Bukan Hak Kita, bukan?
Bulan puasa itu identik dengan? Ya, buka puasa gratisan.
Ini sebenarnya mirip kisah jaman kuliah dulu. Hampir tiap menjelang magrib, antri di depan masjid menunggu jatah kolak dan nasi bungkus untuk berbuka. Buat mahasiswa dengan kiriman uang pas-pasan seperti saya, dapat makanan gratis setiap hari selama bulan Ramadhan sungguh berkah tak terkira. Apalagi lauknya bukanlah sekedar telor dan ikan asin, tapi ayam potong dan rendang dari rumah makan Padang bisa dibilang adalah langganan menu berbuka puasa, diawali dengan kolak pisang tentunya. Malu-malu dikit sebenarnya mengantri setiap hari, tetapi kartu mahasiswa di dompet cukup untuk jadi pembenaran saya waktu itu.
Ramadhan kali ini? Bukan kali ini saja sebenarnya. Ini Ramadhan keempat yang saya jalani selama saya tinggal di komplek sini. Dan bisa dibilang, cukup sering juga saya ikutan mengantri makan gratisan setelah sholat magrib di masjid. Jangan mengejek saya mental mahasiswa kere dulu. Tetapi, ya selain bisa menghemat pengeluaran, sudah tradisi dari lama, pak RT yang rumahnya berhadap-hadapan dengan masjid selalu menyulap garasinya menjadi ruang jamuan makan malam buat semua orang setelah selesai sholat Magrib di masjid. Tua muda, kaya raya, semuanya larut dalam kenikmatan jamuan dari pak RT setiap hari. Bukan ala nasi bungkus, tetapi jamuan lengkap. Ada ayam, rendang, sayur, buah-buahan, sirup, kolak, semua lengkap. Semua larut dalam kenikmatan. Read the rest of this entry »
Nasionalisme di Bandara
Sungguh, seakan rasa nasionalisme dan kebanggaan saya terhadap negara kesatuan republik Indonesia yang tercinta ini seakan goyah sewaktu tanpa sengaja menguping pembicaraan sekelompok Ibu-Ibu dari belakang kursi Saya duduk di pesawat. “Aih, jaman sekarang, walaupun anak perempuan saya ga cantik atau ga pintar ga masalah, yang penting dia jago bahasa Inggris, biar nanti dapat suami bule, hidup makmur”.
Ayih, ayih…… terus terang saya tidak menemukan kata yang sesuai untuk mengekspresikan perasaan saya saat mendengar percakapan tersebut.
Lah, terus apa hubungannya dengan nasionalisme yang goyah?
Jika Anda puas beritahu teman
Hampir saja Saya sujud syukur kala menemukan sebuah rumah makan Padang di Bangkok. Tidak asli rumah makan seperti rumah makan Sederhana atau Pagi Sore yang terkenal di berbagai kota di Indonesia. Bahkan masih jauh rasanya jika dibandingkan dengan lapau nasi (warung nasi) Padang Doa Mande yang cuma punya kursi buat empat orang. Tetapi ini sudah membuat Saya senang sekali. Tidak perlu lagi ke McD ataupun KFC.
Memang, urusan perut ini adalah urusan yang cukup krusial buat Saya. Hampir sepuluh tahun Saya merantau jauh dari kampung halaman Saya di Solok, sebuah kota kecil nan asri di Sumatera Barat. Enam tahun tinggal di Bandung, dan sudah lebih dari tiga tahun ini Saya menetap di Jakarta. Sepanjang waktu itu, sudah berulang kali pula Saya terbang ke negara tetangga ataupun ke Eropa sana. Tapi tetap saja, perut Saya cap rumah makan padang. Tapi kalau anda bilang ini cuma urusan perut semata, anda salah besar. Ini adalah tentang filsafat kehidupan. Yang menentukan baik buruknya seseorang dalam kehidupan.
Serangan Sahur dari Malaysia
Sehebat-hebatnya pak RT Saya, tetap saja beliau adalah seorang manusia biasa yang butuh teman curhat. Dan entah kenapa, kali ini, giliran Saya yang harus duduk manis mendengarkan curhat pak RT. Perasaan sungkan karena tidak pernah ikutan ronda dan cuma datang kalau ada acara makan-makan gratis, membuat Saya memaksakan diri untuk tabah mendengarkan curhat beliau. Ya, hitung-hitung amalan di bulan puasa.
Tidak seperti biasanya, pembicaraan permasalahan lokal RT, kali ini beliau curhat tentang kegundahan akan Malaysia. Wah, berat ini, pikir Saya. Jangan-jangan pak RT mau daftar jadi relawan Ganyang Malaysia. Bukannya Saya lebih mengutamakan kepentingan RT di atas kepentingan nasional, cuma kalau pak RT berangkat, siapa lagi yang mau ngurusin RT ceria ini. La wong, sudah tiga kali pemilihan cuma beliau calonnya dan bersedia.
Ramadhan yang sebentar lagi akan berakhir membuat pak RT semakin gundah karena setiap kali sahur bersama keluarga, pak RT dan keluarga selalu saja diserang oleh Malaysia. Wah, Saya jadi terpancing emosi mendengarnya. Bagaimana bisa pak RT Saya diserang Malaysia. Permasalahannya pasti berat ini.
Aa Gym dan Ramadhan yang Terlupa
Entah mengapa, dari dulu Saya tidak pernah bersepakat dengan Aa Gym, seorang ustadz (yang dulunya) kondang dari Bandung, Jawa Barat. Pertama kali ikut pengajian di pesantrennya, Saya bengong kala dia menyuruh semua jemaah menangis. Di pengajian kedua yang Saya ikuti beberapa waktu kemudian, Saya tidur dengan nyenyaknya. Terus pas beliau nikah lagi, walaupun tidak ikutan demo kayak Ibu-Ibu dari majelis ta’lim, terus terang Saya tidak sepakat juga dengan ide beliau.
Lama menghilang tak pernah mendengar lagi berita tentang beliau, tiba-tiba seharian ini beliau muncul lagi. Bukan wajahnya di televisi, tetapi dari tulisan status beberapa orang teman Saya di jaring sosial yang bernama Facebook. Saya tak sempat memperhatikan satu-satu, tetapi ada tulisan dari seorang teman yang menarik minat Saya. Oh tidak, mengapa sekali-sekali muncul, beliau langsung beda pendapat lagi sama Saya. Tidak bisakah kita akur barang sejenak?
Mengapa kita sabar menahan haus, lapar, dan lemas saat puasa? Karena kita yakin Maghrib akan datang. Begitu juga bila dilanda masalah, kita harus tetap bersabar dan yakin kepada-Nya, karena di setiap kesulitan pasti akan ada kemudahan. Badai pasti berlalu. Begitulah bacaan tulisan seorang teman mengutip nasehat dari Da’i kondang tersebut.
Sayur Hambar, Bulutangkis dan Sepakbola Indonesia
Sariman, housekeeper di rumah kostan Saya beberapa waktu lalu mogok makan masakan istri. Gara-garanya masakan sang istri yang tak jua kunjung enak. Sudah berulang kali, tetap saja rasanya pas-pasan. Tadinya saya pikir ini alasan Sariman saja. Dulu jaman baru pacaran aja, tahi kambing serasa coklat. Sekarang giliran sudah dikawinin, dibilang masakannya tidak enak. Mau nambah istri saja pakai alasan masakan tidak enak segala.
Karena penasaran, Saya terpancing juga untuk mencicipi. Bagaimana tidak penasaran, karena selama ini sejarahnya, dari jaman presiden Indonesia masih SBY sampai sekarang masih SBY juga, masakan istrinya Sariman terkenal mak nyoss di kostan. Ikan mentah hasil pancingan anak-anak kostan, bisa disulap jadi pepes ikan super lezat oleh istrinya Sariman. Dan semua anak kostan memuji, bahkan sampai tetangga juga berucap yang sama. Kalau Saya sih ikut-ikutan bilang enak saja, karena Saya tidak suka makan ikan. Tapi gerutuan Sariman yang tak juga henti beberapa hari ini memancing Saya untuk curi-curi mencicipi istri Sariman, maksud Saya masakannya. Dan ya Tuhan, hambarnya tak terkira. Pantesan Sariman protes.
Read the rest of this entry »
Susahnya Meninggalkan Sholat
Kepikiran juga akhirnya oleh Saya. Tak terhindarkan, pertanyaan ini terus terngiang di telinga. Kenapa begitu susahnya untuk sholat tidak tepat pada waktunya. Atau kenapa begitu sulitnya untuk meninggalkan sholat?
Memang kalau dari hitung-hitungan waktu, sekali sholat tidak memakan waktu yang lama. Sekitar lima belasan menit mungkin, jika melakukannya dengan tenang dan bacaan ayat pendeknya panjang, ditambah zikir dan doa. Ada versi kilatnya malahan. Lima menit jadi, udah pakai khusu’. Tapi entah mengapa, tetap saja mengganggu rasanya. Yang membuat Saya kadang mengabaikan Adzan yang terdengar, menundanya hingga kesibukan Saya berlalu. Toh, dengan telat sholat saja kehidupan Saya masih baik. Rezeki masih lancar. Bahkan sesekali meninggalkan sholat, tidak ada kejadian buruk yang menimpa sesudahnya.
Tapi ternyata, tidak semudah itu mengabaikannya.
Read the rest of this entry »
Lampu Kehidupan
Hidup itu… ibarat asik bekerja mengetik laporan di komputer dan tiba-tiba mati lampu tanpa sempat menekan ctrl+S, menyimpan.
Mulai bekerja pukul delapan pagi di akhir pekan, dengan sebuah laptop, Saya larut dalam pekerjaan. Satu halaman, dua halaman, lima halaman, tiga puluh halaman, Saya semakin terhanyut. Sekian jam berlalu, saat sedang asik menulis entah halaman seratus berapa… tiba-tiba… tanpa sengaja, kaki Saya menyentuh kabel power laptop yang membuatnya tercabut, dan laptop tanpa baterai yang sepenuhnya mengandalkan pasokan tenaga dari listrik mati seketika.
Sontoloyo sumpah serapah mengingat kerjaan yang sudah begitu banyaknya terselesaikan, tetapi lupa disimpan. Gondok, empet banget!
Read the rest of this entry »
Kisah Saya dan Cermin
Dua puluh empat jam Saya menjalani hidup, bisa dibilang hidup Saya tidak lepas dari sebuah benda yang bernama cermin. Hee, jangan berprasangka Saya banci ngaca dulu. Kalau sedikit iya lah, tapi bukan itu yang mau Saya bicarakan. Maksud Saya, sepanjang hari sepanjang malam hidup Saya, selalu saja Saya menemukan cermin. Bangun tidur, di kamar sebuah cermin setinggi satu meter selalu menyapa. Di kamar mandi, bertemu juga. Di ruang tengah, tempat dimana Saya biasa nonton TV atau memakai sepatu sebelum berangkat kerja, juga ada cermin. Di bis, kalau kebagian duduk di depan, ketemu juga sama cermin, walau si pak Sopir menyebutnya kaca, kaca spion, bukan cermin spion. Kalaupun tidak, kaca-kaca mobilnya kadang cukup reflektif dan bisa dipakai untuk bercermin. Sampai kantor, naik lift, kiri kanan lifnya cermin penuh menutup dindingnya. Sampai di kantorpun, kaca cubicle Saya, bisa jadi cermin. Depan, belakang, samping kanan, samping kiri, cermin semua. Sepanjang hari tak terhindari untuk melihat pantulan diri sendiri.
Enak kalau tampang Saya ganteng, muka bersih, rambut keren. Atau kalau perempuan punya wajah manis menyenangkan. Atau kalaupun tampang pas-pasan, masih enaklah yang punya baju bagus bermerek mahal, jam mewah, punya telepon genggam canggih seri terbaru. Walau tampang agak bikin gondok orang, tapi masih tetap pede bergaya depan cermin. Nah Saya, hanya gaji pas-pasan saja yang membuat Saya masih menahan diri untuk menganut prinsip buruk muka cermin dibelah. Kalau cermin itu Saya belah semua, bisa-bisa duit gaji Saya habis buat ganti, lah terus Saya makan bayarnya pakai apa. Nasib, nasib.
Read the rest of this entry »
