Kado is All about Us

Pernah ulang tahun? Saya pernah, walaupun hanya satu kali setahun =). Tapi satu hari itu cukup menjadikan saya layaknya seorang raja, didoakan dengan berbagai do’a do’a mulia, dikasih berbagai jenis kado, diayani seharian walaupun ujung-ujungnya saya harus mentraktir mereka semua. Tapi itu semua tak dapat dibandingkan dengan semoa do’a kebaikan yang saya terima itu.

Saya mempunyai seorang keponakan yang baru merayakan ulang tahunnya yang ke-6 pada tanggal 10 Januari kemaren. Sesuai dengan janji ayah ibunya sewaktu ulang tahun dia yang ke-5 tahun lalu, untuk ulang tahun ke-6 akan diadakan pesta yang cukup besar dan ia boleh mengundang semua teman-teman sekolahnya dan teman-teman di sekitar rumah.

Entah mendapat inspirasi dari mana, tapi yang jelas keponakan saya ini sangat memahami konsep Raja Satu Hari di hari ulang tahun. Mengundang semua teman-teman itu artinya dia mempunyai potensi yang sangat besar untuk mendapatkan banyak kado. Tetapi mungkin dia juga sepertinya juga memahami konsep take and give. Karena sejak saat itu keponakan saya sangat peduli sekali dengan ulang tahun teman-temannya. Ia menjadi rajin sekali menabung. Menabung untuk membelikan kado untuk teman-temannya. Setiap kali ada teman-temannya yang ulang tahun, maka ia akan dengan bersemangat sekali untuk datang dan memberikan kado, mulai dari robot-robot, mobil-mobilan, buku tulis. Dan dia juga akan dengan gembiranya membantu jika ada temannya yang akan mengadakan pesta ulang tahun. Ataupun kalo dia tidak mempunyai uang untuk membelikan kado, maka ia akan selalu berupaya untuk menjadi orang yang pertama yang akan mengucapkan selamat.

Setahun, entah berapa puluh teman yang ulang tahun yang telah dia datangi, berapa puluh kado yang telah ia beli, entah berapa uang yang telah dia keluarkan.

Sampai akhirnya pada tanggal 10 kemarin ulang tahunnya diselenggarakan. Dan memang sesuai dengan yang diprediksi, ulang tahunnya dihadiri oleh ratusan orang, hampir semua teman-temannya datang dan memberikan selamat. Seluruh keluarga yang diperbantukan cukup kerepotan melayani semua tamunya.

Dihadiri ratusan tamu itu artinya dia mendapatkan ratusan kado? Ternyata tidak, karena dari seluruh tamu itu, tercatat hanya sekitar 20an orang yang membawa kado, itupun satu kado ada yang tercatat atas nama satu kelas.

Menurut saya keponakan saya ini pastinya akan sangat kecewa sekali. Menilik dari sisi ekonominya, bisa dibilang dia rugi. Dan sebagai seorang paman yang baik saya langsung menelpon dia, bermaksud memberikan beberapa petuah bijak agar dia tidak terlalu kecewa, dan jika dia mau dia boleh minta kado apa saja dari saya. Dengan mimik dan nada suara rendah saya memulai berbicaranya dengannya ditelpon sebagai antisipasi dia akan bercurhat ria menumpahkan segala kesedihan dan kekecewaanya.

Namun apa yang terjadi, ternyata nada suaranya sangat cerita sekali. Karena menurut dia, sejak saat itu hidupnya akan selalu berbahagia dan masa depannya akan cerah, dan ia juga akan menjadi seorang anak yang Shaleh. Dan dia juga akan menjadi orang kaya, namun ia juga berjanji ia akan rajin berderma.

Loh kok bisa?? Ternyata pada saat dia ulang tahun, ia banyak sekali menerima do’a-do’a kebaikan dari teman-temannya. Tidak hanya ucapan cipika-cipiki, tetapi benar-benar do’a yang tulus. Bahkan teman-teman di pengajian setiap hari selama seminggu selalu mendo’akannya di setiap akhir belajar. Dan menurut dia itu adalah hari terindah dalam hidupnya, karena semua itu jauh jauh lebih berarti dari pada kado-kado yang telah diberikannya buat teman-temannya.

Sebagai seorang paman yang jelas jelas jauh lebih tua dan karena jauh lebih tua maka saya harus kelihatan lebih bijak dari sang ponakan, maka saya langsung mengiyakan sambil menyelipkan satu paragraf nasehat kepada dia tentang keikhlasan. Memang saya adalah seorang paman yang baik.

Namun setelah itu saya seperti terpukul. Terus terang, saya juga sangat menyenangi ulang tahun, karena jauh-jauh hari sebelum hari ulang tahun, maka keluarga ataupun teman-teman dekat saya akan mulai menanyakan ulang tahun nanti mau kado apa?. Dan ketika saya menyebutkan satu barang yang saya inginkan tuk menjadi kado, maka dapat dipastikan ia akan mengupayakannya semaksimal mungkin, walau kadang kado itu mahal ataupun susah mencarinya.

Dan dua bulan menjelang ulang tahun saya yang ke-22 kemaren, sayapun mengeluarkan daftar kado yang saya inginkan kepada semua teman dekat saya. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi IV dan The 8th Habbit-Steven Covey adalah contoh kado yang saya inginkan. Kelewatan? Tidak, karena saya juga memahami konsep take and give. Saya sering mengkalim diri sebagai orang yang sangat perhatian. Karena saya juga rajin memberikan kado kepada teman-teman saya. Walaupun keuangan sedang tipis, tepai jika ada teman dekat saya yang berulang tahun, maka saya selalu mengupayakan diri untuk memberikan kado dan menjadi orang yang pertama yang mengucapkan selamat. Jadi wajar-wajar saja jika saya juga mengharapkan hal yang sama di ulang tahun saya.

Tetapi sang keponakan ternyata telah membuat malu pamannya. Betapa saya selama ini telah mengingkari keikhlasan itu sendiri. Betapa seringnya memberikan kado namun juga berharap akan memberikan kado jika saya ulang tahun. Walaupun saya selalu membungkusnya dengan ucapan bahwa semua ini tulus karena dia adalah teman saya, tetapi ketika saya ulang tahun dan dia tidak memberi saya kado, maka hati ini seakan tidak baik, bahkan sering kali muncul dendam kalo dia ulang tahun nanti saya tidak akan pernah memberikan kado lagi. Atau sering kali saya berpikir, ngapain memberikan dia kado, toh pada saat saya ulang tahun dia tidak memberikan kado.

Bahkan tidak jarang pula kado menjadi utang piutang sosial. Kado diberikan kepada orang yang kita anggap akan selalu bersedia memperhatikan dan mendengarkan celotehan kita. Dan si penerima kado mau tidak mau tentunya harus menjadi baik kepada si pemberi kado kalau tidak mau dianggap teman yang tidak balas budi. Dan kelak ketika si pemberi kado ulang tahun, maka mau tidak mau kita juga haru smemberikan kado, dengan harga yang minimal sama tentunya. Atau kadang pernah kita sudah berniat untuk memberikan kado kepada seseorang namun kita batalkan karena orang tersebut kita anggap sudah tidak baik lagi, tidak mau lagi mendengarkan kita lagi.

Ternyata selama ini kita memberikan kado bukan benar-benar dalam wujud keihklasan untuk kebaikan teman kita tersebut. Ternyata inipun tetap tentang diri kita sendiri. Entahlah, mungkin ini yang disebut Tatu dalam lagunya All about Us….(dan semoga saja bukan Friend or Foe?)
Kalau sudah begini, saya jadi malu sama ponakan saya.
Itulah mengapa beberapa hari sebelum ulang tahun yang ke-22 kemaren, semua daftar kado yang diinginkan itu saya hapus, saya buang jauh-jauh.
Dan ternyata memang, pada tanggal 16 Januari kemaren saya menerima tidak kurang dari 89 sms yang berisi ucapan selamat dan do’a-do’a kebaikan. Terima Kasih.

2 thoughts on “Kado is All about Us

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s