Posted by: benisuryadi | July 20, 2007

Warung Nasi Padang Doa Mande

Walau sudah hampir enam tahun lamanya saya merantau meninggalkan Nagari Minang Kabau, kampung halaman saya, menuntut ilmu mencari kehidupan di tanah Sunda, tapi untuk urusan perut tetap saja masih cap Minang. Belum terasa nikmatnya dunia ini jika dalam sehari itu belum makan nasi Padang. Ondeh mande, kalau makan nasi Padang tambuah ciek. Tapi sayang persoalannya tidak sesederhana datang-makan-kenyang. Prinsip paid more get more kurang berlaku di rumah makan Padang. Kalau di warteg dengan duit lima ribu kita sudah bisa makan ayam dan teman-temannya satu komplotan, kalau di rumah makan padang ya baru cikal bakalnya, alias cuma makan dengan telur ayam. Dan yang paling dibuat menderita karena hal yang satu ini, ya orang-orang seperti saya. Orang-orang yang perutnya cap Minang Asli, tapi kantong pas-pasan. Untuk kalangan seperti ini rumah makan padang bukanlah sahabat yang baik.

Tapi tidak dengan sebuah warung nasi Padang di dekat kampus saya. Hanya sekelas warung nasi memang, tempatnya kecil cuma berukuran 3×4, dan tentu saja tidak ada itu yang namanya pelayan berseragam. Tapi kalau soal rasa dan harga, wuihhh…. mantap bana. Read More…

Posted by: benisuryadi | July 18, 2007

Buah Jatuh takkan Jauh dari Pohonnya

Like Father Like Son, atau walau tak lazim mungkin dalam sisi satunya lagi, Like Mother Like Daughter. Suka Papa juga suka anak laki-lakinya, atau ngecengin Mama dan Putrinya sekaligus? Tentu saja bukan, kalau ini mah namanya kemaruk, lagipula dalam norma yang berlaku dikebanyakan masyarakat hal ini adalah suatu perbuatan yang tidak dibenarkan. Terus apa yang dimaksud? Tentu saja ini hanyalah sebuah pertanyaan retorika, karena bisa dibilang hampir semua orang mengetahui bahwa ini adalah sebuah istilah dalam bahasa Inggris, yang artinya kurang lebih sama dengan peribahasa kita, Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.

Karena kita punya peribahasa tersendiri dalam bahasa Indonesia kita, maka kali ini kita singkirkan saja istilah Like Father Like Son tersebut, dengan bangga cukup kita pakai peribahasa “Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya”.

Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.
Sebuah peribahasa yang cukup…. cukup… bagi saya ini sebuah peribahasa yang cukup… cukup menakutkan. Read More…

Posted by: benisuryadi | June 20, 2007

Mamamia Ibuku

Karena sering melihat promo acaranya di tv, sebuah acara ajang bakat olah vokal cukup menarik minat saya. Walau ini merupakan saduran dari ajang serupa di luar negri, tapi tetap saja acara Mamamia yang di tayangkan di sebuah stasiun televisi swasta ini, mengundang keingintahuan saya. Iya, sekedar keingintahuan, atau mungkin ketertarikan untuk menonton dan menikmati tayangannya di televisi. Berminat ikutan?

Walah, bukan… bukan… Read More…

Posted by: benisuryadi | May 15, 2007

Balada Orang Baik

Beberapa waktu belakangan, mulai muncul rasa parno dalam diri saya sebagai orang baik. Oke, memang bukan orang yang baik sebenar-benarnya baik. Tapi paling tidak di beberapa lingkungan sosial, seperti di kampus atau dengan tetangga saya dikenal sebagai orang baik. Ini penilaian mereka, bukan data manipulasi atau hasil politik dagang sapi. Yah, jika ada yang bilang saya bukan orang baik, itu toh cuma beberapa. Paling lima, sepuluh, seratus atau seribu. Tidak sampai satu juta.

Dan punya status sebagai orang baik ini cukup menyenangkan. Namun seperti yang di awal tadi saya sampaikan. Beberapa waktu belakangan saya mulai parno untuk dikenal orang sebagai orang baik. Bukan saya bermaksud untuk menentang ajaran agama saya untuk menjadi orang baik. Tapi coba lihat apa yang terjadi belakangan ini. Read More…

Posted by: benisuryadi | May 2, 2007

Orang Pintar di Kuburan

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan untuk menghabiskan malam di sebuah kuburan. Bukan dalam rangka dimakamkan di sana, saya belum siap untuk hal yang satu ini. Tapi kebetulan malam itu seorang teman meminta saya untuk menemaninya. Menemani dia untuk menemui “orang pintar”. Hari gini nyari orang pintar di kuburan?. Lah wong di kampus-kampus saja yang katanya sebagai pusat pendidikan, semakin susah untuk mencari orang pintar. Tapi toh akhirnya saya ikut juga. Embel-embel minta tolong sebagai seorang teman terbaiknya tak bisa saya tolak. Ya sudahlah, akhirnya saya temani juga. Walau sebenarnya diri ini rada takut, tapi toh saya sedang butuh hiburan juga.

Hiburan? Ya.

Read More…

Posted by: benisuryadi | April 25, 2007

Laki-laki dan Sebuah Pilihan

Hidup adalah tentang sebuah pilihan. Tak ada pilihan yang mutlak benar ataupun mutlak salah. Setiap pilihan pasti ada sisi positif dan sisi negatifnya. Cuma kadarnya saja yang berbeda-beda dalam setiap pilihan. Dan seorang laki-laki sejati adalah seseorang yang secara tegas berani mengambil suatu pilihan, menjalaninya dengan kesungguhan hati, dan dengan kelapangan jiwa menerima segala tanggung jawab atas pilihan tersebut.

Maaf, ini bukan bermaksud gender, sama sekali tidak. Ketegasan memutuskan suatu pilihan, keteguhan menjalani, dan menerima segala konsekuensi bukanlah suatu topik yang mengkotak-kotakkan antara seorang laki-laki dan perempuan sejati. Cuma saja kalimat di atas meluncurnya dari seorang laki-laki kepada seorang laki-laki lain yang sedang kebingungan.
Read More…

Posted by: benisuryadi | February 1, 2007

Informasi

Kepada semua pihak yang membaca blog ini, mohon maaf sekali saya sampaikan bahwa saya sama sekali tidak ada hubungan dengan pihak Tim Tujuh Hari Menuju Taubat Lativi. Tulisan saya yang berjudul Tujuh Hari Menuju Taubat, pertanggal 17 September 2006 hanyalah sekedar opini dan refleksi pribadi saya.

Namun, berdasarkan informasi yang saya dapat pada akhir acara tersebut di Lativi, saya ketahui bahwa alamat Tim Tujuh Hari Menuju Taubat adalah :

Tim Tujuh Hari Menuju Taubat
Jalan Raya Condet No. 27
Komplek Ruko Mutiara Faza RA.2
Telp. 021-70633369
Fax. 021-87781815

Oleh karena itu, apabila para pembaca bermaksud untuk melakukan kominikasi lebih lanjut, silahkan langsung menghubungi alamat tersebut.

Dan, terima kasih atas segala apresiasi terhadap semua tulisan yang saya muat di blog ini.

Beni Suryadi
“maaf lama ga nulis, lagi persiapan sidang akhir sarjana” =)

Posted by: benisuryadi | December 14, 2006

Laron-Laron di Lampu Kamar

Musim hujan ternyata cukup membuat pusing kehidupan saya beberapa hari ini. Capek-capek mencuci pakaian, dan menunggu seharian sampai semua jemuran kering, ditinggal sebentar tiba-tiba semuanya basah diguyur hujan. Becek dan banjir dimana-mana juga membuat saya kesusahan. Sepatu butut saya ternyata tak cukup kuat lagi untuk menahan air yang meresap masuk hingga menyentuh kaki. Kalau sudah begini, baunya sungguh ampun.

Tapi yang paling mengganggu sekali adalah laron-laron. Baru saja gelap menjelang laron-laron tersebut sudah bergerumul di lampu ruangan kamar saya. Yang lebih celakanya lagi, laron tersebut tidak datang sendirian. Anak, istri, kakek, nenek, saudara semuanya diajak serta. Kedatangan laron-laron ini jelas-jelas membuat saya murka. Read More…

Posted by: benisuryadi | December 7, 2006

Uenak Tenan jadi (kenalan) Pejabat

Uenak tenan, uenak tenan……. benar-benar uenak tenan. Oh ya, sebelumnya saya mau minta maaf dulu kepada sidang pembaca, cukup lama tenggangnya dari tulisan terakhir saya. Ini bukan karena saya pikiran saya sedang buntu atau writers block. Bukan, bukan karena hal tersebut. Kondisi seperti ini bukanlah masalah buat orang seperti saya yang walaupun sering tidak bisa melihat kekurangan diri sendiri, tetapi untuk melihat kesalahan dan kekurangan orang, wah saya dukunnya. Jadi sebenarnya saya cukup punya bahan untuk dikomentari.

Namun bebeberapa waktu ini saya malas melakukan hal tersebut. Saya ingin bersantai sejenak sambil menikmati sebuah peran baru dalam hidup saya. Saya baru menyadari bahwa saya ini ternyata punya banyak sekali kenalan dan relasi dekat dengan para pejabat teras yang terkenal di negeri ini. Mulai dari pejabat RT, pejabat kelurahan, pejabat kecamatan sampai ke pejabat besar. Itu baru yang di pemerintahan. Saya juga kenal dengan banyak pejabat perusahaan-perusahaan besar. Dan yang lebih pentingnya lagi saya juga kenal dengan para pejabat dari kepolisian dan militer. Yah, walaupun hampir semuanya karena memang sayanya saja yang sok kenal sok dekat dengan para pejabat tersebut. Read More…

Posted by: benisuryadi | November 14, 2006

Saya (harusnya) Masuk TV

Beberapa hari yang lewat, tidak sengaja saya melintas di antara kerumunan mahasiswa yang sedang berdemo menentang kedatangan pak George W. Bush. Walaupun jumlah pendemo tak seberapa namun peristiwa kegiatan tersebut cukup menarik perhatian banyak orang dan juga para wartawan dari berbagai media masa. Dan tentu saja seketika menimbulkan macet di ruas jalan tersebut. Entah apa yang membuatnya tertarik, tiba-tiba seorang wartawan mengampiri saya bermaksud untuk mewawancara.

Awalnya saya menolak karena saya bukanlah orang yang ikutan demo pada saat itu. Tetapi , akhirnya saya menjawab jua, lagi pula, kalau dipikir-pikir saya kan jadi masuk tivi. Siapa tahu orang tua di kampung menonton. Sang wartawan mewawancara menanyakan apakah saya setuju atau menolak kedatangan pak Bush, apakah uang enam milyar yang dikeluarkan pemerintah itu layak, dan kenapa saya tidak ikutan berdemo padahal saya adalah mahasiswa.

Tapi dua hari saya nongkrong di depan tivi, berita saya diwawancara tak jua muncul. Apa si wartawannya lupa ya? Tapi ya sudahlah, walau saudara-saudara tak jadi melihat saya di tivi, saya ceritakan saja di sini. Read More…

Older Posts »

Categories