1
Feb
Posted by benisuryadi in Uncategorized. 5 Comments
Kepada semua pihak yang membaca blog ini, mohon maaf sekali saya sampaikan bahwa saya sama sekali tidak ada hubungan dengan pihak Tim Tujuh Hari Menuju Taubat Lativi. Tulisan saya yang berjudul Tujuh Hari Menuju Taubat, pertanggal 17 September 2006 hanyalah sekedar opini dan refleksi pribadi saya.
Namun, berdasarkan informasi yang saya dapat pada akhir acara tersebut di Lativi, saya ketahui bahwa alamat Tim Tujuh Hari Menuju Taubat adalah :
Tim Tujuh Hari Menuju Taubat
Jalan Raya Condet No. 27
Komplek Ruko Mutiara Faza RA.2
Telp. 021-70633369
Fax. 021-87781815
Oleh karena itu, apabila para pembaca bermaksud untuk melakukan kominikasi lebih lanjut, silahkan langsung menghubungi alamat tersebut.
Dan, terima kasih atas segala apresiasi terhadap semua tulisan yang saya muat di blog ini.
Beni Suryadi
“maaf lama ga nulis, lagi persiapan sidang akhir sarjana” =)
14
Dec
Posted by benisuryadi in Bahasa. 10 Comments
Musim hujan ternyata cukup membuat pusing kehidupan saya beberapa hari ini. Capek-capek mencuci pakaian, dan menunggu seharian sampai semua jemuran kering, ditinggal sebentar tiba-tiba semuanya basah diguyur hujan. Becek dan banjir dimana-mana juga membuat saya kesusahan. Sepatu butut saya ternyata tak cukup kuat lagi untuk menahan air yang meresap masuk hingga menyentuh kaki. Kalau sudah begini, baunya sungguh ampun.
Tapi yang paling mengganggu sekali adalah laron-laron. Baru saja gelap menjelang laron-laron tersebut sudah bergerumul di lampu ruangan kamar saya. Yang lebih celakanya lagi, laron tersebut tidak datang sendirian. Anak, istri, kakek, nenek, saudara semuanya diajak serta. Kedatangan laron-laron ini jelas-jelas membuat saya murka. Continue reading
7
Dec
Posted by benisuryadi in Bahasa. 6 Comments
Uenak tenan, uenak tenan……. benar-benar uenak tenan. Oh ya, sebelumnya saya mau minta maaf dulu kepada sidang pembaca, cukup lama tenggangnya dari tulisan terakhir saya. Ini bukan karena saya pikiran saya sedang buntu atau writers block. Bukan, bukan karena hal tersebut. Kondisi seperti ini bukanlah masalah buat orang seperti saya yang walaupun sering tidak bisa melihat kekurangan diri sendiri, tetapi untuk melihat kesalahan dan kekurangan orang, wah saya dukunnya. Jadi sebenarnya saya cukup punya bahan untuk dikomentari.
Namun bebeberapa waktu ini saya malas melakukan hal tersebut. Saya ingin bersantai sejenak sambil menikmati sebuah peran baru dalam hidup saya. Saya baru menyadari bahwa saya ini ternyata punya banyak sekali kenalan dan relasi dekat dengan para pejabat teras yang terkenal di negeri ini. Mulai dari pejabat RT, pejabat kelurahan, pejabat kecamatan sampai ke pejabat besar. Itu baru yang di pemerintahan. Saya juga kenal dengan banyak pejabat perusahaan-perusahaan besar. Dan yang lebih pentingnya lagi saya juga kenal dengan para pejabat dari kepolisian dan militer. Yah, walaupun hampir semuanya karena memang sayanya saja yang sok kenal sok dekat dengan para pejabat tersebut. Continue reading
14
Nov
Posted by benisuryadi in Bahasa. 15 Comments
Beberapa hari yang lewat, tidak sengaja saya melintas di antara kerumunan mahasiswa yang sedang berdemo menentang kedatangan pak George W. Bush. Walaupun jumlah pendemo tak seberapa namun peristiwa kegiatan tersebut cukup menarik perhatian banyak orang dan juga para wartawan dari berbagai media masa. Dan tentu saja seketika menimbulkan macet di ruas jalan tersebut. Entah apa yang membuatnya tertarik, tiba-tiba seorang wartawan mengampiri saya bermaksud untuk mewawancara.
Awalnya saya menolak karena saya bukanlah orang yang ikutan demo pada saat itu. Tetapi , akhirnya saya menjawab jua, lagi pula, kalau dipikir-pikir saya kan jadi masuk tivi. Siapa tahu orang tua di kampung menonton. Sang wartawan mewawancara menanyakan apakah saya setuju atau menolak kedatangan pak Bush, apakah uang enam milyar yang dikeluarkan pemerintah itu layak, dan kenapa saya tidak ikutan berdemo padahal saya adalah mahasiswa.
Tapi dua hari saya nongkrong di depan tivi, berita saya diwawancara tak jua muncul. Apa si wartawannya lupa ya? Tapi ya sudahlah, walau saudara-saudara tak jadi melihat saya di tivi, saya ceritakan saja di sini. Continue reading
5
Nov
Posted by benisuryadi in Bahasa. 10 Comments
Sebuah kesempatan yang sangat jarang sekali untuk orang dengan tampang pas-pasan seperti saya. Beberapa hari yang lalu, kebetulan saya bertemu dengan seorang teman lama. Sebenarnya bukan teman, karena beliau adalah seorang dosen seni rupa yang merangkap sebagai seniman juga. Tapi beliau tidak mau dipanggil dengan panggilan Pak atau Mas, cukup dipanggil nama saja. Ya sudahlah, walau beda usia lebih 10 tahun, saya nurut saja. Akhir tahun ini beliau bermaksud untuk mengikuti sebuah pameran lukisan wajah di luar negri. Karena cukup disebut luar negri saja saya berpikir ini pastilah sebuah pameran kelas dunia. Namun bukan masalah pameran tersebut yang ingin saya ceritakan, tetapi sesuatu yang jauh lebih penting. Beliau menawarkan untuk melukis wajah saya untuk ditampilkan pada pameran nanti.
Hari gini ada yang tertarik sama wajah saya? Walau bukan Raam Punjabi yang tertarik dengan wajah saya, tetapi dilukis, masuk pameran di luar negri?, wow.. ini penghargaan yang sangat besar untuk saya. Dibandingkan dengan teman-teman kampus atau teman-teman di komunitas yang memang ditakdirkan Tuhan memiliki tampang ganteng, bahkan dengan Christian Sugiono sekalipun, bintang sinetron yang sangat diidolakan banyak teman-teman cewek karena bisa bikin mereka pada panas dingin, jelas sekarang kelas saya jauh di atas mereka. Continue reading
28
Oct
Posted by benisuryadi in Bahasa. 10 Comments
Lebaran kali ini lagi-lagi saya tidak pulang kampung. Ini entah untuk keberapa kalinya sejak lima tahun silam, pertama kali menginjakkan kaki di kota Bandung, saya tidak merayakan lebaran bersama keluarga. Lebaran jauh dari keluarga, di kostan sendirian, yang notabenya dihuni oleh mayoritas saudara-saudara non muslim, tentulah tak banyak yang bisa saya ceritakan. Tidak ada suara komando sang Ayah di pagi hari guna mengingatkan anggota keluarga di rumah untuk bersegera ke masjid (atau lapangan), tidak ada salam dan silaturahmi dengan sanak keluarga setelah sholat, tidak ada ketupat ataupun opor ayam, dan tentu saja juga tidak ada pembagian uang. Lebaran kali ini? Sama saja, bahkan sekilas suasananya tidak beda sama sekali dengan ritual sholat Jum’at. Datang ke masjid (atau mungkin lapangan), sholat dan dengar khutbah, bersalam-salaman, lalu pulang.
Selesai? Continue reading
16
Oct
Posted by benisuryadi in Bahasa. 17 Comments
Beginilah susahnya kalau jadi orang dengan kadar iman yang masih pas-pasan, untuk tergugah akan agama saat mendengarkan ceramah para ustadz saja bukan perkara mudah untuk saya capai. Apalagi selama ini dalam seminggu, rata-rata hanya satu kali seminggu saja saya mendengarkan siraman rohani, yaitu pas jumatan. Itupun dengan catatan jika saya tidak ketiduran pada saat khutbah. Kalau angin semilir begitu sejuk menyapa, pengkhutbahnya kaku, dan isi khutbahnya tidak ada yang lucu, yah, bisa dipastikan hanya dalam hitungan menit saya sudah tertidur. Sungguh celaka memang.
Tapi saya juta tidak mau disalahkan sepenuhnya. Toh anginnya begitu sejuk dan kebetulan saat itu fisik saya cukup lemah setelah beraktifitas. Toh ustadznya banyak yang kaku sekali dalam berkhutbah, jarang sekali menyapa, dan bukannya tengok sana tengok sini sambil sesekali menggerakkan tangan seperti yang disampaikan dalam buku-buku tips sebagai pembicara yang baik, kebanyakan dari mereka hanyalah seperti anak SD yang disuruh membaca paragraf dari sebuah buku oleh sang guru. Dan toh juga, isinya tidak ada lucu-lucunya, bahkan sering kali terkesan getir dan hanya menonjolkan tentang betapa seramnya neraka. Lagi-lagi sesuai tips pidato yang baik, harusnya isinya bisa memancing kegairahan yang mendengar. Betul? Continue reading
1
Oct
Posted by benisuryadi in Bahasa. 7 Comments
Lazimnya orang yang lagi menjalin kasih, saya dan pacar saya juga sering berbincang tentang masa depan. Dimulai dari rencana menikah kapan dan dimana, pestanya seperti apa, yang diundang siapa saja. Bangun rumah di mana, arsitekturnya seperti apa, taman bunganya di halaman depan atau belakang. Kolam renangnya di dalam rumah atau di luar. Banyak sekali yang kita angankan. Kita tidak sedang bermaksud mendahului takdir Yang Maha Kuasa, tapi sekedar mendiskusikan kondisi hidup yang kita inginkan nantinya. Dan di antara itu semua, rencana tentang anaklah yang menjadi topik favorit kita. Continue reading
24
Sep
Posted by benisuryadi in Bahasa. 12 Comments
Belum masuk bulan puasa, ternyata sudah sederet juga dosa yang saya perbuat. Walah, walah…kapan baiknya diri ini.
Lazimnya ragam tradisi yang berlangsung di lingkungan masyarakat negri ini, menyongsong bulan Ramadhan, cukup banyak acara munggahan yang diselenggarakan. Munggahan adalah sebutan dalam bahasa Sunda buar acara makan bersama yang diselenggarakan setiap kali menjelang bulan puasa oleh suatu keluarga dengan mengundang tetangga di sekitar. Kebiasaan ini juga dilakukan oleh berbagai lembaga pemerintahan, kantor swasta maupun organisasi masyarakat.
Biasanya seorang ustad didatangkan untuk memimpin doa, yang didahului oleh sedikit ceramah tentang Ramadhan. Sedikit? Ya, karena dari rata-rata dua jam acara diagendakan, paling banter paket ceramah dan d0’anya cuma 15 menit di awal. Setelah itu, makan dan ngobrol-ngobrol. Entah harusnya acara munggahan itu seperti apa, tapi paling tidak itulah yang saya temui. Continue reading
20
Sep
Posted by benisuryadi in Bahasa. 5 Comments
Baru saja saya menyelesaikan membaca sebuah buku terbaru berjudul Think yang ditulis oleh Michael R. LeGault. Geram karena degradasi intelektual dan budaya Amerika, LeGault menawarkan pelintiran buku fenomenal karya Malcom Gladwell, Blink, yang berteori bahwa berbagai keputusan terbaik dilakukan berdasarkan dorongan sesaat, sekejap mata, tanpa adanya pengetahuan faktual dan analisis kritis. Jika buku tersebut menyarankan kita untuk tidak berpikir, LeGault berpendapat tidak mengherankan kalau bernalar kritis dan mengambil keputusan menjadi sebuah seni yang hilang di dalam kehidupan masyarakat Amerika sehari-hari. Kemudian, the Age of Reason berubah menjadi the Age of Emotion; erosi sistematis ini mempertaruhkan banyak waktu, uang, pekerjaan, dan kehidupan di abad ke-21, menyebabkan pemenuhan yang semakin berkurang dan disfungsi yang semakin besar.*
Membaca bukunya secara utuh sebenarnya tidak begitu menambah pemahaman saya tentang apa yang dimaksud oleh LeGault lebih dari yang disampaikan di resensi tersebut. Tapi apa peduli saya sebenarnya. Lagipula jika orang Amerika mengalami degradasi intelektual dan budaya, itu berarti bisa gantian kita yang menguasai Amerika. Tapi ternyata sebuah acara kuis di tivi memperlihatkan sesuatu yang membuat saya kaget. Tidak mau kalah dengan bangsa Amerika, ternyata kita sendiri juga berlomba-lomba untuk mendegradasikan intelektual sendiri. Continue reading