GLasNost


Saya (harusnya) Masuk TV

Beberapa hari yang lewat, tidak sengaja saya melintas di antara kerumunan mahasiswa yang sedang berdemo menentang kedatangan pak George W. Bush. Walaupun jumlah pendemo tak seberapa namun peristiwa kegiatan tersebut cukup menarik perhatian banyak orang dan juga para wartawan dari berbagai media masa. Dan tentu saja seketika menimbulkan macet di ruas jalan tersebut. Entah apa yang membuatnya tertarik, tiba-tiba seorang wartawan mengampiri saya bermaksud untuk mewawancara.

Awalnya saya menolak karena saya bukanlah orang yang ikutan demo pada saat itu. Tetapi , akhirnya saya menjawab jua, lagi pula, kalau dipikir-pikir saya kan jadi masuk tivi. Siapa tahu orang tua di kampung menonton. Sang wartawan mewawancara menanyakan apakah saya setuju atau menolak kedatangan pak Bush, apakah uang enam milyar yang dikeluarkan pemerintah itu layak, dan kenapa saya tidak ikutan berdemo padahal saya adalah mahasiswa.

Tapi dua hari saya nongkrong di depan tivi, berita saya diwawancara tak jua muncul. Apa si wartawannya lupa ya? Tapi ya sudahlah, walau saudara-saudara tak jadi melihat saya di tivi, saya ceritakan saja di sini. Continue reading this entry »


Lukisan Wajah dan Senyuman

Sebuah kesempatan yang sangat jarang sekali untuk orang dengan tampang pas-pasan seperti saya. Beberapa hari yang lalu, kebetulan saya bertemu dengan seorang teman lama. Sebenarnya bukan teman, karena beliau adalah seorang dosen seni rupa yang merangkap sebagai seniman juga. Tapi beliau tidak mau dipanggil dengan panggilan Pak atau Mas, cukup dipanggil nama saja. Ya sudahlah, walau beda usia lebih 10 tahun, saya nurut saja. Akhir tahun ini beliau bermaksud untuk mengikuti sebuah pameran lukisan wajah di luar negri. Karena cukup disebut luar negri saja saya berpikir ini pastilah sebuah pameran kelas dunia. Namun bukan masalah pameran tersebut yang ingin saya ceritakan, tetapi sesuatu yang jauh lebih penting. Beliau menawarkan untuk melukis wajah saya untuk ditampilkan pada pameran nanti.

Hari gini ada yang tertarik sama wajah saya? Walau bukan Raam Punjabi yang tertarik dengan wajah saya, tetapi dilukis, masuk pameran di luar negri?, wow.. ini penghargaan yang sangat besar untuk saya. Dibandingkan dengan teman-teman kampus atau teman-teman di komunitas yang memang ditakdirkan Tuhan memiliki tampang ganteng, bahkan dengan Christian Sugiono sekalipun, bintang sinetron yang sangat diidolakan banyak teman-teman cewek karena bisa bikin mereka pada panas dingin, jelas sekarang kelas saya jauh di atas mereka.

Continue reading this entry »


Tidak ada SMS Lebaran kali ini.

Lebaran kali ini lagi-lagi saya tidak pulang kampung. Ini entah untuk keberapa kalinya sejak lima tahun silam, pertama kali menginjakkan kaki di kota Bandung, saya tidak merayakan lebaran bersama keluarga. Lebaran jauh dari keluarga, di kostan sendirian, yang notabenya dihuni oleh mayoritas saudara-saudara non muslim, tentulah tak banyak yang bisa saya ceritakan. Tidak ada suara komando sang Ayah di pagi hari guna mengingatkan anggota keluarga di rumah untuk bersegera ke masjid (atau lapangan), tidak ada salam dan silaturahmi dengan sanak keluarga setelah sholat, tidak ada ketupat ataupun opor ayam, dan tentu saja juga tidak ada pembagian uang. Lebaran kali ini? Sama saja, bahkan sekilas suasananya tidak beda sama sekali dengan ritual sholat Jum’at. Datang ke masjid (atau mungkin lapangan), sholat dan dengar khutbah, bersalam-salaman, lalu pulang.

Selesai?

Continue reading this entry »


Ustdaz ku Dian Sastro

Beginilah susahnya kalau jadi orang dengan kadar iman yang masih pas-pasan, untuk tergugah akan agama saat mendengarkan ceramah para ustadz saja bukan perkara mudah untuk saya capai. Apalagi selama ini dalam seminggu, rata-rata hanya satu kali seminggu saja saya mendengarkan siraman rohani, yaitu pas jumatan. Itupun dengan catatan jika saya tidak ketiduran pada saat khutbah. Kalau angin semilir begitu sejuk menyapa, pengkhutbahnya kaku, dan isi khutbahnya tidak ada yang lucu, yah, bisa dipastikan hanya dalam hitungan menit saya sudah tertidur. Sungguh celaka memang. 

Tapi saya juta tidak mau disalahkan sepenuhnya. Toh anginnya begitu sejuk dan kebetulan saat itu fisik saya cukup lemah setelah beraktifitas. Toh ustadznya banyak yang kaku sekali dalam berkhutbah, jarang sekali menyapa, dan bukannya tengok sana tengok sini sambil sesekali menggerakkan tangan seperti yang disampaikan dalam buku-buku tips sebagai pembicara yang baik, kebanyakan dari mereka hanyalah seperti anak SD yang disuruh membaca paragraf dari sebuah buku oleh sang guru. Dan toh juga, isinya tidak ada lucu-lucunya, bahkan sering kali terkesan getir dan hanya menonjolkan tentang betapa seramnya neraka. Lagi-lagi sesuai tips pidato yang baik, harusnya isinya bisa memancing kegairahan yang mendengar. Betul?

Continue reading this entry »


Anak-Anak di Malam Taraweh

Lazimnya orang yang lagi menjalin kasih, saya dan pacar saya juga sering berbincang tentang masa depan. Dimulai dari rencana menikah kapan dan dimana, pestanya seperti apa, yang diundang siapa saja. Bangun rumah di mana, arsitekturnya seperti apa, taman bunganya di halaman depan atau belakang. Kolam renangnya di dalam rumah atau di luar. Banyak sekali yang kita angankan. Kita tidak sedang bermaksud mendahului takdir Yang Maha Kuasa, tapi sekedar mendiskusikan kondisi hidup yang kita inginkan nantinya. Dan di antara itu semua, rencana tentang anaklah yang menjadi topik favorit kita.

Continue reading this entry »


Munggahan Cium Pipi

Belum masuk bulan puasa, ternyata sudah sederet juga dosa yang saya perbuat. Walah, walah…kapan baiknya diri ini.

Lazimnya ragam tradisi yang berlangsung di lingkungan masyarakat negri ini, menyongsong bulan Ramadhan, cukup banyak acara munggahan yang diselenggarakan. Munggahan adalah sebutan dalam bahasa Sunda buar acara makan bersama yang diselenggarakan setiap kali menjelang bulan puasa oleh suatu keluarga dengan mengundang tetangga di sekitar. Kebiasaan ini juga dilakukan oleh berbagai lembaga pemerintahan, kantor swasta maupun organisasi masyarakat.

Biasanya seorang ustad didatangkan untuk memimpin doa, yang didahului oleh sedikit ceramah tentang Ramadhan. Sedikit? Ya, karena dari rata-rata dua jam acara diagendakan, paling banter paket ceramah dan d0’anya cuma 15 menit di awal. Setelah itu, makan dan ngobrol-ngobrol. Entah harusnya acara munggahan itu seperti apa, tapi paling tidak itulah yang saya temui.

Continue reading this entry »


Kuis Blink-Blink dari Negara Blink-Blink

Baru saja saya menyelesaikan membaca sebuah buku terbaru berjudul Think yang ditulis oleh Michael R. LeGault. Geram karena degradasi intelektual dan budaya Amerika, LeGault menawarkan pelintiran buku fenomenal karya Malcom Gladwell, Blink, yang berteori bahwa berbagai keputusan terbaik dilakukan berdasarkan dorongan sesaat, sekejap mata, tanpa adanya pengetahuan faktual dan analisis kritis. Jika buku tersebut menyarankan kita untuk tidak berpikir, LeGault berpendapat tidak mengherankan kalau bernalar kritis dan mengambil keputusan menjadi sebuah seni yang hilang di dalam kehidupan masyarakat  Amerika sehari-hari. Kemudian, the Age of Reason berubah menjadi the Age of Emotion; erosi sistematis ini mempertaruhkan banyak waktu, uang, pekerjaan, dan kehidupan di abad ke-21, menyebabkan pemenuhan yang semakin berkurang dan disfungsi yang semakin besar.*

Membaca bukunya secara utuh sebenarnya tidak begitu menambah pemahaman saya tentang apa yang dimaksud oleh LeGault lebih dari yang disampaikan di resensi tersebut. Tapi apa peduli saya sebenarnya. Lagipula jika orang Amerika mengalami degradasi intelektual dan budaya, itu berarti bisa gantian kita yang menguasai Amerika. Tapi ternyata sebuah acara kuis di tivi memperlihatkan sesuatu yang membuat saya kaget. Tidak mau kalah dengan bangsa Amerika, ternyata kita sendiri juga berlomba-lomba untuk mendegradasikan intelektual sendiri.

Continue reading this entry »


Tujuh Hari Menuju Taubat

Secara kebetulan saya dan seorang teman menonton sebuah acara reality show berjudul Tujuh Hari Menuju Taubat hari Sabtu kemaren di LaTivi. Waktu itu, kisah taubat seorang waria-lah yang diangkat. Berkat bujukan si David Chalik, presenter acara, dan arahan serta bimbingan dari seorang ulama, selama tujuh hari si waria menjadi santri di sebuah pondok pesantren. Atas hidayah dari Tuhan, si waria yang awalnya menyebut dirinya dengan panggilan Mpok Mumun, diluruskan jalannya, dan kembali pada fitranya sebagai seorang laki-laki yang taat menjalankan perintah agama, sekarang hanya boleh memanggilnya dengan sebutan Bang Ari. (nama aslinya Mundari) Semuanya diizinkan Tuhan terjadi dalam tujuh hari.

Bertanya pada diri sendiri, kalau saya butuh berapa hari untuk bertaubat?

Continue reading this entry »


Ksatria Baja Hitam

Jaman sekarang, tidak dalam rangka melamar pekerjaan saja seseorang harus menjalani wawancara. Untuk masuk sebuah TPA/TPSA saja, di sebuah Masjid dekat kostan saya, setiap calon murid juga harus menjalani wawancara. Entah ini sekedar formalitas belaka, atau memang ditujukan untuk mengenal lebih jauh karakter calon muridnya. Memang di pengumuman disampaikan bahwa semua ini bukan dimaksudkan untuk menyeleksi para calon murid. Namun tetap saja sesi ini mendapatkan perhatian cukup besar dari para Ibu-ibu yang mendampingi putra-putri mereka.

Bulan lalu, entah karena alasan apa, salah seorang pemuda Masjid, mengajak saya terlibat di kegiatan tersebut. Maka sore itu, dengan memakai baju Koko satu-satunya, saya ikutan sibuk dalam kegiatan tersebut. Secara umum, wawancara yang berlansung selama 5 menit untuk masing-masing calon murid, berjalan dengan lancar. Beberapa saat sebelum magrib, wawancara tersebut berakhir. Anak-anak tampak begitu senang, begitu juga dengan para Ibu yang berkumpul di luar menunggui putra-putri mereka. Saya tentu juga ikutan senang, karena selain mendapatkan konsumsi gratisan, sejak saat itu saya digolongkan sebagai pemuda baik-baik yang rajin membantu di Masjid oleh Ibu-Ibu sekitar. Kalau masalah pahala, kita skip saja, karena itu urusan pribadi dengan Tuhan.

Jadi semuanya senang? Tenyata tidak. Dan ternyata yang tidak senang dengan hasil wawancara tersebut adalah para ustad dan pemuda Masjid. Alhasil, selesai sholat Isya berjamaah, rapat dadakan digelar. Saya yang sudah bermaksud langsung ngacir, terpaksa juga harus ikut dalam rapat dadakan tersebut.

Continue reading this entry »


Tetek Ibu di Angkot

Menyaksikan seorang Ibu yang mengeluarkan teteknya untuk menyusui si bayi di tempat umum mungkin perilaku yang masih jamak terjadi di lingkungan kita, di angkot, di terminal, di mall, di kantor, dll. Perilaku ini tidaklah melanggar UU Anti Pornograpi dan Pornoaksi, karena toh sampai sekarang tidak ada satu Ibu pun yang didemo atau ditangkap gara-gara menyusui sang anak di tempat umum.

Terus terang sampai sekarang saya tidak habis pikir kenapa banyak sang Ibu yang dengan santainya menyusui bayinya di tempat umum. Namun tidak sekalipun perilaku tersebut memancing pikiran kotor saya. Buat saya aura kasih sayang yang terpancar dari seorang Ibu yang menyusui anaknya begitu kuat terasa, dan saya sangat menghormati hal tersebut. Jadi bisa disimpulkan bahwa hubungan saya dengan Ibu-Ibu yang menyusui anaknya ditempat umum baik-baik saja, sampai kejadian sore kemaren yang saya alami di sebuah angkot sepulang dari tempat teman saya di pinggiran kota Bandung. Continue reading this entry »