Walau sudah hampir enam tahun lamanya saya merantau meninggalkan Nagari Minang Kabau, kampung halaman saya, menuntut ilmu mencari kehidupan di tanah Sunda, tapi untuk urusan perut tetap saja masih cap Minang. Belum terasa nikmatnya dunia ini jika dalam sehari itu belum makan nasi Padang. Ondeh mande, kalau makan nasi Padang tambuah ciek. Tapi sayang persoalannya tidak sesederhana datang-makan-kenyang. Prinsip paid more get more kurang berlaku di rumah makan Padang. Kalau di warteg dengan duit lima ribu kita sudah bisa makan ayam dan teman-temannya satu komplotan, kalau di rumah makan padang ya baru cikal bakalnya, alias cuma makan dengan telur ayam. Dan yang paling dibuat menderita karena hal yang satu ini, ya orang-orang seperti saya. Orang-orang yang perutnya cap Minang Asli, tapi kantong pas-pasan. Untuk kalangan seperti ini rumah makan padang bukanlah sahabat yang baik.
Tapi tidak dengan sebuah warung nasi Padang di dekat kampus saya. Hanya sekelas warung nasi memang, tempatnya kecil cuma berukuran 3×4, dan tentu saja tidak ada itu yang namanya pelayan berseragam. Tapi kalau soal rasa dan harga, wuihhh…. mantap bana. Read More…