GLasNost

anything more than a wishful thinking?

Malaikat Sibuk

with 4 comments

Tadinya, berulang kali terucap rasa iba pada diri sendiri mengingat status Saya yang masih juga sebagai karyawan. Judul di kontrak kerja sih, jam kerja Saya adalah dari hari Senin sampai hari Jumat setiap minggunya, dari pukul delapan pagi hingga lima sore. Tapi ya itu cuma judulnya saja, tapi prakteknya, jadwal OB kantor saja kalah sama Saya. OB belum datang, Saya dah di kantor, OB dah misuh-misuh mau pulang, Saya masih asik dengan mata tertuju laptop. Sabtu Minggu? Jangan tanya. Kalau order dari Bos sudah turun, no way thank you lah untuk urusan yang lain.

Tapi belakangan Saya mikir juga, sesedih-sedihnya nasib ini, ternyata ada yang lebih kasihan lagi dari Saya yaitu Malaikat Raqib dan Atid. Hahahaha, kalau Saya malasnya lagi kambuh, bisa saja matikan handphone atau ngilang dari radar orang kantor. Kalau Malaikat Raqib dan Atid, TWENTY FOUR HOURS A DAY, SEVEN DAYS A WEEK kudu stand by, gimana ga kasihan.

Read the rest of this entry »

Written by benisuryadi

November 9, 2009 at 2:50 pm

Posted in Bahasa

Sial Saya atau Badui

with 2 comments

Pernah mendengar kisah seorang Arab Badui yang ikut sholat subuh berjamaah? Ketika itu sang Imam membaca surat Al-Baqarah, padahal saat itu ia sedang terburu-buru karena suatu keperluan. Akibatnya, ia tidak dapat memenuhi keperluannya itu. Pada esok harinya, ia ikut kembali sholat berjamaah. Ketika imam mulai membaca surat Al-Fill, orang Badui tersebut langsung pergi sambil berkata, “Ini pasti lebih lama lagi! Bukankah Al-Fill (Gajah) lebih besar dari pada Al-Baqarah (Sapi)?” Sungguh, setiap kali membaca ini, Saya tertawa terpingkal-pingkal. Sungguh kocak adanya.

Untunglah Saya acapkali tidak mengerti ayat yang dibaca oleh Imam ketika sholat, bisa-bisa Saya survey dulu para Imam tersebut. Mana yang baca surat semut, belalang, kupu-kupu, Saya ikutin, hehehe.

Read the rest of this entry »

Written by benisuryadi

September 1, 2009 at 5:20 am

Posted in Bahasa

Berangkat Kampanye

with 3 comments

“Buk, Bapak pamit mau ke alun-alun ya, ada kampanye partai Taipar. Otaknya Bapak tinggal ya, Bapak simpan di lemari. Kayaknya ga butuh bawa otak, paling orasi cuap-cuap doank, ga ada yang perlu dipikirin pakai otak.”
“Eh, Buk, hatinya Bapak tinggal juga ya. Bapak tarok di lemari juga ya. Ditoplesin di sebelah otak.  Malas bawa. Soalnya ntar mau bagi-bagi sembako. Bapak mau sikat banyak-banyak, ga peduli jatah orang lain. Pokoknya Ibuk tenang aja di rumah, Bapak akan bawa banyak sembako gratis buat Ibuk.”
“Oke, Buk. Bapak berangkat ya. Assalamualaikum.”
“Pak, burungnya! Burungnya tarok juga di lemari. Ga ada ceritanya situ ikutan tu caleg goyang bokep sama penyanyi dangdut di panggung. NO WAY!!! Ayo, tarok burungnya, BURUNGNYA DITINGGAL, PAK!!! Buruan!!!!”
“Iye, iye, cerewet amat jadi bini.”

Written by benisuryadi

April 2, 2009 at 1:08 am

Posted in Bahasa

Band Penceramah

with 4 comments

Jeda sejenak, sepulang kerja saya menyempatkan diri menonton sebuah life performance band di sebuah mall tempat saya berkantor saat ini. Beberapa waktu belakangan ini saya memang terlalu memforsir diri ini bekerja dan bekerja, jadi wajar jika saya butuh sedikit hiburan.

Band apakah itu? Saya tidak tahu namanya, begitu banyak band-band baru. Menghapal satu-satu sama saja susahnya dengan menghapal nama-nama mentri kabinet. Berganti ganti sesuka hati. Tapi wajah mereka beberapa kali saya lihat di televisi, dan lagu mereka, sering dinyanyikan para pengamen di bis kota jalur yang biasanya saya tumpangi setiap hari. Jadi selain butuh hiburan, ada rasa penasaran juga dalam diri. Siapa tahu ternyata personilnya ada teman saya, atau orang yang bisa saya akui teman, lumayan juga jaman sekarang punya teman artis. Ya kan? Read the rest of this entry »

Written by benisuryadi

July 16, 2008 at 4:25 am

Posted in Bahasa

Warung Nasi Padang Doa Mande

with 17 comments

Walau sudah hampir enam tahun lamanya saya merantau meninggalkan Nagari Minang Kabau, kampung halaman saya, menuntut ilmu mencari kehidupan di tanah Sunda, tapi untuk urusan perut tetap saja masih cap Minang. Belum terasa nikmatnya dunia ini jika dalam sehari itu belum makan nasi Padang. Ondeh mande, kalau makan nasi Padang tambuah ciek. Tapi sayang persoalannya tidak sesederhana datang-makan-kenyang. Prinsip paid more get more kurang berlaku di rumah makan Padang. Kalau di warteg dengan duit lima ribu kita sudah bisa makan ayam dan teman-temannya satu komplotan, kalau di rumah makan padang ya baru cikal bakalnya, alias cuma makan dengan telur ayam. Dan yang paling dibuat menderita karena hal yang satu ini, ya orang-orang seperti saya. Orang-orang yang perutnya cap Minang Asli, tapi kantong pas-pasan. Untuk kalangan seperti ini rumah makan padang bukanlah sahabat yang baik.

Tapi tidak dengan sebuah warung nasi Padang di dekat kampus saya. Hanya sekelas warung nasi memang, tempatnya kecil cuma berukuran 3×4, dan tentu saja tidak ada itu yang namanya pelayan berseragam. Tapi kalau soal rasa dan harga, wuihhh…. mantap bana. Read the rest of this entry »

Written by benisuryadi

July 20, 2007 at 1:46 am

Posted in Bahasa

Buah Jatuh takkan Jauh dari Pohonnya

with 5 comments

Like Father Like Son, atau walau tak lazim mungkin dalam sisi satunya lagi, Like Mother Like Daughter. Suka Papa juga suka anak laki-lakinya, atau ngecengin Mama dan Putrinya sekaligus? Tentu saja bukan, kalau ini mah namanya kemaruk, lagipula dalam norma yang berlaku dikebanyakan masyarakat hal ini adalah suatu perbuatan yang tidak dibenarkan. Terus apa yang dimaksud? Tentu saja ini hanyalah sebuah pertanyaan retorika, karena bisa dibilang hampir semua orang mengetahui bahwa ini adalah sebuah istilah dalam bahasa Inggris, yang artinya kurang lebih sama dengan peribahasa kita, Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.

Karena kita punya peribahasa tersendiri dalam bahasa Indonesia kita, maka kali ini kita singkirkan saja istilah Like Father Like Son tersebut, dengan bangga cukup kita pakai peribahasa “Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya”.

Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.
Sebuah peribahasa yang cukup…. cukup… bagi saya ini sebuah peribahasa yang cukup… cukup menakutkan. Read the rest of this entry »

Written by benisuryadi

July 18, 2007 at 4:33 am

Posted in Bahasa

Mamamia Ibuku

with 14 comments

Karena sering melihat promo acaranya di tv, sebuah acara ajang bakat olah vokal cukup menarik minat saya. Walau ini merupakan saduran dari ajang serupa di luar negri, tapi tetap saja acara Mamamia yang di tayangkan di sebuah stasiun televisi swasta ini, mengundang keingintahuan saya. Iya, sekedar keingintahuan, atau mungkin ketertarikan untuk menonton dan menikmati tayangannya di televisi. Berminat ikutan?

Walah, bukan… bukan… Read the rest of this entry »

Written by benisuryadi

June 20, 2007 at 2:33 am

Posted in Bahasa

Balada Orang Baik

with 6 comments

Beberapa waktu belakangan, mulai muncul rasa parno dalam diri saya sebagai orang baik. Oke, memang bukan orang yang baik sebenar-benarnya baik. Tapi paling tidak di beberapa lingkungan sosial, seperti di kampus atau dengan tetangga saya dikenal sebagai orang baik. Ini penilaian mereka, bukan data manipulasi atau hasil politik dagang sapi. Yah, jika ada yang bilang saya bukan orang baik, itu toh cuma beberapa. Paling lima, sepuluh, seratus atau seribu. Tidak sampai satu juta.

Dan punya status sebagai orang baik ini cukup menyenangkan. Namun seperti yang di awal tadi saya sampaikan. Beberapa waktu belakangan saya mulai parno untuk dikenal orang sebagai orang baik. Bukan saya bermaksud untuk menentang ajaran agama saya untuk menjadi orang baik. Tapi coba lihat apa yang terjadi belakangan ini. Read the rest of this entry »

Written by benisuryadi

May 15, 2007 at 1:58 am

Posted in Bahasa

Orang Pintar di Kuburan

with 3 comments

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan untuk menghabiskan malam di sebuah kuburan. Bukan dalam rangka dimakamkan di sana, saya belum siap untuk hal yang satu ini. Tapi kebetulan malam itu seorang teman meminta saya untuk menemaninya. Menemani dia untuk menemui “orang pintar”. Hari gini nyari orang pintar di kuburan?. Lah wong di kampus-kampus saja yang katanya sebagai pusat pendidikan, semakin susah untuk mencari orang pintar. Tapi toh akhirnya saya ikut juga. Embel-embel minta tolong sebagai seorang teman terbaiknya tak bisa saya tolak. Ya sudahlah, akhirnya saya temani juga. Walau sebenarnya diri ini rada takut, tapi toh saya sedang butuh hiburan juga.

Hiburan? Ya. Read the rest of this entry »

Written by benisuryadi

May 2, 2007 at 3:22 am

Posted in Bahasa

Laki-laki dan Sebuah Pilihan

with 18 comments

Hidup adalah tentang sebuah pilihan. Tak ada pilihan yang mutlak benar ataupun mutlak salah. Setiap pilihan pasti ada sisi positif dan sisi negatifnya. Cuma kadarnya saja yang berbeda-beda dalam setiap pilihan. Dan seorang laki-laki sejati adalah seseorang yang secara tegas berani mengambil suatu pilihan, menjalaninya dengan kesungguhan hati, dan dengan kelapangan jiwa menerima segala tanggung jawab atas pilihan tersebut.

Maaf, ini bukan bermaksud gender, sama sekali tidak. Ketegasan memutuskan suatu pilihan, keteguhan menjalani, dan menerima segala konsekuensi bukanlah suatu topik yang mengkotak-kotakkan antara seorang laki-laki dan perempuan sejati. Cuma saja kalimat di atas meluncurnya dari seorang laki-laki kepada seorang laki-laki lain yang sedang kebingungan.
Read the rest of this entry »

Written by benisuryadi

April 25, 2007 at 6:50 am

Posted in Bahasa