Kisah Sedih di Hari Minggu
Zaman sekarang ternyata untuk berbuat dosa juga bukanlah sebuah perkara mudah untuk dilakukan. Awalnya saya berpikiran bahwa berbuat kebaikanlah yang susah. Sedangkan melakukan perbuatan dosa adalah sesuatu yang gampang untuk dilakukan, karena tidak diperlukan ketrampilan khusus ataupun kesungguhan niat. Lagipula hampir semua perbuatan dosa adalah perbuatan yang menyenangkan. Namun ternyata pengalaman seorang teman yang akhirnya melibatkan saya juga, hari Minggu kemaren menjelaskan hal yang beda tentang konsep tersebut.
Kisahnya berawal dari salah seorang teman saya. Kita sebut saja namanya Budi. Sabtu malam itu, Budi mendapatkan sebuah sms dari seorang temannya, kita sebut saja namanya Toni, yang kebetulan baru pulang dari Jepang. Toni mengabarkan bahwa ia membeli sebuah Original DVD porno yang dibintangi oleh seorang perempuan, kita sebut saja Miyabi, bintang panas Jepang paling terkenal saat ini. Kalau Budi mau pinjam, silahkan ambil besok pagi ke rumah sepupunya, tempat Toni menginap. Tapi sorenya harus segera dikembalikan karena mau dibawa Toni pulang ke Surabaya.
Tanggal Tua
Dari dulu saya tidak pernah bisa mengerti kenapa orang-orang menetapkan satu bulan itu tiga puluh hari lamanya. Padahal nyata-nyata uang saku saya hanya cukup untuk kebutuhan hidup dua puluh harian. Di atas tanggal 20 setiap bulannya saya sering kali merasa sebagai orang termiskin di dunia.
Sebenarnya tidak hanya kali ini saya merasa sangat miskin sekali di akhir bulan. Namun kondisi keuangan bulan ini benar-benar memprihatinkan. Sebuah pameran buku yang tidak sengaja saya kunjungi beberapa waktu lalu, benar-benar membuat saya lapar mata. Tiga lembar uang seratus ribu, yang sejatinya adalah anggaran untuk konsumsi dan kebutuhan harian sampai akhir bulan habis semua terpakai.
Alhasil, tanggal-tanggal tua di akhir bulan ini terpaksa saya jalani dengan berbagai keluhan setiap harinya. Setiap pagi saya terpaksa harus membongkar bongkar kasur, mengulik-ngulik setiap sudut kamar, membongkar setiap kotak alat tulis untuk mencari-cari siapa tahu ada uang yang terselip, atau kalau tidak juga menemukan terpaksa saya harus membongkar-bongkar celengan tua saya yang sudah bulukan.
Saya Bersukur Sajalah
Melihat kesalahan, keburukan, kebodohan orang lain mungkin adalah salah satu pekerjaan yang paling menyenangkan untuk kita lakukan. Dan dikala kebodohan orang itu tampak, kita seakan punya lahan. Lahan untuk berceramah, untuk mencaci atau sekedar mengomentari.
Baru-baru ini obrolan kita dihangatkan oleh rekaman video wawancara seorang putri Indonesia yang mewakili negara tercinta ini di ajang pemilihan ratu sejagat. Dalam wawancara yang dilakukan dalam bahasa Inggris tersebut, terdengar sang putri Indonesia beberapa kali melakukan kesalahan bahasa. Kontan saja kesalahan ini menjadi lahan bagi banyak orang di negara ini. Komentar miring mengalir, tidak sedikit yang mencaci, dan tidak sedikit pula yang menjadikannya sebagai topik ceramah di pengajian.
Tuhan Maha Pemurah
Tuhan itu Maha Pemurah. Sesedikit apapun kita bersedekah, maka akan diberi ganti berlipat-lipat. Sebenarnya sudah dari kecil orang tua saya mengajarkan tentang hal ini. Guru agama saya di sekolah juga tak jarang mengingatkan bahwa betapa Maha Pemurahnya Sang Maha Pencipta. Bahkan guru mengaji saya pernah menugaskan semua murid ajarnya untuk membuat tulisan tentang ini selama liburan. Namun entah mengapa baru beberapa waktu belakangan ini saya benar-benar memahami tentang hal tersebut.
Pagi itu tidak sengaja saya mendengarkan sebuah acara ceramah agama dari Ustad Yusuf Mansyur di TransTV. Entah mengapa topik yang dia bawakan sangat menarik buat saya. Beliau bercerita tentang seorang pemuda yang kebetulan adalah seorang kapten tim sepakbola dengan ihklas menghadiahkan sepatu sepakbola kesayangnya kepada seorang teman.