<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>GLasNost</title>
	<atom:link href="http://benisuryadi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://benisuryadi.wordpress.com</link>
	<description>anything more than a wishful thinking?</description>
	<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 04:33:54 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
	<language></language>
			<item>
		<title>Band Penceramah</title>
		<link>http://benisuryadi.wordpress.com/2008/07/16/band-penceramah/</link>
		<comments>http://benisuryadi.wordpress.com/2008/07/16/band-penceramah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 04:25:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>benisuryadi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benisuryadi.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Jeda sejenak, sepulang kerja saya menyempatkan diri menonton sebuah life performance band di sebuah mall tempat saya berkantor saat ini. Beberapa waktu belakangan ini saya memang terlalu memforsir diri ini bekerja dan bekerja, jadi wajar jika saya butuh sedikit hiburan. 
Band apakah itu? Saya tidak tahu namanya, begitu banyak band-band baru. Menghapal satu-satu sama saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><span>Jeda sejenak, sepulang kerja saya menyempatkan diri menonton sebuah <em>life performance band</em> di sebuah mall tempat saya berkantor saat ini. Beberapa waktu belakangan ini saya memang terlalu memforsir diri ini bekerja dan bekerja, jadi wajar jika saya butuh sedikit hiburan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Band apakah itu? Saya tidak tahu namanya, begitu banyak band-band baru. Menghapal satu-satu sama saja susahnya dengan menghapal nama-nama mentri kabinet. Berganti ganti sesuka hati. Tapi wajah mereka beberapa kali saya lihat di televisi, dan lagu mereka, sering dinyanyikan para pengamen di bis kota jalur yang biasanya saya tumpangi setiap hari. Jadi selain butuh hiburan, ada rasa penasaran juga dalam diri. Siapa tahu ternyata personilnya ada teman saya, atau orang yang bisa saya akui teman, lumayan juga jaman sekarang punya teman artis. Ya kan?</span><span id="more-52"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di depan panggungnya banyak kursi yang bisa ditempati, namun saya memilih untuk berdiri saja sedikit jauh dari panggung. Masih kedengaran dan tentunya masih bisa melihat wajah personil band nya. Tak berapa lama, si pembawa acara mempersilahkan band tersebut untuk tampil dan memperkenalkan mereka satu-persatu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tidak ada yang saya kenal ternyata, sial. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ya sudahlah, dengarkan lagunya saja.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Biasalah, mereka memulai show dengan menyapa para penonton. Yang tua yang muda, ibu-ibu, anak-anak, berbaju kuning, bertopi merah, bersepatu tinggi, yang sedang menggendong anak, yang lagi berpelukan mesra dengan pasangan, yang duduk di kursi, ataupun yang menonton sambil berdiri semuanya disapa. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Semua, kecuali saya. Sial.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ya sudahlah, dengarkan lagunya saja.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Puas menyapa, sang vokalis tampak akan mulai bernyanyi. Tapi kurang afdol mungkin dia pikir jika tak menceritakan sedikit tentang lagu yang akan ia nyanyikan. Lagu ini bercerita tentang seorang laki-laki yang bisa menerima pasangan dia apa adanya, bersama si perempuan pujaan hati, tak <a name="OLE_LINK1">peduli sang perempuannya gendut, tinggi, hitam,bergigi tongos, botak</a> atau apapun itu, dunia terasa begitu indah… dan seterusnya dan seterusnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ya, dan memang dan seterusnya. Karena ternyata sedikit cerita tentang lagu itu tak berhenti sampai di sana saja. Bagai dongeng yang dimulai dengan prosa “pada suatu hari…” lama kelamaan kisah pengantar lagu tersebut menjadi sebuah ceramah tentang bagaimana seharusnya hubungan itu dibangun. Pegal juga kaki ini menunggu band ini selesai berceramah dan memulai lagunya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Mungkin sebentar lagi dia akan bernyanyi, pikir saya. Okelah, saya tunggu saja sambil duduk, kebetulan masih ada satu kursi yang kosong. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Mulai bernyanyi? belum. Ceramah masih berlanjut, 20 menit berlalu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sialan benar tu band. Dimana-mana band itu ya bernyanyi, terserah itu lagu melow-melow yang bikin orang termehek-mehek, atau genjreng jenjreng bikin orang jedug jedug. Tapi ya tetap aja bernyanyi, bukan ceramah sampai setengah jam. Keterlaluan. Apa karena mereka pikir dengan lagu hits mereka yang diperdengarkan dimana-mana, mereka bisa dengan seenaknya berceramah menasehati orang-orang tentang bagaimana berhubungan. Apa hebatnya mereka soal hubungan. Memangnya sang vokalisnya pernah apa pacaran sama perempuan yang gendut, tinggi, hitam,bergigi tongos, dan botak, dan mengangap semuanya begitu indah? Kalau belum pernah, kalau ga bisa ya jangan sok ceramah. Nyanyi saja. Lah wong saya datang mau dengar band itu bernyanyi. Kalau nanti gara-gara dengar lagu itu orang-orang jadi tergugah itu lain perkara. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sial. Gondok benar hati ini. Pulang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tidak habis pikir saya, tidak bisakah orang-orang tersebut menahan diri untuk “cukup” berjaya saja di dunianya masing-masing. Mas Prie GS saja yang setiap tulisannya begitu menginspirasi buat saya, tak sekalipun terlewatkan (orang-orang bisa uji, saya hapal semua tulisan mas Prie GS), begitu saya menyalakan radio di mobil di tengah kemacetan Jakarta, dan mendengar mas Prie GS membawakan sebuah acara, tak butuh lama buat saya untuk memutuskan untuk mematikan kembali radio tersebut. Mentang-mentang tulisannya bisa menggugah banyak orang trus dia berpikir dia bisa berbicara sama hebatnya dengan dia menulis? Maaf mas Prie, radionya saya matikan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Diandra Sastrowardoyo, semua temanpun tahu kalau saya adalah pemuja perempuan yang satu ini. Sangat cantik, dan lihatlah ketika dia berbicara. Sangat cerdas, setiap ucapan dia berbobot dan ini membuat kecantikannya makin sempurna di mata saya. Senyumnya yang menawan hati, begitu menggugah hati. Jika saya ia berseru kepada saya untuk membersihkan halaman rumah, bagai prajurit yang diperintahkan komandan besarnya, tanpa ragu satu Jakarta saya sapu. Tapi ketika Dian menulis di blog, oh tidak… Tidakkah Dian tahu bahwasanya cantiknya dia itu hanya berlaku untuk urusan verbal. Tulisannya tak lebih dari tulisan curhat remaja usia belasan yang baru menginjak puber. Maaf Dian, tidak sekalipun saya akan membaca blognya lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Benar-benar <em>kebangetan</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Belum puas rasanya hati ini ketika baru beberapa langkah saya berjalan, tiba-tiba telepon genggam saya berbunyi. Sahabat lama saya ternyata, lama sekali kita tidak pernah berbicara apalagi bersua. Apa kabar, Ben? Kerja dimana sekarang? Tak menunggu apa ini sekedar tanya sapa basa-basi, langsung saja saya bercerita tentang pekerjaan saya sekarang, menjadi konsultan sistem pendinginan udara untuk sebuah proyek properti prestisius di Jakarta. Dari kalimat barusan tidak perlu saya tegaskan betapa hebatnya saya dan seperti apa nada saya waktu itu berbicara, bukan? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Semua orang pasti terpukau, harusnya, namun lihatlah reaksi dia yang begitu kurang ajar. “<em>Oh ya, kok bisa? Kamu kan baru beberapa bulan bekerja, lagian kan dulu background pendidikan kamu bukan itu. Emang bisa, gitu?</em>” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sial, kurang ajar benar ini orang. Lama tidak berjumpa, tiba-tiba seenaknya menilai orang. Memangnya selama beberapa waktu saya bekerja itu saya tidak belajar sesuatu? Memangnya jika <em>background</em> saya tidak sesuai dengan pekerjaan sekarang, saya tidak bisa sukses dan menjadi raja di dunia saya sekarang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ini orang kok bisanya cuma sinis aja, <em>sih</em>. <em>Kebangetan</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Benar-benar sakit hati rasanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dan mungkin, inilah rasanya jika saja para personel Band itu, mas Prie GS, atau Dian Sastro tahu apa saja yang pernah saya kata tentang mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Atau jangan-jangan mereka hanya menertawakan saya. Band itu jelas-jelas sudah terbukti hebat di dunianya, toh penjualan albumnya laku keras, mereka manggung dimana-mana. Mas Prie GS dan Dian Sastro, jangan ditanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sedangkan saya, dulu memang sempat di cap jagoan bidang produksi sewaktu di kampus, tapi itu hanyalah pembuktian di atas kertas ujian. Keluar dari kampus, tak seorangpun mengenal saya. Dan sekarang… benar-benar masih anak bawang di dunia kerja say sekarang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span>Kebangetan.</span></em><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Benar, mulai sekarang saya tidak akan sinis lagi sama orang-orang. Artis jadi politikus, silahkan. Pemain sinetron mau bikin album nyanyi, silahkan. Semuanya silahkan, dan saya… saya juga akan buktikan saya bisa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ya sudah, mari dengarkan saja lagunya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Selamat berkarya semua. </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/benisuryadi.wordpress.com/52/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/benisuryadi.wordpress.com/52/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benisuryadi.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benisuryadi.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benisuryadi.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benisuryadi.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benisuryadi.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benisuryadi.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benisuryadi.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benisuryadi.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benisuryadi.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benisuryadi.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benisuryadi.wordpress.com&blog=82209&post=52&subd=benisuryadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benisuryadi.wordpress.com/2008/07/16/band-penceramah/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/benisuryadi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html"></media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Warung Nasi Padang Doa Mande</title>
		<link>http://benisuryadi.wordpress.com/2007/07/20/warung-nasi-padang-doa-mande/</link>
		<comments>http://benisuryadi.wordpress.com/2007/07/20/warung-nasi-padang-doa-mande/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jul 2007 01:46:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>benisuryadi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benisuryadi.wordpress.com/2007/07/20/warung-nasi-padang-doa-mande/</guid>
		<description><![CDATA[Walau sudah hampir enam tahun lamanya saya merantau meninggalkan Nagari Minang Kabau, kampung halaman saya, menuntut ilmu mencari kehidupan di tanah Sunda, tapi untuk urusan perut tetap saja masih cap Minang. Belum terasa nikmatnya dunia ini jika dalam sehari itu belum makan nasi Padang. Ondeh mande, kalau makan nasi Padang tambuah ciek. Tapi sayang persoalannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Walau sudah hampir enam tahun lamanya saya merantau meninggalkan Nagari Minang Kabau, kampung halaman saya, menuntut ilmu mencari kehidupan di tanah Sunda, tapi untuk urusan perut tetap saja masih cap Minang. Belum terasa nikmatnya dunia ini jika dalam sehari itu belum makan nasi Padang. Ondeh mande, kalau makan nasi Padang tambuah ciek. Tapi sayang persoalannya tidak sesederhana datang-makan-kenyang. Prinsip paid more get more kurang berlaku di rumah makan Padang. Kalau di warteg dengan duit lima ribu kita sudah bisa makan ayam dan teman-temannya satu komplotan, kalau di rumah makan padang ya baru cikal bakalnya, alias cuma makan dengan telur ayam. Dan yang paling dibuat menderita karena hal yang satu ini, ya orang-orang seperti saya. Orang-orang yang perutnya cap Minang Asli, tapi kantong pas-pasan. Untuk kalangan seperti ini rumah makan padang bukanlah sahabat yang baik.</p>
<p>Tapi tidak dengan sebuah warung nasi Padang di dekat kampus saya. Hanya sekelas warung nasi memang, tempatnya kecil cuma berukuran 3&#215;4, dan tentu saja tidak ada itu yang namanya pelayan berseragam. Tapi kalau soal rasa dan harga, wuihhh&#8230;. mantap bana. <span id="more-50"></span></p>
<p>Warung nasi padang yang digawangi sepasang suami istri muda ini bernama Doa Mande. Di Doa Mande, samba randang, gulai ayam, goreng ikannyo, so delicious. Kuah randang, lado ijau, bumbu ayamnyo, so tasty. Nasi, lauk, sayur, semuanya ambil sendiri, terserah takaran masing-masing. Kalau kurang, nasi, kuah randang, lado, sayua, asal bukan lauknya aja, boleh nambah gratis. Itu semua bisa didapat dengan harga cuma antara tiga sampai lima ribu saja.</p>
<p>Tertarik bukan? Om Bondan-MakNyos memang belum pernah mempromokan warung Padang ini di Wisata Kulinernya, tapi bisa saya bilang, bukan saya saja yang menjadikan tempat ini sebagai pilihan utama tempat makan siang saya. Puluhan, atau mungkin lebih dari seratus orang yang rata-rata adalah orang kampus saya, tiap harinya bersantap di Doa Mande.</p>
<p>Namun untuk makan siang di tempat ini, urusannya juga tidak sesederhana datang-makan batambuah-bayar murah. Walaupun namanya makan siang, tapi kalau datangnya di atas setengah satu,bersiaplah dengan menu seadanya, itupun kalau masih ada. Come earlier get more, mungkin itu prinsip yang berlaku. Kalau perlu, ya mencuri-curi waktu istirahat siang. Pukul setengah dua belas sudah ikut antrian.</p>
<p>Karena sering kehabisan, sekali waktu saya pernah protes kepada si Uni yang punya warung. Kenapa dia tidak menyediakan makanan yang dijual dalam jumlah yang lebih banyak. Sehingga datang jam berapapun, orang tetap bisa merasakan nikmatnya nasi Padang si Uni. Melihat begitu banyaknya orang-orang seperti saya, kalau biasanya dia cuma masak lima puluh potong ayam, saya yakin sekali kalau sekarang dibikin jadi seratus, semuanya pasti tetap akan ludes terjual. Orang-orang kenyang, penghasilan si Uni bertambah.</p>
<p>Tapi dengarlah apa jawaba si Uni, “indak usah lah, cukuik sagitu se lah rasaki dek kami, jo iko san kan lai masih bisa kami makan, bayia uang sakola, sakali-sakali balanjo baju baru. Kok ditambahan masak, kok rasaki urang nan taambiak dek awak beko, barek ituang-ituangnya di akhirat. Lagipulo kok masak banyak banyak tu bakaja kaja mangarajoannyo, jadi bia lah saketek tapi yo jo ati masaknyo, kan jadi lamak samba nyo dek uda kan?”<br />
(tidak usah, cukuplah segini rezeki buat kami, dengan segini saja kami masih bisa makan, bayar uang sekolah, dan sekali-sekali belanja baju baru. Kalau masaknya ditambahin, bisa-bisa rezeki orang yang nantinya terambil oleh kita, berat hitung-hitungannya di akhirat nanti. Lagipula kalau masak banyak tidak cukup waktu mengerjakaanya, buru-buru. Jadi biarlah sedikit tapi saya bisa memasaknya dengan hati, jadi kan lauknya terasa enak bukan?)</p>
<p>Wow, di saat orang-orang berlomba meraup harta sebanyak-banyaknya, di saat para pengusaha berpacu membuka cabang dimana-mana, si uni dengan warung nasi Padangnya malah sudah menetapkan cukup sekian porsi rezeki yang akan ia raih. Cukup sekian porsi yang dia buat agar bisa memberikan cita rasa yang terbaik buat para pelanggannya. Entahlah buat orang lain, tapi jawaban ini begitu menghentak buat saya. Sungguh memalukan bahwanya untuk urusan filosofi hidup, saya kepental jauh sama seorang penjual warung nasi Padang kecil. Sudah tak terhitung kalinya saya begitu maruk sambar sana sambar sini dalam urusan rejeki, tak peduli orang tergenjet atau hasil akhirnya berkualitas atau tidak, yang penting kita makmur.<br />
Akhirnya saya membatalkan protes saya kepada si Uni. Sembari menata diri, saya jalani saja hari-hari ini. Kala jam istirahat datang, segera menghampiri warung si Uni. Kalau masih ada, itu artinya memang rejeki saya untuk makan kenyang nikmat murah hari ini, kalau tidak ya berarti tinggal cari warteg. =)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/benisuryadi.wordpress.com/50/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/benisuryadi.wordpress.com/50/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benisuryadi.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benisuryadi.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benisuryadi.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benisuryadi.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benisuryadi.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benisuryadi.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benisuryadi.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benisuryadi.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benisuryadi.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benisuryadi.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benisuryadi.wordpress.com&blog=82209&post=50&subd=benisuryadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benisuryadi.wordpress.com/2007/07/20/warung-nasi-padang-doa-mande/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/benisuryadi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html"></media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Buah Jatuh takkan Jauh dari Pohonnya</title>
		<link>http://benisuryadi.wordpress.com/2007/07/18/buah-jatuh-takkan-jauh-dari-pohonnya/</link>
		<comments>http://benisuryadi.wordpress.com/2007/07/18/buah-jatuh-takkan-jauh-dari-pohonnya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jul 2007 04:33:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>benisuryadi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benisuryadi.wordpress.com/2007/07/18/buah-jatuh-takkan-jauh-dari-pohonnya/</guid>
		<description><![CDATA[Like Father Like Son, atau walau tak lazim mungkin dalam sisi satunya lagi, Like Mother Like Daughter. Suka Papa juga suka anak laki-lakinya, atau ngecengin Mama dan Putrinya sekaligus? Tentu saja bukan, kalau ini mah namanya kemaruk, lagipula dalam norma yang berlaku dikebanyakan masyarakat hal ini adalah suatu perbuatan yang tidak dibenarkan. Terus apa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Like Father Like Son, atau walau tak lazim mungkin dalam sisi satunya lagi, Like Mother Like Daughter. Suka Papa juga suka anak laki-lakinya, atau ngecengin Mama dan Putrinya sekaligus? Tentu saja bukan, kalau ini mah namanya kemaruk, lagipula dalam norma yang berlaku dikebanyakan masyarakat hal ini adalah suatu perbuatan yang tidak dibenarkan. Terus apa yang dimaksud? Tentu saja ini hanyalah sebuah pertanyaan retorika, karena bisa dibilang hampir semua orang mengetahui bahwa ini adalah sebuah istilah dalam bahasa Inggris, yang artinya kurang lebih sama dengan peribahasa kita, Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.</p>
<p>Karena kita punya peribahasa tersendiri dalam bahasa Indonesia kita, maka kali ini kita singkirkan saja istilah Like Father Like Son tersebut, dengan bangga cukup kita pakai peribahasa “Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya”.</p>
<p>Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.<br />
Sebuah peribahasa yang cukup&#8230;. cukup&#8230; bagi saya ini sebuah peribahasa yang cukup&#8230; cukup menakutkan.<span id="more-49"></span></p>
<p>Bagaimana tidak, kalau kita pahami secara sederhana, itu kan artinya Bapaknya kayak apa, anaknya bakal kayak gitu juga. Dan kalau saat ini diri ini bertanya pada diri ini sendiri tentang seperti apa sebenarnya diri ini, tak ada satupun yang bisa dibangga-banggakan. Saya kaya, sehingga nanti anak saya juga kaya? Jauh, makan sehari-hari aja masih telor dan tempe. Saya ganteng, sehingga sang anak nantinya jika laki-laki juga ganteng seperti bapaknya? Belum sempat anda tertawa saya sudah menyerah dulu untuk urusan yang satu ini. Pintar? Kita juga lewatin saja untuk hal yang satu ini.</p>
<p>Terus bagaimana ini? Mmm, kalau yang secara fisik tidak ada yang bisa diandalkan, kita coba periksa yang berhubungan dengan non fisik. Kebaikan contohnya. Lagi-lagi bertanya pada diri sendiri, walah walah jari ditangan saja tak habis untuk mengurut daftar kebaikan saya.</p>
<p>Bertanya kepada orang lain? Memang yakin saya kalau cukup banyak juga orang yang akan bilang saya itu baik, nenek-nenek yang saya bantu menyeberang, seorang Ibu-Ibu yang dompetnya saya temukan tercecer dan saya kembalikan utuh tanpa mau menerima sedikitpun uang terima kasih, seorang teman yang menumpang tidur dan makan di saya selama tiga hari gara-gara lari dari rumahnya, dan masih cukup banyak memang. Tapi kalau bicara jujur, semua ini tidak bisa dimasukkan dalam hitungan.</p>
<p>Membantu nenek menyeberang? Saat itu saya dan seorang teman perempuan sedang asik menunggu angkot, namun tiba-tiba teman saya tersebut menghilang, dan saya lihat dia hendak membantu seorang nenek-nenek menyeberang. Sebagai laki-laki, tentu saja saya malu kalau hanya melihat.<br />
Mengembalikan dompet tanpa pamrih? Kebetulan sang Ibu waktu itu berbelanja berdua dengan anak gadisnya yang lumayan cakep.<br />
Memberi tumpangan tempat tinggal dan makan? Jika dihitung-hitung, sebenarnya itu belum seberapa dengan jumlah hari saya menumpang menginap di rumahnya.</p>
<p>Sungguh celaka, seperti apa nantinya buah saya? Haruskah buah itu dibuat jatuh jauh dari pohonnya? Atau pohonnya yang harus dirawat ulang?</p>
<p>Tapi urusanpun masih belum selesai ketika si buah jatuh, tidak sesederhana itu. Anggaplah si pohon memang berkualitas baik, tapi kalau buahnya jatuh kelewat jauh? Disengaja jatuh kelewat jauh, seperti yang diperagakan oleh sebuah keluarga yang saya temui di sebuah acara jamuan. Si Bapak dengan jasnya yang elegan, si Ibu dengan kebayanya yang anggun dan menutup aurat. Namun dengan begitu bangganya mereka memperkenalkan sang anak gadis yang memakai rok sejengkal dari lutut. Dengan pakaian yang saya bilang seadanya, si anak gadis menyanyi dan menari di panggung. Si Bapak dan si Ibu? Mereka ada di barisan depan sana, berdiri bertepuk tangan sambil sesekali bibir mereka terlihat ikut larut bernyanyi.</p>
<p>Sekarang anggaplah si pohon kualitasnya tidak begitu bisa dihandalkan. Salah satu pilihan adalah menjatuhkan buah jauh darinya ke tempat yang lebih subur. Berhasilkah? Harusnya, jika tidak melakukan hal yang sama seperti yang diperagakan oleh sekumpulan Ibu-Ibu yang sedang menunggui anaknya selesai mengaji di masjid. Entah di masjid-masjid yang lain, semoga tidak, tapi inilah yang terjadi di masjid dekat saya tinggal. Sang anak dengan cantik dan gagahnya didandani. Yang perempuan berpakaian dan kerudung yang begitu indahnya, sedangkan yang laki-laki dengan gagahnya mamakai peci. Di tas yang mereka sandang, Al Qur’an, buku-buku pelajaran agama dan beragam alat tulis tersedia lengkap. Sementara mereka belajar mengaji di dalam, para Ibu ini malah sibuk ngerumpi dan saling tertawa ngakak, atapun saling pamer diri.</p>
<p>Melayang pada kenangan lama, saya masih ingat apa yang dikatakan salah seorang guru saya waktu SD dulu; Sepetak sawah yang ditanami padi harus selalu disiangi karena rumput pasti akan selalu tumbuh mengganggu, namun jika yang ditanam rumput bisa dipastikan padi tak akan ikut tumbuh juga di sana.</p>
<p>Walah, ini ternyata jauh lebih menakutkan lagi.<br />
Harus buru-buru memperbaiki diri ini sebelum buah saya beneran jatuh. Agar nantinya kalau suatu kondisi buruk harus terjadi, paling tidak saya punya buah seperti Harry Potter, yang walaun harus grow up bersama keluarga Dursley, tetap menjadi seorang buah yang hebat.</p>
<p>Dan sebagai back-up, tentu saja pohon yang satunya lagi harus yang benar-benar bagus, bukan? =)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/benisuryadi.wordpress.com/49/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/benisuryadi.wordpress.com/49/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benisuryadi.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benisuryadi.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benisuryadi.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benisuryadi.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benisuryadi.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benisuryadi.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benisuryadi.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benisuryadi.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benisuryadi.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benisuryadi.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benisuryadi.wordpress.com&blog=82209&post=49&subd=benisuryadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benisuryadi.wordpress.com/2007/07/18/buah-jatuh-takkan-jauh-dari-pohonnya/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/benisuryadi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html"></media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mamamia Ibuku</title>
		<link>http://benisuryadi.wordpress.com/2007/06/20/mamamia-ibuku/</link>
		<comments>http://benisuryadi.wordpress.com/2007/06/20/mamamia-ibuku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jun 2007 02:33:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>benisuryadi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benisuryadi.wordpress.com/2007/06/20/mamamia-ibuku/</guid>
		<description><![CDATA[Karena sering melihat promo acaranya di tv, sebuah acara ajang bakat olah vokal cukup menarik minat saya. Walau ini merupakan saduran dari ajang serupa di luar negri, tapi tetap saja acara Mamamia yang di tayangkan di sebuah stasiun televisi swasta ini, mengundang keingintahuan saya. Iya, sekedar keingintahuan, atau mungkin ketertarikan untuk menonton dan menikmati tayangannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Karena sering melihat promo acaranya di tv, sebuah acara ajang bakat olah vokal cukup menarik minat saya. Walau ini merupakan saduran dari ajang serupa di luar negri, tapi tetap saja acara Mamamia yang di tayangkan di sebuah stasiun televisi swasta ini, mengundang keingintahuan saya. Iya, sekedar keingintahuan, atau mungkin ketertarikan untuk menonton dan menikmati tayangannya di televisi. Berminat ikutan?</p>
<p>Walah, bukan&#8230; bukan&#8230;<span id="more-48"></span><br />
Pertama, tentu saja karena saya tidak mungkin bisa memenuhi persyaratan utamanya. Saya laki-laki, dan usia sudah dua puluh sekian.</p>
<p>Kedua, saya tidak bisa menyanyi. Oke, mungkin bukan tidak bisa. Karena toh sekarang menjadi seorang penyanyi itu bukan urusan bisa atau tidak bisa. Lihat saja para artis sinetron yang ramai-ramai mengeluarkan album lagu sendiri. Peduli suara bagus atau tidak, tinggal bilang saja kalau dari kecil itu sebenarnya udah bakat nyanyi. Tapi tetap saja berkarir di bidang tarik suara adalah hal yang muskil orang terima tentang saya.</p>
<p>Dan yang ketiga, saya tidak punya mama. Yang saya punya adalah seorang Ibu.<br />
Lah, apa bedanya Mama dan Ibu, Mother, Mom, Emak, atau apalah sebutannya itu untuk seorang perempuan yang melahirkan kita? Bagi banyak orang ini mungkin sekedar perbedaan istilah biasa. Emak, panggilan yang lazim di pakai di kampung. Mama, panggilan yang lazim dipakai jika di perkotaan. Mother atau Mom buat kalangan kaya atau orang yang ngaku-ngaku kaya dan ngaku-ngaku lama tinggal di luar negri. Mami? Seingat saya hanya satu orang teman saya waktu kecil yang punya Mami, dan saat itu dialah satu-satunya orang yang punya televisi berwarna saat itu.</p>
<p>Tapi di keluarga saya, ini semua adalah tentang kemandirian seorang anak. Entah muncul ide dari mana jika seperti inilah yang berlaku dalam keluarga saya. Mama, itu adalah analogi panggilan untuk anak yang manja, sedangkan Ibu adalah analogi panggilan untuk seorang anak yang mandiri. Jangan tanya kenapa bisa begitu, namun nyatanya inilah yang terjadi dalam keluarga saya.</p>
<p>Seingat saya, cukup lama juga ketika saya selalu memanggil beliau dengan kata Mama.<br />
Seingat saya, waktu itu kakak saya memanggil beliau dengan sebutan Ibu, namun entah mengapa saya memanggil beliau dengan panggilan Mama.<br />
Seingat saya, pertama kali saya berseragam putih merah ke sekolah, adalah hari pertama dimana beliau meminta saya memanggilnya Ibu, sama seperti kakak-kakak saya yang lain.<br />
Seingat saya, mmm&#8230;. tak banyak lagi yang bisa saya ingat tentang itu kecuali semua ini adalah tentang uang jajan.</p>
<p>Ya, uang jajan.<br />
Jika setiap harinya seorang anak SD yang memiliki Mama dapat uang jajan seratus perak, maka seorang anak yang memiliki Ibu cukup dengan dua puluh lima rupiah.<br />
Jika seorang anak yang memiliki Mama boleh langsung pergi main sehabis makan siang, maka seorang anak yang memiliki Ibu haruslah mencuci piringnya terlebih dahulu.<br />
Jika setiap saat seorang anak yang memiliki Mama bisa meminta beragam jenis mainan, mobil-mobilan ataupun sebuah sepeda, maka seorang anak yang memiliki Ibu hanya bisa melakukannya jika hari ulang tahun tiba, itupun dengan syarat anak tersebut adalah juara kelas pada saat terima rapor beberapa saat sebelumnya.<br />
Jika setiap sore anak Mama bisa sepuas hati menonton Dragon Ball, Ksatria Baja Hitam, Power Rangers dan semua film lainnya di tv, maka anak Ibu hanya bisa menonton Ksatria Baja Hitam, satu-satunya film yang masih tersisa ketika si anak Ibu pulang mengaji di surau.</p>
<p>Wah, ternyata cukup banyak yang saya ingat.<br />
Dan saya juga ternyata masih bisa mengingat bahwa tak ada protes yang bisa saya lakukan saat itu. Tidak ada, tidak bisa. Karena toh Ibu hanya bisa memberi saya uang jajan saya dua puluh lima rupiah setiap harinya, dan harus menabung sekian lama dulu agar bisa membelikan saya sepeda.<br />
Ngotot manggil Mama? Atau Mami? Percuma kalau toh tetap saja saya cuma bisa nonton Ksatria Baja Hitam.</p>
<p>Dan hari ini, sudah hampir dua puluh tahun saya memiliki seorang Ibu, setelah sempat berapa saat memiliki seorang Mama.</p>
<p>Mandiri? Hahaha, malu juga saya mengatakannya, tapi sudah dua puluh sekian umur diri ini tak jua saya bisa lepas dari beliau. Tidak seperti kakak-kakak saya yang bisa mandiri sebagai anak Ibu, saya malah menjalani hari dengan kemanjaan yang mungkin melebihi dari apa yang diperoleh oleh seorang anak Mama, atau anak mami sekalipun.</p>
<p>Saya memang hanya bisa jajan sebuah karupuak leak dan satu es plastik di sekolah setiap harinya, tapi setiap pulang sekolah saya selalu menemukan sejumlah masakan Ibu yang begitu lezatnya di meja makan.<br />
Saya memang harus mencuci piring sendiri sehabis makan, bahkan tak jarang setelah makan malam saya harus membantu beliau membersihkan meja makan dan dapur, tapi sekian lama saya tinggal di rumah, sekian lama pula saya menikmati waktu makan malam bersama keluarga. Papa, Ibu, semua kakak dan saya, semuanya kumpul di meja makan. Semuanya saling cerita tentang hari-harinya. Hari ini sudah ngapain aja, apa kabar tadi di sekolah, hari ini berantem atau tidak di sekolah. Semua celoteh saya tentang hari itu didengarkan dengan penuh kasih sayang.<br />
Walau selalu juara satu sejak kelas satu, baru di ulang tahun pada saat kelas lima lah uang tabungan Ibu cukup untuk menghadiahkan saya sebuah sepeda. Tapi tak perlu menunggu hari ulang tahun itu untuk berbahagia, karena setiap hari ribuan kalinya ia mengucapkan betapa ia sangat menyayangi saya.<br />
Saya memang hanya bisa menonton Ksatria Baja Hitam, itupun numpang di tv tetangga, karena kalau menonton di rumah sendiri, ksatrianya benar-benar hitam, hitam dan putih, hanya warna itu saja. Namun setiap malam, jutaan cerita tentang ksatria mengalun dari mulut Ibu sebagai pengantar tidur saya.</p>
<p>Hari-hari ketika panas badan saya tinggi, kadang adalah saat yang begitu saya nanti, karena itu artinya saya punya alasan yang cukup kuat untuk semalaman numpang tidur di kamar Ibu.</p>
<p>Jauh dari mandiri memang, bahkan mungkin banyak orang mengecap saya sebagai anak manja. Tapi tak bisa saya tutupi bahwa karena Ibu lah saya bisa seperti saat ini.<br />
Malam-malam ketika saya harus begadang menghadapi setiap ujian di saat sekolah dulu, walau hanya sambil tertidur, Ibu menemani saya belajar.<br />
Hari-hari saya menghadapi begitu banyak masalah di kampus, jauh dari keluarga, Ibu selalu setia mendengarkan saya berkeluh-kesah setiap kalinya ditelpon.<br />
Dan minggu kemaren, setelah sekian lama tidak pulang, saya kembali ke rumah, sekedar untuk numpang tidur di ranjang Ibu. Ada kedamaian, ada ketenangan, ada jutaan kasih sayang Ibu yang saya rasakan.</p>
<p>Memang, acapkali kita lupa akan itu semua. Begitu mudahnya kita mengeluh ketika sudah seusia ini beliau masih ngotot ingin jalan ke pasar bersama kita. Begitu mudahnya kita membantah larangan Ibu agar tak bergaul dengan bebasnya. Begitu mudahnya kita berkata ah, ketika Ibu mengingatkan kita tuk tidak pulang terlalu malam.</p>
<p>Padahal sedikitpun belum terbalas kasih sayangnya, sekalipun belum pernah kita membuat Ibu bisa tersenyum bahagia.</p>
<p>Dari itu semua, pantaskan jika saya protes jika ternyata yang saya punya bukanlah seorang mama, tapi seorang Ibu?<br />
Dari itu semua, pantaskah saya mengeluh, pantaskah saya membantah, pantaskah saya berkata ah, atas semua kasih sayang Ibu kepada saya.</p>
<p>Yang jelas, saya tak membutuhkan acara Mamamia untuk menunjukkan betapa sebenarnya begitu besar rasa cinta saya kepada Ibu. Dan semoga begitu juga dengan kita semua.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/benisuryadi.wordpress.com/48/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/benisuryadi.wordpress.com/48/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benisuryadi.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benisuryadi.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benisuryadi.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benisuryadi.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benisuryadi.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benisuryadi.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benisuryadi.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benisuryadi.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benisuryadi.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benisuryadi.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benisuryadi.wordpress.com&blog=82209&post=48&subd=benisuryadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benisuryadi.wordpress.com/2007/06/20/mamamia-ibuku/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/benisuryadi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html"></media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Balada Orang Baik</title>
		<link>http://benisuryadi.wordpress.com/2007/05/15/balada-orang-baik/</link>
		<comments>http://benisuryadi.wordpress.com/2007/05/15/balada-orang-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2007 01:58:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>benisuryadi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benisuryadi.wordpress.com/2007/05/15/balada-orang-baik/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu belakangan, mulai muncul rasa parno dalam diri saya sebagai orang baik. Oke, memang bukan orang yang baik sebenar-benarnya baik. Tapi paling tidak di beberapa lingkungan sosial, seperti di kampus atau dengan tetangga saya dikenal sebagai orang baik. Ini penilaian mereka, bukan data manipulasi atau hasil politik dagang sapi. Yah, jika ada yang bilang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Beberapa waktu belakangan, mulai muncul rasa parno dalam diri saya sebagai orang baik. Oke, memang bukan orang yang baik sebenar-benarnya baik. Tapi paling tidak di beberapa lingkungan sosial, seperti di kampus atau dengan tetangga saya dikenal sebagai orang baik. Ini penilaian mereka, bukan data manipulasi atau hasil politik dagang sapi. Yah, jika ada yang bilang saya bukan orang baik, itu toh cuma beberapa. Paling lima, sepuluh, seratus atau seribu. Tidak sampai satu juta.</p>
<p>Dan punya status sebagai orang baik ini cukup menyenangkan. Namun seperti yang di awal tadi saya sampaikan. Beberapa waktu belakangan saya mulai parno untuk dikenal orang sebagai orang baik. Bukan saya bermaksud untuk menentang ajaran agama saya untuk menjadi orang baik. Tapi coba lihat apa yang terjadi belakangan ini.<span id="more-46"></span></p>
<p>Beberapa orang ditangkap oleh kepolisian gara-gara terlibat sebagai anggota teroris. Berita ini disangkal keluarga dari para tetangganya. Karena selama ini orang-orang tersebut terkenal sebagai orang baik di lingkungannya. Dan orang baik tentu saja sangat anti teroris.</p>
<p>Di acara berita kriminal di sebuah tv diberitakan seorang guru mengaji yang ditangkap kepolisian gara-gara disinyalir telah mencabuli anak didiknya. Lagi-lagi berita ini disangkal keluarga dan tetangga yang kadung percaya kalau selama ini sang guru mengaji adalah orang baik. Dan orang baik, jangankan mencabuli anak didik, mendekati zinapun tentu tidak.</p>
<p>Keluarga yang lain juga mati-matian menyangkal bahwa anak mereka bukanlah praja yang terlibat dalam pemukulan yang berujung pada tewasnya. Tidak mungkin pemukulan itu dilakukan oleh seseorang yang selama ini dikenal sebagai orang baik di keluarga dan lingkungan sosialnya. Dan orang baik, jangankan memukul juniornya sampai tewas, membunuh semutpun ia tak kan tega.</p>
<p>Lebih lanjut tentang orang baik.<br />
Di negara yang tercinta ini, setiap tahunnya ratusan ribu orang berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Sederhananya, menurut saya, orang yang naik haji tentu saja adalah orang baik. Bagaimana mungkin ada orang yang tidak baik yang berani datang ke tanah Tuhan, lalu pulang dengan membawa oleh-oleh satu dirigen air zam-zam. Kalau bicara statistik, itu artinya sejak negara ini merdeka sudah jutaan orang baik yang ada di negri ini.</p>
<p>Di negara kita yang tercinta ini, juga ada jutaan orang yang mengabdikan dirinya sebagai guru. Guru, sambil merem pun kita bisa tebak pastilah orang baik. Karena bagaimana mungkin orang yang tidak baik berani-beraninya mengajar para muridnya untuk berbuat kebaikan. Jika bicara statistik, itu artinya ada tambahan jutaan lagi orang baik yang ada di negri ini.</p>
<p>Di pemerintahan negara yang tercinta ini, tentu saja dijabat oleh orang-orang baik semua. Presiden kita juga pastilah orang baik. Kalau tidak bagaimana mungkin dulu begitu banyak rakyat yang mau memilihnya. Tak mungkin rakyat mau memilih presiden yang akan menzalimi rakyatnya sendiri. Dan sebagai orang baik tentu saja Presiden tidak akan tega juga mengkhianati petani di negaranya dengan mengeluarkan undang-undang yang menghancurkan petani. Atau untuk urusan memilih mentrinya, tentu saja sebagai orang baik presiden juga akan memilih orang baik. Jika di tambah dengan para pembantunya di kabinet dan jajaran pemerintahan lainnya, statistik orang baik kita semakin menggunung.</p>
<p>Di negara kita yang tercinta ini, mungkin belum jutaan, namun ada begitu banyak para blogger yang menulis tentang kebaikan setiap waktunya. Lihat saja contohnya. Betapa banyaknya para blogger yang mengomentari kecurangan yang terjadi di negara kita ini. Kasus lumpur Lapindo, ada ratusan lebih blogger yang mengutuk tentang lambannya pemerintah, ada ratusan lebih pula blogger yang menyatakan simpati mereka buat para korban. Kasus tewasnya praja di IPDN, ada ratusan lebih blogger yang mengutuk, ratusan lebih juga yang menyatakan belasungkawanya untuk korban. Baca blog mereka sambil kentut pun kita pasti tahu kalo yang menulisnya pastilah orang baik. Jika bicara statistik, itu artinya ada tambahan sekian banyak lagi orang baik yang ada di negri ini.</p>
<p>Dan di negara kita yang tercinta ini, ah tidak.. tidak usah jauh-jauh, dalam kehidupan kita sehari-hari saja coba kita lihat. Jika ada yang bertanya tentang si Andi, tentang si Butet atau tentang si Cepot, Dono, Eko dan lain-lainnya kepada saya pastilah jawaban yang muncul pertama dari mulut saya adalah bahwa si Andi, atau si Butet, atau si Cepot, Dono, Eko dll itu adalah orang baik. Ya, orang baik. Karena toh selama ini saya memang mengenalnya begitu. Orang baik. Jika bicara statistik, itu artinya ada tambahan sekian banyak lagi orang baik yang ada di negri ini.</p>
<p>Dengan berdasarkan pada data statistik tersebut, tentang begitu banyaknya orang baik di negeri ini, harusnya tidaklah naif jika kita berharap negara ini sudah begitu majunya. Namun kalau berkaca pada kondisi sekarang, jangan-jangan semua orang baik itu masih sama-sama saja kelakuannya dengan saya. Dikenal sebagai orang baik, namun ternyata hanyalah seorang munafik, yang semuanya hanya untuk kepentingan pribadi.</p>
<p>Dikenal sebagai orang munafik memang bukanlah sebuah prestasi yang bisa dibanggakan, namun dikenal sebagai orang baik yang acap kali cuap cuap ngaku sebagai orang baik, namun ternyata dibalik itu adalah seorang munafik, saya sadar ini adalah jauh lebih hina.</p>
<p>Ya sudahlah, daripada mengurus orang lain atau saling klain diri sebagai orang baik, saya mau permisi sejenak untuk benar-benar bertanya pada diri ini apa benar saya orang baik?, sudah seberapa baikkah saya?, dan bagaimana saya seharusnya sebagai orang baik kita berbuat suatu kebajikan bagi negara ini.</p>
<p>Dan anda, saya yakin anda adalah orang baik. =)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/benisuryadi.wordpress.com/46/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/benisuryadi.wordpress.com/46/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benisuryadi.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benisuryadi.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benisuryadi.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benisuryadi.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benisuryadi.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benisuryadi.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benisuryadi.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benisuryadi.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benisuryadi.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benisuryadi.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benisuryadi.wordpress.com&blog=82209&post=46&subd=benisuryadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benisuryadi.wordpress.com/2007/05/15/balada-orang-baik/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/benisuryadi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html"></media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Orang Pintar di Kuburan</title>
		<link>http://benisuryadi.wordpress.com/2007/05/02/orang-pintar-di-kuburan/</link>
		<comments>http://benisuryadi.wordpress.com/2007/05/02/orang-pintar-di-kuburan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2007 03:22:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>benisuryadi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benisuryadi.wordpress.com/2007/05/02/orang-pintar-di-kuburan/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan untuk menghabiskan malam di sebuah kuburan. Bukan dalam rangka dimakamkan di sana, saya belum siap untuk hal yang satu ini. Tapi kebetulan malam itu seorang teman meminta saya untuk menemaninya. Menemani dia untuk menemui “orang pintar”. Hari gini nyari orang pintar di kuburan?. Lah wong di kampus-kampus saja yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><span>Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan untuk menghabiskan malam di sebuah kuburan. Bukan dalam rangka dimakamkan di sana, saya belum siap untuk hal yang satu ini. Tapi kebetulan malam itu seorang teman meminta saya untuk menemaninya. Menemani dia untuk menemui “orang pintar”. Hari <em>gini nyari</em> orang pintar di kuburan?. Lah wong di kampus-kampus saja yang katanya sebagai pusat pendidikan, semakin susah untuk mencari orang pintar. Tapi toh akhirnya saya ikut juga. Embel-embel minta tolong sebagai seorang teman terbaiknya tak bisa saya tolak. Ya sudahlah, akhirnya saya temani juga. Walau sebenarnya diri ini rada takut, tapi toh saya sedang butuh hiburan juga.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Hiburan? Ya. </span><span id="more-44"></span><span>Buat saya hal-hal klenik, dunia perdukunan, dan segala tetek bengeknya tak lebih sebagai sebuah bahan untuk tertawa. Bagaimana tidak lucu ketika melihat orang-orang yang dengan telatennya membuat masakan yang sangat lezat, ayam panggang, sayur, nasi kuning dan sebagainya hanya untuk diberikan sebagai sesajen di kuburan. Memangnya orang mati masih bisa makan?. Paling-paling nanti makanan itu dimakan oleh gelandangan yang kebetulan nginap di kuburan tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bagaimana tidak lucu melihat orang memohon jodohnya di kuburan?. Orang-orang yang meminta nomor togel pada sebuah pohon beringin. Orang-orang yang berebutan setumpuk buah dan makanan yang diarak keliling alun-alun semata-mata agar hidup sejahtera.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dan melihat begitu banyaknya sinetron klenik yang tayang setiap hari di televisi, tentu juga bagaikan sebuah lelucon bagi saya. Lelucon yang menakutkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bukannya saya anti dengan dunia seperti itu. Namun buat saya, walau kapasitas iman saya masih sedengkul, tetapi meminta selain kepada Tuhan tentu saja adalah hal yang lucu. Dan perilaku mereka semua ini kalau dipikir-pikir, memancing rasa iba saya kepada mereka. Rasa iba mengetahui bahwa mereka pasti akan di azab Tuhan di nerakaNya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dan kebetulan malam itu, teman saya bermaksud untuk menemui orang pintar yang tiap malam biasanya buka praktek di sebuah kuburan. Misi ini adalah perintah dari Ayahnya adalah untuk memohon perlindungan agar bisnis yang dijalankan ayahnya kembali lancar. Mandeknya bisnis sang Ayah diyakini adalah akibat jampi-jampian dari lawan bisnis Ayahnya. Dan jampi-jampi tentu saja harus dilawan dengan jampi-jampi pula.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sampai ke kuburuannya tak memakan waktu lama. Namun tampaknya jam prakteknya belum buka. Disapa beberapa kali pun, si orang pintar bergeming. Tampak dia sedang khusu’ bersemedi. Jadinya terpaksalah kita duduk sabar menunggu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Hampir sekitar tiga jam kami menunggu, baru si orang pintar tersebut menyapa. Setelah mengutarakan maksud kedatangan, teman saya menyerahkan sebuah bungkusan kepada si orang pintar. Beberapa saat dia terdiam, lalu menyuruh kami mundur hingga sepuluh langkah. Kemudian ia kembali duduk di atas kuburan. Kembali bersemedi, berdoa atau entah ritual apalah itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Baru kami mendapatkan tempat yang nyaman untuk duduk kembali, tiba-tiba si orang pintar berteriak keras. Seperti orang kesurupan, si orang pintar berguling-guling di atas kuburan. Kondisi ini jelas-jelas membuat kami berdua tegang. Cukup lama sampai akhirnya si orang pinter terdiam. Terdiam sekian lama, dan kemudian dia tampak sedang sujud-sujud seperti orang yang sedang meminta ampun.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Cukup lama juga dia melakukannya, setelah akhirnya dia berdiri dan lalu menghampiri kami dan berkata, ia mohon maaf tidak dapat membantu, karena saat ini dia tidak dalam keadaan bersih, dia telah melalaikan satu kewajibannya dan dia merasa sangat hina sekali jika saat ini dia tetap memaksaan untuk meminta kepada yang disembahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sampai beberapa hari kemudianpun saya masih tidak habis pikir terhadap apa yang pengalaman yang baru saya alami. Melihat orang yang bukannya menyembah Tuhan yang menciptakannya. Dan yang menjadi bagian lucu namun juga miris adalah melihat bagaimana begitu bodohnya si orang pintar tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sungguh kasihan sekali mereka-mereka yang menyembah selain Tuhan. Sungguh kasihan sekali mereka-mereka yang menjatuhkan dirinya dalam ketakutan terhadap setan-sentah atoupun benda-benda yang mereka sembah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dan sungguh kasihan sekali, saya.<br />
Ya, sungguh kasihan sekali saya. Sungguh kasihan sekali diri ini rasanya. </span>
</p>
<p class="MsoNormal"><span>Tiba-tiba saya tersentak. Betapa ternyata dibandingkan dengan si orang pintar tersebut, saya jauh lebih munafik daripada dia. Walaupun jalan dia salah dengan menyembah kuburan, namun tidak sekalipun dia berani untuk melawan yang disembahnya. Hanya gara-gara ada satu kewajiban yang lalai ia kerjakan, ia merasa begitu hinanya diri hingga tak berani untuk meminta kepada yang disembahnya. Begitu kuatnya iman dia kepada apa yang disembahnya, tak sedikitpun ia berbuat yang melanggar aturan dari apa yang disembahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sedangkan saya, setiap hari pamer diri sebagai orang yang taat beragama, setiap hari sholat menjalankan perintahNya. Namun mungkin setiap hari pula saya telah munafik kepadaNya. Berbuat curang padahal nyata-nyata saya tahu Tuhan melihat saya. Nonton bokep sendirian di kamar kostan padahal saya tahu Tuhan pasti melihat saya. Melambat-lambatkan untuk sholat berdalih sibuk. Menggunjingkan orang lain padahal saya tahu Tuhan pasti mendengar saya. Semua dosa itu saya lakukan padahal saya tahu jelas-jelas bahwa Tuhan Maha Melihat dan Mendengar segala yang saya lakukan. Dan dikotornya diri ini saya tetap saja tidak tahu malunya meminta-minta setiap saat kepadaNya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sungguh, ternyata saya lebih rendah dari mereka. Namun Tuhan ternyata juga masih sangat menyayangi saya dengan mengingatkan saya melalui mereka.<br />
Dan semoga ini juga mengingatkan kita semua.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/benisuryadi.wordpress.com/44/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/benisuryadi.wordpress.com/44/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benisuryadi.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benisuryadi.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benisuryadi.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benisuryadi.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benisuryadi.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benisuryadi.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benisuryadi.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benisuryadi.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benisuryadi.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benisuryadi.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benisuryadi.wordpress.com&blog=82209&post=44&subd=benisuryadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benisuryadi.wordpress.com/2007/05/02/orang-pintar-di-kuburan/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/benisuryadi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html"></media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Laki-laki dan Sebuah Pilihan</title>
		<link>http://benisuryadi.wordpress.com/2007/04/25/laki-laki-dan-sebuah-pilihan/</link>
		<comments>http://benisuryadi.wordpress.com/2007/04/25/laki-laki-dan-sebuah-pilihan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2007 06:50:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>benisuryadi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benisuryadi.wordpress.com/2007/04/25/laki-laki-dan-sebuah-pilihan/</guid>
		<description><![CDATA[Hidup adalah tentang sebuah pilihan. Tak ada pilihan yang mutlak benar ataupun mutlak salah. Setiap pilihan pasti ada sisi positif dan sisi negatifnya. Cuma kadarnya saja yang berbeda-beda dalam setiap pilihan. Dan seorang laki-laki sejati adalah seseorang yang secara tegas berani mengambil suatu pilihan, menjalaninya dengan kesungguhan hati, dan dengan kelapangan jiwa menerima segala tanggung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Hidup adalah tentang sebuah pilihan. Tak ada pilihan yang mutlak benar ataupun mutlak salah. Setiap pilihan pasti ada sisi positif dan sisi negatifnya. Cuma kadarnya saja yang berbeda-beda dalam setiap pilihan. Dan seorang laki-laki sejati adalah seseorang yang secara tegas berani mengambil suatu pilihan, menjalaninya dengan kesungguhan hati, dan dengan kelapangan jiwa menerima segala tanggung jawab atas pilihan tersebut.</p>
<p>Maaf, ini bukan bermaksud gender, sama sekali tidak. Ketegasan memutuskan suatu pilihan, keteguhan menjalani, dan menerima segala konsekuensi bukanlah suatu topik yang mengkotak-kotakkan antara seorang laki-laki dan perempuan sejati. Cuma saja kalimat di atas meluncurnya dari seorang laki-laki kepada seorang laki-laki lain yang sedang kebingungan.<br />
<span id="more-43"></span><br />
Pembicaraan ini terjadi sekitar akhir Desember tahun yang lalu. Laki-laki yang sedang kebingungan itu adalah saya, si mahasiswa, sedangkan laki-laki yang memberikan nasehat adalah sang pembimbing tugas akhir. Dengan dosen pembimbing, saya memang memiliki banyak status hubungan. Dosen dengan Mahasiswa, ketika sedang di kelas atau ketika sedang bimbingan tugas akhir. Dosen dengan Asisten, ketika sedang mengurus pelaksanaan praktikum di Laboratorium. Partner atau Musuh, ketika kita sedang bermain tenis bersama. Teman bercanda, ketika kala sore hari sebelum pulang kita duduk bersama di ruang TV di Lab, di temani kopi dan gorengan. Sopir dengan Tukang Dorong dikala mobil beliau mogok di jalan. Psikolog dan Pasien kala saya butuh masukan tentang berbagai masalah yang saya alami dalam hidup.</p>
<p>Namun, pembicaraan di suatu Sore akhir Desember yang lalu, adalah pembicaraan antara seorang Ayah dan Anak. Berawal dari pertanyaan beliau, tentang apa pilihan hidup saya setelah selesai kuliah. Bekerja atau melanjutkan sekolah lagi. Memilih bekerja sebagai seorang enjinir di perusahaan asing, perusahaan lokal nasional, atau di perusahaan kecil yang baru berkembang?. Memilih kembali melanjutkan pendidikan ke Strata 2, Srata 3 sampai puncak pencapaian akademik?. Memilih sebagai seorang enjinir yang sekali-sekali waktu kembali ke kampus untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman?. Memilih sebagai sebagai seorang akademisi dan mengabdikan diri sebagai dosen mengajar dan mendidik para mahasiswa?.</p>
<p>Laiknya memilih teman tidur seranjang, diri ini harus merasa yakin sekali bahwa ini adalah pilihan satu-satunya sampai akhir ajal. Dan pilihan ini tentu saja harus kita terima sebagai satu paket. Tak mungkin kita pilah tuk ambil baiknya saja. Namun siapapun yang kita pilih, kita akan bisa mendapatkan kebahagiaan sejati bersamanya jika pilihan itu dijalani dengan kesungguhan hati dan dengan kelapangan jiwa menerima segala tanggung jawab atas pilihan tersebut.</p>
<p>Dan bagi beliau, memilih pekerjaan itu di satu sisi sama saja dengan memilih pasangan hidup. Jangan asal diterima saja. Jangan asal mendapat duit saja. Jangan asal gaya saja. Pilihlah pekerjaan yang benar-benar akan menjadi jalan hidupmu. Seperti yang beliau lakukan. Memilih sebagai seorang dosen, walau jalan berliku dan terjal, namun dengan kesungguhan hati dan kelapangan jiwa, beliau bahagia menjalaninya.</p>
<p>Dan saat itu saya memilih untuk mendengarkan beliau.</p>
<p>Setelah memikirkan apa yang saya inginkan sebenarnya, bulan Februari lalu saya memilih untuk melamar pekerjaan di sebuah perusahaan manufaktur lokal yang masih baru. Dengan kesungguhan hati saya menjalani semua test nya. Inilah pilihan saya, inilah pekerjaan yang saya inginkan, pikir saya.</p>
<p>Mungkin saja saya memang menelan mentah-mentah apa yang beliau katakan, saya hanya melamar pekerjaan di satu perusahaan itu saja. Buat apa saya melamar di perusahaan lain jika saya tidak menginginkannya. Beberapa tahap test dari perusahaan tersebut sudah saya lalui, langkah saya makin dekat pikir saya.</p>
<p>Waktu berjalan, medio April, lebih dari satu bulan sejak saya diwisuda pada awal bulan Maret kemaren. Sudah satu bulan pula sejak saya wawancara terakhir dengan direktur utama perusahaan tersebut. Namun berita kelanjutannya tak jua kunjung tiba. Sedangkan teman-teman sudah pada bekerja. Saya mulai panik, saya mulai takut. Saya mulai menyesal, mengapa kemaren-kemaren itu saya tidak melamar-lamar saja ke berbagai perusahaan seperti yang teman-teman saya lakukan. Saya mulai menyesal, mengapa kemaren saya menolak tawaran untuk bekerja di sebuah perusahaan asing dari seorang kenalan.</p>
<p>Dengan pikiran gundah saya kembali menemui beliau, berkeluh kesah. Mengapa saya tidak kirimkan saja lamaran kesemua lowongan yang ada. Mengapa saya menolak semua tawaran yang ada. Begitu bodohnya saya, padahal saat ini mencari kerja begitu susahnya.<br />
Saya menyesal. Menyesal saya.</p>
<p>Namun beliau tersenyum, lalu berkata &#8220;Ini lah pelajaran sebenarnya yang ingin saya ajarkan kepada kamu. Bukan tentang pelajaran metrologi, bukan tentang bagaimana mengoperasikan sebuah mesin. Namun tentang apakah kamu tahu apa yang kamu inginkan tentang hidupmu, tentang apakah kamu mampu mengambil sebuah keputusan dalam kehidupan, tentang apakah kamu mampu menjalaninya dengan kesungguhan hati, dan tentang apakah kamu mampu menerima segala tanggung jawab yang termaktub di dalamnya. Tentang menjadi seorang lelaki sejati.&#8221;</p>
<p>Yah, tentang menjadi seorang lelaki sejati. Tidak, saya tidak menyesal, saya tidak akan menyesalinya lagi. Saya akan menjalaninya dengan kesungguhan hati.</p>
<p>Namun beberapa hari kemudian saya kembali menemui beliau. Lagi-lagi dengan perasaan gundah, datang tuk berkeluh kesah. Tentang sebuah pilihan lain yang juga baru saya tetapkan. Sebuah keputusan untuk mencukupkan hubungan sampai hari ini saja dengan pacar saya. Menyesal mengapa saya dulu tidak berpacaran saja dengan banyak orang, jika satu putus saya masih punya pilihan yang lain.</p>
<p>Beliau tersenyum, lalu &#8220;pletakkk&#8221;, sebuah jitakan melayang ke kepala saya.<br />
Dan saya?, saya hanya nyengir sambil usap-usap kepala.<br />
Dan kemudian, kita tertawa bersama.<br />
Kalo kali ini percakapannya hanyalah antara seorang laki-laki dengan laki-laki.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/benisuryadi.wordpress.com/43/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/benisuryadi.wordpress.com/43/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benisuryadi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benisuryadi.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benisuryadi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benisuryadi.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benisuryadi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benisuryadi.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benisuryadi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benisuryadi.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benisuryadi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benisuryadi.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benisuryadi.wordpress.com&blog=82209&post=43&subd=benisuryadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benisuryadi.wordpress.com/2007/04/25/laki-laki-dan-sebuah-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/benisuryadi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html"></media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Informasi</title>
		<link>http://benisuryadi.wordpress.com/2007/02/01/informasi/</link>
		<comments>http://benisuryadi.wordpress.com/2007/02/01/informasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 04:31:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>benisuryadi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benisuryadi.wordpress.com/2007/02/01/informasi/</guid>
		<description><![CDATA[Kepada semua pihak yang membaca blog ini, mohon maaf sekali saya sampaikan bahwa saya sama sekali tidak ada hubungan dengan pihak Tim Tujuh Hari Menuju Taubat Lativi. Tulisan saya yang berjudul Tujuh Hari Menuju Taubat, pertanggal 17 September 2006 hanyalah sekedar opini dan refleksi pribadi saya.
Namun, berdasarkan informasi yang saya dapat pada akhir acara tersebut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kepada semua pihak yang membaca blog ini, mohon maaf sekali saya sampaikan bahwa saya sama sekali tidak ada hubungan dengan pihak Tim Tujuh Hari Menuju Taubat Lativi. Tulisan saya yang berjudul <a target="_blank" href="http://benisuryadi.wordpress.com/2006/09/17/tujuh-hari-menuju-taubat/">Tujuh Hari Menuju Taubat</a>, pertanggal 17 September 2006 hanyalah sekedar opini dan refleksi pribadi saya.</p>
<p>Namun, berdasarkan informasi yang saya dapat pada akhir acara tersebut di Lativi, saya ketahui bahwa alamat Tim Tujuh Hari Menuju Taubat adalah :</p>
<p>Tim Tujuh Hari Menuju Taubat<br />
Jalan Raya Condet No. 27<br />
Komplek Ruko Mutiara Faza RA.2<br />
Telp. 021-70633369<br />
Fax. 021-87781815</p>
<p>Oleh karena itu, apabila para pembaca bermaksud untuk melakukan kominikasi lebih lanjut, silahkan langsung menghubungi alamat tersebut.</p>
<p>Dan, terima kasih atas segala apresiasi terhadap semua tulisan yang saya muat di blog ini.</p>
<p>Beni Suryadi<br />
“maaf lama ga nulis, lagi persiapan sidang akhir sarjana” =)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/benisuryadi.wordpress.com/42/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/benisuryadi.wordpress.com/42/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benisuryadi.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benisuryadi.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benisuryadi.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benisuryadi.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benisuryadi.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benisuryadi.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benisuryadi.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benisuryadi.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benisuryadi.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benisuryadi.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benisuryadi.wordpress.com&blog=82209&post=42&subd=benisuryadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benisuryadi.wordpress.com/2007/02/01/informasi/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/benisuryadi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html"></media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Laron-Laron di Lampu Kamar</title>
		<link>http://benisuryadi.wordpress.com/2006/12/14/laron-laron-di-lampu-kamar/</link>
		<comments>http://benisuryadi.wordpress.com/2006/12/14/laron-laron-di-lampu-kamar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Dec 2006 07:31:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>benisuryadi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benisuryadi.wordpress.com/2006/12/14/laron-laron-di-lampu-kamar/</guid>
		<description><![CDATA[Musim hujan ternyata cukup membuat pusing kehidupan saya beberapa hari ini. Capek-capek mencuci pakaian, dan menunggu seharian sampai semua jemuran kering, ditinggal sebentar tiba-tiba semuanya basah diguyur hujan. Becek dan banjir dimana-mana juga membuat saya kesusahan. Sepatu butut saya ternyata tak cukup kuat lagi untuk menahan air yang meresap masuk hingga menyentuh kaki. Kalau sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Musim hujan ternyata cukup membuat pusing kehidupan saya beberapa hari ini. Capek-capek mencuci pakaian, dan menunggu seharian sampai semua jemuran kering, ditinggal sebentar tiba-tiba semuanya basah diguyur hujan. Becek dan banjir dimana-mana juga membuat saya kesusahan. Sepatu butut saya ternyata tak cukup kuat lagi untuk menahan air yang meresap masuk hingga menyentuh kaki. Kalau sudah begini, baunya sungguh ampun.</p>
<p>Tapi yang paling mengganggu sekali adalah laron-laron. Baru saja gelap menjelang laron-laron tersebut sudah bergerumul di lampu ruangan kamar saya. Yang lebih celakanya lagi, laron tersebut tidak datang sendirian. Anak, istri, kakek, nenek, saudara semuanya diajak serta. Kedatangan laron-laron ini jelas-jelas membuat saya murka.<span id="more-41"></span></p>
<p>Tanpa permisi, tanpa sopan santun mereka berterbangan kesana kesini. Bergerombolan dalam jumlah yang entah berapa mengerumuni lampu kamar saya. Banyak yang terjatuh, sayap putus lalu bergelimpangan di lantai kamar saya. Kalau sudah seperti ini, alamat murka diri ini menyaksikan kamar yang menjadi kotor seketika oleh sayap-sayap laron yang berserakan.</p>
<p>Tidak habis pikir saya, sebenarnya untuk apa Tuhan menciptakan laron-laron ini. Jadi makanan binatang cecak? Toh serangga yang lain masih banyak. Agar bisa membuka lahan pekerjaan seperti pabrik pengusir obat nyamuk? Belum pernah saya dengar orang menciptakan obat pembasmi laron. Kenapa pula mereka munculnya saat musim hujan seperti ini.</p>
<p>Laron-laron tersebut selalu mengerumuni sumber cahaya. Cari akal, akhirnya saya menyalakan lampu teras. Semoga saja mereka lebih tertarik dengan lampu teras tersebut. Namun yang ada para laron ini semakin memancing kemarahan saya. Pintu ditutup rapatpun, melalui lubang udara mereka tetap saja masuk dan mengerumuni lampu kamar saya. Celaka benar laron-laron ini. Umur hanya sebentar tapi muncul hanya untuk mengganggu. Mengapa pula hanya lampu kamar saya saja yang mereka sukai.</p>
<p>Kehabisan akal, akhirnya seluruh lampu kamar saya matikan. Gelap. Berbaring sejenak menenangkan hati ini. Tapi apa dikata, saya malah tertidur.</p>
<p>Mungkin karena tidur terlalu cepat, jam satuan saya terbangun. Terbangun jam segini rasanya tidak enak sekali jika tidak sholat tahajud. Sudah lama saya tidak sholat tahajud. Akan sangat memalukan sekali jika sudah terbangun tengah malam seperti ini, sekali-sekalinya tapi saya tidak sholat tahajud. Selesai sholat, mau tidak mau lanjut dengan berdoa. Sayang juga rasanya selesai sholat tidak berdoa. Apalagi berdoa di tengah malam seperti ini lebih besar peluang dikabulkannya. Selesai banyak meminta dalam doa, serasa kurang afdhal tanpa dilanjutkan mengaji. Mumpung iman sedang bagus, lagipula sejak Ramadhan berlalu Al Qur’an nya masih tersimpan rapi di lemari.</p>
<p>Karena lama jedanya, akhirnya hilang sudah rasa kantuk ini. Susah dibawa tidur kembali. Pagi masih beberapa jam lagi. Karena kantuk tak jua datang lagi, dari pada bengong tidak jelas, akhirnya saya mengambil sebuah buku. Asik membaca buku tersebut, tak terasa adzan subuh berkumandang. Terjaga, dengar adzan, tidak sedang hujan, tentu hina sekali diri ini jika tidak sholat subuh berjamaah di masjid, apalagi masjidnya cukup dekat. Pulang dari masjid, kembali melanjutkan membaca buku, masih tersisa beberapa halaman lagi.</p>
<p>Sekitar pukul sepuluhan, ketika saya sedang sibuk penelitian di pabrik, tiba-tiba terjadi masalah pada proses produksi. Semua operator mesin tampak kebingungan menghadapi. Setelah melihat beberapa saat, lalu saya mengajukan analisa masalah dan solusi, dan berhasil. Gara-gara ini saya lansung menjadi begitu terkenalnya.</p>
<p>Pintarkah saya? Tidak, semua ini hanya kebetulan saja. Kebetulan masalah yang terjadi adalah sama persis dengan apa yang tertulis di buku yang tidak sengaja saya baca semalam. Jadi waktu itu saya cuma tinggal menyebutkan saja.</p>
<p>Entahlah ini sebuah kebetulan atau tidak. Tapi gara-gara laron-laron yang semalam saya kutuk, banyak hal yang terjadi dalam diri saya. Sholat malam, berdoa, mengaji, baca buku, sholat subuh berjamaah di masjid. Semua hal yang tidak pernah lakukan dalam kehidupan biasa saya yang suka seenaknya.</p>
<p>Terpikir dihati, jangan-jangan selama ini kita begitu seringnya memandang rendah setiap hal, menganggapnya hanya sebagai pengganggu, bahkan celakanya kita maki sepenuh hati. Padahal ternyata karena hal inilah kita mendapatkan banyak kebaikan dalam hidup ini.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/benisuryadi.wordpress.com/41/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/benisuryadi.wordpress.com/41/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benisuryadi.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benisuryadi.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benisuryadi.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benisuryadi.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benisuryadi.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benisuryadi.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benisuryadi.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benisuryadi.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benisuryadi.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benisuryadi.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benisuryadi.wordpress.com&blog=82209&post=41&subd=benisuryadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benisuryadi.wordpress.com/2006/12/14/laron-laron-di-lampu-kamar/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/benisuryadi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html"></media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Uenak Tenan jadi (kenalan) Pejabat</title>
		<link>http://benisuryadi.wordpress.com/2006/12/07/uenak-tenan-jadi-kenalan-pejabat/</link>
		<comments>http://benisuryadi.wordpress.com/2006/12/07/uenak-tenan-jadi-kenalan-pejabat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Dec 2006 02:43:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>benisuryadi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benisuryadi.wordpress.com/2006/12/07/uenak-tenan-jadi-kenalan-pejabat/</guid>
		<description><![CDATA[Uenak tenan, uenak tenan&#8230;&#8230;. benar-benar uenak tenan. Oh ya, sebelumnya saya mau minta maaf dulu kepada sidang pembaca, cukup lama tenggangnya dari tulisan terakhir saya. Ini bukan karena saya pikiran saya sedang buntu atau writers block. Bukan, bukan karena hal tersebut. Kondisi seperti ini bukanlah masalah buat orang seperti saya yang walaupun sering tidak bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Uenak tenan, uenak tenan&#8230;&#8230;. benar-benar uenak tenan. Oh ya, sebelumnya saya mau minta maaf dulu kepada sidang pembaca, cukup lama tenggangnya dari tulisan terakhir saya. Ini bukan karena saya pikiran saya sedang buntu atau writers block. Bukan, bukan karena hal tersebut. Kondisi seperti ini bukanlah masalah buat orang seperti saya yang walaupun sering tidak bisa melihat kekurangan diri sendiri, tetapi untuk melihat kesalahan dan kekurangan orang, wah saya dukunnya. Jadi sebenarnya saya cukup punya bahan untuk dikomentari.</p>
<p>Namun bebeberapa waktu ini saya malas melakukan hal tersebut. Saya ingin bersantai sejenak sambil menikmati sebuah peran baru dalam hidup saya. Saya baru menyadari bahwa saya ini ternyata punya banyak sekali kenalan dan relasi dekat dengan para pejabat teras yang terkenal di negeri ini. Mulai dari pejabat RT, pejabat kelurahan, pejabat kecamatan sampai ke pejabat besar. Itu baru yang di pemerintahan. Saya juga kenal dengan banyak pejabat perusahaan-perusahaan besar. Dan yang lebih pentingnya lagi saya juga kenal dengan para pejabat dari kepolisian dan militer. Yah, walaupun hampir semuanya karena memang sayanya saja yang sok kenal sok dekat dengan para pejabat tersebut.<span id="more-39"></span></p>
<p>Tapi jangan salah, walaupun cuma berstatus sok kenal sok akrab dengan para pejabat hidup saya tiba-tiba menjadi begitu uenaknya.</p>
<p>Sekali waktu daerah tempat saya tinggal di datangi para petugas kependudukan. Mereka merazia orang-orang yang tidak memiliki kartu tanda penduduk. Saya sebenarnya punya kartu tanda penduduk, tapi itu adalah kartu tanda penduduk dari kota asal saya. Sedangkan kartu tanda penduduk Bandung, kota dimana saya menuntut ilmu, tidak punya. Beberapa kali saya pernah mengurus pembuatannya, tapi mungkin karena waktu itu saya hanya bersedia membayar dengan beberapa lembar uang ribuan saja, sesuai tarif resmi yang berlaku, hingga berbilang tahun tak jua kelar. Dan karena kartu mahasiswa dianggap tidak cukup sebagai bukti, maka bersama beberapa orang lainnya saya digiring ke kantor kelurahan.</p>
<p>Di sana ternyata tidak hanya kami saja, puluhan orang juga terjerat oleh kasus yang sama. Sedang antri menunggu giliran disidang. Untung buat saya, baru sampai di sana, seorang pejabat kelas atas datang menghampiri. Ternyata beliau adalah teman tante saya, kebetulan sekali waktu tante saya pernah mengobrol dengan beliau. Gara-gara punya kenalan pejabat, bukannya ikut antri di sidang, saya malah diajak ke ruang kantor, ngobrol lama, bahkan habis itu saya jalan dengan beliau nyari makan siang. Urusan KTP? Si petugas kependudukan tadi berjanji akan menguruskannya, dan kalau sudah selesai segera diantarkan ke kostan saya.<br />
Uenak tenan.</p>
<p>Lain masa, saya sedang menumpang mobil seorang teman. Di perjalanan ternyata sedang ada razia, dan seorang polisi meminta teman saya memberhentikan mobilnya. Celakanya, ternyata teman saya tersebut tidak bawa STNK. Singkat kata kami digiring ke posko mereka. Di sana, kami diceramahi tentang tata tertib di jalan raya lengkap dengan berbagai hukuman dan dendanya. Walau tak lupa bapak-bapak tersebut menawarkan cara damainya saja. Namun ketika kami memutuskan untuk mempersilahkan si Polisi menahan mobil tersebut, Polisi tersebut keheranan. Lalu mereka bertanya apakah kami punya keluarga di kepolisian. Keluarga jelas tidak punya, tapi kebetulan orang paling penting di kepolisian kota adalah satu kampung dengan saya dan saya punya nomor telephon beliau, sahut saya. Dan ajaibnya kami dilepaskan.<br />
Uenak tenan.<br />
Dan yang terakhir ini, yang paling membuat saya menikmati sebagai (kenalannya) pejabat adalah kala seorang teman datang ke kampus saya. Saya mengenalnya sebagai anak seorang pejabat top negri ini. Saya cukup keheranan ketika melihat dia datang didampingi beberapa orang ajudan yang berseragam. Ketika ditanya dia menjawab ini dilakukan agar perjalanan dia tersebut bisa dicatatkan sebagai perjalan dinas bapaknya. Jadi semua biaya perjalanan, penginapan, pengeluaran makan dan belanja di tanggung negara.</p>
<p>Entah karena ingin pamer atau sedang berbuat baik, teman saya tersebut mempersilahkan saya untuk memerintahkan sesuatu kepada para ajudan tersebut. Karena penasaran, akhirnya saya meminta ajudan tersebut untuk membelikan saya gorengan di depan. Dan, kerennya, setelah memberikan hormat dengan sigap seorang asisten segera berangkat, dan tak lama datang dengan satu kresek berisi gorengan lengkap dengan air minumnya.</p>
<p>Wah, menyenangkan sekali. Karena masih diperbolehkan oleh teman saya tersebut, seakan melunjak saya malah meminta sang ajudan untuk melakukan banyak hal buat saya. Kesempatan sekali-sekalinya pikir saya, lagipula saya kan bayar pajak juga buat gaji para ajudan tersebut. Jadi boleh donk saya sekali-sekali menikmati fasilitas negara ini. Fotocopy tugas, bayarkan uang tagihan telephon, belikan koran, belikan gorengan bahkan dua kali.<br />
Uenak tenan.</p>
<p>Benarkan apa yang saya bilang? Baru jadi kenalannya para pejabat saja hidup saya sudah demikian uenaknya. Apalagi kalau saya beneran jadi pejabat. Tidak usah yang sampai jadi presiden. Jaman sekarang jadi presiden itu susah kayaknya. Sering keluar negri saja banyak diprotes. Belum sempat jalan-jalan, photo-photo, eh sudah disuruh pulang lagi gara-gara di Jakarta ada demo.</p>
<p>Cukup jadi pejabat kecil-kecilan saja, mo pejabat RT, pejabat kelurahan. Semuanya sama enaknya, bisa diatur-atur saja pakai uang rakyatnya. ya tetapi juga disesuaikan dengan jabatan. Kalau mau yang paling uenak ya ikut saran teman saya, jadi anggota DPR kayak bapaknya. Kerja gampang, palingan sekali-sekali ikut demo atau vokal, nampang di media biar tetap terpilih periode depannya. Tunjangan hidup, wuih..sekeluarga ditanggung nikmat. Jalan-jalan keluar negri paling kurang tiga kali setahun ditanggung negara, dikasih uang saku lagi. Kena tilang di jalan, tinggal ancam saja polisinya. Atau seperti yang <a href="http://kramput.blogspot.com/" title="Bukan Kriminal Total" target="_blank">teman saya tulis</a>, bisa dapat stiker bebas masuk kampus.<br />
Uenak tenan.</p>
<p>Tapi pak Wawan malah tidak mau jadi pejabat. Kata beliau jadi pejabat itu juga banyak tidak enaknya. Kalau jadi pejabat tidak akan bisa poligami. Jangankan poligami, tidur sama artis aja bikin was-was, takut-takut video rekamannya beredar sembarangan. Belum lagi nanti di akhirat bakal bingung pas ditanya Tuhan.</p>
<p>Wah kalau sudah begini, saya jadi berpikir ulang, sekedar jadi kenalan para pejabat saja sebenarnya sudah cukup.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/benisuryadi.wordpress.com/39/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/benisuryadi.wordpress.com/39/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benisuryadi.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benisuryadi.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benisuryadi.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benisuryadi.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benisuryadi.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benisuryadi.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benisuryadi.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benisuryadi.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benisuryadi.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benisuryadi.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benisuryadi.wordpress.com&blog=82209&post=39&subd=benisuryadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benisuryadi.wordpress.com/2006/12/07/uenak-tenan-jadi-kenalan-pejabat/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/benisuryadi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html"></media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Saya (harusnya) Masuk TV</title>
		<link>http://benisuryadi.wordpress.com/2006/11/14/saya-harusnya-masuk-tv/</link>
		<comments>http://benisuryadi.wordpress.com/2006/11/14/saya-harusnya-masuk-tv/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Nov 2006 02:55:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>benisuryadi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benisuryadi.wordpress.com/2006/11/14/saya-harusnya-masuk-tv/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lewat, tidak sengaja saya melintas di antara kerumunan mahasiswa yang sedang berdemo menentang kedatangan pak George W. Bush. Walaupun jumlah pendemo tak seberapa namun peristiwa kegiatan tersebut cukup menarik perhatian banyak orang dan juga para wartawan dari berbagai media masa. Dan tentu saja seketika menimbulkan macet di ruas jalan tersebut. Entah apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Beberapa hari yang lewat, tidak sengaja saya melintas di antara kerumunan mahasiswa yang sedang berdemo menentang kedatangan pak George W. Bush. Walaupun jumlah pendemo tak seberapa namun peristiwa kegiatan tersebut cukup menarik perhatian banyak orang dan juga para wartawan dari berbagai media masa. Dan tentu saja seketika menimbulkan macet di ruas jalan tersebut. Entah apa yang membuatnya tertarik, tiba-tiba seorang wartawan mengampiri saya bermaksud untuk mewawancara.</p>
<p>Awalnya saya menolak karena saya bukanlah orang yang ikutan demo pada saat itu. Tetapi , akhirnya saya menjawab jua, lagi pula, kalau dipikir-pikir saya kan jadi masuk tivi. Siapa tahu orang tua di kampung menonton. Sang wartawan mewawancara menanyakan apakah saya setuju atau menolak kedatangan pak Bush, apakah uang enam milyar yang dikeluarkan pemerintah itu layak, dan kenapa saya tidak ikutan berdemo padahal saya adalah mahasiswa.</p>
<p>Tapi dua hari saya nongkrong di depan tivi, berita saya diwawancara tak jua muncul. Apa si wartawannya lupa ya? Tapi ya sudahlah, walau saudara-saudara tak jadi melihat saya di tivi, saya ceritakan saja di sini.<span id="more-38"></span></p>
<p>Hukum di negara ini sebenarnya menyenangkan sekali. Karena kita bisa memukul atau menendang nendang orang tanpa harus takut terkena hukuman apalagi sampai di penjara. Tentu tidak sembarangan pukul. Yang saya maksud di sini adalah memukul atau menendang orang yang kedapatan mencopet atau mencuri di tempat-tempat keramaian, misalnya pasar. Bahkan tak jarang yang baru dicurigai saja bisa-bisa nasib mereka berujung meregang nyawa, hangus terbakar minyak yang disemburkan massa. Untung-untung Polisi segera datang, jadi cuma bonyok-bonyok berdarah saja, ya walaupun masih harus dilanjutkan dengan menginap sekian lama di hotel prodeo.</p>
<p>Massa yang menghakimi? Tenang saja, tidak akan di prodeo kan juga, palingan dibawa ke kantor polisi cuma beberapa orang saja buat ditanya-tanya. Setelah itu pulang. Tidak dihukum karena sebenarnya Polisi pasti juga kebingungan untuk mengungkap siapa saja yang melakukan pemukulan itu. Massa begitu ramainya. Dan begitu mendengar teriakan copet, siapapun di tempat itu pasti akan terpancing emosinya, tidak bapak-bapak, ibu-ibu atau anak-anak sekalipun pasti akan terpancing untuk menghakimi si pelaku di tempat. Atas nama penumpasan kejahatan kasus dianggap selesai. Lagi-lagi ini cuma buat massa, kalau pelaku ya tetap harus nginap.</p>
<p>Dan kalaupun suatu hari si pelaku telah bebas, dia tentu saja juga akan kebingungan buat balas dendam. Mana dia ingat siapa saja yang ada di pasar memukul dia waktu itu. Jadi ya, case closed.</p>
<p>Nah, tanpa maksud memprovokasi, saya hanya ingin memberikan sebuah perspektif lain bagaimana kalau seandainya penghakiman seperti ini kita lakukan juga terhadap para koruptor dan penjahat besar di negara ini. Para penjahat dan koruptor besar yang sudah jelas-jelas terbukti, kalau suatu hari ada yang melihat mereka sedang di pasar atau di suatu pusat keramaian, tanpa dikomando marilah kita sama-sama memukul dan menendang. Toh ini juga atas nama penegakan kebenaran. Kalau menunggu pak Hakim, pak Jaksa ataupun pak Polisi beraksi pasti kelamaan.</p>
<p>Nah, gampang kan&#8230;.saya yakin dengan begini pasti dalam waktu singkat para penjahat dan koruptor besar di negara ini akan habis. Dan tentu saja seperti yang saya janjikan tadi, tidak akan ada satupun dari kita yang akan dihukum.</p>
<p>Mm, tapi ternyata ide saya ini ditertawakan oleh pak Wawan, petugas kebersihan di Lab saya. Menurut beliau ide saya ini sia-sia karena toh massa itu juga beraninya sama penjahat kecil-kecilan doank. Menurut beliau di negara tercinta ini, pemerintah dan masyarakatnya sama saja. Pemerintah yang hanya berani memenjara maling ayam saja itu juga cerminan dari masyarakatnya yang cuma berani gebukin tukang copet di pasar saja.</p>
<p>Wah kalau begitu, berarti sikap Pemerintah yang bela-belain mengeluarkan uang 6 milyar buat menyambut Bush juga adalah cerminan dari masyarakatnya seperti Ki Gendeng yang bela-belian beli mobil baru seharga 130an juta cuma buat ditanda tangani sebagai bentuk penolakan kedatangan Bush.</p>
<p>Tapi kan sekarang ini banyak sekali orang-orang yang berdemo menolak Bush. Anggota DPR, ulama besar pemimpinan pondok pesantren, mahasiswa, dan tidak ketinggalan karang taruna semuanya berdemo menolak kedatangan Bush. Bukankah ini bukti kalo kita juga sekarang sudah memikirkan yang besar-besar. Namun lagi-lagi saya diketawain pak Wawan.</p>
<p>Jadi menurut pak Wawan yang harusnya saya lakukan apa?<br />
Ya terserah kamu Ben, mau mulai dari ngegebukin koruptor yang lagi jalan di pasar, atau langsung ngegebukin si Bush waktu dia di Bogor. Kalau itu ga berani ya benerin diri sendiri dulu, ga perlu komentarin orang-orang.</p>
<p>Jadi sebenarnya apa jawaban saya waktu itu? Mmm, maaf&#8230; karena keasikan nyengir masuk tivi saya jadi lupa menjawab, mungkin karena kelamaan menunggu akhirnya si wartawan pun berlalu. Belum nasib saya masuk tivi.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/benisuryadi.wordpress.com/38/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/benisuryadi.wordpress.com/38/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benisuryadi.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benisuryadi.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benisuryadi.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benisuryadi.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benisuryadi.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benisuryadi.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benisuryadi.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benisuryadi.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benisuryadi.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benisuryadi.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benisuryadi.wordpress.com&blog=82209&post=38&subd=benisuryadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benisuryadi.wordpress.com/2006/11/14/saya-harusnya-masuk-tv/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/benisuryadi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html"></media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lukisan Wajah dan Senyuman</title>
		<link>http://benisuryadi.wordpress.com/2006/11/05/lukisan-wajah-dan-senyuman/</link>
		<comments>http://benisuryadi.wordpress.com/2006/11/05/lukisan-wajah-dan-senyuman/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Nov 2006 13:41:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>benisuryadi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benisuryadi.wordpress.com/2006/11/05/lukisan-wajah-dan-senyuman/</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah kesempatan yang sangat jarang sekali untuk orang dengan tampang pas-pasan seperti saya. Beberapa hari yang lalu, kebetulan saya bertemu dengan seorang teman lama. Sebenarnya bukan teman, karena beliau adalah seorang dosen seni rupa yang merangkap sebagai seniman juga. Tapi beliau tidak mau dipanggil dengan panggilan Pak atau Mas, cukup dipanggil nama saja. Ya sudahlah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Sebuah kesempatan yang sangat jarang sekali untuk orang dengan tampang pas-pasan seperti saya. Beberapa hari yang lalu, kebetulan saya bertemu dengan seorang teman lama. Sebenarnya bukan teman, karena beliau adalah seorang dosen seni rupa yang merangkap sebagai seniman juga. Tapi beliau tidak mau dipanggil dengan panggilan Pak atau Mas, cukup dipanggil nama saja. Ya sudahlah, walau beda usia lebih 10 tahun, saya <em>nurut</em> saja. Akhir tahun ini beliau bermaksud untuk mengikuti sebuah pameran lukisan wajah di luar negri. Karena cukup disebut luar negri saja saya berpikir ini pastilah sebuah pameran kelas dunia. Namun bukan masalah pameran tersebut yang ingin saya ceritakan, tetapi sesuatu yang jauh lebih penting. Beliau menawarkan untuk melukis wajah saya untuk ditampilkan pada pameran nanti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Hari <em>gini</em> ada yang tertarik sama wajah saya? Walau bukan Raam Punjabi yang tertarik dengan wajah saya, tetapi dilukis, masuk pameran di luar negri?, <em>wow</em>.. ini penghargaan yang sangat besar untuk saya. Dibandingkan dengan teman-teman kampus atau teman-teman di komunitas yang memang ditakdirkan Tuhan memiliki tampang ganteng, bahkan dengan Christian Sugiono sekalipun, bintang sinetron yang sangat diidolakan banyak teman-teman cewek karena bisa <em>bikin</em> mereka pada panas dingin, jelas sekarang kelas saya jauh di atas mereka. </span><span id="more-37"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Sebenarnya beliau ingin melukis wajah saya secara langsung, namun dikarenakan beliau besok harus balik lagi ke Bali, maka beliau meminjamkan saya sebuah kamera digital. Saya diminta utuk memotret diri sendiri. Photo dengan sebuah senyuman, itulah nantinya yang akan dilukis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Dengan semangat membara, siang itu saya segera kembali ke kostan dengan satu tujuan, ya&#8230; berphoto ria. Photo-photo hanyalah <em>a piece of cake</em> buat saya. Dari kecil saya cukup menyenangi di photo. Tak jarang terdengar gerutuan orang-orang yang harus mengulangi lagi photonya gara-gara tanpa di undang, saya tiba-tiba <em>nongol</em> ikutan photo. Bahkan sekarangpun, walaupun kamera di <em>handphone</em> saya masih kelas bawah, namun tak menyurutkan niat diri ini untuk bernarsis ria <em>self portrait</em> sewaktu sendirian di kostan. Apalagi sekarang dengan kamera digital, perkara gampang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Atur posisi. Tiga&#8230; Dua&#8230; senyum&#8230;.. Satu&#8230; Cheese&#8230;&#8230;.Jepret, jepret, jepret. Tak terasa hampir setengah jam saya sibuk sendirian photo diri. Sial, dari tiga puluhan photo tak satupun didapatkan wajah dengan senyum yang bagus. Semuanya timpang. Kalau tidak melor ke kiri, bibir saya melor ke kanan. Bibir atas dan bibir bawah malah acapkali tidak bersepakat. Celaka, cuma buat photo wajah sambil senyum saja <em>kok</em> susah sekali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Mungkin saya harus menggunakan sebuah cermin yang besar, jadi sewaktu photo saya bisa memperhatikan wajah saya sendiri apakah sudah cukup bagus senyumnya atau belum. Dengan cermin besar pinjaman dari teman sebelah kamar, berlanjutlah proses photo-photo diri. Jepret jepret jepret&#8230; sepenuh jiwa raga saya bergaya, sambil sesekali melihat cermin, memastikan diri ini sudah tersenyum dengan baik. Setelah dirasa cukup, saya menyudahi. Lalu kembali saya melihat hasil-hasil photo, mencoba mencari photo dengan senyum terbaik </span><span> </span>yang bisa diserahkan kepada sang pelukis. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Sial&#8230; lagi-lagi sial, begitu umpatan berkali-kali terucap dari bibir ini ketika tak jua menemukan sebuah photo dengan senyum yang bagus. Celaka apa diri ini, wajah dengan senyum saja <em>kok</em> susah sekali mendapatkannya. Padahal kalau dipikir-pikir setiap hari saya selalu saja tersenyum. Begitu mudahnya senyum menghias di bibir ini. Jangankan senyum, tertawa pun sebenarnya adalah bagian dari keseharian saya. Tak jarang malah sampai terbahak-bahak. Tapi kenapa tak jua satu photo dengan senyum yang bagus saya dapatkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Frustasi yang memuncak, akhirnya saya mendatangi rumah seorang teman. Kebetulan dia adalah salah seorang photografer amatiran dan mempunyai sebuah studio kecil di rumahnya. Kepada dia saya meminta tolong, diphoto dengan sebuah pose wajah yang sedang tersenyum. Walau tak sesempurna yang saya harapkan, akhirnya beberapa buah photo pun terpilih. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Tak terlalu berharap saya bahwa nantinya photo wajah saya tersebut benar-benar bakal dilukis dan ikut <em>nampang</em> di pameran di luar negri tersebut. Tapi paling tidak, setelah hampir muak melihat photo-photo diri sendiri itu, saya disadarkan akan satu hal. Ternyata saya salah menilai diri ini. Mengira diri ini yang begitu dermawannya menebar senyum. Ternyata jika saya memandang wajah saya sendiri yang sedang tersenyum, tidak sedikitpun saya bisa melihat aura kebaikan dan ketulusan dalam senyum itu. Hanya guratan untuk diri sendiri. Dan wajah memang tidak bisa berdusta sama sekali. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Sungguh, rendah sekali diri ini. Mengira telah banyak berbuat kebaikan untuk orang lain, namun ternyata bukanlah sesuatu yang benar-benar diharapkan orang lain dari saya. Diri ini yang berbuat kebaikan bukan karena benar-benar dari hati yang tulus tapi sekedar pemenuhan kepuasan jiwa. Terima kasih buat sang pelukis, yang secara tidak langsung telah mengajarkan saya tuk bisa melihat diri ini dari kacamata luar. Terima kasih juga telah menyadarkan bahwa tampang saya benar pas-pasan ternyata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Semoga dari hari ini saya bisa tersenyum tuk semua.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/benisuryadi.wordpress.com/37/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/benisuryadi.wordpress.com/37/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benisuryadi.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benisuryadi.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benisuryadi.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benisuryadi.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benisuryadi.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benisuryadi.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benisuryadi.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benisuryadi.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benisuryadi.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benisuryadi.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benisuryadi.wordpress.com&blog=82209&post=37&subd=benisuryadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benisuryadi.wordpress.com/2006/11/05/lukisan-wajah-dan-senyuman/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/benisuryadi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html"></media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tidak ada SMS Lebaran kali ini.</title>
		<link>http://benisuryadi.wordpress.com/2006/10/28/tidak-ada-sms-lebaran-kali-ini-2/</link>
		<comments>http://benisuryadi.wordpress.com/2006/10/28/tidak-ada-sms-lebaran-kali-ini-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Oct 2006 09:38:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>benisuryadi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benisuryadi.wordpress.com/2006/10/28/tidak-ada-sms-lebaran-kali-ini-2/</guid>
		<description><![CDATA[Lebaran kali ini lagi-lagi saya tidak pulang kampung. Ini entah untuk keberapa kalinya sejak lima tahun silam, pertama kali menginjakkan kaki di kota Bandung, saya tidak merayakan lebaran bersama keluarga. Lebaran jauh dari keluarga, di kostan sendirian, yang notabenya dihuni oleh mayoritas saudara-saudara non muslim, tentulah tak banyak yang bisa saya ceritakan. Tidak ada suara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Lebaran kali ini lagi-lagi saya tidak pulang kampung. Ini entah untuk keberapa kalinya sejak lima tahun silam, pertama kali menginjakkan kaki di kota Bandung, saya tidak merayakan lebaran bersama keluarga. Lebaran jauh dari keluarga, di kostan sendirian, yang notabenya dihuni oleh mayoritas saudara-saudara non muslim, tentulah tak banyak yang bisa saya ceritakan. Tidak ada suara komando sang Ayah di pagi hari guna mengingatkan anggota keluarga di rumah untuk bersegera ke masjid (atau lapangan), tidak ada salam dan silaturahmi dengan sanak keluarga setelah sholat, tidak ada ketupat ataupun opor ayam, dan tentu saja juga tidak ada pembagian uang. Lebaran kali ini? Sama saja, bahkan sekilas suasananya tidak beda sama sekali dengan ritual sholat Jum’at. Datang ke masjid (atau mungkin lapangan), sholat dan dengar khutbah, bersalam-salaman, lalu pulang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Selesai?</span><span id="more-35"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Ya, selesai. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Mungkin saja pemahaman atau apresiasi saya terhadap hari lebaran itu tidaklah sedalam orang-orang kebanyakan. Saya tidak begitu mengerti darimana datangnya gelora semangat orang-orang yang mengorbankan banyak hal agar bisa mudik. Saya juga tidak begitu mengerti mengapa dengan mudahnya berlembar-lembar uang ratusan ribu berpindah hak milik untuk beberapa stel baju baru. Dan saya juga tidak begitu mengerti mengapa hanya di hari lebaran lah orang-orang menyajikan kue nastar. Terus apa bedanya ketupat lebaran dengan ketupat yang sehari-hari kita makan di pasar simpang sebelum berangkat kuliah atau kerja? Dan saya juga tidak begitu mengerti mengapa kita harus berebutan meminta maaf di hari tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Lebaran sendirian jauh dari keluarga tentu bukanlah sebuah hal yang diinginkan banyak orang. Beberapa teman menunjukkan sikap simpatiknya kepada saya. Puluhan pesan pendek simpatik saya terima, beberapa di antaranya yang mengirimkan makanan ke kostan. Bahkan ada yang setiap harinya menelpon dan menanyakan kabar saya selama berlebaran sendirian di Bandung. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Dengan nada bercanda saya menjawab bahwa setiap orang punya cara sendiri-sendiri untuk memaknai hari tersebut, tidak harus mudik dan makan opor ayam bukan? (Paling tidak ini pendapat yang saya dengar dari selebritis-selebritis di beberapa tayangan infotainment di TV. Bukan sebuah cara yang baik untuk menjalani hari-hari kemenangan, tapi toh menonton tivi adalah satu-satunya hiburan saat lebaran yang bisa saya dapatkan tanpa mengeluarkan uang. Ya sudah, dinikmati saja)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Entalah seharusnya saya bersikap seperti apa, namun tanpa mengurangi nilai semua perhatian orang-orang dekat saya (lagian bagaimana bisa saya menilainya, toh itu kan Kuasanya Tuhan saya), saya sampaikan bahwa tidak begitu beda antara berlebaran di Bandung sendirian dengan berlebaran di kampung bersama keluarga. Mungkin yang paling kentara adalah jika saya mudik (dan selamat di perjalanan sampai kampung) maka saya bisa meminta maaf dari orang tua sambil mencium kedua tapak kaki mereka. Masalah baju baru atau opor? Jangankan ketupat, lauk teri pas lebaran saja tidak lebih istimewa di banding hari-hari biasa. Papa juga tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk mudik dikala lebaran. Pesan beliau, jika kamu merasa berhak menjadi pemenang setelah berpuasa, maka rayakanlah dalam do’amu dimanapun kamu berada. Papa juga tidak pernah menyuruh anak-anaknya meminta maaf, karena sedari kecil yang beliau ajarkan adalah tentang kewajiban untuk memaafkan, diminta ataupun tidak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Jadi buat saya, lebaran bukanlah persoalan mudik atau tidak, baju baru atau tidak, makan ketupat atau tidak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Sejenak saya teringat dengan saudara-saudara di Bali, yang menyepi dalam kekhusyukan merayakan hari raya mereka, memohon segala ampunan dan keberkahan kepada Tuhan mereka. Sejenak saya teringat dengan salah seorang teman saya di Yogya, yang setiap kali malam Natal menjelang, dia beserta seluruh keluarga, berkumpul bersama di ruang keluarga, juga memohon segala ampunan dan keberkahan kepada Tuhan mereka, dalam kesederhanaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Andai saja orang-orang yang Tuhannya sama dengan saya juga berlaku sama, mungkin kita tak perlu mendengar berita tentang puluhan orang kecelakaan di saat mudik, kita tak perlu mendengar tentang seorang Bapak yang gantung diri gara-gara tak mampu membelikan anak-anaknya baju Lebaran, para perempuan kecil juga tak perlu malu terhadap teman-temannya hanya karena mukena yang dipakainya hanyalah mukena usang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Tapi kalau semuanya hanya berdiam diri di masjid (atau rumah) memohon segala ampunan dan keberkahan kepada Tuhan mereka, berarti kapan lagi mall-mall dan factory outlet bisa meraup untung besar, kapan lagi para calo tiket bisa surplus, kapan lagi kita-kita bisa pamer pada orang sekampung, dan yang paling pentingnya kapan lagi orang-orang kaya bisa jual muka di berbagai media sebagai pihak dermawan di hari lebaran?. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Lagipula ini kan kesempatan sekali-kalinya dalam setahun para kaum duafa atau anak yatim bisa merasakan kebahagian berbaju baru dan memakan ketupat dan opor ayam?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Iya juga ya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Tapi bukankah harga hanya beberapa lembar baju baru itu bisa membuat si anak yatim merasakan kebahagiaan sepanjang tahun?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Hmm, jadi ribet. Kalau begitu, mari kita lanjutkan saja perayaan kemenangan ini. Mungkin ini memang takdirnya kalau rapor ibadah kita baru bisa diperlihatkan pada saat di akhirat kelak. Tidak jelas mana yang merah mana yang hitam. Tidak jelas siapa yang <em>cumlaude</em> atau siapa yang tinggal kelas dan harus mengulang. Tidak ada catatan tertulisnya siapa yang memang berhak merayakan kemenangan, siapa yang berhak mudik, dan siapa yang berhak makan ketupat dan opor ayam di hari lebaran. Jadinya ya, seperti saya ini, cuap-cuap tentang makna Idul Fitri padahal merah semua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Maaf. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">PS : Lebaran tahun kemaren saya membuat sebuah template sms minal aidin dan ‘send to many” kepada semua nomor yang ada di phonebook saya. Saya tidak ingat siapa saja, saya juga tidak mempedulikan apakah ia orang yang sering saya sakiti atau bukan. Praktis, cuma bikin satu, lalu “send to many”. Tapi tentu saja saya tidak bisa menyelipkan sapaan secara pribadi dan menyebut nama orang yang saya krimkan sms. Terlalu banyak dan ribet.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Mungkin itu kenapa, lebih dari 200an sms yang saya terima di hari lebaran, hampir semuanya adalah sms template. Apa ini benar-benar sms minta maaf atau kebetulan nomor saya ada di phonebooknya mereka?.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Lebaran kali ini tidak satupun sms yang saya kirimkan. Mungkin jika orang-orang mengingat apa pesan Papa saya, ini tidak menjadi masalah, karena toh kita sudah saling memaafkan tanpa masing-masing perlu meminta maaf.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/benisuryadi.wordpress.com/35/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/benisuryadi.wordpress.com/35/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benisuryadi.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benisuryadi.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benisuryadi.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benisuryadi.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benisuryadi.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benisuryadi.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benisuryadi.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benisuryadi.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benisuryadi.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benisuryadi.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benisuryadi.wordpress.com&blog=82209&post=35&subd=benisuryadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benisuryadi.wordpress.com/2006/10/28/tidak-ada-sms-lebaran-kali-ini-2/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/benisuryadi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html"></media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ustdaz ku Dian Sastro</title>
		<link>http://benisuryadi.wordpress.com/2006/10/16/ustdaz-ku-dian-sastro/</link>
		<comments>http://benisuryadi.wordpress.com/2006/10/16/ustdaz-ku-dian-sastro/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Oct 2006 00:06:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>benisuryadi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benisuryadi.wordpress.com/2006/10/16/ustdaz-ku-dian-sastro/</guid>
		<description><![CDATA[Beginilah susahnya kalau jadi orang dengan kadar iman yang masih pas-pasan, untuk tergugah akan agama saat mendengarkan ceramah para ustadz saja bukan perkara mudah untuk saya capai. Apalagi selama ini dalam seminggu, rata-rata hanya satu kali seminggu saja saya mendengarkan siraman rohani, yaitu pas jumatan. Itupun dengan catatan jika saya tidak ketiduran pada saat khutbah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Beginilah susahnya kalau jadi orang dengan kadar iman yang masih pas-pasan, untuk tergugah akan agama saat mendengarkan ceramah para ustadz saja bukan perkara mudah untuk saya capai. Apalagi selama ini dalam seminggu, rata-rata hanya satu kali seminggu saja saya mendengarkan siraman rohani, yaitu pas jumatan. Itupun dengan catatan jika saya tidak ketiduran pada saat khutbah. Kalau angin semilir begitu sejuk menyapa, pengkhutbahnya kaku, dan isi khutbahnya tidak ada yang lucu, yah, bisa dipastikan hanya dalam hitungan menit saya sudah tertidur. Sungguh celaka memang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Tapi saya juta tidak mau disalahkan sepenuhnya. Toh anginnya begitu sejuk dan kebetulan saat itu fisik saya cukup lemah setelah beraktifitas. Toh ustadznya banyak yang kaku sekali dalam berkhutbah, jarang sekali menyapa, dan bukannya tengok sana tengok sini sambil sesekali menggerakkan tangan seperti yang disampaikan dalam buku-buku tips sebagai pembicara yang baik, kebanyakan dari mereka hanyalah seperti anak SD yang disuruh membaca paragraf dari sebuah buku oleh sang guru. Dan toh juga, isinya tidak ada lucu-lucunya, bahkan sering kali terkesan getir dan hanya menonjolkan tentang betapa seramnya neraka. Lagi-lagi sesuai tips pidato yang baik, harusnya isinya bisa memancing kegairahan yang mendengar. Betul?</span><span id="more-34"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Nah, dengan alasan inilah akhirnya saya mencoba untuk dekat dan bergaul dengan beberapa teman yang termasuk kategori pemuda masjid. Yah, kehidupan duniawi ini memang harus saya imbangkan dengan banyak belajar tentang agama, karena toh saya tidak tahu sampai kapan saya hidup di dunia ini. Tapi ternyata belajar agama dari teman sendiri bukanlah perkara yang mudah. Kali ini bukan masalah materi yang mereka sampaikan, tetapi karena mereka adalah teman yang begitu saya kenal dalam kesehariannya, saya banyak mengetahui kekurangan dalam diri mereka. Saya tahu bahwa mereka pernah menyontek PR, saya juga tahu bahwa mereka tak jarang datang terlambat, mereka kadang membenarkan sesuatu demi diri sendiri, dan mungkin saja mereka juga sering onani ketika libido tak terkendali. Itu artinya tidak lebih baik dibanding saya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Dari pada terus-terusan seperti ini, akhirnya saya berpikir mungkin saya belajarnya dari ustadz yang sudah terkenal saja. Jadilah pada suatu minggu, saya datang dan mendengarkan pengajian yang disampaikan AA Gym di pesantren Daarut Tauhidnya. Di setiap akhir acara, saat AA Gym memimpin doa untuk keselamatan semua, dikala semua orang menundukkan kepala sambil meneteskan air mata, saya hanya terdiam dan ikut-ikutan bilang amin. Mau ikutan menangis, hati ini tak sebegitu tersentuhnya oleh ceramah sang ustadz. Ternyata sang ustadz besar ini tidak cukup besar buat saya, karena dari pandangan saya yang ikut menangis rata-rata adalah orang-orang yang memang sudah ada cap pesantren Daarut Tauhidnya. Bukan orang-orang seperti saya. Sekali datang diri ini ternyata tak langsung tersentuh. Mungkin karena baru sekali, pikir saya. Maka akhirnya saya putuskan untuk kembali lagi kesana minggu depan. Tapi apa mau dikata, empat kali minggu saya datang dan mendengarkan pengajian, namun tak jua kunjung diri ini tersentuh. Jadi ya saya berhenti kesana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Waktu berlalu, saya kembali sibuk dengan kehidupan duniawi saya, dalam segala kemaksiatan tingkah laku. Walau sholat tak pernah ketinggalan, tapi terkadang juga alakadarnya sekedar untuk menggugurkan kewajiban. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Sekali waktu saya pernah diajak seorang karyawan di Lab untuk menghadiri sebuah pengajian untuk pegawai non akademik di lingkungan fakultas. Pembicaranya adalah seorang ustadz yang cukup terkenal di Bandung, yaitu ustadz Aam Aminuddin. Mungkin karena rata-rata dari pegawai yang hadir adalah orang-orang yang sudah berkeluarga, maka ceramah yang dibawakan sang ustadz adalah tentang keluarga. Kali ini saya cukup larut dalam ceramah beliau. Walau saya belum pernah menikah, tetapi saya cukup mengerti akan sebuah lelucon beliau “sang istri baru mau mengucapkan Bismillah, eh si suami dah bilang Alhamdulillah”. Lucu, saya tertawa, dan inilah yang paling saya ingat dari beliau. Lalu apalagi yang saya ingat? Maaf, cuma itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Ustadz Jefry? Arifin Ilham? atau Yusuf Mansyur? Ustadz-ustadz muda ini sebenarnya juga saya senangi. Acapkali saya meluangkan waktu mendengarkan pengajian atau ceramah mereka di tivi. Lantunan da’wah dari mereka begitu segar sehingga acapkali saya tersenyum dan larut mendengarnya. Sama seperti waktu kecil disaat saya begitu menggemari Zainuddin MZ berceramah. Tiap kali beliau datang dan berceramah di lapangan bola di kota kelahiran saya, saya beserta teman-teman sepermainan waktu kecil selalu berada di barisan paling depan. Lucu dan menyegarkan. Tapi ya sekedar itu. Jika beruntung, masuk telinga kanan, terngiang untuk beberapa hari, kadang sempat teramalkan acap kali tidak, lalu keluar lagi dari telinga kiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Benar-benar celaka. Dan entah sudah separah apakah tingkat celaka diri ini,</span><span>  </span>sampai-sampai untuk menemukan satu orang ustadz saja yang bisa hati ini terbuka tuk mendengarkan ceramahnya begitu susah. Apa ustadz tersebut memang tidak ada yang bagus?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Tidak adil juga saya berkata seperti itu, karena toh, ribuan orang bahkan mungkin jutaan orang begitu tersentuh dan merindukan untaian da’wah agama dari mereka. Jadi karena apa? Benarkah karena hati ini sudah sedemikian hitamnya akan kemunafikan diri? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Syukurlah, di tengah kebingungan diri, sebelum Ramadhan ini berakhir, Tuhan mempertemukan saya dengan Dian Sastro. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Ketika saya bercerita kepada beberapa teman, ada yang menyangsikan, ada yang mentertawakan, dan juga ada yang protes bahwa saya tidak bisa mengkategorikan Dian Sastro sebagai ustadz layaknya ustadz-ustadz dan guru mengaji mereka. Bahkan di antara mereka ada yang merasa terhina jika Dian Sastro, sang bintang film Indonesia itu disebut ustadz.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Entahlah, tanggap saya. Saya tidak peduli Dian Sastro layak disebut ustadz atau tidak laiknya ustadz-ustadz mereka di pesantren. Tapi jika kisah kehidupan, teguran akan kesombongan jiwa ini, tentang nikmat kehidupan yang selama ini dilimpahkan, dan rintihan kehinaan diri akan kebesaran Sang Pencipta, yang saya dengar dari indahnya alunan suara Dian Sastro di radio 94.4 Delta FM setiap kali menjelang waktu sholat selama Ramadhan mulai membuka hati ini akan sia-sianya belasan Ramadhan yang telah saya jalani, mulai membuat jiwa bergetar setiap kali mendengar panggilan Illahi, mulai membuat saya merasa begitu sia-sia jika tak berjamaah di masjid, mulai membuat diri ini malu tuk menghabiskan waktu menonton tivi dari pada mengaji, mulai mencambuk nafsu diri tuk tidak onani ketika libido tak terkendali, maka tak ragu saya tuk berucap bahwa saya telah menemukan ustadz saya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Memang semua narasi itu adalah tulisannya Neno Warisman, tapi mungkin karena Dian Sastro yang membacakannyalah saya mulai dekat lagi dengan Tuhan saya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Seperti yang pernah saya dengar dari seorang teman, hidayah Tuhan datang pada masing-masing diri dengan caranya sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">*mohon maaf jika saya salah dalam penulisan nama.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/benisuryadi.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/benisuryadi.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benisuryadi.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benisuryadi.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benisuryadi.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benisuryadi.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benisuryadi.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benisuryadi.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benisuryadi.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benisuryadi.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benisuryadi.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benisuryadi.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benisuryadi.wordpress.com&blog=82209&post=34&subd=benisuryadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benisuryadi.wordpress.com/2006/10/16/ustdaz-ku-dian-sastro/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/benisuryadi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html"></media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anak-Anak di Malam Taraweh</title>
		<link>http://benisuryadi.wordpress.com/2006/10/01/anak-anak-di-malam-taraweh/</link>
		<comments>http://benisuryadi.wordpress.com/2006/10/01/anak-anak-di-malam-taraweh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Oct 2006 00:45:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>benisuryadi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benisuryadi.wordpress.com/2006/10/01/anak-anak-di-malam-taraweh/</guid>
		<description><![CDATA[Lazimnya orang yang lagi menjalin kasih, saya dan pacar saya juga sering berbincang tentang masa depan. Dimulai dari rencana menikah kapan dan dimana, pestanya seperti apa, yang diundang siapa saja. Bangun rumah di mana, arsitekturnya seperti apa, taman bunganya di halaman depan atau belakang. Kolam renangnya di dalam rumah atau di luar. Banyak sekali yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Lazimnya orang yang lagi menjalin kasih, saya dan pacar saya juga sering berbincang tentang masa depan. Dimulai dari rencana menikah kapan dan dimana, pestanya seperti apa, yang diundang siapa saja. Bangun rumah di mana, arsitekturnya seperti apa, taman bunganya di halaman depan atau belakang. Kolam renangnya di dalam rumah atau di luar. Banyak sekali yang kita angankan. Kita tidak sedang bermaksud mendahului takdir Yang Maha Kuasa, tapi sekedar mendiskusikan kondisi hidup yang kita inginkan nantinya. Dan di antara itu semua, rencana tentang anaklah yang menjadi topik favorit kita.</span><span id="more-33"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Kita satu pemikiran bahwa memiliki anak buah cinta berdua adalah salah satu anugrah terindah di dunia ini. Puncak kesempurnaan menjalani kehidupan. Akibatnya berbagai bahasan yang berhubungan dengan dunia anak-anak kita ikuti dengan begitu antusias. Menonton acara anak-anak di tivi, berkunjung ke <em>play group</em>, membaca buku-buku psikologi anak, juga menghadiri berbagai seminar <em>parenting</em>. Sedangkan pacar saya, yang juga begitu terobsesinya, bela-belain meminta izin orang tuanya agar diperbolehkan mengajak tinggal salah seorang keponakannya yang belum genap berusia dua tahun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Semuanya terasa begitu menyenangkan. Saya begitu menikmati setiap acara <em>parenting</em> yang saya ikuti. Saya begitu bergairah setiap kali membaca buku psikologi anak. Bahkan saat ini saya punya beberapa buku tentang perawatan bayi, seri ayahbunda, tips menjadi ayah yang baik, tips mendidik anak laki-laki, dan lain-lain. Dan begitu juga pacar saya, setiap hari dia selalu mengirimkan sms untuk mengatakan bahwa betapa bahagianya melihat berbagai kelucuan sang ponakan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Obsesi dan kebahagian menjadi orang tua begitu menggairah di dalam jiwa. Usia muda tidaklah menjadi halangan. Semangat jiwa ini acap kali membuat kita berpikir untuk melangkah lebih jauh. Menikah muda, punya anak dan hidup bahagia bersama selamanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Tapi ternyata hal itu tak semudah angan. Beberapa malam ini, setiap kali melaksanakan sholat taraweh di masjid dekat kostan, setiap kali pula saya tersentak akan sesuatu. Tentang bahwa mempunyai anak bukanlah sebuah perkara yang mudah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Tadi malam mungkin menjadi puncaknya, ketika salah seorang pengurus masjid, dengan suara keras mengusir seorang anak kecil yang dianggap biang keributan di dalam masjid. </span><span> </span>Tapi ternyata sang Ibu tidak bisa menerima perlakuan tersebut. Ia tidak terima anaknya diusir. Ia tidak terima anaknya dianggap pembuat keributan, karena selama ini anaknya adalah anak yang baik dan juga berprestasi di sekolah. Sang Bapak, yang juga berada di sana tidak bisa berbuat apa-apa. Anaknya jelas-jelas telah bertingkah dan ribut disaat orang-orang sedang sholat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Mungkin perasaan inilah yang dahulu dirasakan oleh Paman saya. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, terjadi kegaduhan akibat ledakan sebuah petasan dari halaman masjid disaat orang-orang sedang khusu’ melaksanakan sholat taraweh berjamaah di dalam. Paman saya begitu malu, ketika mengetahui bahwa pelakunya adalah anaknya sendiri. Padahal beliau adalah perngurus masjid yang cukup terpandang di masyarakat. Walau beliau tidak pernah mengatakannya, namun sampai sekarang, saya masih mengingat waktu itu wajah Paman memancarkan rasa sesal diri yang begitu dalam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Perbuatan sang anak memang tidak bisa ditolerir. Sekedar membuat suara ricuh di saat orang sedang sholat juga adalah perbuatan yang jelas-jelas dilarang. Jangankan itu, setiap kali ada anak-anak yang mencoba untuk berbisik-bisik mengobrol disaat sedang mendengarkan ceramah, pastilah akan langsung ditegur. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Tapi menyalahkan si anak sepenuhnya tentu juga bukanlah suatu tindakan yang bijak. Walaupun dengan alasan bahwa selama ini sang anak selalu bersikap baik di rumah, tak jarang di antara orang tua yang lebih memikirkan baju muslim dengan corak masa kini buat anaknya berangkat ke masjid. Atau lebih jelas lagi ketika di hari Lebaran, sering saya lihat antara si Bapak, Ibu dan anak berlomba-lomba untuk memakai pakaian yang seragam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Tapi diajarkankah si anak tentang artinya Ibadah itu sendiri, tentang untuk tidak membuat keributan di masjid?. Kalau di masjid saja si anak begitu mudahnya membuat kegaduhan, mengganggu orang lain, apa kita tidak begitu takut bahwa ia juga akan dengan santainya berbuat hal yang sama di lingkungan kehidupannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Dan yang paling saya takutkan dari ini semua adalah kecintaan yang begitu besar terhadap sang anak membuat saya menutup mata terhadap berbagai kesalaha