agamis, dan itu jelas-jelas sangat idak dibenarkan dalam agama kita. Saya juga menambahkan keprihatinan saya terhadap rendahnya moral generasi muda sekarang.

Tampaknya si Ibu sangat terkagum akan ucapan-ucapan saya. Terlihat dia sangat-sangat kagum akan pemikiran saya. Bahkan saking hebatnya orasi saya, si Ibu sampai berdoa bahwa Indonesia ini akan kembali jaya jika semua generasi muda, terutama mahasiswa adalah seperti saya. Mungkin kalau saya berorasi 15 menit lagi, bisa jadi si Ibu ini akan meminta agar saya mau dinikahkan dengan putrinya tercinta. =D

Dengan senyum baik saya pamitan turun duluan kepada si Ibu. Senyum bangga telah membuat seorang Ibu-Ibu kagum kepada saya.

Tapi tidak sampai 10 meter saya berjalan, rasa bangga itu tiba-tiba lenyap. Yang ada hanya rasa sesal dan malu. Bagaimana bisa saya berorasi seperti itu padahal di kamar kost saya terdapat setumpuk majalah Laki-Laki-Sehat. Betapa culasnya saya ketika jangankan gambar-gambar, film biru pun pernah saya konsumsi.

Astaga…..jangan-jangan si Ibu tadi sudah sering bertemu orang-orang seperti saya, mendoakannya, dan dikabulkan. Karena entah berapa banyak dari kita yang berlaku sama.

Ada pemimpin negri ini yang berorasi tentang meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga mereka sendirilah yang yang mengizinkan impor beras.

Ada pedangdut yang ngakunya pendakwah agama, begitu fasihnya melafazkan ayat-ayat menyeru kebaikan, tetapi ternyata juga dialah pelaku mesumnya.

Tapi ternyata ada yang lebih celaka lagi. Ada teman yang kemarin saya lihat muncul di TV sedang demo menolak terbitnya majalah Bermain-Anak-Laki-Laki versi Indonesia. Berteriak lantang sambil dorong-dorongan dengan pihak keamanan.

Lucu juga, sebab dia adalah orang yang pernah memimjamkan saya vivid sebuah film.

Kalau begitu maaf, Bu. Ternyata saya bukan orang yang tepat untuk menjadi menantu Ibu.

4 thoughts on “Do’a seorang Ibu di Angkot

  1. Pingback: lodine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s